My Presdir

My Presdir
Rumah Sakit


__ADS_3

"Hubby..." ringis Aza. Tangan kanannya meremas lengan Aksa sedang tangan kirinya memegang perutnya. Tiba- tiba perutnya terasa sangat sakit.


"Kenapa, Za?"


Aza tak bisa menjawabnya, ia hanya bisa meringis menahan sakit. Tak hanya perutnya saja yang sakit, tapi kepalanya juga pening. Dan tiba- tiba Aza memuntahkan es krim yang baru masuk tadi.


Hoeekk hoekkk


"Hubby, perutku sangat sakit..."


"Ayo ke rumah sakit sekarang, Tania tolong bantu aku membawa Aza ke mobil." Aksa sangat panik tapi orang yang ia mintai bantuan tak ada di hadapannya. Tania melipir meninggalkan Aksa dan Aza tiba-tiba.


"Hubby, sakitthhh..." Aza terus mengeluh kesakitan dan ia sesekali muntah. Tentu saja ini membuat para pengunjung dan karyawan panik dibuatnya.


Aksa langsung menggendong Aza yang sudah tampak pucat. "Aza, bertahanlah. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit."


Aksa berlarian menggendong istrinya dan tak segan- segan membentak orang yang menghalangi jalannya. Tak peduli dengan bajunya yang penuh dengan muntahan Aza.


Aksa semakin panik, di tengah perjalanan tadi Aza sudah tak sadarkan diri. Wajahnya sangat pucat dan terus merintih kesakitan.


Para perawat yang mengetahui ada cucu dari pemilik rumah sakit pun segera mendorong brankar menjemput Aksa yang tengah menggendong Aza.


"Terima kasih," ucap Aksa kepada dua perawat lelaki yang menyiapkan brankar tadi. Ia lalu ikut mendorong istrinya ke ruang UGD, tapi di tengah jalan tiba- tiba saja perutnya ikutan sakit. Ia beringsut ke lantai memegang perutnya, meringis kesakitan. Perawat lain ikut panik dan mencoba membantu Aksa.


"Pak Aksa, mari saya bantu..." Para perawat ikut panik dibuatnya.


"Tangani istri saya dulu, jangan pedulikan aku!" Aksa tak lagi peduli dengan dirinya sendiri, Aza lebih penting dari nyawanya sendiri.


*****


Keluarga sudah datang setelah mendapat kabar dari rumah sakit. Mereka sangat cemas mendengarnya. Dokter pun belum keluar dari UGD.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Bram kepada Keno dan Aira yang terlebih dahulu sampai di rumah sakit.

__ADS_1


Keno menggeleng, ia sendiri juga tak tahu. Orang- orang suruhannya sedang menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.


"Sus, bagaimana keadaan cucu dan cucu menantu saya?" tanya Andi kepada suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.


"Mereka sedang dalam penanganan. Tuan Aksa tidak terlalu parah, sedangkan Nona Aza cukup parah. Racun yang masuk ke dalam tubuhnya lumayan banyak," jelas suster.


"Racun?" pekik semua orang yang ada di sana.


"Iya, hasil laboratorium menunjukkan jika Tuan Aksa dan Nona Aza mengonsumsi makanan yang mengandung racun. Itu sebabnya mereka tadi mengalami sakit perut, mual, muntah, dan pusing," ujar suster sebelum pergi meninggalkan mereka.


Bram, Keno, dan Andi segera bertindak. Mereka ikut menyelidiki makanan apa yang Aksa dan Aza makan hingga keracunan seperti itu. Dan setelah melihat CCTV dari mobil Aksa, mereka pun segera mengunjungi Mall yang Aksa dan Aza tadi kunjungi.


"Kalian tunggu di sini, kami akan mencari tahu semuanya," pamit Keno kepada Mira, Maria, dan Aira.


*****


Keno, Bram, dan Andi telah sampai di Mall. Mereka segera menuju Cafe yang dikunjungi Aksa dan Aza tadi.


"Kami tak pernah mempunyai musuh karena kami selalu bermain halus saat menjalankan bisnis," jawab Bram.


Mereka telah sampai di Cafe. Cafe itu sangat sepi, mungkin gara- gara melihat Aza sakit perut dan muntah- muntah setelah makan es krim di sana orang- orang jadi enggan lagi untuk ke sana.


"Apa kalian tahu makanan apa yang dimakan Aksa dan Aza? Ah, maksudku pasangan muda yang sakit perut dan muntah- muntah tadi?" tanya Keno kepada penjaga Cafe.


