
Malam semakin larut, semuanya pun sudah terlelap kecuali Aksa dan Aza. Mereka berdua masih menemani anak- anak tidur. Malaikat kecil mereka sudah terlelap dengan nyenyaknya, Aksa dan Aza enggan untuk bangkit dari sana. Mereka masih asyik memandangi Aiden dan Ailee.
"Mereka lucu ya," celetuk Aza tersenyum tipis dan membelai pipi Ailee. Sedangkan Aksa membelai pipi Aiden dan sesekali mengecupnya.
"Keturunanku akan sangat lucu dan menggemaskan, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya, kan?" ucap Aksa terkikik geli.
"Kamu bukannya menggemaskan, tetapi menyebalkan," sahut Aza tertawa kecil.
Aksa dan Aza berbaring menghadap langit-langit kamar. Banyak hal yang telah dilalui, kenangan- kenangan manis maupun pahit juga mengiringinya.
"Aku jadi teringat hari di mana mereka lahir," ucap Aza menoleh memandang suaminya.
"Hm, hari itu tak akan pernah terlupakan olehku."
Mereka kembali mengingat hari itu, hari yang sangat indah karena dua malaikat kecil terlahir di dunia.
Flash Back
Perutnya sudah sangat besar, terdapat dua bayi di sana. Untuk berjalan pun ia sedikit kewalahan. Para keluarga selalu menjaganya, menemaninya kemanapun dirinya melangkah.
Hari itu, semua masih asyik menata kamar untuk dua bayi yang sedang dikandung. Kamar yang luas didesain dengan dua tema yang berbeda. Perlengkapan untuk bayi- bayi pun telah tersedia lengkap dan tersusun rapi di tempatnya.
"Lihatlah, kita tak perlu capek- capek menatanya. Semua sudah diatur oleh mereka," ucap Aksa memandang keluarga yang sibuk ke sana kemari menyiapkan segalanya.
"Iya, Hubby. Beruntung ya kita diberikan keluarga yang penyayang seperti ini," ucap Aza. Wanita itu mengusap perutnya yang besar, tadi sempat merasa keram tapi hanya sebentar.
Aksa membaringkan tubuhnya dan meletakkan kelapanya di pangkuan sang istri. Ia menghadap perutnya, membelainya, serta mengecupnya tiada henti. Sesekali meletakkan telinganya berusaha mendengar apa yang sedang dilakukan dan dibicarakan bayi- bayinya di dalam sana.
"Hubby..." Aza terkejut ketika terjadi kontraksi secara tiba- tiba. Ia meringis, tangan yang tadinya membelai rambut Aksa pun terhenti dan malah menjambaknya.
__ADS_1
"Kenapa, sayang?" Aksa pun bangkit, panik tak karuan mendapati Aza yang langsung pucat dan meringis kesakitan.
"Perutku sakit." Jawaban Aza itu membuat semua orang di kamar terdiam menatapnya. Mereka lalu kalang kabut mencari barang- barang yang harus dibawa ke rumah sakit dan keperluan lainnya.
Opa Bram segera mengabari rumah sakit supaya menyiapkan segala keperluan. Opa Andi dan Keno menyiapkan mobil untuk mengantarkan mereka. Oma Maria dan Oma Mira mengambil barang- barang yang dibutuhkan. Sedangkan Aira dan Anandhi menenangkan Aza.
Lalu Aksa? Ah, dia hanya bisa mendekap istrinya dan berdiam diri. Aksa sangatlah panik, ia tak tahu harus berbuat apa. Aksa tak sanggup melihat istrinya yang kesakitan seperti itu.
"Gendong istrimu! Ayo pergi ke rumah sakit sekarang!" bentak Aira kepada Aksa, ia sangatlah jengkel dengan anaknya yang malah menangis dan berdiam.
Aksa sangat lemas, ia berusaha menggendong Aza. Rintihan sang istri membuatnya semakin sedih, ingin sekali rasanya ia menghentikan rasa sakit itu dan kalau bisa biar ia saja yang merasakannya, jangan wanita yang sangat dicintainya.
"Hubby, sakit..." ucap Aza, wanita itu merasakan sakit yang teramat tapi senyum tetap terukir jelas.
"Sabar, Sayang..." Aksa memeluk istrinya dan mengecupi keningnya. Air matanya keluar tanpa henti, ia benar- benar takut jika terjadi apa- apa dengan mereka.
