
Aza terbangun saat terdengar suara orang mengorok. Ia menatap sekelilingnya, ternyata ada Oma Maria, Oma Mira, dan juga Anandhi di sana. Ah, ia baru ingat jika dirinya berada di rumah sakit.
Hoekkk...hoekk...hoekk...
Aza berlari ketika mual melandanya, ia berusaha memuntahkan isi perutnya. Hanya cairan bening yang keluar, kepalanya pun terasa sangat pusing.
"Sayang..." Anandhi terbangun dan langsung menghampiri Aza yang berada di wastafel kamar mandi. Ia memijat tengkuk Aza dan menahan rambutnya supaya tak terkena muntahan.
"Mual sekali, Mah. Kepalaku juga pusing..."
"Mama dulu juga gitu, hanya sementara saja kok."
Aza sudah selesai, tapi masih berasa mual. Ia memeluk Anandhi, tubuhnya lemas seketika.
"Mama akan membelikanmu minuman jahe supaya mualnya reda. Kamu tidurlah lagi."
"Aku ingin ke ruangan suamiku saja, Mah. Aku merindukannya hiks...hiks..."
"Hey, nggak boleh nangis. Ayo berhentilah, Mama akan mengantarkanmu." Anandhi mengusap air mata anaknya sebelum menuntunnya menuju ke ruang rawat Aksa. Ia sangat khawatir dengan kondisi Aza, sangat lemas.
*****
"Hubby, kamu sudah bangun?" Aza tersenyum tipis dan langsung berlari menghampiri suaminya yang terlihat mengerjapkan mata.
"Jangan berlari, Sayang," cegah Anandhi tapi tak dihiraukan Aza.
"Aza..." Terlihat jelas bulir air mata yang membasahi pelupuk mata Aksa, ia masih tak menyangka jika dirinya selamat dan masih diberikan kesempatan untuk memeluk serta melihat istrinya lagi.
"Aku takut nggak bisa ketemu kamu lagi..." ucap Aksa lirih di akhir kalimatnya. Lelaki itu masih lemah, berusaha kuat dan tetap menampilkan senyumnya.
"Jangan bicara seperti itu. Hubby, kamu istirahat lagi ya biar cepet sembuh." Aza duduk di kursi brankar dan merapikan selimut Aksa.
"Sayang, kenapa kakiku sulit digerakkan? Dari tadi aku mencoba bangun, tapi sulit sekali," ucap Aksa dan berusaha menggerakkan kakinya lagi.
"Ehm...nggak terjadi apa- apa kok, Hubby. Kamu masih lemah, itu sebabnya sulit bergerak."
"Di- di mana Farel? Farel iya Farel..." Aksa tiba- tiba teringat dengan Farel, lelaki yang satu mobil dengannya. Yang ia ingat terakhir kali itu Farel meminta maaf kepadanya sebelum tak sadarkan diri.
"Aza, dia baik- baik saja, kan?"
"Farel sudah meninggal, Sa. Dia nggak bisa diselamatkan," sahut Devano.
Mata Aksa berkaca- kaca, tak percaya dengan apa yang dikatakan Devano. Lelaki itu pasti baik- baik saja sama seperti dirinya.
"Za, Devano bohong, kan? Farel selamat, kan?" tanya Aksa, ia menggenggam erat kedua tangan Aza meminta jawaban yang pasti akan kondisi Farel yang sesungguhnya.
"Farel pergi, Hubby. Dia nggak bisa diselamatkan."
__ADS_1
Aksa masih tak bisa menerima ini semua, ia memang kecewa dengan sikap Farel. Tapi, di sisi lain dirinya juga tak rela jika Farel, lelaki yang sedari kecil bersamanya pergi untuk selamanya.
"Aku harus menemui Farel, dia pasti di ruang sebelah!"
"Hubby, jangan!"
Aksa terus bersikeras, kakinya yang sakit tak ia hiraukan. Kaku dan sulit sekali bergerak. Ia terus menepis istrinya yang berusaha membantu dirinya untuk bangun.
"Argghhh..." Aksa terjatuh di lantai, meringis kesakitan merasakan kaki yang seperti kayu.
"Aksa..."
"Kenapa kakiku nggak bisa digerakin?" tanya Aksa dengan air mata yang menetes, tangannya menyentuh kedua kakinya.
Devano dan Aza membantu Aksa berdiri dan tak menghiraukan pertanyaannya tadi.
"Kenapa kalian diam saja!" bentak Aksa. Suaranya menggema di ruangan itu membuat para keluarga lain langsung masuk.
"Hubby, tenanglah dulu." Aza memeluk Aksa yang menangis tak karuan meratapi kaki yang sulit digerakkan.
"DOKTER! KENAPA KAKIKU SULIT DIGERAKKAN?" tanya Aksa kepada Dokter yang ikut masuk bersamaan dengan para keluarga tadi.
Semuanya terdiam sejenak, mereka ikut meneteskan air mata melihat Aksa yang seperti itu.
