
"Hubby, kita serius mau ke Bali?" tanya Aza memastikan lagi. Wanita itu sibuk memasukkan keperluan dirinya dan sang suami selama di Bali nanti.
"Serius dong, tapi hanya tiga hari saja. Nggak papa, kan?" Aksa mengecup pipi istrinya dan ikut menbantunya packing.
"Nggak papa dong, yang penting liburan."
"Bukan liburan, tapi bulan madu! Kamu tahu kan istriku, bulan madu itu bagaimana?"
"Iya tahu, buat dedek bayi, kan?"
"Pintar sekali." Aksa mencubit hidung istrinya gemas.
Mereka akan pergi besok pagi, barang yang diperlukan pun sudah siap. Hanya satu koper saja karena tak akan berlama- lama di sana.
"Yeyyy, akhirnya selesai juga. Nggak sabar deh ke sana," celetuk Aza sembari membaringkan tubuhnya di ranjang yang kemudian diikuti sang suami di sampingnya.
"Aza, apa selama ini kamu nggak pakai uang sama black card dariku?" Aksa menatap lekat istrinya meminta keterangan yang pasti darinya.
"Belum, Hubby. Lagipula aku tak membutuhkan apapun lagi, semua yang kuperlukan sudah ada," jawab Aza dengan polosnya.
"Lalu, selama ini kamu kalau jajan pakai gaji kamu?"
Aza mengangguk sebagai jawabannya.
"Aku nggak suka! Pokoknya kamu harus pakai uang dariku. Aku itu suamimu, aku yang menafkahimu. Gunakanlah uangku semaumu, itu sudah hakmu."
"Simpan uangmu, dan jika membutuhkan sesuatu pakai uangku jangan pakai uangmu lagi," tambah Aksa dengan nada serius.
"Aku nggak tahu gimana ngehabisin uang suami, lagipula uangmu sangatlah banyak."
Aksa baru teringat jika Aza memang hemat dan tak mata duitan. Wanita itu tak matre, tak sama seperti wanita pada umumnya. Tapi Aksa merasa sedih, ia seakan tak ada gunanya jadi suami. Uang yang seharusnya digunakan istrinya, tapi malah tak digunakan sedikit pun.
"Pokoknya mulai besok kamu harus pakai uangku, beli semaumu. Tas, baju, sepatu, apapun yang kamu mau," ucap Aksa.
"Aku sudah mempunyai semuanya, Hubby. Dari Mama Aira juga masih banyak yang belum kepakai, jadi sayang kalau beli lagi. Aku cuma butuh jajan, bukan barang- barang itu."
"Ya sudah, mulai besok kalau jajan satu gerobak sekalian biar uangnya berkurang."
Aza terkikik mendengarnya, "Kalau sama abang penjualnya boleh?"
"Awas saja kalau kamu berani dekat dengan lelaki lain." Aksa langsung menggelitik istrinya hingga tertawa terpingkal- pingkal.
"Kalau sama abang penjualnya pasti uangmu akan berkurang banyak, Hubby."
"Aza, jangan membuatku marah."
"Hehe, iya, Hubby. Aku tuh hanya bercanda, menggemaskan sekali sih kamu tuh!"
*****
Pagi telah menyambut, dua insan itu sudah siap untuk terbang ke Pulau Dewata. Pulau yang sangat disukai dari berbagai kalangan, tempat yang selalu dijadikan destinasi wisata. Mereka tak menggunakan jet pribadi karena lebih suka berbaur dengan orang lain.
"Pah, Mah, Aksa pergi dulu ya." Aksa mengecup tangan Papa dan Mamanya secara bergantian, kemudian diikuti Aza juga.
Keno dan Aira ikut mengantarkan mereka sampai di Bandara.
"Hati- hati ya, semoga bulan madu kalian menyenangkan," ucap Aira memeluk menantunya.
"Papa semangat ya ngurus perusahaan, ingat ya pah jaga perusahaan baik- baik. Jangan sampai diambil gajah," ucap Aksa menggoda.
Lelaki yang sudah bersiap untuk ke kantor dengan setelan jas berwarna biru tua itu pun mendengus kesal. Anaknya sangatlah menyebalkan.
"Sudah- sudah, sana berangkat. Nanti kalian ketinggalan pesawat," seru Keno.
Ia lalu mengajak istrinya untuk pergi dari Bandara tanpa menunggu pesawat Aksa berangkat.
"Hati- hati Aksa, Aza, jaga diri kalian baik- baik ya sayang," teriak Aira.
"Byee Papa, byee Mama. I'll see you in three days," teriak Aksa sembari melambaikan tangannya. Ia kemudian merangkul istrinya dan satu tangannya menarik koper.
*****
Aksa dan Aza sudah berada di dalam pesawat, pesawat akan lepas landas beberapa menit lagi. Mereka nampak lelah dan mengantuk, semalam dua insan itu hanya tidur satu jam saja. Kok bisa? Ya bisalah, orang mereka enak- enak mulu😭
__ADS_1
"Rasanya aku mengantuk sekali..." celetuk Aksa, sudah berulang kali lelaki itu menguap pertanda jika dirinya benar- benar mengantuk.
