My Presdir

My Presdir
Dismenorea


__ADS_3

Aza terlihat sangat pucat, perutnya terasa sakit. Tapi, ia tetap berusaha untuk melanjutkan pekerjaannya. Sepertinya ia mengalami desminore.


"Sar, bawa obat pereda nyeri nggak? Perutku sakit banget nih," ucap Aza sembari meringis memegang perutnya. Ia meminta obat kepada temannya itu karena biasanya dia selalu membawa obat pereda nyeri haid.


Sarah pun jadi panik melihat Aza yang pucat pasi, ia tahu betul rasanya nyeri saat datang bulan itu sangat sakit. "Tunggu, Za. Aduhh dimana sih..."


"Nahh!" Sarah menyeringai ketika mendapati obat yang ia maksud. Tapi ia kembali sedih, ternyata tinggal bungkusnya saja. Ia baru ingat jika belum membeli lagi.


"Habis ya..."


"Iya, Za. Aku cariin di klinik aja ya."


"Nggak usah, Sar. Aku ke sana sendiri aja, mau rebahan sebentar siapa tahu ilang."


Aza lalu berdiri dan berjalan pelan keluar dari ruangannya. Perutnya sangatlah sakit, mungkin selama menstruasi ini yang paling menyakitkan.


Di tengah jalan, Aza melihat suaminya tengah berbincang- bincang dengan client, ingin sekali dia meminta bantuannya. Tapi, itu tak mungkin, ini akan mengganggunya. Aza pun berusaha memasuki lift menuju ke klinik perusahaan.


Tangannya terus saja meremas perut, rasanya seperti dicakar monster yang ada di dalam sana. Rasa sakitnya mendadak menyebar ke seluruh tubuh, ia memaksakan diri keluar dari lift. Hanya beberapa langkah saja dari sana, tapi rasanya Aza sudah tak sanggup lagi.


Saat di klinik, ia tak mendapati para penjaga dan dokter yang biasanya. Aza pun terpaksa mencari obat pereda nyeri sendiri.


"Please, di mana kamu? Ayolah, ini sangat sakit..." gumamnya penuh harap saat mengobrak- abrik kotak obat. Tapi tak kunjung menemukannya juga, malahan kotak itu terjatuh hingga obat berceceran di lantai, Aza pun terduduk lemas tak sanggup menahan sakitnya lagi.


"Astaga, Nona Aza!" Pekik Dokter Maya, dokter yang bertugas menjaga klinik.


"Perutku sakit..." ringis Aza, ia mengulurkan satu tangannya bermaksud meminta Dokter Maya untuk membantunya bangun.


"Mari saya bantu..." Dokter Maya mentatih Aza untuk berbaring di brankar. Ia segera memeriksa kondisi Aza.


Perawat yang tadi beristirahat sejenak pun telah kembali ke klinik, mereka ikut panik melihat istri dari Presdir mereka terbaring di sana dengan wajah pucat pasi. Ia segera mengambil kompres dan air hangat.


Dibukalah kemeja Aza dan perawat itu menempelkan handuk yang basah di perutnya untuk menghilangkan nyeri.


"Apa kalau menstruasi sering sakit seperti ini?" tanya Dokter Maya.


Aza menggeleng lemah, "Jarang, ini yang paling sakit."


"Istirahat di sini terlebih dahulu, sebentar lagi nyerinya juga akan hilang kok."


"Terima kasih, Dok." Aza mengikuti saran dari Dokter, ia berbaring di sana cukup lama, hingga jam istirahat tiba.


Sarah yang khawatir temannya itu tak kembali pun segera menghampirinya. Dilihatnya Aza masih terbaring di brankar klinik, wajahnya pucat dan masih merintih kesakitan.


"Za, gimana sekarang? Udah minum obatnya belum?" tanya Sarah panik.


"Udah kok, sekarang juga udah mendingan. Oh ya, kenapa kamu malah ke sini? Sana makan dulu, nanti keburu habis jam istirahatnya."


"Terus kamu gimana? Mau aku beliin makanan apa?"


"Apa aja boleh, minumnya jangan dikasih es ya."


"Okay siap, tunggu sebentar ya..." Sarah lalu keluar dari klinik menuju kantin. Aza tersenyum melihatnya, beruntung sekali ia menemukan teman seperti Sarah yang selalu ada apapun kondisinya.


*****


Aksa merasa lesu, proyek barunya ini sangatlah besar dan ia cukup kesulitan menaklukannya. Sepertinya ia akan sering di kantor dan akan jarang pulang untuk menangani proyek yang sangat menguntungkan ini.


