My Presdir

My Presdir
Es Krim


__ADS_3

"Jadi ini istri kakak?" Tania melirik Aza yang kala itu tengah menikmati roti. "Cantik sekali, pantas saja kak Aksa lebih memilih dia daripada Tania."


Aksa terdiam melihatnya, Tania tak sedih atau merasa apa saat bertemu dengan Aza. Ia malah sangat senang, sepertinya dirinya bisa menerima jika Aksa bersama wanita lain.


Aksa dan Tania mengobrol hingga lupa dengan keberadaan Aza.


"Hubby, aku akan pergi mandi dulu," pamit Aza.


"Iya mandilah, Kak. Dan bersiaplah, karena hari ini kita harus jalan- jalan biar lebih akrab," seru Tania.


Aza hanya tersenyum tipis menanggapinya. Apa ini yang namanya cemburu? Aza tak mau suaminya dekat dengan wanita lain, apalagi mengobrol. Rasanya begitu menyesakkan.


"Aza, apa kamu di dalam?" Teriak Aksa sembari mengetuk pintu kamar mandi.


Suara itu membuyarkan lamunan Aza, ia hendak keluar dan membukakan tapi dirinya Maudy berendam. "Iya, Hubby. Tunggu sebentar, aku akan segera selesai."


"Ngapain harus nunggu?" seru Aksa. Lelaki itu tiba- tiba masuk membuat Aza gelagapan menutupi tubuhnya.


"Hubby, kenapa kamu bisa masuk? Aku tadi kan sudah mengunci pintunya."


"Aku kan punya kunci cadangan," jawab Aksa dengan santainya. Lelaki itu segera membuka baju dan ikut berendam bersama sang istri.


"I wanna to play again," bisik Aksa. Aza langsung merinding mendengarnya.


*****


Aza begitu kesal dengan suaminya. Aksa tak hanya mandi hanya mandi saja tadi, melainkan juga enak- enak.


"Apa masih sakit?" tanya Aksa sembari memakai kaosnya.


"Tentu saja, Hubby. Lontongmu sangat besar, rasanya sakit sekali," jawab Aza dengan wajah sendu. Terlihat jelas jika wanita itu masih kesakitan, tapi suaminya tak membiarkannya istirahat barang sebentar.


"Lontong?" Aksa mengernyit tak tahu apa yang dimaksud istrinya.


"Itu, yang masuk tadi!" jawab Aza dengan nada bicara yang polos. Mendengar penjelasan istrinya, Aksa pun tertawa terpingkal- pingkal.


"Jangan menertawakanku atau ku potong- potong lontongmu," ucap Aza melirik suaminya yang masih terpingkal- pingkal memegang perutnya.


Aksa malah semakin tertawa mendengarnya, hingga air mata menetes. Perutnya pun juga terasa kaku karena tertawa mendengar setiap celotehan istrinya yang sangat menggemaskan.


Merasa kesal dengan suaminya yang tak berhenti tertawa, ia pun mencubit lengan Aksa hingga memerah.

__ADS_1


"Hubby, diamlah. Jangan menertawakanku lagi!" gertak Asa berkacak pinggang dan melototkan matanya.


"Iya- iya..." Aksa pun segera bersiap dan sebisa mungkin menahan tawanya.


Usai mandi dan bersiap, Aza dan Aksa pun menemui Tania yang sudah lama menunggu mereka. Sebenarnya Aksa tak mau menemuinya lagi, tapi Aza memperingatkanya karena tak baik jika mengabaikan tamu.


"Akhirnya selesai juga mandinya," seru Tania. Ia lalu bangkit dan bergelayut di lengan Aksa.


"Lepaskan! Jaga sikapmu!" gertak Aksa sembari melepas tangan Tania.


"Iya- iya, ayo kita ke Mall sekarang. Jarang- jarang kan kita bisa pergi bertiga? Ayolah, mumpung aku libur hari ini..." rengek Tania.


"Hanya ke Mall, kan? Boleh kok, ayok!" Aza mengiyakan dan Tania langsung bersorak sorai. Wanita itu menggandeng Aza dan mengajaknya keluar. Aksa pun terpaksa mengikuti mereka.


"Kenapa kamu duduk di depan?" seru Aksa ketika Tania hendak membuka pintu mobil yang bagian depan.


"Aza yang akan duduk di depan. Kamu duduk di belakang, kalau tak suka bawalah mobil sendiri saja," sambung Aksa. Ia lalu membukakan pintu mobil untuk Aza, menyuruhnya duduk, dan tak lupa memasangkan seatbelt.


