My Presdir

My Presdir
Bayi Kembar


__ADS_3

Semuanya pun kebingungan karena tak mendapati Aza, padahal tadi saat mau masuk Aza masih bersama mereka. Semua ponsel pun menyala menghubungi nomor Aza, tapi tak ada sahutan dari wanita hamil itu.


"Haii..." sapa seseorang yang berada di ambang pintu dengan satu cone es krim di tangannya. Tak lain adalah Aza. Ia sudah tak sabar menyantap es krim, maka dari itu tadi dirinya melarikan diri sebentar membelinya.


"Dari mana saja kamu? Kami khawatir," seru Anandhi. Ia menghampiri Aza dan mengajaknya masuk.


"Lain kali tuh bilang dulu, Za. Ya ampun, bikin panik orang tau nggak sih!"


"Hehe, maaf, Hubby. Habisnya tadi kamu aku ajak beli es krim dulu nggak mau sih!"


Semuanya pun menasihati Aza, tampak lebay tapi itu bukti sayang mereka terhadap wanita yang sedang mengandung kurang lebih lima bulan itu. Dokter Afifah dan asistennya hanya menggeleng- gelengkan kepalanya menatap mereka.


"Wahh, sepertinya mereka sehat ya di sana," ucap Dokter Afifah mengusap perut Aza.


"Mereka?" Semuanya pun terkejut dan mengernyitkan dahi ketika Dokter Afifah berkata "mereka"


"Iya, bayi yang ada di dalam kandungan Nona Aza kan kembar. Saya memang tak mengatakannya dari awal, karena dulu takutnya kantung yang satu itu kosong. Tapi setelah melihatnya sekarang aku yakin jika dua kantung yang aku lihat dulu benar- benar terisi," jelas Dokter Afifah yang membuat keluarga itu menganga tak percaya.


"KOK BISA KEMBAR?" bentak mereka bersahutan, suaranya menggelegar membuat Dokter Afifah dan asistennya terkejut. Orang yang berlalu lalang melewati poli kandungan pun terdiam sejenak menatap heran. Sedangkan Anandhi cekikian sendiri dibuatnya.


Masa iya bayi Aza dan Aksa kembar? Memangnya keturunan keluarga mereka ada yang kembar juga?


"Bayi kembar bisa terjadi karena garis keturunan, kalau keluarga Anda tak ada yang memiliki garis keturunan sebelumya berarti ini anugerah dari Tuhan," jelas Dokter Afifah. Semuanya masih terdiam tak percaya jika anak yang dikandung Aza itu anak kembar.


"Sebenarnya saya yang dulunya kembar," ucap Anandhi membuat semua menoleh ke arahnya.


"... tapi saudara saya meninggal ketika umur tiga tahun karena kelainan jantung," tambah Anandhi lirih di akhir kalimatnya.


"Apa saya bilang, pasti ada garis keturunan dari keluarga." Dokter Afifah lalu menyuruh Aza berbaring dan mempersiapkan alat USG supaya mereka semua percaya.


Ini adalah kali kedua Aza di USG, cairan dingin diusapkan ke perutnya oleh asisten Dokter Afifah. Aza sendiri tak yakin jika bayinya itu ada dua. Semuanya mengerubungi brankar Aza dan matanya tertuju pada layar. Dokter Afifah mulai menggerakkan alat USG mengitari perut Aza.


"Nah, ini ada dua, kan? Nona Aza memang hamil kembar," jelas Dokter menunjuk dua kantung berisikan bayi yang mulai berkembang.


Melihatnya, Aza begitu berdebar. Tak menyangka jika Tuhan memberinya anugerah lebih. Suara detak jantung dua malaikat kecil itu pun juga terdengar membuat Aksa dan Aza bergetar.


"Hubby..." lirih Aza menggenggam tangan suaminya. Aksa tampak terharu, rasanya begitu bahagia.


"Terima kasih," ucap Aksa memeluk istrinya yang sedang berbaring. Ia mengecup wajah Aza tiada ampun.


Para keluarga pun saling memeluk mengungkap rasa bahagia tiada tara.


"Lalu, apa jenis kelaminnya?" tanya Opa Bram kepada Dokter Afifah yang masih asyik memainkan alat USG di perut Aza.


"Pasti kalian akan semakin senang mengetahuinya. Lihatlah, yang berada di bawah ini memiliki belalai," ucap Dokter Afifah menunjuk salah satu bayi yang berarti berjenis kelamin laki- laki.


"Dan bayi yang satunya tak memiliki belalai."

__ADS_1


Semuanya menatap layar USG dengan seksama termasuk Aza juga. Mereka mencerna apa yang dimaksud belalai.


"Belalai gajah?" tanya Opa Andi.


"Husst, ngawur aja sih!" sembur Oma Mira.


Dokter Afifah terkekeh, "bukan belalai gajah. Maksudnya tuh dia laki- laki."


"Ohhh..." Mulut semuanya membulat dan mereka mengangguk pertanda memahami perkataan dokter.


"Yang satunya nggak ada belalai, berarti..." lirih Aksa yang kemudian membuat semuanya langsung bersorak dan melompat- lompat karena senang.


"Kembar cowok cewek!" tegas Dokter Afifah.


"Good job, Boy!" Keno menepuk pundak Aksa dengan bangganya, layaknya telah memenangkan sesuatu.


"Cucuku ada dua..."


Dokter Afifah dan Asistennya menggelengkan kepala melihat keluarga yang bahagia itu. Mereka ikut bahagia. Dokter lalu memberikan secarik foto hasil USG kepada Aza. Wanita itu masih tak menyangka jika hamil kembar, cowok dan cewek pula.


