My Presdir

My Presdir
Marahan


__ADS_3

Pagi itu tak seperti biasanya, tak ada percakapan antara Aza dan Sandra. Padahal, mereka selalu mengobrol ketika menyiapkan sarapan di dapur. Sepertinya Aza masih marah dengan Sandra karena semalam memeluk Aksa sembarangan.


"Kak Aza marah ya sama Sandra?" tanya Sandra. Wanita itu membantu Bi Mona menyiapkan sayuran untuk salad.


"Bi Mona, Aku sudah selesai. Nanti tolong bilang sama Mama dan Papa kalau Aku dan Aksa akan sarapan di kamar jadi mereka tak perlu menunggu," ucap Aza kepada Bi Mona.


"Loh, tumben sarapannya di kamar, Nak?" tanya Bi Mona terheran.


"Iya, Bi. Lagi pengen sarapan di kamar aja." Aza lalu membawa pancake dan dua gelas susu yang diletakkan di atas nampan menuju ke kamarnya.


Sandra hanya menatap Aza yang berlalu tanpa pamit terlebih dahulu dengan dirinya. Ia tahu Aza pasti marah, Sandra merutuki dirinya sendiri kenapa ia begitu bodohnya semalam memeluk Aksa tiba- tiba.


"Kok Nak Aza nggak seperti biasanya sih? Biasanya juga cerewet, tapi kok pagi ini diem terus ya." Bi Mona terheran- heran, ia lalu menatap Sandra tapi wanita itu juga diam tak mau memberi penjelasan lebih.


Sesampainya di kamar, Aza meletakkan sarapannya di meja yang berada di balkon kamarnya. Meja bulat dengan dua kursi di sampingnya yang selalu dijadikan tempat bersantai Aza dan Aksa ketika tak ada kerjaan.


"Hubby, kamu belum selesai mandinya?" Aza mengetuk pintu kamar mandi karena Aksa masih di dalam.


Tak lama kemudian pintu terbuka, Aksa sudah selesai tapi belum mengenakan baju.


"Cepat pakai bajumu, Hubby. Setelah itu kita sarapan ya."


"Kamu turun duluan sana, nanti aku nyusul."


"Kita sarapan di sini, Hubby. Aku nggak mau sarapan di bawah. Aku tunggu di balkon." Aza berlalu menuju balkon. Duduk di sana sembari menikmati semilir angin pagi yang menyejukkan.


"Tumben banget ngajak sarapan di sini," seru Aksa. Lelaki itu langsung menyeruput susu hingga habis setengah gelas.


"Iya, Hubby. Di bawah kan ada Sandra, aku takut kalau kamu dipeluk- peluk lagi sama dia."


Aksa tertawa mendengarnya, Aza ternyata begitu takut jika kejadian semalam terulang lagi.


Satu tumpuk pancake dengan saus cokelat diberi irisan strawberry segar telah habis masuk ke dalam perut. Susu di gelas pun telah tandas. Mereka kembali terdiam, menatap ke bawah melihat Pak Aryo yang sedang memotong rumput. Sama- sama bosan dan bingung harus berbuat apa setelah sarapan.


"Aza sayang..." seru Aksa.


"Iya, Hubby?"


"Jalan yuk."


"Ke mana?"


"Nggak tahu, pokoknya jalan aja yuk!"


Aksa menggandeng tangan istrinya turun ke bawah. Tapi Aza berjalan terlebih dahulu dan menyuruh suaminya untuk berdiam sebentar menunggu peritnah darinya. Wanita itu melihat sekeliling rumah, memastikan jika tak ada Sandra di sana. Jadi, Aksa bisa aman! Aza benar- benar sudah gila. Terlalu mencintai ia menjadi posesif dan takut kehilangan Aksa, takut jika lelaki itu berpaling dan meninggalkan dirinya.


"Ayo, Hubby!" Aza lalu menarik tangan Aksa mengajaknya berjalan lebih cepat sebelum Sandra keluar dari sarangnya. Aksa hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya yang tak biasa itu.


Mereka berdua berjalan beriringan entah hendak ke mana, yang penting keluar rumah, pikir mereka. Kompleks begitu sepi, sepertinya banyak tetangga yang menghabiskan weekend di suatu tempat. Beberapa lagu dinyanyikan Aksa mengiringi langkah kaki mereka. Dengan tangan yang bertaut, membuat suasana tambah mesra. Meskipun hanya jalan menyusuri kompleks, mereka begitu menikmatinya.


"Hubby, kenapa pohon mangga ini nggak pernah berbuah?" tanya Aza, tangannya menunjuk pohon mangga besar yang berdiri kokoh dengan daun yang lebat.


