
Suara alarm dari ponsel wanita itu berbunyi nyaring, segeralah ia mengambil benda pipih itu yang diletakkan di bawah bantalnya. Mematikannya dan melihat sudah jam berapakah saat ini.
Waktu masih menunjukkan pukul empat pagi, dirinya pun masih mengantuk. Ingin sekali untuk kembali melanjutkan mimpinya, tapi ia harus menepisnya.
Wanita itu membalikkan tubuhnya menatap sang suami yang masih terpejam dengan iler yang masih mengalir dari mulutnya. Tampan tapi ileran, terkadang juga ngorok.
"Aksa, bangun. Sudah saatnya solat..." lirih Aza membangunkan suaminya sembari memainkan pipi lelaki itu.
"Jam berapa memangnya?" tanya Aksa tanpa membuka matanya, lelaki itu berbalik mencari bantal yang tak basah karena iler lalu kembali melanjutkan tidurnya.
Aza mulai terbiasa dengan suaminya yang seperti ini. Selalu saja susah ketika diajak bangun. Aza kembali berpikir bagaimana cara membangunkan suaminya, siram air? Ah, kemarin Aza sudah mencobanya tapi lelaki itu tak mau bangun juga.
"Aksa..." Aza menusuk- nusuk ketiak Aksa tapi tak kunjung bangun juga.
Aksa berbalik dan memeluk erat istrinya, "Biar jam lima dulu, jangan membangunkanku," lirihnya.
"Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika aku membiarkanmu tidur dan membangunkanmu jam sepuluh nanti."
"Cerewet sekali kamu itu!" Satu kecupan mendarat di bibir Aza.
"Kebiasaan deh! Bilang dulu kalau mau nyium," ucap Aza menyentil bibir Aksa.
"Kalau bilang dulu pasti nggak dibolehin."
Keduanya kembali terdiam, Aksa masih terpejam sedangkan Aza hanya terdiam menatap wajah suaminya. Mata Aza tertuju pada perut Aksa, lebar dan sedikit membuncit. Ia terkekeh sendiri melihatnya.
Tangannya tak bisa diam, ia memainkan perut buncit Aksa. Membuat garis, menggambarinya, dan menusuk- nusuknya, lalu tertawa sendiri. Sangat lucu!
"Hihi...lucu sekali," Aza tetap memainkan jarinya, bahkan ia juga membuka piyama yang tengah Aksa pakai. Memainkan pusar, menusukkan jarinya di sana, lalu berputar- putar. Ia semakin gencar karena sang pemilik tak terganggu sama sekali.
"Aksa, kamu terlalu banyak makan. Perutmu sekarang sedikit membuncit. Sepertinya kamu akan mengikuti jejak Pak Aryo," ucap Aza tergelak. Pak Aryo adalah satpam depan yang perutnya buncit seperti hamil tujuh bulan.
"Enak aja! Nggak bakalan, aku kan rajin olahraga." Aksa membuka matanya, ia menggeliatkan tubuhnya. Perutnya terasa dingin karena terbuka dan masih dimainkan istrinya.
"Sudah- sudah, kamu itu kaya nemuin mainan baru aja sih. Senengnya kebangetan!" seru Aksa.
"Lucu, aku jadi ingin bermain terus."
Aksa menahan kepala Aza, menghujani wajah wanita itu dengan ciuman. "Selamat pagi istriku yang sungguh menyebalkan ini..."
"Kamu juga nyebelin, nggak usah ngatain orang deh!" sahut Aza tak terima.
__ADS_1
*****
Usai dirinya siap, Aza menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Lebih tepatnta membantu Mama mertuanya untuk menyiapkan sarapan.
"Sudah rapi sekali kamu?" tanya Aira.
"Hehe iya, Mah."
"Oh ya, itu udah Mama siapin bahan- bahan untuk pancakenya," ucap Aira memperlihatkan bahan- bahan yang sudah tersaji di meja.
Aza pun segera memakai apron dan mulai berkutat. Memecahkan telur, memasukkan semua bahan menjadi satu, lalu menyalakan mixer. Butuh waktu lima menit untuk membuat adonan, ia segera memasaknya. Aza terlihat sudah lihai walau masih beberapa kali membuat pancake, ia memastikan supaya tak gosong ataupun belum matang.
"Selamat pagi sayang," ucap Keno dan memeluk istrinya dari belakang.
"Selamat pagi, jangan memelukku seperti ini. Lihat tuh ada menantu kita, nggak malu apa?"
"Aza juga akan mengerti, kamu nggak usah malu," bisik Keno.
