
Pagi itu terasa aneh, Aksa tak mendapati Aza di sampingnya. Yang ia dapat malah suara musik terdengar begitu keras, ia melirik dan menyapu seluruh ruangan mencari tahu dari manakah musik itu berasal.
Dilihatnya Aza tengah berjoget ria memandang ponselnya yang ia letakkan di jendela.
"Za, ngapain?" tanya Aksa penasaran.
"Main Tik tok, Hubby. Kemarin ada gaya baru, tapi aku belum mencobanya," jawab Aza tanpa menoleh ke arah suaminya. Ia begitu serius membuatnya, gerakan yang lumayan sulit membuatnya harus beberapa kali mengulang.
Aksa pun mendekat, ia hanya mengernyit karena Aza begitu menggemaskan. Masih sakit tapi tetap tak melupakan tik tok.
"Hubby, minggirlah sebentar. Kamu tertangkap kamera," seru Aza menggeser tubuh suaminya.
Aksa hanya diam melipat tangannya di dada menatap istrinya yang begitu lihai berjoget. Wanita yang masih memakai pakaian rumah sakit itu hampir hafal semua backsound tik tok dan juga gerakan- gerakannya.
"Hubby, kamu mau ikut nggak? Sepertinya berdua lebih bagus."
Lelaki itu tak bergeming, ia tak suka dengan yang namanya tik tok. Terkesan alay dan hanya membuang- buang waktu.
"Ayo, Hubby. Kamu berdiri di sampingku, ikuti gerakanku ya." Aza menarik suaminya supaya berada di sampingnya. Segeralah ia berjoget dan diikuti Aksa. Lelaki itu tertarik, tak disangka ia malah lebih lihai berjoget daripada Aza.
Ternyata tik tok tidak terlalu buruk, pikir Aksa.
"Sepertinya kamu akan demam tik tok juga, Hubby," ucap Aza tergelak.
"Ini kan gara- gara kamu!" Aksa merangkul Aza dan menguyel- uyelnya karena gemas.
"Ehem..." Dokter Pras berdehem membuat Aksa dan Aza menoleh ke arahnya.
"Ayihh, ternyata ada dokter Pras di sini," celetuk Aza.
"Sudah sejak tadi, tapi kalian saja yang tak sadar akan kedatangan kami."
Dokter pun mulai memeriksa keadaan Aza. Aksa sudah diperbolehkan untuk pulang, namun Aza masih harus dirawat dikarenakan dokter masih akan memantau kondisinya lagi. Racun sangat berbahaya dan kemungkinan akan berdampak buruk untuk ke depannya.
"Dokter, suster..." lirih Aza.
"Iya, Nona?"
__ADS_1
"Ayo main tik tok!"
Dokter dan suster hanya mengernyit dan saling tatap. Aza kemudian turun dari brankar menyeret tiang infus dan menuju jendela mencari cahaya supaya video yang dihasilkan bagus.
"Ayooo, kenapa kalian diam saja? Hubby, ayolah..."
Dokter, suster, dan Aksa pun patuh dengan wanita yang masih terlihat pucat namun semangatnya tak pernah surut. Mereka menurut saat Aza mengatur tempat dan gerakan yang harus mereka lakukan. Dokter dan suster pun tampak antusias melakukannya, jarang- jarang mereka menghibur diri seperti ini. Gelak tawa pecah begitu saja tatkala salah satu di antara mereka melakukan kesalahan dan harus mengulang video lagi.
"Makasih ya, Dok, Sus," ucap Aza ketika video yang ia inginkan sudah jadi. Ada lima video dengan bermacam gerakan telah tersimpan di ponselnya.
"Sama- sama, Nona. Kalau mau tik- tokan lagi ajak kami ya," ucap Suster. Sepertinya dia tertular virus tik tok dari Aza, begitu juga dengan dokter. Semoga mereka berdua tak menularkannya kepada orang- orang di rumah sakit sanjaya.
****
"Hubby, kenapa cairan infusku menetesnya sangat lama? Aku percepat saja ya?" seru Aza memandang botol infus yang masih setengah itu. Ia teringin cepat- cepat mandi dan pulang. Melihat suaminya yang sudah berkemas, jiwa untuk pulangnya semakin meronta- ronta. Baru dua hari di rumah sakit, Aza sangatlah bosan.
Sedangkan Aksa tampak biasa saja, soalnya kemarin dia sudah tak dipasang infus lagi oleh dokter dan tubuhnya juga sudah pulih.