"Oh mbak dan masnya yang tadi ya. Kami menyisakan makanan yang mereka makan, tunggu sebentar." Penjaga Cafe itu lalu pergi ke dapur mengambil piring yang masih menyisakan sepotong waffle milik Aza dan Aksa.


"Ini makanan tadi, kami baru mau membawanya ke laboratorium untuk pengecekan," ucap penjaga cafe menyodorkan sisa makanan ke dalam plastik.


"Apa sebelumnya ada yang pernah mengalami seperti ini?" tanya Andi.


Penjaga cafe itu menggeleng, "tidak pernah, Tuan. Baru kali ini, dan ini membuat cafe kami menjadi sepi gara- gara kejadian tadi."


Keno dan Bram ikut memeriksa CCTV bersama pemilik cafe. Mereka duduk melingkar mengamatinya, dan ternyata memang ada yang memasukkan serbuk ke makanan Aza. Dan orang itu tak lain adalah Tania. Wanita jtu benar- benar jahat, ia memasukkannya ke dalam makanan milik Aza saat sang pemilik pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Keno, Bram, dan Andi sangatlah geram. Pemilik cafe pun ikut geram dibuatnya, gara- gara ulah Tania cafe miliknya menjadi sepi karena orang- orang takut kejadian Aza terulang lagi.


"Kami juga tak tahu kenapa bisa terjadi hal seperti ini. Tapi saya dan keluarga akan membersihkan nama Cafemu supaya para pengunjung tetap datang kemari," ujar Keno menepuk bahu pemilik cafe. Ia sangat merasa bersalah atas kejadian yang sangat merugikan berbagai belah pihak.


*****


Dua brankar didorong keluar didampingi para suster dan beberapa dokter. Aksa sudah sadar dan membaik, tapi Aza belum begitu pulih. Ia terlalu banyak memakan makanan yang telah tercampur racun tadi, sedangkan Aksa hanya satu sendok tapi karena racun sangat berbahaya maka efeknya tetap timbul.


"Aza, bagaimana kondisimu, sayang?" tanya Aira mengecupi wajah Aza. Wanita itu hanya tersenyum, tubuhnya sangat lemas dan masih pucat.


"Apa rasanya masih sakit?" tanya Mira. Aza menggeleng, ia benar- benar masih lemas.


"Cepet sembuh sayang, Oma akan menjagamu," ucap Maria.


"Mama, Oma. Aksa juga sakit kenapa cuma Aza saja yang diperhatikan?" seru Aksa, ia begitu kesal karena tak ada satupun yang bertanya kondisinya. Perawat yang bertugas mendorong brankarnya pun tertawa, ia baru tahu kalau Aksa itu pencemburu orangnya.


"Kamu nggak terlalu parah, sebentar lagi juga akan sembuh!" seru Maria yang membuat Aksa semakin kesal dibuatnya.


Aksa dan Aza dijadikan satu ruangan karena akan mempermudahkan para keluarga untuk menjenguk. Aza masih merasakan pusing dan mual, ia hanya bisa diam dan berbaring di atas brankar. Aksa jadi sedih melihatnya, wanita yang biasanya cerewet dan tak bisa berhenti berceloteh itu kali ini terdiam.


Para keluarga membiarkan Aksa dan Aza beristirahat terlebih dahulu. Dan mereka pergi untuk makan siang karena sudah saatnya. Tinggalah Aksa dan Aza saja yang berada di ruangan yang cukup luas dengan berbagai fasilitas lengkap. Mereka saling diam menatap langit-langit kamar perawatan.


"Hubby, apa kamu sudah baik- baik saja?" tanya Aza sembari melirik ke arah suaminya.


"Aku baik- baik saja, jangan mengkhawatirkanku. Maaf ya, harusnya aku tak membawamu pergi hari ini supaya kejadian ini tak terjadi." Aksa benar- benar menyesal telah mengajak Aza keluar hari ini, andai saja ia tahu niat buruk Tania pasti ia akan lebih menjaga istrinya.


"Hubby, maaf ya, aku ingin tidur. Kepalaku sangat pusing, mungkin nanti bisa berkurang jika sudah tidur."


"Iya tidurlah, aku akan menjagamu."


"Kamu juga tidurlah, istirahatlah, Hubby..."


"Maafkan aku, Tania berulah pasti dia masih tak terima karena aku memutuskannya. Dan sekarang malah kamu yang terkena dampaknya. Insyaallah, ini akan jadi yang pertama dan terakhir," lirih Aksa dalam hatinya. Sejenak memandang istrinya yang sudah tidur terlebih dahulu sebelum akhirnya ia ikut tidur juga.

__ADS_1


__ADS_2