"Sama, Hubby. Aku juga mengantuk. Ini gara- gara kamu!"
"Loh, kok aku sih?"
"Kan kamu yang nggak mau berhenti, jadi nggak bisa tidur deh."
"Tapi kamu juga suka, kan?" tanya Aksa terkikik geli.
"Ah, sudahlah!" Raut wajah Aza langsung merah padam, ia selalu saja malu saat suaminya menggodanya seperti itu.
Baru setengah perjalanan, mereka pun tertidur pulas. Penumpang dan pramugari yang melihatnya pun gemas dengan mereka.
Aksa dan Aza masih tertidur hingga tak sadar jika mereka sudah sampai di Bali. Pesawat hanya menyisakan para pramugari, pilot, Aksa dan Aza saja. Semuanya menggelengkan kepalanya, sudah mencoba membangunkan mereka tapi tak kunjung membuka mata juga.
"Nona, Tuan, bangunlah cepat. Berdo'alah supaya semua baik- baik saja. Pesawat dalam keadaan tak baik, sepertinya akan terjadi kecelakaan," ucap salah satu pramugari sembari menahan tawanya.
"Para penumpang, harap tenang dan berdo'alah supaya hal buruk tak terjadi. Tetap diam di tempat dan jangan lepaskan sabuk pengaman kalian," tambah pramugari lain.
Sontak saja, Aksa dan Aza langsung bangun. Mereka tersentak, mendengarnya.
"Hubby, bagaimana ini?"
"Aduhh, kok bisa mau kecelakaan sih?"
Aksa dan Aza kebingungan, mereka saling menggenggam satu sama lain. Berdo'a supaya tak terjadi apa- apa dan mereka tak terpisahkan nantinya jika pesawat benar- benar akan jatuh.
Pramugari dan pilot pun tertawa terbahak- bahak melihatnya. Pasangan itu memang menggemaskan.
"Maaf, kami hanya bercanda supaya kalian bangun karena pesawat telah sampai di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai," ucap mbak- mbak pramugari berusaha menenangkan Aksa dan Aza.
Pasutri itu pun lalu berdiri dan menyapu seluruh isi pesawat. Sepi, sudah tak ada penumpang lagi selain mereka.
"Maaf, Tuan," seru mereka bersamaan diselingi tawa.
Aksa dan Aza mendengus kesal. Mereka lalu keluar dari sana, dengan raut wajah jengkel. Tak lama kemudian datanglah mobil beserta orang suruhan Aksa. Aksa dan Aza pun segera menuju ke hotel.
"Kita mau ke hotel dulu, Hubby? Kenapa nggak langsung ke pantai atau ke mana gitu? Let's begin the holiday," celetuk Aza.
"Bukan holiday, tapi honeymoon. Kenapa salah terus sih." Aksa mencubit hidung Aza gemas.
""Ya ya ya, honeymoon bukan holiday."
Drrttt...drrrtttt...
Ponsel Aksa berdering, begitu juga dengan ponsel Aza. Mereka langsung menggeser tombol berwarna hijau hingga nampaklah wajah Devano dan Clara.
"Halooo, pengantin baru," seru Clara dan Devano dengan riangnya.
Aza lalu melihat siapakah yang menelpon suaminya, ternyata ponsel suaminya itu menampakkan dua orang yang sama yang menelpon Aza.
"Heyy, kalian kenapa nggak nelpon salah satu aja sih? Sudah, aku akan mematikannya," ucap Aksa yang lalu mematikan sambungan telepon dan beralih di ponsel sang istri.
"Hm, ada apa? Awas saja kalau kalian mengganggu honeymoon kami." Aksa berbicara ketus kepada dua orang yang sebentar lagi akan melaju ke jenjang pernikahan.
"Nggak kok, Sa. Aku cuma mau ngasih tahu, kalau pekerjaan sudah aku kirim ke email-mu. Dan ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani, berikan tanda tangan digital saja. Coba cek deh," ujar Devano.
"Kenapa mengirimkan ke email ku? Kan ada Papa? Kenapa nggak menyuruhnya langsung saja?!" Aksa terlihat kesal dengan sahabatnya itu, bagaimana bisa dia tetap mengirimkan pekerjaan saat bulan madu.
"Kan beliau hanya menggantikanmu saja, kamu Presdirnya sekarang. Jadi semuanya ada di tanganmu," tukas Devano.
"Oh ya, Za. Kamu jangan lupa bikin laporan keuangan bulan ini ya, jangan sampai salah laporannya," ucap Clara.
Aza jadi ikut kesal mendengarnya. Sepertinya bulan madunya akan terganggu dengan pekerjaan dan ulah dua sahabatnya. Aksa langsung mematikan sambungan teleponnya, ia juga mematikan ponsel milik Aza dan miliknya sendiri, lalu menyimpannya di dalam tas.
