
Entah kenapa lelaki itu semakin lama semakin mencintai pekerjaannya. Padahal awalnya ia sama sekali tak suka dengan bidang yang ia geluti saat ini. Mungkin karena ada sesosok wanita yang selalu menyemangati dan menemaninya.
Foto mereka berdua yang telah tercetak dan dikemas dalam figura yang diletakkan di samping meja kerjanya, semakin membuat lelaki itu semangat. Ia selalu senyum tatkala memandangnya. Pusing dan penat akan pekerjaan sirna seketika saat menatap foto itu.
"Makin lama kamu makin nggak waras ya, tiap hari senyum- senyum terus tiap lihat foto itu," celetuk Devano.
Senyuman Aksa surut seketika, ia lalu melemparkan bolpoin dan tepat mengenai kening rekannya itu. "Kamu nanti kalau udah nikah juga bakalan gini. Jadi gila gara- gara cinta!" sahut Aksa.
"Aku nggak nyangka deh. Dari sekian banyaknya wanita akhirnya Aza yang bisa membuatmu jatuh cinta," seru Devano.
Aksa kembali mengingat masa lalunya, ia memang tak pernah jatuh cinta sebelumnya meskipun sering berpacaran dan didekati banyak wanita. Dan baru kali ini ia bisa merasakan apa itu cinta yang sebenarnya.
"Sudahlah, aku mau makan siang dulu sama istri tercinta." Aksa lalu bangkit, membenarkan dasi dan tak lupa memakai jas yang tadinya disampirkan di kursi. Lelaki itu akhir- akhir ini sering berpakaian formal karena desakan sang istri.
"Oh ya, situ yang belum dapat restu dari calon mertua jangan lupa makan juga ya," tambah Aksa menyindir Devano. Ia sangatlah suka jika menyindir atau meledek Devano yang sampai saat ini hubungannya dengan Clara belum juga mendapatkan restu untuk melaju ke pelaminan.
"Ahh, sialan! Tunggu aja, cepat atau lambat aku juga pasti akan dapat restu dan langsung nikah sama Clara," sahut Devano tak terima.
Aksa tergelak mendengarnya, ia lalu pergi ke ruangan istrinya yang hanya berjarak lima langkah. Tanpa mengetuk, ia langsung masuk begitu saja membuat karyawan salah tingkah. Mereka tetap takut dengan kedatangan sang presdir meskipun mereka tahu jika presdir itu pasti akan menemui istrinya.
"Selamat siang, Pak Presdir," seru para karyawan serempak.
Aksa hanya mengangguk, berusaha dingin sama seperti seorang Presdir di film- film yang istrinya tonton. Ia lalu mendekati Sarah yang tengah menahan tawa, wanita itu tergelitik melihat tingkah Aksa yang tak seperti biasanya. Sok dingin!
"Dimana Aza? Kamu nggak makan dia, kan?" tanya Aksa menatap lekat Sarah.
"Sudah aku telen tadi, Pak! Bapak sih ke sininya telat," jawab Sarah terkekeh.
Aksa mendengus kesal, bisa- bisanya Sarah malah menanggapinya dengan bercanda. "Katakan dimana dia? Jangan bercanda!"
"Lagian, aneh- aneh aja sih, Pak. Masa iya aku makan Aza kaya nggak ada makanan aja!"
Aksa semakin kesal karena tak segera mendapatkan jawaban tentang keberadaan sang istri. Ia melototkan matanya membuat Sarah mendelik.
"A- Aza ke Mall sama Mbak Clara." Tiba- tiba saja Sarah menjadi gugup melihat tatapan Aksa.
Lelaki itu lalu pergi meninggalkan ruangan divisi keuangan dan akan langsung menghampiri istrinya ke Mall.
*****
Aksa telah sampai di Mall, ia berdiri menyandar di mobilnya dengan ponsel yang menempel di telinganya. Ia menelpon istrinya untuk mencari tahu sedang dimana kah wanita itu.
"Iya, Hubby? Ada apa?" seru Aza dari seberang.
"Kamu dimana sekarang, Za? Aku sudah berada di parkiran Mall. Cepat katakan aku akan ke sana."
"Kamu ngapain ke Mall, Hubby?"
"Tentu saja menyusulmu, dimana sekarang?"
"Aku sudah di kantor, Hubby. Baru saja sampai."
