My Presdir

My Presdir
Satu Tembakan


__ADS_3

"Mamah...." Aiden dan Ailee terus berteriak diselingi dengan isakan tangisnya. Mereka begitu takut karena Mamanya tak lagi memunculkan dirinya, Mamanya benar- benar tenggelam.


Beberapa mobil polisi datang begitu tiba-tiba membuat Bella terburu- buru untuk berenang ke tepian. Ada misi yang belum ia tuntaskan sebelum dirinya mendekam di penjara. Ia meninggalkan wanita yang telah tak sadarkan diri itu dan berenang menghampiri Aiden dan Ailee.


"Jangan bergerak!"


Beberapa polisi berdiri mengepung wanita yang sudah berhasil mendekap Aiden dan Ailee, mereka mengarahkan pistol tapi itu tak membuat seorang psikopat seperti Bella takut. Ia malah tertawa menyeringai.


"Pah...Tolong Mama, Pah. Mama masih berada di dalam danau..." seru Aiden. Ia berusaha keras memberitahu Papanya yang datang dengan polisi- polisi itu. Bella langsung membungkam mulutnya.


"Dev, tolong anakku dulu. Aku akan mencari istriku," ucap Aksa kepada Devano yang ikut bersamanya tadi. Ia begitu syok tak mendapati istrinya bersama anak- anak, dan ternyata Aza tenggelam.


Aksa langsung berlari dan masuk ke danau. Ah, sial! Sangat dalam dan luas. Cukup sulit menemukannya, pikirannya sudah berkecamuk. Dua polisi juga ikut menyelam mencari keberadaan Aza. Sedangkan Devano dan yang lain masih berjaga- jaga dan berusaha menahan Bella supaya tak bisa kabur lagi.


"Tenang saja, aku tak akan kabur lagi. Aku akan menyerahkan diriku kepada kalian. Tapi...setelah aku membuat dua anak ini mati seperti ibunya!" ujar Bella, ia langsung mencekik Aiden dan Ailee.


"Uclee...tolong kami..." Aiden dan Ailee berusaha untuk berbicara. Sangat kesulitan karena cekikan Bella semakin kuat.


"Duaarrrr!" Satu tembakan terlepas dari salah satu polisi dan tepat mengenai lengan Bella. Polisi terpaksa menembaknya karena perbuatan wanita itu sudah kelewatan dan harus segera dihentikan supaya Aiden dan Ailee selamat.


"Aarggghhh! Sialan!" Bella memekik memegang lengannya yang mengucurkan banyak darah. Sangat sakit, ia bahkan sampai terduduk dan terkulai lemah.


Devano langsung menggendong Aiden dan juga Ailee menjauhi Bella yang sudah kalah dan kesakitan karena peluru yang mengenai lengannya.


"Uncle..." Aiden dan Ailee terisak. Mereka begitu takut apalagi saat mendengar suara tembakan tadi.


"Jangan takut, kalian sudah aman," ucap Devano. Ia mendekap anak- anak yang masih gemetar ketakutan itu.


"Di sini!" teriak seorang polisi yang tadi ikut menyelam mencari Aza. Ia sudah menemukannya, Aksa pun langsung mendekap. Segeralah ia mengajak istrinya yang sudah tak berdaya itu ke tepian.


Ia lakukan hal yang seharusnya dilakukan ketika ada orang yang tenggelam. Dorongan di dada istrinya tak cukup membuat wanita itu sadar. Sepertinya air yang masuk begitu banyak. Ambulance dan perawat yang dibawa untuk berjaga- jaga sesuatu yang buruk terjadi pun akhirnya sampai juga.


"Aza, bangun!" Entah sudah berapa kali ia berteriak meminta istrinya untuk segera sadar. Bantuan yang ia berikan pun tak berpengaruh.

__ADS_1


"Nyonya Aza masih hidup, kami akan segera membawanya ke rumah sakit," ujar seorang perawat setelah dirinya mengecek denyut nadi Aza. Sebelum membawanya ke ambulance, ia memasangkan selang oksigen pada Aza terlebih dahulu.


"Aku akan mengikuti istriku, tolong bereskan semua kekacauan ini," ucap Aksa kepada Devano sebelum dirinya dan anak- anak mengikuti ambulance yang telah melaju membawa Aza.


Devano mengangguk. Ia dan beberapa polisi masih berada di sana. Bella pun tak bisa berkutik lagi karena sakit yang ia rasakan. Tapi, Devano tak akan membiarkan berakhir hanya seperti itu.


"Apa Anda sudah puas membuat keluarga tadi menderita?" tanya Devano. Tangannya yang kekar itu mencekik leher Bella, sama seperti yang dilakukan wanita tadi terhadap anak- anak dari sahabat yang telah ia anggap seperti keluarga sendiri.