"Tetap do'akan Ibu dan bayi supaya selalu sehat. Kelahiran bisa terjadi lebih awal kalau bayi yang dikandung adalah bayi kembar. Dan saya menyarankan supaya operasi sesar saja," tambah Dokter Afifah.


"Saya ingin melahirkan normal, Dok. Masa tidak boleh?" Aza terlihat lesu, dari awal ia merencanakan akan melahirkan secara normal supaya lebih tahu bagaimana rasanya menjadi ibu yang sesungguhnya.


"Jika kondisi Anda memungkinkan bisa saja melahirkan secara normal."


Mereka pun segera berpamitan pulang. Keluarga itu benar- benar sedang dirundung kebahagiaan yang tiada taranya. Para keluarga sempat berdiskusi sejenak, mereka sepakat jika akan tinggal bersama sampai waktu melahirkan nanti. Semuanya ingin menjaga serta merawat Aza. Meskipun ini berlebihan, tapi ini merupakan hal yang wajar.


Rumah itu terasa sangat ramai, semuanya masih sibuk menata barang ke kamar masing- masing. Anandhi pun juga ikut tinggal bersama mereka.


"Aza jangan bergerak! Diam di tempatmu, biar Mama yang mengambilkanmu minum," ucap Aira mencegah Aza yang hendak pergi ke dapur.


"Turuti saja mereka, kami sangat menyayangimu jadi kami tak mau terjadi sesuatu denganmu dan anak- anak," tutur Aksa yang kemudian diberi anggukan oleh Aza. Wanita itu senang sekali diberi keluarga yang begitu menyayangi dirinya.


*****


Aza duduk bersantai di depan ruang keluarga dengan suaminya yang bergelayut di tubuhnya. Aksa tak melepas pelukannya sedikitpun. Lelaki itu lalu meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri sembari menciumi perut Aza yang besar.


"Mereka sedang apa ya, Sayang?" tanya Aksa, lelaki itu menempelkan telinganya berusaha mendengarnya.


"Mereka lagi berdiskusi siapakah yang akan keluar terlebih dahulu," jawab Aza sekenanya.


"Hey, anak- anak Papa, memangnya yang dikatakan Mama kalian itu benar ya? Kalau iya, kenapa nggak ngajak Papa?"


"Masuklah, Papa. Ayo ikut berdiskusi." Aza terpingkal- pingkal dibuatnya, ingin sekali rasanya dia memasukkan Aksa ke perutnya.


"Aksa bangunlah, biarkan istrimu makan terlebih dahulu," pinta Aira dan Anandhi. Dua wanita itu membawa piring berisikan buah- buahan segar yang sudah dipotong beserta cemilan lainnya.

__ADS_1


Aksa berpura- pura tak tahu, ia malah semakin mengeratkan tubuhnya di tubuh sang istri. Anandhi dan Aira pun jengkel, mereka langsung mendorong tubuh Aksa hingga terjatuh dari sofa.


"Mah..."


"Ayo sayang, kamu harus banyak makan buah," seru Anandhi sembari menyuapi sepotong melon ke mulut Aza.


"Kamu juga harus makan kiwi ini, setelah makan nanti harus tidur siang. Pokoknya kamu nggak boleh capek sama stress." Kali ini Aira menyuapi sepotong kiwi, mulut Aza terasa penuh. Belum sempat menelan potongan melon tapi sudah disuapi kiwi.


Aza benar- benar kewalahan menelan suapan demi suapan dari dua Mamanya. Hingga tak terasa potongan kiwi dan melon yang begitu banyak habis dalam waktu sekejap. Wanita itu pun tak lama kemudian tertidur karena perut yang penuh membuat kantuk lebih cepat datangnya.


"Mah..." Aksa merengek, ia merasa iri dengan Aza yang sekarang jadi ratu di rumah itu. Aksa jadi tak diperhatikan lagi.


"Jangan seperti anak kecil, ayo gendong istrimu dan ajak ke kamar!" perintah Aira yang kemudian dilaksanakan Aksa. Daripada dirinya menjadi sasaran, Aksa selalu menuruti wanita yang telah mengandung serta melahirkannya.


Usai membaringkan sang istri ke ranjang mereka, Aksa pun ikut berbaring di sampingnya. Tapi Anandhi dan Aira langsung menyuruhnya untuk keluar.


"Bolehkan kalau hari ini Mama Anandhi dan Mama Aira tidur bersama Aza? Boleh ya..." rengek Anandhi sembari menggoyangkan lengan menantunya.


"Terus Aksa tidur di mana?"


"Aksa kan sudah besar, tidur sendiri ya. Kalau takut, tidur sama Opa atau Papa ya," jawab Aira. Ia langsung mendorong anaknya keluar dari kamar dan tak lupa menguncinya.


"Istriku..." lirih Aksa.


"Hiks, masa tidur sendiri," celetuk Keno membuat Aksa terkejut karena orang itu tiba- tiba berada di belakangnya.


"Yang sabar ya, Pah! Mereka emang keterlaluan kalau sudah sama Aza." Aksa memeluk Papanya yang juga sedih karena Aira lebih memilih tidur bersama Aza.


"Tidur juga yuk, Pah!" ajak Aksa, Keno pun mengiyakan.


"Kita tidur bareng?"


"Enggak lah, Pah. Papa tidur di sofa, aku tidur di kasur."


"Sontoloyo!"


"Hehe bercanda kok."


.


.


.


.


.

__ADS_1


Sampai bertemu di episode yang baru dengan tema yang baru pula, karena akan menginjak season 2😂🥰


__ADS_2