
Adegan tercebur kolam renang tak terpikirkan sebelumnya, itu benar- benar murni ketidaksengajaan. Tapi tak masalah, itu malah membuat suasana lebih indah.
"Kalian sudah selesai mengurus bayi kecil?" tanya Opa Andi kepada Aira dan Aza yang sedari tadi ikut membantu suami mereka bersiap setelah tercebur ke kolam.
"Aku nggak nyangka kalau anak dan cucuku sangat manja sekali. Mandi saja dimandiin, pakai baju dipakein," celetuk Maria sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Semuanya pun tertawa, ucapan Maria itu memang benar.
Mereka lantas duduk di meja makan bersiap untuk menyantap makan malam yang terlewat.
"Sayang, aku nggak mau sayurnya," cicit Aksa.
"Harus makan sayur!" Aza langsung mengambil sayur dan meletakkan ke piring suaminya.
Aksa mengembalikan sayur itu ke tempat semula tanpa sepengetahuan Aza karena wanita itu sedang mengambilkan lauk.
"Ayihhh, kenapa sayurnya ilang?" pekik Aza ketika tak mendapati sayur di piring suaminya.
"Itu dimakan Papa Keno!" sahut Aksa sekenanya.
"Enak aja kamu! Ini yang ngambil aku sendiri tadi bukan punyamu!" ucap Keno tak terima.
"Orang papa tadi ngambil punyaku!"
"Enak aja! Orang aku ngambil dari sana kok bukan dari punyamu!" ucap Keno menunjuk wadah berisikan sayur.
Oma dan Opa memijat pelipis mereka melihat Keno dan Aksa yang terus saja berdebat.
"Hubby..."
"Sayang!"
Aira dan Aza mencubit paha suami mereka supaya terdiam. Dan benar saja, mereka langsung diam tanpa sepatah kata pun tatkala Aira dan Aza melototi mereka.
"Aksa, minta maaf sama Papa. Tadi Mama lihat kamu balikin sayurnya, terus malah nuduh papa yang ngambil," seru Aira.
"Kamu itu selalu saja buat masalah, awas saja nanti malam tidur di luar!" ancam Aza, ia begitu kesal dengan suaminya yang selalu berbuat ulah.
Sontak saja semuanya pun tertawa mendengarnya, apalagi saat melihat ekspresi Aksa yang sedih karena malam ini akan tidur di luar.
*****
Makan malam pun selesai, mereka masih berada di tepi kolam renang mengobrol, menikmati malam yang kala itu penuh bintang. Sepertinya langit dan bintang juga ikut merayakan ulang tahun Aza.
"Aduh, Mama kok pengen ke kamar mandi yah," celetuk Anandhi.
"Ayo aku antar, Mah." Aza lalu mengajak Anandhi ke kamar mandi. Anandhi pun dengan senang hati mengikuti anaknya.
Anandhi segera masuk ke dalam, sedangkan Aza dengan setia menunggunya di luar.
"Terima kasih, Sayang," ucap Anandhi ketika sudah selesai. Aza pun mengangguk serta melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Mah, Mama kok tadi bawain red velvet? Pasti Aksa yang ngasih tahu kalau aku suka red velvet ya?" tanya Aza penasaran.
"Enggak, Aksa nggak bilang apapun sama Mama. Itu sebenarnya inisiatif Mama sendiri."
Anandhi langsung lesu, beberapa kenangan terngiang di kepalanya. Kenangan- kenangan manis yang berakhir memilukan.
"Mama ingat kalau Papa suka sama red velvet, jadi Mama pikir kamu juga akan menyukainya. Maka dari itu, Mama membawakanmu red velvet tadi," tutur Anandhi dengan air mata yang hampir menetes. Ia teringat akan suaminya yang telah tiada.
__ADS_1
"Jangan menangis. Papa nggak suka kalau orang yang dicintai dan disayanginya menangis."
Aza memeluk Anandhi erat, mengusap bahunya supaya lebih tenang.
"Mama harus tahu. Papa itu sangatlah mencintai dan menyayangi Mama hingga dia rela tak mencari wanita pengganti untuk menemani hidupnya. Ia yakin kalau Mama akan kembali dengan perasaan yang masih sama."
Anandhi tersedu- sedu mendengarnya. Ia begitu bodoh, harusnya dirinya dulu tak pergi maka kebahagiaan akan selalu terpancar. Rasa bersalah karena tak berada di samping suaminya saat sakit pun terus menghantui.
"Maafkan Mama..."
"Sudahlah, Mah. Ayo kembali ke sana, mereka pasti menunggu kita." Aza berusaha untuk kuat, meskipun dirinya sendiri juga sedih teringat dengan Papanya.
Semoga Papa bahagia, Aza telah bersama Mama di sini. Tunggu kami, Pah. Kelak, kita akan kembali bersatu di dunia selanjutnya. Aku dan Mama akan selalu mendo'akanmu. Kami menyayangimu, Pah...
*****
Tempat itu tak lagi sepi, music terdengar riuh. Suami, Papa mertua, dan juga dua Opa berdiri di atas panggung bersiap untuk membawakan lagu. Aksa dan Keno memainkan gitar, sedangkan Opa Andi dan Opa Bram bersiap untuk bernyanyi.
