
Dinding ruangan itu berwarna putih polos. Ada beberapa bagian yang catnya terkelupas. Aza merebahkan tubuh di atas kasur yang baru saja diganti sepreinya. Matanya menatap langit- langit kamar.
Pikirannya melayang kepada lelaki yang merupakan Presdir Sanjaya Group. Wanita itu tersenyum kembali mengingat ketika Aksa memeluknya erat dan bermanja dengannya. Lelaki itu terlihat hangat, perhatian, penyayang, dan penuh tanggung jawab. Terlihat sempurna, Aza jadi merasa tak pantas untuk bersanding dengannya. Aksa terlalu jauh bagi Aza.
Aza kembali memikirkan keputusan yang diambilnya, ia menerima ajakan Aksa untuk menikah. Keraguan masih terlihat jelas di sorot matanya. Apakah pernikahan ini akan baik- baik saja? Apakah lelaki itu membenarkan ucapannya untuk membahagiakan dirinya? Pertanyaan- pertanyaan terlintas di kepalanya.
Aza mematikan lampu kamar dan mencoba memejamkan mata. Membiarkan tubuhnya melepaskan lelah. Mencoba menenangkan pikiran yang sedari tadi kalut. Pelan- pelan, malam beringsut larut. Di luar, langit tampak dipenuhi bintang yang berkedip.
*****
Tring...
Suara pesan masuk diterima. Sang pemilik ponsel meraba mencarinya, matanya masih terpejam, sedikit kesulitan meskipun semalam posel berada di bawah bantalnya.
Segera membuka mata ketika telah berjumpa, sebuah nomor tak dikenal tertera di ponselnya.
"Terima kasih sudah mau menikah denganku, hubunganku dengan Mama sudah membaik. Segera bangun dan bersiap, aku akan menjemputmu. Sampai bertemu nanti."
Senyum wanita itu terulas di bibirnya setelah membaca pesan dari nomor tak dikenal. Meskipun begitu, ia sudah tahu siapakah pemilik nomor itu. Tak ambil pusing bagaimana lelaki itu bisa mendapatkan nomornya, Aksa kan orang hebat.
Segeralah ia menyimpan nomor itu, menimang- nimang hendak diberi nama apa di ponselnya. Ah, memikirkannya saja ia sudah segila ini.
"Namanya saja, nggak usah pakai embel- embel panggilan khusus," serunya sebelum menyimpan nomor dengan nama 'Aksa'.
Kini, wanita itu sudah bersiap, berbalut blouse lengan pendek dan baggy pants andalannya. Rambutnya tak dikepang atau diikat, melainkan digerai karena masih basah. Takut pusing jika langsung diikat, katanya.
Duduk di teras rumahnya, menunggu lelaki itu sembari memainkan ponsel dan sesekali melirik jalanan. Mobil pajero berwarna hitam milik Aksa mulai terlihat samar. Aza memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berdiri, bersiap memasuki mobil Aksa.
Aksa tak sendiri, bangku di belakangnya terdapat dua orang. Kaca mobil terbuka, dua orang di belakang berseru ria.
"Hayy, calon menantu..." seru orang itu, yang tak lain adalah Aira dan Keno. Calon Papa dan Mama mertuanya. Mereka terlihat senang, sepertinya benar kata Aksa tadi pagi, semuanya telah membaik ketika Aza memutuskan untuk menikah dengan Aksa.
"Ayo segera masuk, Nak," pinta Aira. Aza mengangguk, membuka pintu, dan segera duduk di samping Aksa yang langsung mengemudikan mobilnya.
"Calon menantu Mama apakah sudah sarapan tadi?" tanya Aira.
Aza menjadi canggung, "Sudah, Tante," jawabnya sembari menoleh ke belakang sekilas.
__ADS_1
"Hey, Pak Sopir! Kenapa kamu dari tadi diam saja," celetuk Keno kepada anaknya yang fokus mengemudikan mobil.
Bagaimana tidak kesal, sejak keluar dari rumahnya, Papanya itu selalu memanggilnya 'Pak Sopir' dan menyuruhnya layaknya sopir sungguhan. Jangan ngebut, jangan memainkan ponsel, jangan ini itu, dan masih banyak lagi. Apalagi tadi Papa dan Mamanya duduk di belakang tak ada yang menemaninya di depan. Huh, Aksa memang terlihat seperti sopir sungguhan.
"Berhentilah memanggilku Pak Sopir," ucap Aksa ketus.
"Nggak mau, aku lebih suka memanggilmu begitu," tukas Keno.
"Turun saja kalau begitu, tadi nggak ada yang ngajak Papa, kan?" Aksa langsung mendapatkan cubitan dari Keno.
