My Presdir

My Presdir
Suasana Baru


__ADS_3

Pagiku cerahku, matahari bersinar...


Kugendong tas merahku di pundak...


"Ailee, tas mu itu berwarna pink!" cetus Aiden menghentikan lagu yang sedang dinyanyikan Ailee.


"Pink itu juga merah...merah muda..." tukas Ailee.


Dua anak itu berjalan menuruni anak tangga menuju ke meja makan untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah mereka. Seperti biasa, mereka akan kesulitan untuk duduk di kursi karena tinggi, dan saat itu pula Aksa selalu terpingkal- pingkal melihat anak- anaknya yang sedang berjuang.


"Papa jangan menertawakan kami."


"Iya, kami kan masih kecil wajar saja kalau kesulitan."


"Dan Papa tuh harusnya beli kursi yang pendek, biar kita gampang duduknya."


Aksa menghela nafasnya, Anak- anaknya itu sangatlah cerewet. "Kenapa jadi salahin Papa? Opa tuh yang beli kursinya," ucap Aksa menunjuk Keno yang sedang menyeruput kopinya.


"Opa itu enggak salah, yang salah itu Papa," ucap Aiden dan Ailee serempak.


Aksa pun hanya bisa mengelus dadanya, berusaha untuk sabar, tenang, supaya darahnya tidak naik.


"Okay, ini pancake kalian. Saus coklat untuk Aiden dan saus strawberry untuk Ailee," seru Aza meletakkan dua piring pancake di depan anak- anaknya.


Hari ini tepat satu bulan Aiden dan Ailee masuk sekolah. Dan ini adalah hari pertama bagi Aza kembali bekerja. Dirasa anak- anaknya sudah cukup mandiri dan bisa ditinggal, Aksa pun memperbolehkan istrinya untuk kembali bekerja.


"Aiden, Ailee, ingat ya jangan nakal- nakal. Kalau sampai Papa dan Mama dapat laporan dari guru kalian, Papa nggak akan menyekolahkan kalian lagi," nasihat Aksa ketika mobil telah sampai di playgroup berstandar internasional.


"Siap, Papa!"


"Sayang, jaga diri kalian baik- baik ya. Nanti jangan pulang dulu kalau Mama belum sampai. Jangan jajan-"

__ADS_1


Aiden dan Ailee meletakkan telunjuk mereka di depan mulut Mamanya supaya wanita itu berhenti berbicara, "Tidak boleh jajan sembarangan, hanya boleh makan makanan yang diberikan bu guru, tidak boleh nakal, dan harus mendengarkan perkataan bu guru."


"Pandai sekali, muachhhh..." Aza mengecup kedua pipi anaknya secara bergantian sebagai hadiah.


"Sudahlah, Mah. Kita harus ke kelas, dan bukankah Mama juga akan pergi ke kantor hari ini?" ucap Aiden. Anak kecil itu terlihat dingin, ia tak suka dengan hal yang bertele- tele.


"Byee, Mah, Pah. Semoga hari kalian menyenangkan," ucap Aiden, ia lalu menarik tangan saudara kembarnya meninggalkan Mama dan Papanya yang masih terdiam menatap mereka.


"Huffttt, akhirnya lepas juga dari anak- anak nakal itu..." Aksa menghela nafas panjang seakan memang terlepas dari beban yang sangatlah berat.


"Hubby, memangnya kamu waktu kecil nakal ya? Kok anak- anak kita nakal gitu."


"Ya sepertinya buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Dulunya aku memang nakal, tapi sangatlah pandai. Good looking sejak lahir, ya pokoknya gitu lah," jawab Aksa dengan sombongnya, Aza hampir saja muntah mendengar ucapan- ucapan suaminya.


*****


Suasana kantor sudah berubah, penataan ruangan, fasilitas- fasilitasnya, teman- temannya pun juga sama. Devano dan Clara telah sah menjadi sepasang suami istri, mereka juga telah dikaruniai seorang anak lelaki yang usianya lebih muda satu tahun dari Ailee dan Aiden.


Sedangkan Sarah? Apakah dia sudah menemukan pemilik hatinya? Ah, ia sudah menemukannya. Sarah menikah tiga bulan setelah pernikahan Devano dan Clara. Suaminya merupakan teman sekantor tapi berbeda devisi. Ia telah dikaruniai seorang putri cantik yang usianya hanya berbeda beberapa bulan saja dari anak Clara dan Devano. Dan saat ini, Sarah tengah mengandung anak kedua sekitar empat bulan.


"Yaelah, Za, gitu doang iri. Aku tuh bingung kalau di rumah mau ngapain, jadi mending kerja aja deh," ucap Sarah.


