
"Sa, kenapa mereka ngelihatin aku gitu sih? Emangnya ada yang salah ya sama penampilanku?" Aza mengamati dirinya mencoba mencari kesalahan, ia semakin bingung tapi Aksa malah terkekeh gemas dan mencubit pipi Aza.
"Wajar dong, kamu kan lagi jalan sama Presdir perusahaan ini. Pasti mereka sangat iri denganmu," jawab Aksa dengan santainya, ia pun langsung mendapat cubitan di perutnya.
"Sakit, Za..." rengek Aksa supaya Aza melepas cubitannya.
"Makanya jangan ngelindur jadi orang tuh. Mana ada Presdir kaya kamu gini, kamu pasti cuma office boy kan di sini?" Aza tersenyum simpul. Aksa mengusap dadanya supaya emosinya tak memuncak. Ia baru tahu kalau ada orang seperti Aza.
"Terserah kamu saja, pergi sana ke ruang kerjamu!" Aksa berlalu menuju lift yang dikhususkan untuk Presdir, asisten, dan sekretarisnya.
Aza yang melihatnya pun langsung menghampiri Aksa sebelum memasuki lift. "Kamu nggak bisa baca ya, ini lift khusus Presdir dan orang terdekatnya. Lift karyawan biasa itu di sana." Aza mengarahkan tangannya menunjuk lift khusus karyawan.
"Untung saja aku memperingatkanmu. Kalau Pak Presdir tahu pasti kamu akan dipecat dan nggak punya uang jajan lagi deh!" tambah Aza.
Aksa semakin gemas dibuatnya, ia menangkup kedua pipi wanita itu dan melototkan matanya membuat Aza ketakutan.
"Berhentilah mengoceh atau aku akan menggigit kedua pipimu ini jika mulutmu tak bisa diam!" Aksa masuk ke dalam lift setelah mencubit hidung Aza hingga memerah. Wanita itu semakin kesal dibuatnya, ia pun menghentakkan kakinya dan pergi dari sana.
*****
Aza adalah lulusan terbaik di fakultasnya. Tentu saja ini menjadikan Sanjaya Group dengan mudah menerima dirinya. Dia menjadi salah satu staf devisi keuangan di sana. Aza segera menuju ke lantai sepuluh dimana ruangan bekerjanya berada di sana. Sanjaya group terdiri dari tiga puluh lantai dimana tiap lantainya terdapat devisi yang berbeda- beda.
Ruangan yang cukup luas dengan banyak teman di sana. Karena Aza mudah bergaul, ia pun sudah banyak mengenal orang yang bekerja satu devisi dengannya. Sarah adalah orang yang pertama kali dikenal dan sangat dekat dengan Aza, mejanya hanya bersebelahan tentu saja mereka bisa langsung akrab.
Sarah sangatlah baik, dia memperkenalkan aturan- aturan dan sebagainya saat bekerja. Sarah sendiri tingginya tak jauh berbeda dengan Aza, kulit putih, rambut sedikit bergelombang, dengan kacamata bundar bertengger di hidungnya yang tak terlalu mancung tapi wanita itu tetap terlihat cantik.
"Kamu sudah lama bekerja di sini?" tanya Aza sembari menyelesaikan tugasnya.
"Belum terlalu lama, baru satu tahun."
__ADS_1
"Ngobrolnya nanti saja, Za. Takut Kepala Devisi kita tahu, bisa- bisa kita dihukum lagi," bisik Sarah. Ia mulai bergidik ngeri saat melihat jarum jam menunjuk angka sepuluh, dimana biasanya kepala devisi tengah berkeliling mengawasi bawahannya.
Aza mengangguk polos, bibirnya terlihat kelu karena tak mengobrol. Aza memang cerewet orangnya, jadi untuk diam sebentar saja ia kesulitan.
"Sarah, kalau main ponsel nggak boleh juga, ya? Kalau ada yang telfon gimana?" tanya Aza berbisik supaya tak mengganggu staf lain.
"Ya nggak boleh dong, Za. Nanti kalau pas istirahat baru boleh!" ucap Sarah. Ia kesal dengan Aza karena mengajaknya berbicara terus dari tadi.
"Sebentar lagi aku harus online biar dapet gratis ongkir di shopee. Lumayan, ngirit dua puluh ribu!" Aza memang selalu menantikan gratis ongkir di salah satu aplikasi belanja online. Ia pun gelisah karena tak boleh membuka ponsel.