"Nggak tahu, mungkin dia marah. Soalnya pas aku masih kecil buahnya aku lemparin batu," jawab Aksa menatap pohon mangga yang ditunjuk istrinya.


Kisah beberapa tahun lalu kembali teringat, saat pulang sekolah bersama Devano dirinya pasti melempari buah mangga supaya terjatuh dan bisa dimakan. Mang Dadang dan Bi Ijah membantu mereka mengupas, memotong, dan membuatkan sambal. Ah, Aksa jadi teringat dengan dua orang itu. Dua orang yang selalu bersamanya sejak kecil, sudah dianggap seperti kakek dan neneknya sendiri. Tapi Bi Ijah telah pergi untuk selamanya, sedangkan Mang Dadang menyendiri di kampungnya. Menunggu ajal menjemputnya juga.

__ADS_1


"Hubby, kamu kenapa sedih?"


"Eh, nggak papa kok. Cuma ingat Bi Ijah saja."


Aksa kembali mengajak istrinya berjalan. Tapi baru beberapa kali melangkah lagi, tiba- tiba ada yang motor yang melaju dengan cepat. Orang yang duduk dibelakang melempari Aksa dan Aza dengan beberapa telur.


"Awww..." Aksa dan Aza sama- sama memekik saat ada telur tepat mengenai wajah mereka. Amis dan menjijikkan, apalagi Aksa dan Aza tak suka dengan hal yang berbau kotor.


"Heyyy!" teriak Aksa tapi motor sudah melaju dengan cepat tak sempat jika mengejarnya.


"Hubby, itu motornya sama kaya yang beberapa waktu lalu melempariku dengan telur. Iya, Hubby aku ingat betul," seru Aza.


"Beberapa waktu yang lalu? Berarti kamu pernah dilempari telur juga saat di jalanan?"


Aza mengangguk lemah, ia merutuki dirinya sendiri karena telah berkata kepada suaminya. Aksa pasti akan khawatir dan marah dengannya.


"Kenapa nggak bilang sih? Kalau gitu kan aku bisa cari orangnya biar nggak berulah lagi!"


Dan benar saja, suara Aksa langsung meninggi. Lelaki itu begitu marah jika ada yang mengusik orang yang ia sayangi. Ia tak akan membiarkan orang itu tenang hidupnya.


"Kita pulang!" Aksa berjalan cepat membuat Aza terbirit- birit mengejarnya.


"Hubby, jangan marah denganku..."


"Aku nggak marah kalau kamu nggak nyembunyiin sesuatu dariku. Sudah berapa kali aku bilang kalau ada apa- apa bilang sama aku." Aksa tak henti- hentinya menggerutu, Aza hanya diam tak berani menjawab. Kalau menjawabnya juga ia akan kalah karena Aksa pandai sekali berdebat.


"Hubby..."


Tak disadari mereka telah sampai ke dalam rumah, dengan tangan Aksa yang masih menggandeng tangan Aza. Layaknya seorang ayah yang mengajak putrinya pulang dari bermain, namun sang putri seperti enggan dan ayahnya menggerutu kesal.


"Aksa, Aza, kalian kenapa? Kok seret- seretan gini sih?"


Aksa tak menggubris orang tuanya, ia berlalu meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun. Aza menatap Keno dan Aira mendamba, seperti meminta bantuan supaya suaminya itu tak marah lagi.


*****


Aksa langsung menyuruh Aza untuk mandi terlebih dahulu, sedangkan dirinya segera mengambil ponsel miliknya dan menghubungi asistennya, Devano.


"Apaan sih, Sa? Ganggu weekend-ku saja!" seru Devano dengan menguap kecil, sepertinya lelaki itu baru saja bangun tidur.


"Lacak motor dengan plat ******* secepatnya, aku ingin tahu siapa pemiliknya," ujar Aksa dengan penuh keseriusan. Ia tadi menghafal plat motor orang yang melempari telur dirinya dan Aza supaya lebih mudah mencarinya.


"Ya ampun! Cuma pengen tahu orangnya aja kenapa serius banget sih, Sa? Nggak penting juga!"


"Sangat penting!" Tanpa ba- bi- bu lagi, Aksa segera mematikan sambungan telepon. Ia masih saja kesal dengan si pelempar telur dan juga Aza. Sudah berulang kali Aksa menyuruh wanita itu untuk mengatakan apapun yang terjadi, tapi wanita itu selalu memilih diam dan menyimpannya sendiri.


