My Presdir

My Presdir
Menghilangkan Ketakutan


__ADS_3

Semangat tak pernah pudar dari wanita itu. Meskipun pekerjaan banyak, tapi dirinya tak pernah mengeluh sedikitpun. Ia harus tetap semangat seperti yang papanya ajarkan kepadanya. Ia harus berusaha membanggakan papanya meskipun lelaki itu tak berada di sampingnya lagi.


"Ah, jadi kangen Papa," celetuk Aza. Wanita itu berhenti sejenak, menyandarkan tubuhnya di kursi, air matanya hampir menetes.


"Aku juga kangen Papaku," sahut Sarah. Ayah wanita itu juga telah meninggal, bahkan saat dirinya kecil, berusia tujuh tahun.


"Papaku dulu sangat memanjakan diriku, dia selalu mengajarkanku hal- hal yang baik. Menyemangatiku ketika aku hampir menyerah, dia selalu berjuang mendapatkan uang untuk bisa makan. Meskipun hanya dua kali sehari karena sisa narik angkot harus ditabung untuk membayar rumah kontrakan."


"Aku sangat bangga dengannya, lelaki yang hebat," sambung Aza. Teringat ketika dirinya ikut narik angkot dengan papanya sepulang sekolah ataupun saat hari libur. Kenangan- kenangan manis terngiang jelas dan tak akan lekang oleh waktu. Lelaki itu telah berperan baik, bahkan juga menggantikan peran Mamanya yang entah kemana keberadaannya. Sudah tiada atau masih berada di dunia ini, Aza tak pernah mendapat informasi apapun dari sang Papa.


"Kalian kok kelihatan sedih gini sih? Capek?" tanya Clara menghampiri Aza dan Sarah.


"Eh enggak, Mbak." Aza dan Sarah kelabakan dan langsung melanjutkan kerjaan mereka.


Clara menggelengkan kepalanya melihat dua wanita itu, masih terlihat takut dan kaku ketika ada dirinya. Padahal dirinya tak akan berbuat apa- apa dengan mereka.


"Za, diminta Aksa ke ruangannya."


"Kenapa lagi, Mbak?"


"Pak Aksa kangen sama kamu kali, Za," sahut Sarah.


"Nah, iya tuh mungkin dia kangen," timpal Clara terkekeh. "Udah, sana samperin. Keburu anak itu ngambek loh!"


"Anak itu mana mungkin bisa kangen sama aku," sahut Aza.


"Heh, kan siapa tahu beneran. Udahlah, Za. Samperin sana calon suamimu," goda Sarah.


"Iya- iyaaaaa..." Aza berdiri dan meninggalkan ruangannya.


Aza sebenarnya sangat malas jika harus bertemu dengan Aksa. Pasti yang ada hanya perdebatan kecil dan berakhir dengan Aza yang menjadi sasaran kenakalan serta kejahilannya.

__ADS_1


Tok- tok- tok!


Wanita itu mengetuk pintu ruangan Aksa dengan malas. Beberapa kali mengetuk tapi tak ada sahutan dari dalam, mungkin Aksa tak mendengar karena ketukan Aza sangatlah pelan.


"Masuk aja kenapa sih, Za. Kaya siapa aja pake ngetuk pintu dulu," ucap Devano yang kala itu juga ingin memasuki ruangan Aksa.


"Aku kan karyawannya, jadi harus sopan."


"Tinggal beberapa hari lagi kan sudah beda statusnya. Udah, ayo masuk!"


"Hah, iya- iya..."


Aza dan Devano pun memasuki ruangan Aksa. Lelaki itu tengah duduk bersama wanita cantik. Bukan Aira, Mira, atau Maria. Aza tak mengenal sebelumnya.


"Jadi ini wanita yang Nak Aksa maksud?" tanya wanita itu.


"Iya, dia yang saya maksud. Dia sedikit trauma karena kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Saya harap Ibu bisa menghilangkan ketakutannya itu."


"Aku akan melanjutkan pekerjaanku," pamit Aksa.


"Hai, kamu cantik sekali." Wanita itu membelai pipi Aza. "Oh ya, perkenalkan, saya Anandhi. Psikiater yang akan menghilangkan rasa traumamu. Nak Aksa sudah menceritakan semuanya kepada Ibu."


"Anandhi? Namanya sama seperti nama belakangku."


