
Aksa dan Aza membenarkan ucapan Pak Kis, mereka lalu menuju ke ruangan Aksa untuk mandi di sana. Jalan yang mereka lewati ikut terkena cat.
"Siapa yang akan mandi duluan?" tanya Aza ketika sudah sampai di depan kamar mandi di ruangan Aksa.
"Mandi bareng, nanti kalau satu- satu kelamaan," jawab Aksa.
Aksa lalu menyiapkan air, mengisi bath up hingga penuh. Kemudian ia masuk ke dalamnya setelah melepas bajunya, tapi tetap memakai celana pendeknya, "ayo masuk, kenapa diam aja?"
Aza masih diam di tempat, ia masih ragu untuk mandi bersama suaminya. Meskipun ini tak akan dosa, tapi ia tetap saja takut.
"Aku nggak akan aneh- aneh, ayo masuk. Keburu catnya mengering susah bersihinnya loh..."
Aza pun masuk tanpa membuka bajunya dan duduk menghadap suaminya. Perlahan, cat di tubuh mereka larut dengan air. Air di bath up menjadi keruh dan berwarna biru. Mereka saling tatap dan malah merasa canggung.
"Ehm aku..."
"Ah, kenapa jadi canggung gini ya," seru Aksa meringis dan menggaruk tengkuknya.
"Di telingamu masih ada cat, biar aku bersihkan, Hubby." Aza mendekat dan membersihkan telinga suaminya. Lama mereka terdiam dan saling pandang, canggung kembali menimpa.
"Aku juga akan membersihkan bagian tubuhmu yang belakang, berbaliklah..."
Aksa dengan telaten membersihkan tengkuk dan belakang telinga Aza. Setelah baju dirasa sudah bersih dari cat, mereka mengganti air dan memasukkan banyak sabun ke dalamnya. Lalu kembali berendam. Aza duduk di pangkuan suaminya, menikmati kehangatan dari lelaki itu serta menikmati aroma terapi dari sabun yang menenangkan.
Meskipun Aza masih berpakaian lengkap, Aksa tetap saja tergoda. Apalagi posisinya saat ini adalah memangku Aza. Ia bisa melakukan apapun dengan wanita itu.
"Aku menyukai ini, sepertinya kita harus sering- sering mandi bersama seperti ini." Aksa mengeratkan pelukannya, ia menciumi pipi Aza dari belakang.
"Membuang waktu saja, sudah berapa lama kita berendam? Lihatlah, tanganku mulai keriput, Hubby..." Aza menunjukkan jari- jarinya yang keriput karena terlalu lama berendam.
"Huffttt, kamu ini merusak suasana saja! Bilas tubuhmu kalau kamu kedinginan."
"Kamu nggak mau keluar, Hubby?"
"Enggak, aku ingin melihatmu," bisik Aksa menggoda. Aza langsung memercikkan air ke tubuhnya.
"Pergi dulu, Hubby. Biarkan aku membilas tubuhku."
"Aku juga ingin membilas tubuhku."
"Lalu?"
Aksa tersenyum menyeringai, ia lalu menyalakan shower dan berdiri di bawahnya. "Kita akan saling membelakangi, jangan takut. Ayo bilas tubuhmu, jangan sampai terlalu lama di kamar mandi."
__ADS_1
Awalnya ragu, namun ia terpaksa. Aza ingin segera membilas tubuhnya yang lengket karena sabun, ia melepas semua pakaiannya dan ikut berdiri di bawah guyuran shower. Membelakangi Aksa dan sesekali meliriknya takut suaminya itu melihatnya.
"Ja- jangan berbalik!" Teriak Aza ketika Aksa hampir saja berbalik ke arahnya.
"Nggak akan, aku udah hampir selesai. Tenang saja!"
Bukan Aksa namanya jika tak jahil, ia sesekali menoleh ke arah istrinya yang sedang mengusap- usap tubuhnya.
"Jangan melihatku!"
"Iya, aku udah selesai kok. Aku akan keluar lebih dulu," ucap Aksa terkekeh. Ia pun tak sengaja membalikkan tubuhnya
"Hubby !!!!" Aza langsung berjongkok dan menutupi tubuhnya dengan tangan karena Aksa berbalik dan menatapnya. Tapi sayang, Aksa sudah melihat semuanya.
"Aku nggak lihat kok, aku akan keluar..." Aksa terkekeh dan keluar dari kamar mandi.
"Aaaa menyebalkan!"
*****
Tak butuh waktu lama untuk menghilangkan sabun di tubuhnya, Aza sudah bersiap keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
"Hubby..." Aza sedikit mengintip dari pintu kamar mandi, tapi tak menemukannya. Ia bingung harus memakai baju apa sekarang. Bajunya yang tadi kan sudah kotor dan basah.