"Atur napasmu, Sayang," ujar Anandhi, ia duduk di samping Aza.
"Mah, rasanya sakit..." ucap Aza kepada Anandhi.
"Beginilah seorang Ibu, tak apa. Ini akan terbayarkan ketika dua malaikat kecilmu telah lahir ke dunia." Anandhi mengusap perut Aza dan mengusap punggungnya supaya mengurangi rasa sakit.
"Iya, Mah..." Aza berusaha tenang, sebenarnya ia merasa takut karena bayi yang berada di perutnya itu ada dua. Bagaimana jika dirinya tak sanggup lagi?
"Pah...Tambah kecepatannya! Istriku sangat kesakitan, kita harus segera sampai ke rumah sakit hikss...hiksss...hikssss..." gertak Aksa diselingi tangis yang membuat Aza tertawa dan sejenak melupakan rasa sakitnya.
"Kamu itu diam saja! Memalukan, begitu saja menangis!" ledek Keno.
"Hubby, jangan menangis. Aku baik- baik saja, rasanya sangat nikmat, Hubby..." Aza malah berusaha menenangkan suaminya yang menangis tersedu-sedu dan menyandarkan kepala di bahunya.
__ADS_1
Mobil telah sampai di rumah Sakit Sanjaya, mobil yang ditumpangi para Oma dan Opa pun juga telah sampai. Di sana terdapat beberapa perawat yang bersiap dengan kursi roda.
Aksa keluar terlebih dahulu, ia membuka pintu mobil lebar- lebar supaya lebih mudah menggendong istrinya keluar. Belum sempat Aksa menggendongnya, Aza sudah keluar terlebih dahulu.
"Aku baik- baik saja, Hubby. Aku akan jalan sendiri." Ucapan Aza itu membuat Aksa ternganga. Lelaki itu menatap istrinya yang berjalan melewati dirinya.
"Pakai kursi roda saja, Sayang," pinta Anandhi. Aza pun menurut, Anandhi mendorong Aza mengikuti perawat yang menunjukkan ruangan Aza nantinya.
Sedangkan Aksa masih berdiam diri menatap kepergian istrinya. Keno yang baru saja keluar dari mobil pun menggeleng- gelengkan kepalanya melihat anak yang sangat bodoh. Kepintaran Aksa tiba- tiba lenyap jika sudah menyangkut dengan orang yang dicinta dan disayanginya.
"Kamu mau di sini terus?" gertak Keno membuat Aksa tersentak.
Lelaki itu pun langsung berlari mengikuti Mama dan istrinya. Keno lagi- lagi menggelengkan kepalanya karena Aksa ternyata tak memakai sandal, ia pun memakai kaos biru tua polos serta celana kolor berwarna cream dengan motif polkadot.
"Cepat periksa istriku!" gertak Aksa ketika sudah sampai di ruang perawatan. Di sana Aza sudah berbaring dengan para Oma dan Mamanya mengitari brankar.
"Ini juga lagi diperiksa!" sahut Oma Maria.
"Jangan disentuh!" seru Aksa ketika Dokter Afifah hendak memeriksa alat vital guna mengetahui sudah bukaan ke berapa.
"Kalau tidak boleh disentuh bagaimana saya memeriksanya," ucap Dokter Afifah menghela napasnya. Baru kali ini ia mendapati suami pasiennya yang begitu menjengkelkan.
"Ahh..." Aza menggeliat ketika jari Dokter Afifah memeriksa alat vitalnya.
"Baru pembukaan empat, masih lama," ujar Dokter Afifah.
"Jika kontraksi datang jangan panik, cukup pijat punggungnya supaya rasa sakitnya mereda. Anda sebagai suami jangan cengeng dan tak perlu khawatir, cukup berdo'a dan memberikannya semangat supaya persalinan berjalan lancar," tambah Dokter Afifah memperingatkan Aksa sebelum dirinya dan asistennya keluar dari ruangan itu.
"Tuh, denger kan dokter bilang apa. Laki kok gitu sih! Nggak gentleman!" ledek Keno.
__ADS_1
"Kamu dulu juga begitu, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya, kan?" goda Opa Bram, Keno pun menggaruk tengkuknya jadi salah tingkah.
Dan akhirnya, Aksa bisa tersenyum. Rasa panik mulai berangsur menghilang.