
"Ayo Kimmy, jambak rambut Bryan terus! Jangan sampai lepas!" teriak Ailee menyemangati Kimmy.
"Hey, Bryan, jangan sampai kalah dengan cewek. Ayo lawanlah. Gigit tangannya biar dia melepaskanmu!" Dan Aiden malah memihak Bryan. Perkelahian kecil antara Bryan dan Kimmy pun tak terelakkan. Aza jadi bingung dibuatnya.
"SSSSAAAAAARRRAAAAHHHHH!"
"CCCCLLLLAAAARRRAAAAA!"
Aza berteriak sekeras mungkin memanggil Mamanya Kimmy dan juga Bryan, namun tak ada sahutan pula darinya malah Aksa yang datang.
"Wow! Seru!" celetuk Aksa sembari merogoh saku celananya mencari ponsel. Ia pun merekam perkelahian Kimmy dan juga Bryan.
"Allahu akbar, Hubby," teriak Aza memekik tajam di telinga Aksa. Tangan Aza pun terulur untuk menjewer telinga suaminya. Bukannya membantunya menghentikan mereka tapi malah asyik merekam.
"Kimmy, Bryan...Sudah ya, jangan berantem lagi."
"Kimmy...Bryan..."
"Nanti Aunty belikan es krim asalkan nggak berantem lagi ya?" Bujukan serta rayuan maut itu tak berlaku, dua anak itu malah semakin menjadi.
"Ayo Bryan!"
"Ayo Kimmy! Kamu pasti menang!" Aiden dan Ailee tak henti- hentinya bersorak menyemangati mereka.
Dan pada akhirnya, Aksa langsung menarik tubuh Bryan. Didekaplah ia menjauhi Kimmy. Sedangkan Aza langsung menarik tubuh Kimmy menjauhi Bryan. Dua anak itu masih memberontak dan berusaha memukul lagi.
"Aunty! Lepaskan Kimmy!"
"Uncle Aksa lepasin!"
Sarah, Faris, Clara, dan Devano pun menghampiri keributan. Mereka terkejut mendapati Kimmy dan juga Bryan yang memberontak di gendongan Aksa dan juga Aza.
"Eh kenapa ini?" tanya Sarah, ia lalu mengambil alih Kimmy dari gendongan Aza.
"Mah, Bryan nakal. Tadi dia yang memulai duluan..." adu Kimmy.
"Enak aja! Kamu yang mulai duluan, orang aku nggak salah kok!" tukas Bryan.
"Ohh jadi anak kamu yang nakal? Nggak anak nggak emaknya nakal banget sih!" seru Devano.
"Apa?? Anak kamu tuh yang nakal!" sahut Sarah. Wanita hamil itu berkacak pinggang dan bersiap untuk berkelahi dengan Devano.
"Udah tahu anaknya nakal tapi masih dibela aja sih!"
__ADS_1
"Anak kamu tuh yang nakal! Beraninya sama cewek!"
Dan kini, giliran Sarah dan Devano yang bertengkar. Mereka tak henti- hentinya menggerutu dan saling menyalahkan.
"Tadi anaknya, sekarang emak sama bapaknya!" gerutu Aza.
"Iya nih, ntar jadi besan baru tau!" seru Aksa menyumpahi Devano dan Sarah berbesanan.
Devano dan Sarah terdiam mendengar perkataan Aksa, mereka menoleh dan menatap lelaki itu dalam- dalam.
"Enak aja jadi besan! Aku nggak rela kalau anakku jodoh sama anaknya dia!" bentak Sarah seraya menoyor kepala Devano.
"Heh! Emang aku mau besanan sama kamu? Nggak sudi lah!" sahut Devano.
Dan perdebatan pun kembali dimulai. Masing- masing pasangan mereka berusaha melerai tapi tak diindahkan. Aza dan Aksa pun memilih untuk meninggalkan tempat itu dan membiarkan mereka berdebat hingga mulutnya berbusa.
*****
Siang itu, seperti biasa, Anandhi akan datang ke rumah Aksa untuk menengok cucu- cucunya. Makanan serta minuman kesukaan Aiden dan Ailee pun tak lupa ia bawa. Tak hanya itu, beberapa mainan juga tak lupa ia belikan.
"Omaaa..." teriak Aiden dan Ailee ketika mendapati seseorang di ambang pintu. Mereka langsung berlari dan berhambur memeluk Anandhi.
"Sayangnya Oma apa kabar?" Anandhi menyambut mereka dengan sukacita. Kecupan bertubi- tubi pun mendarat kepada anak kembar itu.