Sarah menepok jidat dan menggelengkan kepalanya. Aza benar- benar menyebalkan, ingin sekali dia membuangnya ke tempat sampah.
"Ehemmm..." suara deheman membuat Aza dan Sarah menoleh ke belakang.Wanita dengan blazer hitam, rok span selutut, dengan rambut yang diikat tinggi berdiri di belakang mereka sembari melipat tangannya di dada.
"Siapa?" tanya Aza berbisik.
"Ehh, Ibu cantik. Salam kenal ya,
Bu. Saya Azalea, staff baru di sini..." Aza mengulurkan tangannya tapi tak disambut oleh wanita itu. Yang ada hanya tatapan marah.
"Tangan saya nggak kotor kok, Buk. Tadi sudah cuci tangan dan pakai hand sanitizer." Perkataan Aza yang merasa tak ada dosa ini membuat Sarah menepok jidatnya, ia saja merasakan jika aura kemarahan kepala devisi itu akan meledak tapi Aza malah tak takut sama sekali.
Sarah menendang kaki Aza dan melototkan matanya, "Jangan cari gara- gara deh kamu tuh!"
Brakkkk!!!
Wanita itu menggebrak meja hingga Aza dan Sarah berjingkat.
"Harus berapa kali saya bilang kalau jam kerja kalian itu tidak boleh mengobrol!" ucap Clara, Kepala Devisi keuangan yang merupakan anak dari Mega Anastasia dan Sandi Guntur Pratama, sahabat Aira dan Keno.
__ADS_1
"Maaf, Buk..." lirih Aza dan Sarah menundukkan wajah mereka.
Clara hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua bawahannya itu. Sebenarnya dia tidak jahat, hanya saja tegas dan proveksionis. Dimana ia sangat mengutamakan proses dan hasil kerja karyawannya. Ia hanya tak suka jika ada karyawannya bertindak semaunya.
"Ada apa ini?" tanya Devano yang kala itu tengah melewati ruangan devisi keuangan.
"Nggak papa kok, sayang. Hanya masalah kecil," jawab Clara. Ya, Clara adalah kekasih dari Devano.
"Aku kira ada masalah besar, yaudah kalau gitu aku pergi dulu ya. Nanti sore aku antar kamu pulang. Sampai ketemu nanti sore," ucap Devano lembut. Ia dengan santainya mengecup kening Clara padahal banyak mata yang memandang. Tapi tak ada yang berani dengan lelaki itu karena dia termasuk orang penting di Sanjaya Group. Hanya Aksa saja yang berani dengan Devano.
"Kalian lanjut kerjanya ya, jangan mengobrol ataupun main ponsel," ucap Clara lembut sebelum meninggalkan Aza dan Sarah.
*****
Jam makan siang pun tiba, ini adalah waktu yang sangat dinanti- nantikan oleh semua karyawan. Begitu juga bagi Aza dan Sarah. Mereka langsung menuju kantin yang berada di lantai satu. Memesan dua mangkok bakso dan dua gelas es teh.
"Meskipun perusahaan elit, tapi makanan di kantin tetap merakyat ya," seru Aza.
"Memang, bahkan Pak Presdir juga tak segan- segan untuk makan di kantin berbaur dengan bawahannya," sahut Sarah.
"Oh, ya? Keren sekali Pak Presdir."
Baru saja mau memasukkan bola bakso kedua, tiba- tiba ada yang mencekal garpu miliknya. Dan orang itu memasukkan bakso ke mulutnya. Tentu saja ini membuat Sarah dan karyawan lain yang melihatnya membelakakkan mata, pasalnya orang itu adalah Presdir mereka.
"Dasar nggak punya akhlak!" gerutu Aza mencebikkan bibirnya. Tapi Aksa semacam tak punya dosa dan dia malah cengar cengir menatap Aza.
"Jangan menatapku atau aku akan memotong gaji kalian bulan ini!" seru Aksa ketika karyawan yang sedang berada di sana menatap dirinya dan Aza. Sontak, ini membuat Aza tertawa terbahak- bahak mendengarnya. Aksa memang sudah gila, pikirnya.
"Kamu itu kan cuma office boy, kenapa bisa memotong gaji mereka? Kamu emang nggak waras ya." Aza terus saja meledek Aksa.
__ADS_1