"Selama tiga hari di sini, kita nggak usah pegang ponsel. Mereka pasti akan mengganggu kita, belum lagi sama Sarah, Papa, Mama, Opa, dan Oma berlipstik tebal," tutur Aksa yang kemudian diangguki kepala oleh Aza.
"Tapi, kalau mereka khawatir dengan kita bagaimana? Kalau aku mau selfie gimana? Hubby, aku harus memposting foto holiday kita eh maksudnya honeymoon," rengek Aza.
__ADS_1
"Aku kan membawa koleksi kameraku, kita akan berfoto dengan kamera itu. Kalau mau posting ke instagram atau WhatsApp, tunggu kita selesai honeymoon."
"Nggak seru dong, Hubby. Masa nanti captionnya late post, harusnya itu up to date."
"Kalau kita tetap memegang ponsel, malah nggak seru lagi. Mereka semua akan mengganggu kita."
"Huffttt, baiklah. Tiga hari tanpa ponsel."
Aksa dan Aza sudah berada di hotel, mereka memilih untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum pergi ke pantai sore hari nanti. Ah, bukan istirahat sih. Tapi mencicil untuk membuat Aksa junior.
"Hubby, kenapa ada baju seperti ini?" Aza yang kala itu hendak berganti baju pun terheran- heran mendapati banyak baju kurang bahan, tipis, dan tak layak pakai.
Aksa pun mendekati istrinya yang tengah mengobrak- abrik isi koper, ia terkikik melihat banyak sekali lingerie di sana. "Sepertinya kamu benar- benar mempersiapkan bulan madu kita ya?" ucap Aksa menggoda.
"Bukan seperti itu, Hubby. Aku nggak tahu kenapa ada baju seperti ini." Aza bergidik ngeri sembari menjerengkan lingerie itu dan menempelkan di tubuhnya. Menatap dirinya di cermin, lalu membuang lingerie itu jauh- jauh merasa jijik dan tak akan pernah memakainya.
"Hey, kenapa dibuang?" Aksa terkekeh dan mengambil lingerie yang berceceran di lantai.
"Jauhkan dariku, Hubby. Itu mengerikan, aku tak akan pernah memakainya."
"Tapi aku ingin kamu memakainya, ayolah sekali ini saja. Ayo goda suamimu ini..."
"Nggak mau!" Aza lalu merebahkan tubuhnya di ranjang dan memakai selimut rapat- rapat.
Aksa mendekati istrinya yang wajahnya merah di balik selimut, "Ayo pakailah, ini pemberian Mama Aira pastinya. Kamu nggak kasihan sama dia? Dia sudah menyiapkannya loh..."
"Hikss...hiks...hiksss..." Aza malah menangis teesedu- sedu dibuatnya. Aksa jadi salah tingkah sendiri, ia bingung bagaimana menenangkannya.
"Aza, sayang, jangan menangis. Ayo berhenti menangis, aku nggak akan nyuruh kamu lagi kok."
"Bukan itu, Hubby. Tangan kananku tertindih tubuhmu, rasanya sakit sekali," lirih Aza di sela tangisannya. Aksa tak tahu jika menindih tangan istrinya, karena tangannya tak terlihat dan tertutup dengan selimut.
"Aduh, maaf..."
Aza langsung menarik tangannya, merah dan sakit.
"Lihat, langsung merah diinjak gajah!"
"Kamu ngatain aku gajah?"
"Iya, Hubby. Tubuhmu kan besar sekali," jawab Aza dengan polosnya.
"Berani- beraninya mengataiku gajah, aku lebih tampan dari mereka. Aku akan memberikanmu hukuman! Dua ronde di atas."
Aza langsung mengeluarkan jurusnya, ia menangis tersedu- sedu. Mungkin dengan menangis Aksa akan mengurangi hukumannya. Aza tak mau jika bermain di atas, itu sangat melelahkan.
"Aza, kok nangis lagi sih..."
"Jangan nangis aku nggak suka! Ayo berhentilah..." Aksa panik, ia mengusap air mata Aza dan mengecupi wajahnya.
"Aku berhenti menangis kalau kamu mengurangi hukumanku, aku nggak mau bermain di atas hu...huuu...huuu..." ucap Aza sesegukan. Sungguh, wanita itu benar- benar licik. Pandai sekali memainkan drama.
"Hufft, baiklah- baiklah. Lima ronde di atas!"
"Ayihhh, kenapa malah ditambah?" Aza terkejut, kenapa suaminya itu malah menambah hukumannya.
"Karena kamu berusaha mengelabui ku. Aku tahu kok kamu cuma nangis boongan."
Aza ingin sekali menggigit tembok saat itu. Benar- benar menyebalkan.
.
.
.
.
.
Hello My Presdir kalau Minggu libur ya guys🙏
Sampai bertemu hari senin semuanya🤗😍
__ADS_1