"Kedua kaki Anda terjepit saat kecelakaan itu, kami berusaha keras untuk memperbaiki saraf- saraf yang rusak namun tetap belum berhasil. Tapi jangan khawatir, jika terapi dilakukan secara rutin selama dua atau tiga bulan ke depan, dan bisa lebih, maka kaki Anda bisa pulih lagi," jelas Dokter berkacamata itu.
"AKU CACAT! ARGGHHH!"
Pyaarr pyaarrr...
Gelas dan piring makanan di atas nakas dibuang Aksa hingga pecah semua. Semua barang di dekatnya ia lempar. Orang yang berada di sana hanya bisa diam membiarkan Aksa meluapkan kesedihannya.
"Hubby, kamu bisa sembuh. Dua atau tiga bulan saja, bukan selamanya." Aza ikut tersedu- sedu dibuatnya, ia berusaha keras untuk mendekap suaminya dan berusaha menenangkannya.
"Aku cacat, Za! Kamu pasti akan pergi meninggalkanku. Sekarang pergilah, kamu akan malu mempunyai suami cacat sepertiku! Pergilahh..."
"Enggak, Hubby. Aku nggak bakalan pergi, aku mencintaimu, apapun keadaanmu aku akan selalu di sampingmu."
Semua keluarga berusaha memberi pengertian kepada Aksa tapi tak satu pun didengar. Aksa mengamuk tak karuan.
"PERGI KALIAN DARI SINI!" Seru Aksa.
"Aza, pergilah. Jangan pernah menemuiku lagi, carilah kebahagiaanmu di luar. Jangan bersamaku!" ucap Aksa tanpa menatap ke arah istrinya.
"Hubby, aku nggak akan pergi."
"PERGIII!"
__ADS_1
Oma Maria dan Oma Mira langsung menuntun Aza keluar dari ruang perawatan. Mereka semua mengintip lelaki yang masih menangis dan mengamuk itu dari luar.
"Hubby..."
Aza sudah tak bisa menahannya lagi. Ia tak tega melihat suaminya terisak di bawah selimut selama kurang lebih lima belas menit. Ia masuk perlahan mendekat brankar Aksa.
Suara tangis mulai mereda, Aza memberanikan diri untuk membuka selimut yang menutupi suaminya. Aksa tak marah, tapi ia hanya diam menatap langit- langit ruang perawatan.
"Hubby..."
"Jangan dekati orang cacat sepertiku! Pergilah!" Suara Aksa memang pelan tak meninggi seperti tadi, tapi tetap saja itu melukai hati Aza.
"Sampai kapan pun aku nggak akan pernah pergi meninggalkanmu."
"AKU CACAT! TAK ADA YANG BISA DIHARAPKAN DARIKU!"
"Kamu bisa pulih jika mau terapi. Itu memang terlihat sulit, tapi aku yakin kamu bisa melewati ini semua. Aku akan tetap di sampingmu."
Aza menyudahi tangisnya, ia semakin mendekati Aksa dan menarik tangan lelaki itu, lalu diarahkan ke perutnya yang datar. Aksa menoleh, ia mengernyit ke arah Aza tak mengerti apa yang dimaksud istrinya.
"Apa maksudmu? Pergi sana!"
"Dasar bodoh!"
"Kamu ngatain aku bodoh?"
"Ya kamu memang bodoh, selain bodoh juga tak peka!"
Mereka terdiam sejenak, Aza masih menahan tangan Aksa supaya tetap menyentuh perutnya.
"Ada bayi di sini..."
Mata Aksa membulat sempurna menatap perut istrinya, ia lalu mendongak menatap Aza yang terlihat serius dan tak main- main.
"Iya, ada bayi! Harus berapa kali aku bilang?" Aza kesal dengan suaminya yang masih tak percaya. Aza menepis tangan suaminya dan langsung berkacak pinggang.
"Aku hamil!" ucap Aza dengan nada sangat kesal. Dan Aksa masih terhenyak menatapnya terheran- heran. Membuat Aza menepuk keningnya, ingin sekali dirinya mencabik- cabik suaminya itu.
"Hubby, aku hamil!" ucap Aza dengan nada meninggi.
"Kamu nggak bercanda, kan?" tanya Aksa dengan tatapan tertuju pada perut Aza.
"Nggak! Maka dari itu cepatlah sembuh. Kamu harus rajin terapi. Dan ingat, buang jauh pikiranmu yang buruk itu. Aku nggak akan pergi apapun kondisimu!"
Aksa mengulurkan tangannya berharap supaya Aza memeluknya. Aza pun mencondongkan tubuhnya memeluk Aksa yang masih berbaring. Aksa tersedu- sedu dibuatnya.
"Aku nggak akan pergi, Hubby. Aku menyayangimu..."
__ADS_1
"Aku juga menyayangimu, terima kasih telah bersedia untuk tetap berada di sampingku..."
Para keluarga di luar pun terharu melihat dua insan itu. Mereka senang akhirnya Aksa mulai bisa menerima. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara supaya Aksa tetap semangat untuk terapi hingga pulih seperti sedia kala.