
Permasalahan telah selesai, rasanya jauh lebih tenang. Benar kata istrinya jika memiliki dendam bahkan sampai membuat orang lain susah itu tak baik. Sebesar apapun kesalahan yang terjadi, kita harus sebisa mungkin memaafkan, semacam Tuhan yang selalu memberikan maaf kepada hamba-Nya.
Semua kembali normal, berjalan seperti biasanya. Sang istri selalu sibuk ketika pagi datang, sedangkan dirinya juga disibukkan dengan mengurus proyek baru. Proyek di Mars? Bukan, itu bisa dipikirkan lain kali dan sepertinya butuh waktu serta tenaga ekstra karena harus mencari alien untuk mengurusnya. Sudah gila memang.
"Papah..." ucap Ailee berhambur memeluk papanya yang tengah duduk di ruang keluarga menyelesaikan suatu pekerjaan.
Ailee memang lebih manja jika bersama Aksa. Sehari tak memeluknya rasanya sangat kurang dan aneh.
"Ada apa cantik?" Kecupan bertubi- tubi mendarat di wajah putrinya. Ia pun menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Kak Aiden nakal!" adunya sembari memanyunkan bibir.
"Kenapa dengan Kak Aiden? Dan di mana sekarang?" tanya Aksa. Matanya berpencar mencari keberadaan sang putra.
"Di dapur sama Mama. Tadi nggak ngebolehin aku meluk Mama."
Aksa terkekeh, bukan kali pertamanya Ailee mengadu seperti itu. Aiden memang pelit dengan saudara kembarnya jika tentang Aza. Anak itu tiap pagi selalu bergelayut di kaki Mamanya dan mengikutinya ke manapun melangkah.
Dan benar saja saat Aksa mengajak Ailee ke dapur, Aiden bergelayut di kaki Aza padahal wanita itu tengah sibuk ke sana kemari menyiapkan sarapan.
"Aiden, ayo duduk di sana. Sarapannya sudah siap," perintah Aza.
Aiden pun mengikuti langkah Mamanya yang menuju meja makan. Di sana sudah ada Ailee yang duduk memeluk Papanya.
"Kenapa lihat- lihat?!" gertak Aiden kepada Ailee.
"Tuh kan, Pah. Kak Aiden nakal kalau sama Ailee." Lagi- lagi Ailee mengadu, ingin sekali rasanya ia mengurung saudara kembarnya itu di gudang.
"Nanti Papa yang hukum Kak Aiden ya, jangan sedih lagi," bujuk Aksa.
"Dasar anak manja!" seru Aiden.
"Kamu pun sama!"
"Dasar tukang ngadu!"
"Biarin! Dasar Kakak nakal!"
"Kamu yang nakal!"
__ADS_1
Aza dan Aksa saling pandang saat mendengar anak- anaknya seperti itu. Mereka memijat pelipis, pusing sekali. Entah harus bagaimana membuat dua anak itu akur.
"Kalau kalian masih berantem, kita nanti nggak jadi renang loh!" seru Aza.
"Jangaaaaannnnn!" sahut Aiden dan Ailee bersamaan.
Aza pun segera menyuapi Aiden dan Ailee. Ia tak membiarkan mulut anaknya kosong sedetik pun. Jika tidak begitu maka dua anak itu akan terus mengoceh.
*****
Sudah tak terlalu pagi dan dingin, saatnya berenang. Aksa pun segera memompa dan mengisi air kolam renang plastik anak- anak mereka. Aksa memang tak memperbolehkan Aiden dan Ailee ke kolam renang rumah mereka karena terlalu dalam dan membahayakan untuk anak seusia mereka.
"Pah, kenapa kami selalu berenang di sini? Sedangkan Papa sama Mama di sana," ujar Aiden menunjuk kolam renang asli.
"Iya, Pah? Kan di sana lebih luas pasti lebih seru," tambah Ailee. Mereka berdua menatap sedih ke kolam renang yang baru terisikan air setengahnya.
"Di sana terlalu dalam, nanti kalau sudah besar kalian boleh berenang di sana sepuasnya," jawab Aksa.
"Nah, sudah terisi. Ayo masuk, katanya mau berenang?"
"Oh ya, nanti Kimmy dan Bryan akan ke sini berenang sama kalian," tambah Aksa.
"Benarkah? Yeyeyeyyyeee..."
"Benar, jangan nakal- nakal ya, kalau ada apa-apa panggil Papa atau Mama. Okay?" ucap Aksa sebelum dirinya menghampiri istrinya yang sudah berenang terlebih dahulu.