"Tadinya kami mau ke rumah Oma tapi Oma malah sudah ke sini," ucap Ailee dengan nada sedih. Tadinya memang mereka mau ke rumah Anandhi tapi malah Anandhi sudah ke sana duluan menemui mereka.
"Iya, Oma, padahal kami mau melihat kelinci- kelinci Oma dan membawanya pulang," timpal Aiden dengan nada sedih pula.
"Yahhh, Oma nggak tahu, Maafin Oma ya. Hm, gimana kalau kita ke rumah Oma sekarang?" tawar Anandhi.
"Yey!" Aiden dan Ailee pun bersorak kergirangan mereka langsung berlari menuju mobil Anandhi yang terparkir di halaman depan.
"Hati- hati sayang." Anandhi memperingatkan mereka karena takut terjatuh.
"Ayo Oma cepat! Aku mau bertemu dengan kelinci- kelinci Oma..."
"Okay, Pak supir! Ayo bertemu kelinci!" seru Anandhi menyuruh supirnya untuk melajukan mobil kembali ke rumahnya.
Dan tanpa disadari, mereka lupa berpamitan dengan Aza maupun Aksa.
*****
"Aiden, Ailee, ayo makan dulu sayang. Nanti kita ke rumah Oma setelah ini," teriak Aza memanggil anak- anaknya.
__ADS_1
"Mereka masih bermain?" tanya Aksa menghampiri istrinya yang tengah menyusun makanan di meja makan.
"Iya, Hubby. Boleh tolong panggilkan anak- anak nakal itu?"
"Tentu saja..." Aksa pun meninggalkan istrinya setelah mengecup kening wanita itu. Ia kemudian menuju ke ruang bermain.
Ruangan itu kosong, hanya terdapat beberapa mainan tergeletak di lantai. Tak ada tanda- tanda anaknya di sana. Aksa pun berganti menuju ke kamar mereka.
"Kenapa, Hubby? Kok malah mau ke kamar?" tanya Aza ketika mendapati suaminya malah naik tangga menuju kamar Aiden dan Ailee.
"Mereka nggak ada di ruang bermain, Sayang. Aku mau cek ke kamar mereka siapa tahu lagi tidur. Coba kamu cek di depan ya," ucap Aksa.
Aza pun menurut. Ia menuju ke ruang keluarga karena biasanya anak- anaknya juga bermain di sana.
"Aiden, Ailee..." Aza tak menemukannya, hanya menemukan mainan mereka tergeletak di sofa. Sedangkan orangnya? Ah, Aza jadi khawatir.
"Sayang, ayo makan. Di mana kalian?" Aza pun jadi cemas karena melihat pintu terbuka. Padahal tadinya ia sudah menutupnya.
"Mah, Pah, apa kalian melihat baby twins?" tanya Aza kepada Oma Aira yang kala itu lewat di depannya.
"Waduhh, enggak lihat, Nak," jawab Aira.
"Memangnya tadi mereka terakhir di mana?"
"Tadi bilangnya mau bermain tapi pas aku cari enggak ada."
"Papa cari di tempat lain ya," ucap Keno. Ia dan istrinya segera berpencar mencari cucu mereka.
"Astaghfirullah, Hubby!!!" Aza berteriak memanggil suaminya saat mendapati paper bag besar dan juga plastik hitam berada di ambang pintu entah apa isinya. Pikirannya sudah bermacam- macam. Takut jika kedua anaknya diculik atau ditukar dengan itu. Padahal, itu tadi adalah barang bawaan Anandhi yang ditinggal begitu saja.
"Ada apa, Sayang?" tanya Aksa panik menghampiri istrinya yang berada di ambang pintu.
"Itu, Hubby! Jangan- jangan Aiden dan Ailee diculik dan ditukar dengan itu," ucap Aza gemetaran menunjuk paper bag dan plastik besar di pintu.
"Apa isinya?" Aksa pun berjongkok dan menilik isinya.
"Mu- mungkin uang atau apa, entahlah! Huuu, Hubby...aku nggak mau kehilangan mereka."
Aksa pun terkekeh melihat isinya yang ternyata hanyalah makanan ringan dan mainan. Ia pun mengingat siapa yang sering membawa ini ketika berkunjung ke rumahnya.
"Ini dari Mama Anandhi. Tapi kok orangnya nggak ada ya? Mobilnya juga nggak kelihatan."
"Hubby..."
__ADS_1