Aksa terhenyak seketika mendengar jika Aza ada di kantor. Tadinya ia akan mengejutkan istrinya dengan kedatangannya yang tiba-tiba, tapi belum sampai itu terjadi ia malah sudah dibuat terkejut dengan Aza.
"Hubby...?" Aza memanggil Aksa berkali- kali, namun tak ada sahutan dari lelaki itu. Aksa langsung mematikan sambungan telepon dan kembali ke kantor.
Setibanya di kantor, Aksa tampak lesu. Langkahnya seperti zombie saat memasuki lift. Para karyawan sedikit terheran- heran melihat presdir mereka yang biasanya ceria dan penuh semangat tapi kali ini berbeda.
"Hubby, kamu kenapa?" Aza menghampiri suaminya dengan menenteng sesuatu di tangannya.
"Tak apa," jawab Aksa lesu. Ia lalu membuka pintu ruangan dan duduk di sofa yang diikuti oleh istrinya.
"Maaf ya, Hubby. Aku nggak tahu kalau kamu tadi akan menyusulku ke Mall," ucap Aza sembari mengusap keringat yang membasahi wajah suaminya dengan tisu.
"Tadi aku ingin mengejutkanmu, tapi malah aku yang terkejut. Harusnya kamu tetap di sana, tapi kenapa malah pulang." Aksa merengek, ia menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
Aza terkekeh mendengarnya, Aksa begitu lucu. Ia mengusap pipi suaminya yang tengah merajuk itu. "Oh ya, Hubby, aku tadi membelikanmu makanan. Ayo makan dulu kamu belum makan, kan?"
Aza membuka chicken teriyaki bento yang ia beli tadi. "Ayo, Hubby! Jangan berlendet di tubuhku terus."
"Aku nggak nafsu makan, aku masih jengkel." Aksa memeluk istrinya dan bergelayut manja.
"Ya udah kalau nggak mau, biar Pak Kis saja yang makan. Sepertinya beliau belum makan siang." Aza kembali menutup bento yang wadahnya berwarna merah itu dan memasukkannya lagi ke dalam kantung plastik.
"Dasar nggak peka."
"Apa? Sudah, aku akan ke pantry." Aza berdiri membuat Aksa melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Siniin makanannya!" ucap Aksa sembari merebut makanan tadi. Ia lalu memakannya dengan paksa.
Aza tersenyum kecil melihatnya, ia kembali duduk di samping Aksa. "Kalau mau disuapin tuh bilang!" ucapnya seraya merebut sendok dari tangan suaminya.
"Ayo baby, makan yang banyak ya..." seru Aza menyodorkan satu sendok makanan ke mulut Aksa.
"Hubby, bukan baby!" Aksa tak terima jika dirinya dipanggil baby, memalukan.
"Itu salad sayurnya belum masuk tadi," seru Aksa menunjuk salad sayur yang terletak di samping chicken teriyakinya.
"Baiklah, Baby."
"Ehh, kotor." Aza langsung mengambil tisu karena mayonnaise belepotan di bibir Aksa.
"Kamu sengaja kan membuatku belepotan."
"Enggak, Hubby. Kamu saja yang nggak bisa anteng makannya, jadi belepotan kan."
Aksa menghabiskan makanannya dengan mulut yang tak bisa berhenti menggerutu. Aza hanya bisa menghela nafas menghadapinya, Aksa memang seperti anak kecil yang sukar sekali dibujuk ketika merajuk.
"Aku akan kembali bekerja, istirahat sudah selesai." Aza membereskan bekas makanan tadi dan membuangnya ke tempat sampah.
"Cium dulu, baru boleh keluar." Aksa melipat tangannya di dada dan memanyunkan bibirnya, membuat Aza semakin gemas dengannya.
Aza lalu menangkup kedua pipi suaminya dan mengecupi wajahnya, "Gemesin banget sih suamiku ini. Jadi tambah sebel deh, eh maksudnya sayang!"
"Odading mang oleh! Anjim rasanya!" seru Clara dan Devano memasuki ruangan presdir. Sontak saja, Aza langsung menjauhi tubuh suaminya dan jadi salah tingkah. Ia lalu berlari terbirit-birit keluar dari sana.
Clara dan Devano terkekeh melihatnya, sedangkan Aksa kecewa karena belum puas dicium istrinya tapi dua sahabatnya itu datang menganggu.