Tania menggerutu kesal, ia menghentak- hentakkan kakinya dan beralih duduk di belakang. Padahal ia tadi ingin duduk di depan supaya lebih dekat dengan Aksa.


Selama di perjalanan, Tania terus saja melipat tangannya di dada memandangi pasutri yang semakin mesra. Ia begitu iri dengan Aza, wanita itu mampu membuat Aksa selalu tersenyum. Beda dengan dirinya dulu, Aksa tak pernah merasa bahagia ataupun tersenyum ketika bersamanya.


"Apa kamu mau makan ice cream?" tanya Aksa lembut kepada Aza.


"Tentu saja, Hubby. Ayo kita makan ice cream." Aza dengan senang hati menerima ajakan suaminya, ia sengaja memeluk dan bergelayut manja supaya Tania semakin iri dengannya dan supaya ia tahu diri jika Aksa sudah menjadi milik Aza.


Dessert house ala jepang menjadi tempat berkumpul mereka. Cafe ini menyajikan berbagai dessert dan aneka es krim.


Mereka pun mencari tempat yang nyaman. Di sudut ruangan yang bertemakan colourful and wonderful. Dengan desain warna warni serta corak pastel membuat daya tarik sendiri bagi para pengunjung, baik anak- anak maupun orang dewasa. Bangku-bangku kayu yang mungil menjadi tempat untuk menyantap olahan dessert di sana. Kafe ini banyak diminati untuk sekedar bersantai ataupun ngemil.


Hari ini Aksa sangatlah senang karena Aza begitu manja dengannya, wanita itu tak mau lepas sedikitpun dari Aksa. Tania yang melihatnya pun menyesal karena telah mengajak mereka jalan, malah dia yang menjadi obat nyamuk.


"Bisakah kalian melepas pelukan? Aku sungguh terganggu," seru Tania.


"Kalau kamu terganggu bisa cari meja lain, tuh masih banyak yang kosong," sahut Aksa menunjuk meja kosong di sebelahnya.


"Kak...."


"Diam saja, jangan banyak bicara."


"Hubby, aku pengen pipis. Aku ke kamar mandi sebentar ya," pamit Aza.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu." Aksa lalu berdiri dan mengikuti istrinya.


Aksa dan Aza pun kembali ke meja tadi, dilihatnya Tania masih berada di sana dan sudag menikmati es krim pesanannya. Dan pesanan Aksa serta Aza pun juga telah sampai.


Oreo Waffle twist menjadi pilihan Aksa dan Aza. Waffle oreo yang diberi es krim diatasnya dan taburan oreo yang menggoda. Tekstur waffle yang terasa chewy di bagian pinggirnya dan empuk di dalamnya. Dengan tambahan es krim coklat dan vanilla membuat rasanya semakin enak. Lembut dan creamy. Sangat cocok disantap saat panas menyengat.


"Aza, apa kamu mau mencicipi punyaku?" tawar Aksa sembari memotongkan waffle untuk Aza. Dan Aza pun mengangguk.


"Menu kalian kan sama, kenapa harus mencicipi. Toh rasanya juga sama nggak ada yang beda," cibir Tania.


"Kamu nggak tahu ya. Rasanya itu beda, lebih nikmat karena sendoknya bekas suamiku," sahut Aza. Tania kalah telak dibuatnya, ia semakin kesal. Red velvet waffle twist miliknya terasa tak enak jadinya.


"Iya kan, Hubby?"


"Tentu saja, ayo suapi aku dengan sendokmu juga. Rasanya pasti juga akan lebih nikmat," ucap Aksa, ia bersiap menerima suapan dari istrinya.


"Jangan!" Tania buru- buru mencegah Aza menyuapi suaminya, tapi Aza tak menggubris. Ia tetap menyuapi Aksa dan Aksa pun dengan senang hati memakan suapan istrinya.


"Kenapa? Kamu pasti iri ya melihat kami bermesra- mesraan."


"Hubby..." ringis Aza. Tangan kanannya meremas lengan Aksa sedang tangan kirinya memegang perutnya. Tiba- tiba perutnya terasa sangat sakit.


"Kenapa, Za?"


Aza tak bisa menjawabnya, ia hanya bisa meringis menahan sakit. Tak hanya perutnya saja yang sakit, tapi kepalanya juga pening. Dan tiba- tiba Aza memuntahkan es krim yang baru masuk tadi.


Hoeekk hoekkk


"Hubby, perutku sangat sakit..."


.


.


.


.


.


Correct me if I have typo❤️

__ADS_1


__ADS_2