"Oh ya? Memangnya siapa namamu?"


"Azalea Tanisha Anandhi."


Wajah Anandhi berubah sendu mendengarnya. Seperti ada sesuatu yang ia rasakan. Nama Aza mirip sekali dengan nama yang ia berikan kepada anak perempuannya dulu. Apa Aza ini adalah anak perempuan yang ia tinggalkan demi pendidikannya dulu? Kalaupun iya ini adalah hal yang menyenangkan. Tapi dirinya tak boleh berpikir berlebihan, kalau Aza bukan anaknya bukankah itu menyakitkan?


"Lalu, siapa nama ayahmu?"

__ADS_1


"Apa perlu saya mengatakannya kalau ingin menghilangkan trauma saya?" Aza heran kenapa Anandhi malah bertanya Papanya.


"Ah, enggak. Baiklah, sekarang ceritakan apa yang begitu membuatmu takut. Aku ingin mendengarnya sendiri darimu," ucap Anandhi. Ia menatap Aza dengan seksama, rasanya ada sesuatu yang lain dari Aza.


Aza bercerita, ia sebenarnya tidak terlalu takut. Hanya takut jika teringat dengan Reyfan. Takut kejadian itu terulang lagi. Dan baginya, ini bukan masalah yang besar dan tak memerlukan paikiater karena pasti akan menghilang dengan sendirinya.


"Traumamu nggak terlalu berat, bisa disembuhkan dengan cepat. Apa kamu selalu cemas ketika lampu lalu lintas berwarna merah?"


Aza mengangguk, "Iya, aku takut jika ada mobil lagi yang menabrakku dari belakang. Aku nggak mau berhenti saat lampu merah," jelas Aza.


"Menghilangkan trauma memang tak terlihat mudah, tetapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan," ucap Anandhi. Aza mendengarkannya baik- baik.


Menghadapi ketakutan yang dirasakan memang sangat sulit. Caranya tak mudah tapi jika dilakukan juga akan memberikan hasil yang baik. Mengingat kejadian itu kembali lalu mencoba melawan rasa takut, mencoba berdamai dengan kejadian traumatis dan menanamkan pada diri sendiri kalau bisa menghilangkan dan melewati rasa takut itu.


"Perlu diingat, menghilangkan ketakutan hanya bisa dilakukan ketika dirimy benar- benar sudah siap. Aku akan membantumu, kita akan sering bertemu nantinya," ucap Anandhi membelai rambut Aza. Wanita itu senang dekat dengan Aza. Apalagi ia akan sering bertemu dengan Aza nantinya.


"Kalau nggak bisa hilang bagaimana?"


"Pasti bisa! Kalau cemas dan khawatir masih saja menghantuimu, aku akan memberikan obat pereda kecemasan untukmu."


"Intinya kamu harus menanamkan pada diri kamu sendiri jika kamu bisa melewati dan menghilangkan ketakutanmu," tambah Anandhi.


Lama bercerita, Anandhi melakukan beberapa cara untuk menghilangkan trauma Aza. Satu jam berlalu, wanita paruh baya itu harus segera kembali ke rumah sakit Sanjaya. Enggan sekali rasanya jika harus berpisah dengan Aza, ia sudah sangat nyaman berada di samping wanita itu.


"Ehm, bolehkah aku berfoto denganmu?" tanya Anandhi meminta persetujuan Aza. Entah kenapa hatinya menginginkan untuk berfoto dan mengabadikan momen pertama kali bertemu itu.


"Tentu saja boleh!" Anandhi segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya yang berwarna merah, membuka kamera, dan mendekati Aza.


Banyak foto telah terambil dan tersimpan di ponsel itu. Aza dan Anandhi terlihat sangat dekat meskipun baru saja bertemu. Tak ada rasa canggung di antara mereka.


Aza menatap lekat ponsel Anandhi yang menunjukkan beberapa hasil foto mereka tadi.

__ADS_1


"Ihh, lucu ya kita," ujar Anandhi ketika melihat foto mereka dengan berbagai macam pose.


"Iya, Tante. Yang ini sangat lucu," ucap Aza tertawa. "Ehh, kalau dilihat- lihat wajah kita kok hampir mirip ya. Hidung kita, bentuk mata kita, hampir sama," sambung Aza.


__ADS_2