"Sa, besok jam delapan kita langsung ke lapangan ngecek proyeknya. Biar kamu tahu sendiri gimana perkembangannya," seru Devano kepada Aksa yang berada di sampingnya. Dua lelaki itu tengah menikmati nasi kuning dengan berbagai lauk yang terdapat di kantin kantor.


"Kenapa nggak kamu aja? Males aku..." jawab Aksa.


"Nggak bisa dong!"


Aksa mendengus kesal. Ia hampir saja melupakan istrinya, ia baru ingat kalau Aza tak berada di sampingnya. Biasanya mereka selalu makan siang bersama di sana, Aksa pun cepat- cepat menghabiskan nasi kuning miliknya dan segera menemui Aza.


"Pak Presdir ikut!!!" teriak Sarah ketika Aksa masuk ke dalam lift. Ia pun bergegas masuk bersama Aksa dan Devano.


"Bisa nggak sih, kalau ngomong tuh nggak usah teriak," ucap Devano dengan nada kesal. Suara Sarah sangatlah memekakkan telinganya.


"Kalau nggak teriak kalian nggak bakalan denger," tukas Sarah. Wanita itu asyik menyantap es krim di tangannya.


"Emangnya kita udah tua apa?"


"Ya kalau dibandingkan dengan saya sama Aza sih tuaan kalian, hehe..."


"Dasar kurang ajar!"


Aksa tersenyum kecil mendengarnya. Ah, dia baru sadar jika istrinya tak bersama Sarah. Padahal biasanya dua wanita itu selalu kompak tak pernah terpisahkan kecuali saat pulang.


"Aku duluan, Pak. Gawat ini!" Sarah menghalangi Aksa dan Devano yang hendak keluar terlebih dahulu saat lift terbuka lebar.

__ADS_1


"Hey gajah! Nggak sopan banget sih jadi orang!" teriak Devano yang entah didengar Sarah atau tidak karena wanita itu langsung berlari ke klinik.


Sarah segera membukakan makanan untuk Aza, membantu wanita itu bangun dan mempersiapkan keperluannya sebelum dirinya kembali bekerja.


"Za, aku balik duluan ya, kalau ada apa- apa telfon aku aja," ucap Sarah sebelum meninggalkan klinik.


Aksa curiga dengan Sarah yang bukannya langsung ke ruangannya tapi malah ke klinik, ia pun masuk ke klinik setelah Sarah keluar dari sana. Terkejut bukan main saat melihat istrinya terbaring lemas di salah satu brankar.


"Hubby..." lirih Aza mendapati suaminya berdiri di depan klinik dengan raut wajah marah membuat Aza ketakutan.


"Kenapa nggak bilang kalau kamu sakit?" tanya Aksa dengan nada meninggi. Ia lalu menghampiri dan memeluk istrinya.


"Mana yang sakit?" Suara Aksa tercekat ia tak sanggup melihat istrinya yang pucat pasi.


"Dismenorea, Hubby. Sekarang sudah nggak sakit lagi kok. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Aza sembari menunjukkan senyumnya supaya Aksa tak khawatir dengannya.


"Lain kali bilang kalau ada apa- apa. Aku suamimu, aku berhak tahu keadaanmu."


Aksa mengambil kompresan yang berada di perut istrinya, ia mencelupkannya ke dalam air hangat dan kembali meletakkan di perut Aza. Usai itu, ia mengecup kening istrinya dengan lembut.


"Apa perlu kita ke rumah sakit? Sepertinya perutmu masih sakit," ucap Aksa. Ia masih khawatir dengan istrinya yang terlihat masih merintih kesakitan.


"Nggak usah lebay! Ini tuh wajar, sudah kubilang jangan mengkhawatirkanku." Suara Aza yang meninggi membuat Aksa terdiam, ia baru ingat jika wanita akan berubah menjadi singa yang lapar tatkala menstruasi. Lelaki itu pun hanya bisa dian sembari membelai kepala istrinya.


Merasa sudah baikan, Aza pun beranjak dari brankar tapi Aksa menahannya.


"Mau kemana? Istirahat di sini saja!"


"Sudah nggak sakit, aku mau balik kerja!" jawab Aza dengan suara meninggi pula.


"Tapi kam-"


Ucapan Aksa terhenti ketika istrinya melayangkan tatapan membunuh. Baiklah Aksa, kau harus bersabar. Wanita yang sedang menstruasi akan berubah menjadi singa! Ingat itu baik- baik!