Ia duduk di tepi ranjang dengan selimut tebal membalut tubuhnya, menunggu suaminya itu yang entah ke mana perginya. Lama menunggu tapi Aksa tak kunjung datang juga, ingin menelepon tapi ia tak membawa ponsel. Ah, baiklah, mungkin satu atau dua menit lagi.
"Aza, kamu dimana?" Mendengar suaminya itu berteriak mencarinya, Aza tersenyum sumringah. Akhirnya Aksa datang juga.
"Aku di kamarmu, Hubby. Kemarilah!" Sahut Aza berteriak.
Aksa segera masuk menghampiri istrinya, ia terkejut saat mendapati selimutnya bergerak sendiri. Berjalan menyusuri kamarnya dan melihat foto- foto di dinding.
"Aza, apa yang berada dibalik selimut itu kamu?" tanya Aksa. Lelaki itu masih berdiri di depan pintu berjaga- jaga jika dibalik selimut itu bukan istrinya maka ia akan lebih mudah berlari jika masih di depan pintu.
Aza lalu berbalik dan menampakkan wajahnya, "iya ini aku, Hubby. Aku kedingingan jadi aku memakai selimutmu," jawabnya riang.
Aksa mengelus dadanya, istrinya benar- benar membuatnya takut. "Ini, aku sudah membelikan baju untukmu. Cepat pakailah."
Aza segera mendekat dan mengambil paper bag di samping suaminya yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Terima kasih, Hubby. Sekarang keluarlah, aku ingin ganti baju di sini."
"Aku ingin istirahat sebentar dulu, gantilah bajumu. Aku nggak akan lihat kok." Aksa lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
__ADS_1
"Hubby, keluarlah...." Aza menarik kaki suaminya dan berusaha menyeretnya. Tapi tubuh Aksa sangatlah berat, ia tak sanggup.
"Keluarlah!"
"Bangunin!" Aksa mengulurkan tangannya supaya Aza membantunya bangun, tapi lelaki itu malah menarik tangan Aza hingga jatuh ke pelukannya.
Keduanya saling pandang dan diam mengamati satu sama lain dengan seksama. Hembusan nafas terasa begitu jelas, mata mereka tak berkedip, jantung semakin berdetak cepat.
"Hubby, jantungku mau copot!" Aza memegang dadanya merasakan jantungnya yang semakin lama semakin berdetak cepat sudah hampir copot.
Aksa terkekeh mendengarnya, istirnya sangatlah lucu. "Itu berarti kamu memiliki perasaan denganku, kalau nggak ada nggak mungkin dong deg- degan gitu."
"Sudahlah, aku mau ganti baju!" Aza lalu bangkit dari tubuh suaminya dan beranjak ke kamar mandi untuk berganti baju tapi Aksa mencekalnya dan kembali mendekap tubuhnya erat.
Aksa membalik tubuhnya dan sekarang Aza berada di bawahnya. Ia tersenyum jahil dan mengecupi wajah istrinya. Merasakan tubuh istrinya yang menempel dengannya meskipun terhalang selimut, membuat lelaki itu menginginkan sesuatu yang lebih dan seharusnya sudah dilakukan sejak dulu.
"Hubby..." Mata wanita itu berkaca- kaca dan terlihat takut. Tubuhnya menegang tatkala suaminya mulai mengecup lehernya.
"Kita sudah lama menikah, aku menginginkan hak ku hari ini," ucap Aksa dengan tatapan penuh mendamba. Lelaki itu menginginkan wanita yang selama ini menemani hari- harinya menjadi miliknya, seutuhnya.
Aza mengangguk mengiyakan meskipun wajahnya masih menyiratkan ketakutan berlebih. Ia membiarkan suaminya meminta haknya sekarang, Aksa sangat berhak untuk dirinya. Kedua tangan Aza meremas seprei dan matanya terpejam bersama debaran jantung yang begitu cepat yang mungkin terdengar Aksa. Satu butir air mata lolos dari pelupuk matanya. Ia benar- benar takut!
"Za, kamu takut?"
Aza menggeleng, matanya masih terpejam. Tubuhnya semakin menegang, ia sudah seperti patung saat ini. Tak berani bergerak sedikitpun.
"Aza?" Aksa kembali bertanya, tangannya terulur mengusap air mata istrinya.
.
.
.
.
.
Correct me if I have typo❤️
Oh ya, mampir yuk ke novelnya kakak onlineku yang nyebelin banget🔥
Suamiku Bukan Jodohku - Roffiey Zain🐵🐵🐵
__ADS_1