*****


"Hubby..." Lirih Aza ketika Aksa sudah selesai mandi. Lelaki itu tampak acuh dan duduk di depan meja rias mengeringkan rambutnya.


"Biar aku saja, Hubby." Aza merebut handuk kecil di tangan Aksa, lelaki itu enggan tapi Aza terus memaksanya. Aza pun mengeringkan rambut suaminya, sembari melirik suaminya dari pantulan cermin.


Merasa Aksa memandangnya, ia segera memalingkan pandangannya. Aksa sangat menyeramkan jika sudah marah, Aza saja tak berani menatapnya. Aza menyalakan hairdryer, setelah itu ia menyisir rambut Aksa dan menatanya seperti biasa.


"Sudah selesai, Hubby."

__ADS_1


Aksa langsung berdiri dan menuju ke balkon setelah mengambil laptop miliknya. Aza hanya mengintipnya, kali ini Aksa benar- benar marah.


Aza menuju ke dapur dengan langkah gontai, ia membuat kopi dan mengambil beberapa camilan untuk sang suami.


"Halo, Kak Aza," sapa Sandra. Aza hanya meliriknya sekilas, ia masih kesal dengan wanita itu.


"Aku duluan," pamit Aza yang kemudian meninggalkan dapur.


Ia membawa nampan yang berisi secangkir kopi hitam dengan sedikit gula dan satu slice rainbow cake kesukaan suaminya.


"Aku buatin kopi, ini juga aku bawakan rainbow cake, Hubby," ucap Aza meletakkan nampan yang dibawanya tadi.


"Duduk!" ucap Aksa dingin. Aza pun duduk di kursi depan Aksa, berhadapan dengan suaminya. Entah sejak kapan Aza jadi takut dan tak berani menatapnya, ia menunduk dan meremas jari- jari tangannya.


"Kapan pertama kali kamu dilempari telur? Di mana? Dan saat apa?" tanya Aksa sangat serius layaknya detektif yang sedang mencari data untuk penyelidikannya.


"Sa- saat..." Aza menjelaskan semuanya dengan gugup dan terbata- bata.


"Itu sudah lama sekali! Kenapa kamu nggak bilang sama aku!" ucap Aksa dengan nada meninggi membuat Aza berjingkat kaget.


"Hubby...hiks...hiks...hikss..." Aza menangis membuat Aksa merasa bersalah.


"Maaf, aku nggak bermaksud membentakmu. Tapi kamu nakal sih!"


"Bodoamat!" Kali ini Aza yang marah. Aksa hanya mendengus kesal, membiarkan Aza kembali masuk ke kamarnya. Ternyata benar jika lelaki marah, maka wanita akan berbalik marah dan malah lebih parah.


Mereka sama- sama merajuk hingga malam tiba. Aksa dan Aza bahkan sampai melewatkan makan siang, mereka baru saja ke meja makan saat malam harinya. Aksa duduk di samping Keno, sedangkan Aza di samping Aira. Tak seperti biasanya!


"Ayihh, kenapa duduk di samping Papa?"


"Diam! Hatiku sedang kacau, jangan membuatnya tambah kacau!" seru Aksa. Lelaki itu segera mengambil nasi dan lauk ke piringnya. Biasanya, Aza yang mengambilkannya. Tapi Aza tak mau, dan Aksa pun juga tak mau diambilkan istrinya.


"Kalian lagi berantem ya?" tanya Aira di sela makan.


"Enggak," jawab Aksa dan Aza serempak.


"Sepertinya mereka lagi marahan nih, say. Lucu juga," ledek Keno yang kemudian tertawa bersama Aira.


Aksa dan Aza segera menyudahi makannya dan menuju ke kamar, merebahkan tubuh mereka di ranjang. Saling bertatapan sebelum mereka membelakangi satu sama lain. Berusaha tertidur tanpa ada adegan manja- manjaan atau berpelukan.


Mereka berdua terlihat resah, sudah satu jam berlalu tapi tak kunjung tertidur juga. Aksa dan Aza membalikkan tubuhnya saling menghadap, kemudian kembali membelakangi lagi.


"Hubby..."


"Hm..."


"Nggak bisa tidur..."


"Sama. Kaya biasanya aja ya tidurnya, tapi inget ya aku masih marah sama kamu!" ucap Aksa.


"Okey, aku juga masih marah sama kamu, Hubby."


"Yaudah, sini peluk..."


Aksa dan Aza saling berpelukan, wanita itu menyusupkan kepalanya di dada sang suami. Merasa nyaman, tak lama kemudian mereka pun tertidur. Ah, sangat menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2