"Baik, semua anggota keluarga yang kami cinta dan kami sayangi. Di sini kami berempat akan membawakan sebuah lagu untuk menemani malam kita," ucap Opa Andi.
"Aduh! Kelamaan, Ndi. Langsung aja yuk nyanyinya," sahut Opa Bram yang kemudian langsung mengecek microfon miliknya.
"Wuhuuuu semangat suamiku...." seru Maria.
"Halah, Alay! Mbokya jangan lebay jadi orang tuh, udah tua juga," tukas Mira. "Ayo Opa Andi, semangat!"
"Tadi ngatain alay, eh ternyata situ juga alay," gumam Maria. Aza, Anandhi, dan Aira tertawa melihatnya.
Dua Oma itu pun bersorak menyemangati pujaan hati mereka, sontak saja dua lelaki lanjut usia itu semakin bersemangat untuk bernyanyi.
Petikan gitar mulai terdengar.
Kala kupandang gemerlap bintang nun jauh di sana
Sayup kudengar melodi cinta yang menggema...
"STOP! STOPP! STOPPP!" Keno dan Aksa menghentikan Opa Andi dan Opa Bram.
"Opah...Kenapa malah jadi nyanyi dangdut sih? Ayo nyanyi lagu rock, kita tadi kan latihannya lagu itu," ucap Aksa dengan nada kesal. Ia tadi sudah berlatih untuk membawakan lagu rock tapi sang Opa malah bernyanyi dangdut.
"Aduh, Pah. Rock aja jangan dangdutan," ucap Keno menepuk keningnya.
"Lagu dangdut saja lebih syahdu!" seru para wanita bersamaan.
"Iya, Hubby. Lagu dangdut saja!"
"Ayo lanjutkan yang tadi."
Keno dan Aksa saling menatap, Papa dan anak itu pun akhirnya mengalah dan membiarkan lagu dangdut yang menemani malam mereka.
Kala kupandang gemerlap bintang nun jauh di sana
Sayup kudengar melodi cinta yang menggema
Terasa kembali gelora jiwa mudaku
Karena tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut
__ADS_1
"Lanjut Opah..."
Aza dan yang lain mendekat ke arah mereka. Berjoget sembari menikmati lagu yang didendangkan lelaki yang lupa umur itu. Sedangkan Aksa dan Keno hanya diam membiarkan mereka berjoget ria semaunya.
Api asmara yang dahulu pernah membara
Semakin hangat bagai ciuman yang pertama
Detak jantunhku seakan ikut irama
Karena terlena oleh pesona alunan kopi dangdut
Aza dan Aira ikut bernyanyi. Semangat dalam jiwanya benar- benar menggelora. Aza mengambil ponselnya, membuka aplikasi tik tok. Ia pun mengajari semuanya bergoyang kopi dangdut ala tik tok. Gelak tawa pun pecah saat oma dan opa juga ikut main tik tok.
"Pah, kok keluarga kita gini yak..." lirih Aksa.
"Waras semua! Papa jadi sedih," ucap Keno.
Mereka berdua diam menatap para keluarga yang berjoget- joget menikmati lagu dangdut yang dibawakan opa Andi dan Opa Bram. Istri mereka yang paling semangat, seakan melepas beban malam itu juga. Rumah itu sudah seperti diskotik tapi tanpa ada adegan mabuk- mabukan.
*****
Aza terlihat sangat lelah, ia langsung terkapar setelah aksi berjoget rianya tadi.
"Ganti baju dulu, baru tidur!" seru Aksa.
"Sebentar, Hubby." Aza masih asyik bermain Among Us.
"Hubby, bagaimana dengan si pelempar telur?"
"Jangan memikirkannya, itu sudah menjadi urusanku."
"Baiklah, Tuan Aksa. Tapi, aku hanya ingin tahu kenapa dia melempariku dengan telur. Kalau cuma iseng sih nggak mungkin sampe diulang."
Aksa hanya diam tak menanggapi, ia sebenarnya tahu jika di balik semua ini berhubungan dengan Tania.
"Hubby, terima kasih untuk hari ini. Aku sangat bahagia..." ucap Aza sembari membelai pipi suaminya yang sudah berbaring di sampingnya.
"Sama- sama, aku juga bahagia..."
"Kamu tampan sekali, Hubby..."
"Kamu mau apa?" tanya Aksa, ia tahu betul jika Aza pasgi meminta sesuagu darinya. Tak mungkin jika Aza memujinya tanpa alasan sedikitpun.
"Malam ini kita tidur ya? Aku lelah sekali..."
"Sudah kuduga! Baiklah, malam ini kamu lolos."
"Terima kasih, Hubby. Kamu memang baik, aku menyayangimu." Kecupan bertubi- tubi mendarat di wajah Aksa. Aza sangat senang malam itu karena bisa tidur dengan nyenyak.
"Tidurlah."
"Oh ya, Hubby. Bulan ini kenapa tamuku belum datang ya?"
"Lagi macet di jalan kali. Sudahlah ayo tidur."
Aksa menarik selimut menutupi tubuhnya dan tubuh sang istri. Entah kenapa malam itu ia merasa resah. Pikirannya berkecamuk, berbagai hal negatif bersarang di kepalanya. Seperti akan terjadi hal buruk yang menimpanya. Ia sangat cemas, tapi segera ia tepis dan berdo'a hanya perasaannya saja yang tak enak.
__ADS_1