Tak lama kemudian, keluarga Sarah dan keluarga Clara pun datang. Sarah paling heboh. Dia menyuruh Kimmy, anaknya membawa pelampung yang sangat besar dan juga mainan air lainnya. Sarah sendiri membawa tas yang sangat besar pula berisikan baju ganti dan makanan ringan.
"Kamu mau piknik, Sar?" tanya Aza terkekeh kepada Sarah yang tengah mengganti baju anaknya.
"Nggak tahu tuh, heboh banget orangnya!" celetuk Faris, ia sendiri tak habis pikir dengan istrinya. Sudah seperti tak pernah berenang saja, padahal di rumah mereka sendiri juga ada kolam renang meskipun tak seluas milik Aksa.
"Diam saja kamu itu, Say. Udah sana anterin anakmu ke Aiden dan Ailee," ucap Sarah menunjuk kolam renang Aiden dan Ailee.
Aiden dan Ailee pun terpingkal-pingkal melihat kimmy yang membawa pelampung besar berbentuk flamingo dan berwarna pink.
"Halo Aiden, Halo Ailee..." sapa Faris dan juga Kimmy.
__ADS_1
Faris langsung menyuruh anaknya masuk ke kolam tak lupa pelampungnya. Aiden dan Ailee pun tersingkir karena pelampung itu sangatlah besar hingga menyisakan setengah kolam saja. Lalu, bagaimana mereka berenang jika tempatnya penuh dengan pelampung Kimmy?
"Hey, terus gimana mereka berenangnya kalau kolamnya saja penuh dengan pelampung anakmu?" seru Devano menggendong Bryan yang juga hendak berenang bersama.
"Ada- ada saja kamu ini. Singkirkan saja, bukankah Kimmy juga sudah pandai berenang? Dia tak akan tenggelam," tambah Devano.
"Nanti kalau disingkirkan, emaknya Kimmy bisa ngamoookkk!" jawab Faris berbisik, takut wanita yang tengah hamil itu mendengarnya.
"Astaga! Kamu takut istri rupanya?" Devano pun menggelengkan kepalanya. Ia kemudian langsung mengambil pelampung flamingo itu.
"Nanti kalau dia ngamuk pokoknya kamu yang tanggung jawab!" ujar Faris sebelum meninggalkan anak- anak.
Semuanya pun kembali dibuat terpingkal- pingkal oleh Sarah. Bagaimana tidak, bumil itu menggelar tikar di samping kolam renang dengan berbagai makanan yang ia bawa dari rumah tertata rapi di atasnya. Topi bundar yang besar itu pun melekat di kepalanya. Sarah seakan sedang piknik.
"Sar, kamu tadi lewat mana sih kok jadi tambah gila gitu?" tanya Clara terkekeh.
"Maklumin aja, namanya juga Bumil," sahut Aza ikut terkekeh pula. Sedangkan orang yang dibicarakan malah acuh dan asyik menyantap keripik.
Aksa dan Aza sudah letih, mereka pun memilih untuk menyudahi dan segera berganti baju. Begitu juga dengan Devano dan Clara. Mereka segera bergabung dengan Faris dan juga Sarah yang sedari tadi memilih duduk bersantai di atas tikar yang tergelar.
"Aiden, Ailee, berenangnya udahan ya? Nanti bisa masuk angin kalau kelamaan," bujuk Aza menghampiri anak- anaknya seraya membawakan handuk.
"Ayo Kimmy dan Bryan juga istirahat, pasti capek kan..."
"Iya Aunty..."
"Kimmy, aku akan ganti baju sebentar ya jangan pulang dulu," ucap Ailee sebelum pergi mengikuti Mamanya.
Baru saja melangkah, Aza dikejutkan dengan tangisan Kimmy. Ternyata anak itu terjungkal dan malah ditertawakan Bryan.
"Makanya jalan itu lihat- lihat," seru Bryan tertawa sembari memegang perutnya.
"Aduh, sayang, mana yang sakit?" tanya Aza membantu Kimmy berdiri. Tak ada yang luka tapi anak itu menangis, sepertinya dia malu gara- gara ditertawakan Bryan.
"Dasar nakal!" Kimmy langsung menghampiri Bryan yang masih menertawakan dirinya. Ia menjambak rambut anak itu hingga si Bryan mengaduh kesakitan.
"Ayo Kimmy, jambak rambut Bryan terus! Jangan sampai lepas!" teriak Ailee menyemangati Kimmy.
"Hey, Bryan, jangan sampai kalah dengan cewek. Ayo lawanlah. Gigit tangannya biar dia melepaskanmu!" Dan Aiden malah memihak Bryan. Perkelahian kecil antara Bryan dan Kimmy pun tak terelakkan. Aza jadi bingung dibuatnya.
__ADS_1
"SSSSAAAAAARRRAAAAHHHHH!"