"Makanya jangan ditunggu biar cepat habis, kalau kamu lihatin terus nanti malah nggak habis- habis loh. Mending lihatin aku aja," ucap Aksa dengan pdnya. Lelaki itu lalu mendekati istrinya dan duduk di tepi brankar.
"Hubby, aku kan bisa mandi setelah ini. Tak perlu membersihkan wajahku."
"Jangan mandi dulu, kamu tuh masih sakit. Sebenarnya juga belum boleh pulang sama dokter kan kalau kamu tadi tak merengek."
Aksa tetap membersihkan wajah istrinya hingga terlihat segar lagi, ia lalu mengikat rambut panjang Aza. Wanita itu hanya diam dan membiarkan suaminya berbuat semaunya.
"Sudah cantik," celetuk Aksa setelah mengikat rambut Aza. Ia lalu mengecupi wajah istrinya. "Sekarang makanlah!" Aksa menarik troli berisi makanan yang dibawakan suster tadi mendekat ke brankar Aza.
"Kamu juga makan, Hubby."
Pintu ruangan terbuka mengalihkan pandangan mereka, seorang wanita paruh baya tapi tetap terlihat cantik dan muda datang dengan raut wajah khawatir. Wanita itu langsung memeluk Aza, air matanya hampir menetes begitu saja.
"Maafkan Mama baru datang, Mama baru tahu kalau kamu sakit," seru Anandhi di dalam dekapan Aza.
Aza terdiam sejenak, ia heran kenapa Anandhi sebegitu khawatirnya dengan dirinya. "Nggak papa, Aza sudah sehat kok. Mama Anandhi tak perlu khawatir."
"Kamu belum makan? Ayo Mama suapin, kamu mau bubur atau nasi?"
__ADS_1
Anandhi lalu mengambil wadah yang berisikan bubur, sup kentang, sosis, dan tahu putih. Ia menyuapi Aza dengan telaten. Duduk di tepi brankar dan sesekali mengusap bekas makanan yang menempel di bibir anaknya.
"Kamu nggak boleh sakit lagi pokoknya, jaga kesehatanmu." Anandhi sering kali mengucap kalimat itu. Aza merasa senang karena ada yang begitu perhatian dengannya, tapi terselip rasa curiga juga kenapa Anandhi bisa seperti itu dengannya. Padahal kan mereka belum lama kenal.
Bubur dan berbagai lauk khas rumah sakit telah habis, Aza terpaksa menelan semuanya karena Anandhi terus memaksa. Porsi yang cukup banyak malah membuat Aza terlalu kenyang dan perutnya seakan diaduk- aduk.
"Hubby, aku ingin muntah," seru Aza kepada Aksa yang kala itu juga baru selesai menyantap makanannya.
"Aku akan memanggilkan dokter," seru Anandhi.
Aza menggeleng seraya menutup mulutnya. Ia hanya kekenyangan saja jadi muntah, tidak ada hal serius jadi tak perlu memanggil dokter.
Anandhi langsung panik, ia mengambil wadah di sampingnya dan mendekatkannya pada Aza. Aza memuntahkan kembali makanan yang baru saja ia telan.
Aksa berdiri di belakangnya dan memijat tengkuknya, sedangkan Anandhi ia tampak meneteskan air matanya sedih melihat kondisi Aza.
"Aza hanya kekenyangan saja, enggak sakit kok. Jangan khawatir, Mah," ucap Aza ketika ia sudah selesai.
"Maafkan Mama terus memaksamu untuk makan, aku memang Ibu yang buruk. Tak pernah mengerti anaknya," ucap Anandhi terisak. Aza merasa ada kejanggalan di kalimat yang baru saja Anandhi ucapkan.
Aza langsung memeluk Anandhi supaya wanita itu tenang dan berhenti menangis. "Jangan menangis lagi..."
"Beristirahatlah, Nak. Mama akan menunggumu di sini." Anandhi menyelimuti tubuh Aza dan mengusap kepalanya. Beberapa lagu penghantar tidur ia nyanyikan supaya Aza lebih nyenyak tidurnya.
.
.
.
.
.
I'm sorry to late update😭
Aku tuh sibuk banget guys maapin ya. Meskipun hari minggu, aku tetep ada kuliah. Jadi, mohon pengertiannya🌻Terima kasih teruntuk kalian yang selalu menunggu Aza dan Aksa❤️
__ADS_1