My Presdir

My Presdir
Bubur Ayam


__ADS_3

Udara malam merambat ke pori- pori Aksa. Matanya menatap langit yang tak begitu ceria. Layaknya hatinya yang sedari tadi gundah. Ia tengah memikirkan bagaimana berbicara dengan Tania jikalau dirinya akan segera menikah minggu depan, tapi bukan dengan wanita itu, melainkan dengan Aza. Rasa bersalah menyelimuti lelaki itu. Apa Tania akan menerimanya dengan lapang dada? Atau malah sebaliknya?


"Kopi, Sa!" seru Devano meletakkan dua cangkir kopi di meja depan Aksa. Mereka selalu seperti ini setiap malamnya, bercengkrama di balkon kamar Aksa dengan menyeruput secangkir kopi sebagai teman.


Devano pun sama, ia tampak gundah, entah apa yang sedang dipikirkan lelaki itu. Sesekali menyeruput kopi, dan menghela nafas panjang setelahnya.


"Aku mencintai wanita itu, aku pun sudah mengikatnya. Meskipun hanya dengan status pacaran saja. Aku ingin mengikatnya lebih dari itu, Sa." Perkataan itu terlontar dari mulut Devano. Matanya masih tertuju ke arah lain dan tak menatap orang yang tengah diajaknya berbicara.


"Tinggal diikat saja kenapa susah- susah sih. Kalau kamu mau, kamu bisa meminjam ikat rambut Mamaku untuk mengikatnya," seru Aksa sekenanya.


"Aku ingin menikahinya, bukan mengikat rambutnya!" tukas Devano disertai decakan kesal.


Kedua lelaki itu kembali terdiam menyesap kopi hitam di cangkir berwarna putih. Sesekali memakan brownies yang tersaji di piring melamin bergambar bunga tulip.


"Kamu tahu sendiri bukan kalau orang tuaku dengan orang tua Clara itu tak pernah sepaham. Aku hanya takut keduanya tak menyetujui jika aku dengan Clara menikah." Devano kembali meluapkan keresahannya kepada Aksa, tapi sahabat yang telah menjelma menjadi saudaranya itu tampak acuh.


"Masalahku lebih berat, Dev. Jangan menambahnya."


"Aku tengah memikirkan bagaimana caranya melepas ikatanku dengan Tania. Apakah wanita itu akan menerima jika aku menikah dengan orang lain?" sambung Aksa. Lelaki itu meletakkan tangannya di belakang kepalanya dan bersandar di kursi.


"Sepertinya dia akan membencimu. Tania sangat terobsesi untuk memilikimu, dia pasti tak akan menerima kenyataan ini." Ucapan Devano ini dibenarkan Aksa. Tania memang mencintai dirinya, tapi tidak untuk Aksa. Lelaki itu tak punya rasa apapun selain sayang sebagai adik dan kakak saja.


"Aku takut kalau Tania balas dendam dan berusaha menghancurkan hubunganku dengan Aza nanti. Kaya di sinetron 'Ku menangis' itu, kan banyak yang kaya gitu," ujar Aksa, Devano langsung menyikut perutnya.


"Kamu ternyata sering nonton itu ya. Presdir kok tontonannya gituan, dih, nggak banget!"


"Mama yang menonton, aku mah ngikut aja," jawab Aksa dengan santainya.

__ADS_1


Malam semakin larut, kedua lelaki itu belum beranjak dari tempatnya. Kopi di cangkir pun telah tandas dan hanya menyisakan ampasnya. Tak ada bintang malam itu, tapi keduanya asyik menatap langit yang gelap.


*****


Pagi yang indah? Ah tidak, pagi bagi wanita itu tidak ada indah- indahnya sama sekali. Yang dipikirkannya saat pagi itu adalah suara kicauan burung yang merdu dengan desiran angin yang terdengar indah juga di telinga. Tapi kenyataannya, suara ayam berkokok dan tukang bubur keliling yang tiap pagi ia dengar.


"Neng Azaaaaaa!!!!! Buburrrrrrrr!!!!!" teriak Bang Jono, tukang bubur yang tiap pagi selalu mangkal di depan rumah kontrakan Aza.


"Iya Bang, ambil mangkok dulu bentar!!!!" sahut Aza dari dalam dan tak kalah kerasnya.