Aira segera meninggalkan dapur dan menyuruh Sandra untuk menggantikannya. Tinggalah Aza dan Sandra saja yang di dapur, Aira dan Keno entah hendak kemana. Mungkin mau enak- enak dulu.
"Wahh, ternyata Mbak Aza pintar masak juga ya ternyata," seru Sandra sembari memanggang roti.
"Kamu mau kuliah hari ini? Kok udah rapi?" tanya Aza.
"Iya mbak, hari ini ada jadwal pagi. Selesai buat sarapan, mau izin sama nyonya."
"Ohh, semangat ya..."
Aza dan Sandra mengobrol hingga masakan hampir selesai. Mereka lebih tahu banyak tentang pribadi masing- masing, Sandra orangnya cerewet dan enak jika diajak bicara. Aza tak akan kesepian di rumah itu, karena ada teman yang satu frekuensi dengannya.
Tiba- tiba ada tangan kekar melingkar di perut Aza dan berbisik, "jangan sampai gosong lagi."
"Enggak kok, hari ini ada peningkatan. Yang gosong cuma dua pancake saja," jawab Aza terkekeh.
"Lepaskan tanganmu biar aku bisa cepat selesai," pinta Aza. Ia benar- benar tak bisa bebas karena Aksa terus memeluknya.
"Nggak mau..."
Aza mencolek pipi suaminya dengan saus coklat, membuat Aksa langsung melepas pelukannya. "Yeyyy aku menang !!!"pekik Aza kegirangan.
"Awas ya kamu!!!" Aksa berusaha membalas istrinya, tapi wanita itu berlari menghindarinya. Jadilah mereka kejar- kejaran di dapur membuat Sandra kebingungan melihat mereka. Maklum, namanya juga pengantin baru.
__ADS_1
Dan akhirnya, Aksa berhasil menangkap istrinya. Ia langsung mendekapnya erat dan mencolek wajahnya dengan saus coklat. Membuat kumis, bentuk love di kedua pipi dan kening lebar milik Aza.
"Ah, curang!" seru Aza, ia lalu pergi membasuh wajahnya.
"Biarin aja, salah siapa nakal duluan!"
*****
Aksa dan Aza telah sampai di kantor. Aksa menggenggam tangan istrinya hingga menjadi pusat perhatian para karyawan. Aza ingin sekali melepasnya, namun ketika ia bergerak sedikit saja, suaminya malah meremas tangannya hingga sakit.
"Sa, lepasin dong. Udah sana masuk ke lift!" seru Aza.
"Aku akan mengantarmu hingga ke ruanganmu," jawab Aksa dengan santainya. Ia lalu menekan tombol lift menuju ruangan istrinya, dan tak membiarkan karyawan lain ikut masuk. Aksa hanya ingin satu lift berdua saja dengan Aza.
"Ini tuh lift karyawan, kenapa malah masuk dan nggak ngebolehin yang lain sih? Dasar nakal!"
Aksa tak menggubris celotehan istrinya, ia tengah fokus dengan ponsel miliknya, membalas email-email dari para rekan bisnis.
Lift terbuka, Aza segera keluar dan memasuki ruangannya. Dan Aksa belum juga menghilang, ia masih saja mengikuti istrinya.
"Ohh jadi ke sini saja harus diantar sama Pak Presdir ya..." goda Clara.
"Aduhh, namanya juga pengantin baru, Mbak. Pasti nggak bisa lepas lah," sahut Sarah ikut menggoda.
"Kalian tahu saja sih," jawab Aksa.
"Udah sana pergi," usir Aza mendorong lelaki yang berada di sampingnya.
"Salim dulu sini." Aksa mengulurkan tangannya supaya Aza menciumnya. Sontak saja, ini membuat Clara dan Sarah terpingkal- pingkal. Aksa sudah seperti seorang ayah yang sedang mengantarkan putrinya ke sekolah.
"Makasih ya Pak sudah mengantarkan sampai ke ruang kerja saya," ucap Aza penuh dengan paksaan.
"Sama- sama anak manisku," balas Aksa mengacak- acak rambut Aza. Lalu, ia keluar dari ruangan itu.
"Ya ampun so sweet banget sih kalian, jadi pengen nikah juga deh..." celetuk Clara.
"Aku pun, tapi calonnya nggak ada, hiks..." ucap Sarah menimpali.
"Loh, bukannya kamu punya lima ya? Kok bilang nggak ada sih?"
"Iya lima, tapi kan itu pacar orang semua. Aku lagi nunggu salah satu di antara mereka putus." Jawaban Sarah ini membuat Clara dan Aza menggeleng, anak itu memang sedikit tidak waras.
__ADS_1