"Le- p- leap- lepaass...." suaranya tercekat, matanya membelalak ke atas. Rasa sakit di lengannya belum juga hilang tapi rasa sakit malah bertambah. Cekikan Devano begitu kuat sekali, dia tak bisa memberontak lagi karena kedua tangannya juga sudah diborgol dan diawasi polisi. Tubuhnya pun terasa dingin karena tercebur danau tadi, rambut dan bajunya masih basah.


"Kami harap Anda tak kehilangan batasan juga, Pak," ucap salah satu polisi memperingatkan Devano.


"Tenang saja, Pak. Saya hanya ingin bermain- main sebentar, sama seperti yang dilakukan wanita ini tadi," jawab Devano yang diberi anggukan polisi- polisi itu.


Tangan Devano ia lepaskan dari leher wanita itu, ia mencengkram lengan Bella yang terkena tembakan polisi. Darah segar masih mengalir, Bella pun gelimpangan merasakan sakit yang semakin menjadi- jadi.


"Aaargghhh...." Air mata bercucuran deras. Sudah sakit tapi malah lengannya dicengkeram Devano.


"Aaarrrghh, sakit. Lepaskan tanganmu..."


Tak peduli rintihan kesakitan dan permintaan pertolongan dari mulut wanita busuk itu. Devano menganggapnya hanya angin lalu. Ia kemudian menarik wanita itu supaya mengikuti langkahnya.


Devano juga bisa kejam. Bahkan ia bisa lebih kejam daripada Bella jika sudah menyangkut dengan orang- orang yang dia sayang. Lelaki itu mendorong tubuh Bella hingga tercebur ke danau, tangan Bella yang masih terborgol kuat tak bisa berenang. Luka tembakannya terkena air pula, semakin perih.


Saat ia mencoba menarik napas di permukaan, Devano kembali menenggelamkan dirinya hingga wanita itu gelagapan.


"Aku tak tahu bagaimana caramu tadi membuat istri sahabatku bisa tenggelam. Bagaimana pun itu, kamu juga harus bisa merasakan sama seperti yang Aza rasakan!" ucap Devano. Ia menahan kepala Bella supaya tak muncul di permukaan dan mengambil napas.


Devano tak peduli dengan polisi yang mencegah dan menyuruhnya untuk berhenti.


Otaknya berputar mengingat kejadian- kejadian yang telah dilalui hari ini. Banyak kejadian yang di luar dugaan. Semuanya berawal dari ego dirinya yang menginginkan perusahaannya lebih maju tapi cara yang ia lakukan sangatlah salah. Pencurian data terhadap lawan bisnis memang awalnya terlihat biasa saja dan tak akan membuatnya juga ikut menderita. Tapi ternyata dirinya salah, semuanya telah hancur sekarang.


Mata wanita itu terpejam sempurna. Ia tak bisa bernapas lagi sama seperti yang dirasakan Aza tadi.

__ADS_1


*****


Langit telah menggelap sempurna. Awan biru telah tergantikan dengan kegelapan. Aroma rumah sakit pun tercium kuat. Wanita itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan alat bantu pernapasan masih melekat. Pendeteksi jantung terdengar pelan.


Lelaki itu belum juga berpindah dari tempatnya. Ia masih menggenggam tangan istrinya yang sangat dingin dan pucat. Dua jam berlalu tapi Aza belum juga bangun dan mengatakan jika dirinya baik- baik saja.


Aiden dan Ailee pun masih menunggu Mamanya sadar. Mereka mendekap tubuh Opa dan Oma. Kejadian tadi masih membuatnya takut, tapi yang lebih menakutkan adalah melihat Mamanya terbaring.


"Opa...Kapan Mama bangun?" tanya Ailee mendongakkan kepalanya menatap Opa Keno.


"Sebentar lagi bangun kok," jawab Opa Keno membelai kepala cucunya.


"Mama pasti akan bangun, kan? Aiden takut sekali..." lirih Aiden.


"Pasti bangun. Ehm, bagaimana kalau kita pulang dulu? Nanti kalau Mama udah bangun kita ke sini lagi?" bujuk Oma Aira, ia ingin supaya cucu- cucunya beristirahat terlebih dahulu karena mereka terlihat lelah sekali.


"Baiklah, Oma..."


Enggan rasanya meninggalkan mamanya yang belum juga sadar. Tapi mereka hanya bisa menurut dan terus berdo'a supaya Mamanya lekas sadar dan pulih.


.


.


.


.


.


Jarang update 🤧🤧


Maaf ya bukannya males, tapi karena ngga ada waktu gengs🤧maklumin yaaaa hehe...

__ADS_1


__ADS_2