"Anak kurang ajar," ucap Keno kesal.
"Sssttt, lagi ada Aza masa iya kalian ribut terus sih. Aksa, ayo minta maaf sama Papa. Dan Papa juga minta maaf sama Aksa, jangan manggil Pak Sopir lagi," tutur Aira memperingatkan keduanya.
Aksa segera menepikan mobilnya, ia berbalik dan mengulurkan tangannya, "maafin Aksa, Pah..." lirihnya dengan malas kepada Keno yang saat itu melipat tangannya di dada.
"Jangan kaya anak kecil deh, Pah. Siniin tangannya." Aksa memaksa Keno untuk berjabat tangan dengannya.
"Maafin Papa juga ya, Pak Sopir," ucap Keno terkekeh. Aza dan Aira ikut terkekeh mendengarnya, dua lelaki itu sangatlah lucu dan konyol.
Suasana kembali hening, Aza kebingungan karena arah yang dilewati bukan jalanan menuju ke Sanjaya Group.
"Ke Mall," jawab Aksa.
"Ngapain?"
"Ciyee kepo..." Aza menggerutu kesal karena Aksa malah bercanda dengannya.
Mobil telah terhenti di Mall milik keluarga Sanjaya, mereka berempat segera turun dan masuk. Aza merasa canggung karena Aira menggenggam tangannya, ia tak pernah merasakan ini sebelumnya.
"Tante, kita kenapa ke butik?" tanya Aza ketika Aira mengajaknya masuk ke butik Mira.
"Untuk membeli gaun pengantin."
Aza hanya menurut. Apa orang kaya selalu begini? Menghambur- hamburkan uang, padahal kan gaun pengantin hanya sekali pakai, sayang sekali bukan jika harus membeli? Ah, Aza tak habis pikir dengan mereka.
"Sa, memangnya kita kapan menikahnya?" Aza bertanya karena sepertinya Aira dan Keno terburu- buru mempersiapkan pernikahan.
__ADS_1
"Mama sama Papa sepakat untuk minggu depan."
"Secepat itu?" teriak Aza karena terkejut.
"Ada apa, sayang? Kenapa kamu berteriak?" tanya Mira mendekati Aza dan Aksa yang kala itu tengah duduk di sofa pengunjung.
"Siapa, Sa?" tanya Aza berbisik.
"Oma Mira, dia yang punya butik ini."
Aza merasa tambah insecure mendengar jawaban Aksa. Semua keluarganya berasal dari kalangan atas, lalu dirinya? Ah, Aza jadi ragu untuk menikah.
"Calon cucu menantu oma cantik dan manis," ucap Mira. Wanita berumur itu menghujani ciuman di wajah Aza, membuat wajah Aza memerah karena lipstick tebal di bibir Mira.
"Ah, cucu Oma sekarang benar- benar sudah dewasa. Oma merindukanmu..." Mira hendak berhambur memeluk Aksa, tapi lelaki itu langsung menyembunyikan tubuhnya di belakang Aza.
"Oma, Aksa sudah besar! Aksa nggak mau dicium...." teriak Aksa di balik tubuh Aza.
"Oma hanya ingin memelukmu, sudah satu minggu kamu tak menemui Oma..." ucap Mira dengan nada sedih. Aksa jadi kasihan mendengarnya, ia pun keluar dari persembunyiannya dan memeluk Mira.
"Nah, gini dong kalau jadi cucu itu." Mira berjinjit dan menangkup kedua pipi Aksa, ia juga melakukan hal yang sama seperti Aza tadi. Aksa terus meronta tapi ia tak berdaya. Kini wajahnya penuh dengan lipstick merah.
Semua orang yang berada di butik pun tertawa melihat raut wajah Aksa yang cemberut.
*****
"Bersihkan yang benar, jangan sampai wajah tampanku ini masih ada bekas lipstick," seru Aksa kepada Aza.
"Iya, kamu tuh jangan marah- marah. Oma melakukan ini karena dia sangat menyayangimu, bersyukurlah atas apa yang kamu dapatkan!" tutur Aza sembari membersihkan wajah Aksa dengan tisu basah.
"Iya- iya, maafkan aku."
Aksa menatap lekat wajah Aza yang hanya berjarak beberapa senti itu. "Za, ternyata kamu cantik ya..."
Aza jadi salah tingkah, lagi- lagi jantungnya berdegub cepat. Kedua pipinya merona.
"Aku bohong kok, nggak usah salah tingkah dan deg- degan. Aku mendengar suara jantungmu loh," ucap Aksa tergelak.
__ADS_1
"Bersihkan sendiri!" Aza melemparkan tisu ke wajah Aksa yang masih tertawa lepas.