"Aksa, Aksa... Itu istrimu lucu banget sih kaya ketahuan habis nyolong apa aja langsung kabur," celetuk Clara terbahak- bahak.
"Wajar lah! Lagi asyik enak- enak malah digangguin, pergi sana!" sahut Aksa dengan ketus.
"Aduhh rasanya jadi nggak Anjim lagi ya." Kali ini Devano menimpali, ia begitu suka ketika melihat Aksa yang merajuk.
"Dahlah, mau beli odading aja!" Aksa kemudian masuk ke kamarnya untuk beristirahat sejenak. Hari ini cukup banyak yang membuatnya kecewa, lebih baik dia melepas penat sekaligus rasa kecewa yang masih tertanam.
"Nitip ya, sampein sama Mang Oleh, odadingnya Anjim banget," teriak Devano, ia dan kekasihnya masih belum berhenti terkekeh.
*****
"Za, kamu yakin nggak mau aku anterin aja nih?" tanya Sarah. Wanita itu sudah memakai helm dan bersiap untuk pulang.
"Udah pesen ojek online, Sar. Lagipula kalau kamu nganterin aku capek lagi harus bolak- balik, kan arahnya nggak sama," tolak Aza.
Sarah pun mengangguk, jalan ke rumahnya dengan rumah keluarga Sanjaya memang berlawanan arah. Sarah masih berdiam diri duduk di motornya menemani Aza. Tak lama kemudian, ojek pesanan Aza pun sudah datang.
"Mbak Azalea, ya?" seru Mas Ojol sembari menyodorkan helm berwarna hijau ke tangan Aza.
"Lah, udah tahu masih nanya. Gimana sih, Mas? Ganteng- ganteng kok pe'a!" sahut Sarah.
"Mastiin aja, Mbak. Siapa tahu bukan."
"Sar, aku duluan ya. Kamu hati- hati di jalan, kalau ada cowok ganteng nggak usah nengok. Fokus aja sama jalanan," ucap Aza terkekeh.
Sarah pun mendengus kesal, "Kamu juga hati- hati, ntar kalau ada apa- apa aku lagi yang disalahin sama Pak Presdir."
Sarah memang selalu menjadi kambing hitam jika terjadi sesuatu dengan Aza karena ia yang paling dekat dengan Aza. Oleh karena itu, Sarah selalu memastikan Aza baik- baik saja.
Mas Ojol pun segera melajukan motornya dengan hati- hati. Menyusuri jalanan ibukota yang sangat padat. Banyak sekali para pekerja, pelajar, dan yang lainnya. Aza sudah tak takut lagi saat mengendarai motor ataupun saat lampu merah, semuanya berkat terapi yang Anandhi berikan.
"Mas, jangan ngebut!" seru Aza ketika motor mulai melaju dengan cepat. Mas Ojol pun mengerti, ia kembali melajukan motornya pelan.
"Aduhhh, rame banget ya, Mbak," seru Mas Ojol. Motor terpaksa berhenti karena kemacetan terjadi, tak ada celah untuk terus melaju.
Pyarrr...
Bunyi satu telur terlempar. Telur itu terlempar ke kepala Aza dari belakang. Sontak, Aza pun menoleh. Orang yang melempar telurnya segera memutar arah dan pergi meninggalkannya.
"Heyyy, Mas!!!" seru para pengendara lain yang berada di dekat Aza dan mencoba menghentikan pelempar telur, tapi sang pelempar tetap saja kabur.
"Dasar tangan Dakjal! Bisanya suma isengin orang aja!"
"Mati aja sono!"
"Orang kok iseng banget sih!"
__ADS_1
Orang- orang berteriak memaki pelempar telur. Mereka jadi ikut geram, tak ada angin atau apa tapi bisa- bisanya orang itu melempari Aza dengan telur.
"Mbak, ini saya ada tisu buat bersihin telur itu," ucap Ibu- ibu berdaster bunga- bunga dengan memakai helm pink menyodorkan satu kotak tisu kepada Aza.
"Terima kasih, Bu. Tunggu sebentar, akan saya ganti uangnya."
Aza mengambil uang dari tasnya tapi si Ibu menolak, ia berkata terburu- buru dan lagipula lampu telah hijau. Aza pun hanya mengucapkan terima kasih karena ibu itu segera membonceng motor anaknya dan pergi dari sana.