"Ya sudah, pergilah. Tapi kalau sakit kamu harus berhenti bekerja," lirih Aksa.


"Iya."


"Hati- hati jalannya." Aksa mengikuti istrinya dari belakang, memastikan wanita itu baik- baik saja.


Aza yang berjalan sempoyongan membuat jantung Aksa berdebaran, lelaki itu benar- benar takut istrinya tambah parah lagi. Dua langkah, tiga langkah...Aza terhenti memegang perutnya. Rasa sakit kembali menyerang.


Lelaki itu dengan sigap mengompres perut istrinya, mulutnya tak berhenti menggerutu membuat Aza jenuh mendengarnya.


"Aku akan menemanimu di sini, kamu tidur saja. Siapa tahu perutmu akan membaik," ucap Aksa sembari mendaratkan satu kecupan di kening Aza.


"Bagaimana keadaanmu Nona? Apa perutmu masih sakit?" tanya Dokter Maya memasuki ruangan.


"Sudah nggak terlalu sakit, Dok. Tapi laki- laki itu mengaggapku sakit terus. Bilang sama dia kalau perutku sudah nggak sakit," ucap Aza menunjuk suaminya yang sedang duduk di kursi samping brankar.


Dokter Maya tersenyum mendengar ucapan Aza.


"Dia masih sakit! Apa kamu tak memberikannya obat pereda nyeri? Kamu kan dokter bagaimana tak bisa mengobati istriku!" Aksa malah marah- marah tak jelas kepada Dokter Maya, membuat dokter berusia sekitar empat puluh tahun itu menggelengkan kepalanya.


"Saya sudah memberikan obat pereda nyeri kepada istri tercinta Anda, Pak Presdir. Istri Anda sendiri saja sudah bilang jika perutnya membaik, tapi kenapa Anda masih menganggap jika istri Anda masih sakit?"


"Ah, sudah. Pergi saja, biar aku menunggu istriku." Aksa yang kalah telak, tak bisa membalas ucapan Dokter Maya pun hanya bisa mengusirnya.


Lagi- lagi Dokter Maya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Aksa. Ia lalu pergi dari sana dan menuju ke ruang pribadinya.


"Tidur, Za! Jangan main ponsel biar perutmu nggak sakit lagi." Aksa jengkel melihat istrinya yang bukannya tidur tapi malah memainkan ponselnya. Ia pun merebut benda pipih itu dari tangan istrinya dan meletakkan di kantong celananya.


"Hubby..."


Aksa meletakkan telunjuknya di bibir Aza mengisyaratkan supaya wanita itu diam dan tak membantah. Tangan yang satunya menutup kedua mata Aza supaya wanita itu cepat tertidur.


"Hubby, aku ingin bekerja. Aku nggak ngantuk, makanya aku nggak bisa tidur."


"Kubilang tidur ya tidur! Jangan membantah suami!"


"Hikkss....hikss...hikss..." Aza menangis mendengar sentakan suaminya, wanita yang sedang menstruasi memang sangat sensitif. Digertak sedikit saja emosinya jadi tak stabil.


"Aduhh, kok malah nangis sih..." Aksa kelabakan, ia paling tak suka jika orang yang paling ia cinta dan sayangi menangis karenanya. Ia pun naik ke atas brankar, memeluk istrinya yang sedang berbaring di sana.


"Cup...cupp...cuppp...Jangan menangis sayangku, aku nggak bermaksud membentakmu." Ciuman bertubi- tubi mendarat di wajah Aza.


"Kamu jahat!"


"Iya, maafkan aku. Aku nggak bermaksud seperti itu."


"Aku maafin kalau kamu bolehin aku lanjut kerja."

__ADS_1


"Kalau begitu mending nggak usah dimaafin, udahlah kamu tidur aja. Sini aku kelonin..."


"Hubby, aku ingin bekerja hiks...hikss....hiksss..."


Aksa memijat keningnya mendengar suara tangisan sang istri membuatnya salah tingkah. Ia pun terpaksa menuruti kemauan Aza.


"Baiklah wanita keras kepala! Bekerja sana, tapi kalau perutmu sakit lagi aku akan menghukummu."


"Siap, Hubby. Makasih!" Aza mengecup suaminya singkat dan langsung bangkit dari brankar. Wanita itu berlari menuju ke ruang kerjanya.