"Tapi kok suamiku ngebolehin kamu sih?"


Aksa meninggalkan dua wanita itu, ia cukup kesal ketika mengingat bagaimana Sarah merayunya dulu. Ya, Sarah mengancamnya akan memprovokasi Aza supaya membenci dirinya hingga meminta cerai dan hak asuh anak akan jatuh di tangan Aza. Tentu saja itu membuat Aksa takut soalnya omongan Sarah itu selalu membuat siapapun percaya dan luluh, ia memang pandai sekali untuk menaklukkan seseorang.


"Sudahlah, Za. Ngga usah dibahas lagi, ayok kerja nanti Pak Presdir marah loh!" Sarah pun merangkul sahabatnya. Ia sudah tak sabar melewati hari- hari bekerja bersama Aza. Mereka memang kerap sekali bertemu, tapi untuk bekerja bersama, duduk berdampingan seperti dulu itu sangat dirindukan.


Hari pertama bekerja kembali, Aza sangat menikmatinya. Bersenda gurau dengan teman satu devisi membuat suasana hatinya semakin membaik. Gelak tawa pecah di ruangan itu, sepertinya teman- teman juga merindukan kehadiran Aza di tengah- tengah mereka.


Momen itu harus terhenti sejenak lantaran jam pulang Aiden dan Ailee sudah tiba, Aza pun bergegas menuju ke sekolah mereka. Ia bernapas lega ternyata dirinya tak terlambat karena tadi di jalan sempat ada kemacetan.

__ADS_1


Aza naik bus untuk ke sana, padahal Pak Aryo dengan siap sedia mengantarnya kapan pun dan kemana pun tapi Aza tak mau. Ia hanya ingin mengajarkan kepada anak- anaknya tentang kesederhanaan dan bagaimana caranya berbaur dengan masyarakat lain.


"Mamaaaa..." Teriak Aiden dan Ailee berlari menghampiri Aza yang duduk di ruang tunggu. Aza pun dengan senang hati mengulurkan tangannya menyambut kedua anaknya ke dalam pelukannya.


"Anak- anak Mama capek ya pasti?"


"Enggak. Tapi aku sangat kesal, tadi hanya menyanyi dan menari saja. Aku nggak suka," tutur Aiden melipat tangannya di dada menunjukkan jika dirinya benar- benar kesal.


"Oh ya? Bukankah itu menyenangkan?"


"Enggak sama sekali."


"Sangat menyenangkan! Aku sangat suka menari..." sahut Ailee, ia kemudian menggerakkan tubuhnya menari seperti apa yang diajarkan gurunya tadi. Aza selalu gemas dibuatnya.


Usai berbincang sejenak, Aza lalu mengajak anaknya untuk keluar dan mencari bus. Mungkin hanya mereka saja yang berdiri di tepi jalan mencari bus yang melewati daerah itu. Semua teman- temannya memang anak sultan, semuanya diantar jemput dengan mobil mewah.


"Itu busnya sudah datang, ye ye ye ye...." Ailee melompat gembira melihat bus dari kejauhan.


Tin- tin- tin!


Suara klakson mobil membuat pandangan mereka teralihkan. Jendela mobil turun menampakkan ibu- ibu dengan banyak kalung emas menghiasi lehernya yang jenjang.


"Bu Aza, kok naik bus sih? Emangnya di rumah nggak ada mobil ya?" tanyanya dengan senyum mengejek. Namanya Bu Devi, perempuan cantik yang usianya tak terpaut jauh dengan Aza. Sangat sombong, Aza tak menyukainya.


"Maaf ya, Bu. Saya duluan, busnya sudah datang," ucap Aza melayangkan senyum sebelum dirinya dan anak- anaknya naik ke dalam bus yang sudah berhenti di depan mereka.


"Sepertinya orang susah, tapi kenapa gaya- gayaan nyekolahin anaknya di sekolah internasional," gumam Bu Devi yang masih terdengar jelas di telinga Aza.


Tak hanya Bu Devi saja yang berbicara seperti itu, ibu- ibu yang lain pun tak kalah pedasnya. Dan Aza tak pernah menanggapinya karena itu hanya akan membuang waktu dan energi saja.


"Yahhh, busnya penuh, hanya ada satu tempat," celetuk Aiden.

__ADS_1


"Enggak papa dong, Mama bisa memangku kalian."


Aza lalu duduk, ia menyuruh Aiden dan Ailee duduk di pangkuannya. Sepanjang perjalanan, mereka selalu bercerita. Aza dengan senang mendengar cerita anak- anaknya saat di sekolah, ia juga meminta anaknya untuk kembali mengulang pelajaran yang telah diajarkan.


__ADS_2