My Presdir

My Presdir
Keputusan yang Diambil


__ADS_3

"Za...Kita nikah yuk, Mama mendiamkanku terus. Aku nggak kuat, aku kangen Mama yang dulu," ucap Aksa lirih. Lelaki itu terlihat sendu, ia benar- benar merindukan sikap Mamanya yang dulu. Dan satu- satunya yang bisa mengembalikannya adalah menikah dengan Aza.


"Kita nggak perlu menikah, nanti aku akan bicara sama Mama Aira," balas Aza.


"Nggak bisa, Za. Mama cuma mau kita nikah!" Aksa terus saja menekankan sang Mama untuk jadi alasan.


"Tapi..."


"Zaaaaa, aku tuh sedih. Bantuin aku dong, kita harus nikah. Hanya untuk sementara saja nggak papa, Za." Aksa terlihat menyeka air mata yang hampir keluar dari sudut matanya.


"Nikah itu sekali seumur hidup, Sa. Jangan main- main."


"Pokoknya kita harus nikah. Masalah cinta bisa diatur setelahnya, kalaupun kamu nggak bisa cinta sama aku, kamu bisa pergi meninggalkan aku nantinya."


"Memangnya kamu sudah mencintaiku?" Pertanyaan Aza ini membuat Aksa berpikir keras. Cinta? Bagaimana rasanya? Apa rasa khawatir dan tak mau jauh itu bagian dari cinta? Kalaupun iya, berarti Aksa memang mencintai Aza. Tapi...Ah, Aksa bingung untuk hal ini.


"Mau ya, Za? Aku yakin kalau kita akan saling mencintai nantinya. Sama seperti Mama dan Papa yang cintanya kian bertambah seiring berjalannya waktu," ucap Aksa dengan nada serius.


Aza tak tahu harus menjawab apa, jika melihat Aksa dirinya sedikit iba. Kasihan juga lelaki itu, sepertinya tersiksa karena diacuhkan sang Mama.


"Aku nggak tahu, Sa." Aza melanjutkan makannya.


"Pikirkan lagi, Za. Aku harap kamu mau menikah denganku." Aksa memeluk tubuh Aza dari samping dan menyandarkan kepalanya. Matanya terpejam, merasakan kenyamanan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Jantung Aza berdetak hebat, tangannya teringin untuk membelai kepala Aksa. Lelaki itu mampu membuat jantung dan hatinya bergejolak. Perasaan tak menentu menyelimuti dirinya saat ini, ia mencoba menekankan dirinya untuk tak terbuai akan sikap Aksa.


"Za, jantungmu mau copot ya? Kok berdetak cepat? Kenceng banget suaranya," ledek Aksa. Ia sendiri sebenarnya juga tahu kalau jantung Aza berdetak cepat, pasti karena dekat dengan dirinya. Wanita itu mungkin mulai ada rasa dengan Aksa.


"Kurang ajar!" Aza langsung berdiri, ia jadi malu karena Aksa mengetahui jika dirinya deg- degan.


"Gugup ya dekat sama Pak Presdir. Eh bukan, aku kan office boy," ucap Aksa meledek. Ia tertawa terpingkal-pingkal ketika mengingat jika Aza berpikir kalau dirinya adalah office boy.


Aza meninggalkan lelaki yang masih tertawa itu. Malu dan kesal semuanya bercampur menjadi satu. Ingin sekali Aza mencekik leher Aksa, tapi ia takut dipecat.

__ADS_1


*****


Karena waktu telah menunjukkan jam pulang, Aksa segera turun menuju lantai sepuluh. Lantai dimana terdapat ruang kerja Aza.


Dilihatnya tinggal Aza saja yang masih berada di sana. Semua temannya telah pulang terlebih dahulu. Sedangkan Aza, pekerjaannya masih banyak, ia memilih untuk lembur menyelesaikannya.


"Pulang, Za. Nih lihat udah jam berapa!" Aksa mengarahkan tangannya yang tersemat jam sport ke depan wajah Aza supaya wanita itu bisa melihat sudah jam berapakah saat ini.


Aza hanya mendongakkan wajahnya menatap Aksa sekilas. Lelaki itu selalu saja mengganggunya. "Jangan menggangguku, pergilah dari sini!" gertak Aza tapi tak diindahkan Aksa.


Lelaki itu langsung mematikan komputer dan membereskan berkas- berkas yang berada di hadapan Aza. Ia menarik tangan Aza dan menyeretnya keluar.


"Aku bisa jalan sendiri, lepasin..." Aza terus saja merengek hingga samailah mereka di parkiran mobil.