*****


Tepat tiga hari sudah lelaki itu berpuasa, ia sangatlah sedih dan seakan tak bergairah untuk hidup. Aksa sudah tak sabar menantikan istrinya.


"Hubby, kenapa akhir- akhir ini mukamu jelek?" tanya Aza yang kemudian duduk di samping suaminya yang tengah menonton televisi.


Lelaki yang menyangga dagu dengan kedua tangan pun hanya menoleh sekejap dan kembali menyaksikan drama thailand favorite keluarga mereka.


"Sombong," gumam Aza.


"Biarin."


"Ya sudah, kalau begitu nanti malam nggak usah enak- enak sama aku."


Aksa menoleh ke arah istrinya, sedikit terheran dengan ucapannya tadi. "Maksudnya? Tamu mu sudah pulang?"


"Sudah tadi pagi."


Aksa berjingkat dan bersorak sorai mendengarnya, ia tak akan berpuasa lagi hari ini.


"Kamu menang lotre, Sa?" tanya Keno terheran- heran mendapati anaknya yang berjingkrak kesenengan.


"Lebih dari itu, Pah."


Aksa kembali duduk di sofa, tapi bukan di samping Aza melainkan di samping Papanya. Keno yang melihatnya pun hanya memicingkan matanya, sudah tahu pasti ada sesuatu yang Aksa inginkan darinya.


"Papa Keno yang paling tampan sejagad raya ini, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" tanya Aksa sembari memasang puppy eyesnya.


"Minta apa? Uang jajan?"


"Memangnya aku anak kecil apa?! Aku minta tolong buat gantiin aku selama seminggu, aku mau bulan madu, Pah. Boleh ya...boleh ya..."


"Aduhh, Papa ngantuk nih. Papa ke kamar duluan ya." Keno menguap dan berdiri, segeralah Aksa mendudukkannya lagi.


Aira tersenyum kecil melihat Aksa dan Keno, wanita itu membawa nampan berisikan air dingin dan brownies untuk teman mereka menonton drama.


"Biar Aza bantu, Mah..." Aza mengambil alih nampan itu dan meletakkan ke atas meja. Ia kemudian duduk di samping Mamanya.


Aksa dan Keno masih berkelahi kecil. Aksa tetap memaksa Keno untuk tetap di sana dan Keno bersikeras untuk pergi dari sana. Jadilah mereka bertengkar dan beradu mulut hingga dua wanita yang asyik menonton drama Thailand yang berjudul FriendZone itu terganggu.


"Aksa! Keno!" gertak Aza dan Aira secara bersamaan.


"Dia duluan, Sayang," rengek Keno.


"Nggak kok, Papa duluan yang ngajak berantem!"


"Kamu!"


"Papa duluan!"


"Stoooppppp!!!!" Lagi- lagi Aira dan Aza berteriak untuk menghentikan mereka.


Aira dan Aza kembali menyaksikan drama itu, saling berpelukan dan ikut menangis tatkala Gink, pemeran wanita dalam drama itu hampir saja bunuh diri karena kekasihnya selingkuh. Untung saja si Palm, pemeran utama dengan sigap mencegahnya.


"Aa so sweet..." Aira dan Aza terharu melihat Palm dan Gink yang berpelukan, mereka pun ikut berpelukan juga.


Keno dan Aksa melihatnya jenuh, sudah tak kaget melihat dua wanita yang selalu baper tatkala menonton drama.


"Pah, boleh ya?" Aksa mengatupkan tangannya dan berbicara pelan supaya tak dimarahi istri dan Mamanya lagi.


"Hm, tapi hanya dua atau tiga hari saja. Nggak mau kalau seminggu," jawab Keno.


"Iyessss!" Aksa berteriak dan berloncat- loncat, akhirnya dia bisa berbulan madu juga setelah sekian lama.


Aira dan Aza semakin kesal dengan Aksa, mereka langsung menimpuk lelaki yang tengah berjoged ria itu dengan bantal sofa. Sontak, Aksa pun langsung berlari terbirit- birit dari sana. Keno pun sama, ia jadi takut dengan istri dan menantunya. Perempuan memang tak bisa diganggu ketika sudah asyik menonton drama.


"Sa, tunggu Papa!"


"Ayo, Pah! Keburu dua singa itu ngamuk!"


Keno tak ada waktu lagi untuk memakai sandalnya karena Aza dan Aira sudah melayangkan tatapan membunuh, ia bergidik ngeri dan memilih meninggalkan ruangan itu hanya dengan satu sandal di kakinya.

__ADS_1


__ADS_2