Mangkok bergambar ayam jago dengan sendok sudah berada di tangannya, ia menghampiri Bang Jono dan menyerahkannya untuk diisikan bubur ayam.


"Za, hebat ya kamu bisa bekerja di Sanjaya Group," celetuk Bu Nani, tetangga Aza yang saat itu juga sedang membeli bubur.


"Hehe, biasa aja kok, Buk. Lagipula juga cuma jadi staff keuangan." Aza meringis menunjukkan giginya.


"Oh ya, Za. Kamu mau kan sama anak ibu? Dia itu sebenarnya suka sama kamu sejak dulu loh, tapi nggak berani ngomong," tambah Bu Nani.


"Anakmu yang item, kurus, dan jelek itu? Yang bener aja dong, Bu. Aza ini kan cantik, dia lebih pantas sama cowok yang setiap pagi kemari itu," timpal Bang Jono.


Sontak, Bu Nani pun mencubit lengan Bang Jono. Wanita itu tak terima dengan ucapan Bang Jono ketika anaknya dibilang item, kurus, dan jelek.


"Kembalikan mangkokku! Nggak sudi aku beli buburmu lagi!" Bu Nani langsung mengambil dua mangkok miliknya dan pergi sembari menghentakkan kakinya. Wanita itu benar- benar kesal dengan ucapan Bang Jono.


"Halah, palingan juga besok beli lagi!" seru Bang Jono terkekeh.


Aza menggelengkan kepalanya melihat dua orang itu. Tak hanya kali ini saja, tapi hampir setiap pagi mereka berdebat dan berujung Bu Nani tak jadi membeli bubur milik Bang Jono.

__ADS_1


"Ini neng Aza! Bubur ayam ternikmat tanpa kacang, favorite neng geulis," ucap Bang Jono menyodorkan mangkok milik Aza yang sudah terisi bubur. Lelaki itu membungkukkan badannya, selalu membuat Aza terkekeh karena hal- hal konyol yang dilakukan oleh lelaki berumur empat puluhan tahun itu.


Aza menyodorkan empat lembar uang dua ribuan ke tangan Bang Jono. "Terima kasih Bang Jono yang tampan, baik hati, dan suka menabung," ucap Aza sembari melengkungkan bibirnya membentuk senyuman.


"Ahh, si eneng mah bisa aja." Dan seperti biasa, Bang Jono selalu salah tingkah ketika Aza memujinya.


Aza lalu masuk ke dalam rumahnya, menikmati bubur ayam yang selalu menjadi andalannya ketika sarapan. Baru saja selesai, suara klakson motor terdengar dari luar rumahnya. Aza mengambil tas dan memakai helmnya, segera keluar tak lupa mengunci pintunya.


"Ayokk berangkat!" ucap Aza menepuk bahu Sarah ketika dirinya sudah duduk manis di belakang temannya itu.


"Siapp, Boss!" Sarah segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Menyusuri jalanan yang padat merayap. Lampu lalu lintas berwarna merah, Sarah menghentikan motornya berjajar rapi dengan pengguna jalan lainnya.


Aza meremas jaket Sarah, memejamkan matanya, dan menyandarkan kepalanya di bahu Sarah. Wanita itu terlihat gusar.


"Za, kamu kenapa?"


Aza tak menjawab pertanyaan Sarah, ia malah memeluk erat tubuh temannya itu. Tangannya sedikit gemetar. Ia tak mau membuka matanya.


"Zaa...Jangan membuatku panik, kamu kenapa?" Sarah kembali bertanya, ia menatap temannya melalui kaca spion. Sarah panik melihatnya.


"Aaa- aku takut..." lirih Aza terbata.


"Zaaa, jangan bikin aku takut juga. Kamu kenapa?"


Tin- tin- tin !


Suara klakson mobil di belakang semakin membuat Aza ketakutan. Sarah segera melajukan motornya lagi karena lampu sudah hijau dan pengendara di belakang sudah tak sabaran.

__ADS_1


Sarah kembali menghentikan motornya di jalanan yang sepi. Ia masih panik dengan sikap Aza. Aza terlihat pucat dan keringat di keningnya juga banyak.


__ADS_2