"Mama udah nungguin lama, aku nggak mau dia semakin marah denganku."


"Biarkan aku mandi dulu baru ke rumahmu."


"Mandi di rumahku kan juga sama aja. Di sana juga pake air kok kalau mandi," sahut Aksa.


*****


"Sa, beli martabak dulu yuk," rengek Aza sembari mengguncang lengan Aksa layaknya anak kecil. Ia tergiur saat melihat penjual itu memotong- motong martabak yang penuh dengan isian keju dan coklat.


"Cie pegang- pegang," goda Aksa, entah kenapa dirinya senang saat Aza memegang lengannya.


"Buruan berhenti," seru Aza, wanita itu menjadi salah tingkah dibuatnya.


Setelah mobil berhenti di pinggir jalan, Aza keluar terlebih dahulu tanpa menunggu Aksa. Ia segera memesan martabak coklat keju dan duduk di bangku yang telah tersedia. Aksa pun ikut duduk di samping Aza.


Langit senja hari ini begitu bersih. Awan yang bergerak telah pergi tersapu angin sore. Wanita itu jadi teringat akan sosok yang selalu menemaninya tatkala senja menyapa. Mereka juga sering membeli martabak sembari menatap langit senja yang begitu indah.


"Dulu aku sama Almarhum juga sering ke sini," ucap Aza tersenyum getir. Aksa terhenyak mendengarnya.

__ADS_1


"Ini martabaknya, mbak!" Penjual menyodorkan satu box martabak ke tangan Aza.


"Bayar dong! Kenapa cuma diem aja sih," seru Aza kepada Aksa.


"Loh kenapa aku? Yang beli kan kamu," tukas Aksa.


"Uangmu kan banyak, kamu aja ya yang bayar hehe." Aza meringis memamerkan deretan giginya.


Aksa pun segera mengambil uang di dompetnya dan membayar martabak yang sudah berada di tangan Aza. Tak menunggu lama, Aza segera menyantap martabak itu. Hangat, coklat dan kejunya meledak dalam mulut membuat wanita itu tak mau berhenti mengunyah.


"Maaf ya, aku telah merenggut kebahagiaanmu. Aku telah membuatnya pergi, tapi aku berjanji akan berusaha menggantikannya. Biarkan aku membahagiakanmu, Za."


Perkataan Aksa yang penuh dengan kesungguhan itu membuat Aza terhenyak dan berhenti mengunyah. Ia menatap kedua manik Aksa yang tampak berkaca- kaca dan hampir meneteskan air yang tertampung di sana.


Aza buru- buru menyekanya supaya tak jatuh, "Jangan menangis, Pak Presdir masa nangis di depan karyawannya," ucap Aza tersenyum manis.


Entah ada angin apa, Aksa menahan tangan wanita yang masih terulur menyeka air matanya, ia mengecupnya lama dan penuh dengan perasaan.


"Beri aku kesempatan, Za. Aku berjanji akan mencintai, menyayangi, dan membahagiakanmu." Aksa menggenggam tangan Aza dan menatapnya lekat.


Aza mengangguk dan tersenyum tipis, "aku akan memberimu kesempatan, tapi jika aku benar- benar tak bisa mencintai, menyayangi, dan merasakan bahagia karenamu, izinkanlah aku pergi." Aksa mengangguk menanggapi perkataan wanita di depannya.


"Aku tak tega jika melihatmu tersiksa karena Mama Aira mengacuhkanmu. Aku hanya ingin hubungan dengan Mamanya membaik. Lagipula Aksa adalah orang baik, semoga keputusanku ini sudah benar. Untukmu Reyfan, maafkan aku karena sudah mengkhianatimu. Semoga kamu di sana mengerti akan diriku saat ini," batin Aza terisak pilu.


Aksa merasakan bahagia yang teramat, ia memeluk erat tubuh wanita mungil di depannya itu. "Terima kasih..." lirihnya dalam pelukan Aza.


Wanita itu mengusap punggung Aksa, menghirup aroma lelaki itu kuat- kuat. Merasakan kenyamanan dan ketenangan ketika lelaki itu memeluknya.


"Sa, kamu nggak mau melepas pelukannya?" tanya Aza karena mereka berpelukan cukup lama hingga banyak orang yang menatap.


"Biarkan saja seperti ini." Aksa enggan melepasnya, ia malah semakin mengeratkannya.


"Martabakku dingin, nanti nggak enak lagi," celetuk Aza yang mampu membuat Aksa melepas pelukannya.

__ADS_1


"Nyebelin!" Aksa tersenyum dan mengacak-acak rambut wanita yang begitu lucu itu.


__ADS_2