"Mbak, mbak nggak papa, kan?" Mas Ojol jadi panik, ia pun menepikan motornya dan menyuruh Aza untuk membersihkan kepalanya sebentar.
"Tunggu sebentar ya, Mas. Maaf merepotkan," seru Aza dengan tangan yang membersihkan rambutnya dari telur. Aza sedikit lega, karena telur itu tak busuk. Coba saja kalau busuk, pasti aromanya akan sulit dihilangkan dan harus berpuluh- luluh kali keramas.
"Iya, Mbak."
Tin- tin- tin...
Satu mobil mewah berhenti tepat di depan Aza dan Mas Ojol. Keluarlah seorang wanita berjas putih menghampiri Aza yang sedang berusaha menghilangkan telur.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanyanya, yang tak lain adalah Anandhi.
"Tadi ada orang iseng ngelemparin telur ke Mbaknya, Bu," jawab Mas Ojol.
"Ayo masuk ke mobil Mama." Anandhi langsung menggapai tangan Aza dan mengajaknya masuk ke mobilnya. Aza tak bisa menolak saat itu.
"Lohh, Mbakkk! Ojolnya belum dibayar!" teriak Mas Ojol, tapi sayang mobil Anandhi telah melaju. Ia pun mengikuti mobilnya dari belakang. Ini sama saja tetap mengantarkan Aza sampai di rumah, hanya saja tak membawa sang penumpang.
Di dalam mobil Anandhi membantu membersihkan telur dari rambut Aza. Hendak menolak, tapi Aza juga membutuhkan bantuannya.
"Tadi kok pulangnya nggak sama Aksa?" tanya Anandhi.
"Aksa lembur, aku disuruh pulang duluan, Mah," jawab Aza dengan senyum tipis.
"Nanti kamu bilang sama suami kamu cari tahu siapa si pelempar telur. Mama yakin dia nggak cuma iseng saja, tapi ada maksud tersendiri," ujar Anandhi.
"Nggak perlu, dia itu cuma iseng aja. Tadi aku lihat kok kalau dia itu masih kecil, tadi pakai seragam putih abu- abu."
"Tapi, ini bisa jadi serius loh."
"Ya berdo'a saja enggak. Aku yakin kok kalau ini cuma keisengan belaka. Mungkin tadi dia beliin Mamanya telur tapi tertinggal satu di motornya, terus bingung mau diapain. Jadi, dilemparin ke aku deh," ucap Aza sekenanya. Anandhi terkekeh mendengarnya, anaknya sangatlah lucu.
"Tapi nanti kalau ini terjadi lagi kamu harus bilang sama Mama atau Aksa."
"Iya, Mama Anandhi tak perlu khawatir."
"Sudah mau sampai, terima kasih tumpangannya."
"Tak perlu sungkan, jagalah diri baik- baik, jaga kesehatan, dan rawat suamimu dengan baik," jawab Anandhi.
"Siap, laksanakan!" Aza mengangkat tangannya memberikan hormat kepada Anandhi.
Aza pun segera turun setelah mobil telah berhenti di depan gerbang. Ia terkejut mendapati Mas Ojol. "Loh, kenapa ngikutin saya, Mas?" tanya Aza.
"Mbak gimana sih, Mbak kan belum bayar Ojolnya makanya saya ngikutin," jawab Mas Ojol.
"Aduh, Maaf ya Mas gara- gara saya Aza jadi lupa bayar," seru Anandhi dengan membuka jendela mobilnya. Ia terkekeh gemas melihat Mas Ojol yang belum dibayar.
"Ini, kembaliannya ambil saja," ucap Aza menyodorkan uang dua puluh lima ribu rupiah.
"Kembalian apanya, Mbak? Ini itu pas! Ah, saya pulang dulu lah." Mas Ojol pun segera memutar motornya meninggalkan daerah itu.
Anandhi lagi- lagi tertawa terbahak- bahak melihat kelakuan anaknya, tak hanya Anandhi saja tetapi juga Sopirnya ikut tertawa.
"Berhentilah tertawa Mama Anandhi. Ini sudah hampir malam. Sekali lagi, makasih tumpangannya. Hati- hati di jalan," seru Aza.
"Bye, sampai bertemu besok sayang..." Anandhi melambaikan tangannya yang kemudian disambut lambaian tangan dari Aza.
Aza baru masuk ketika mobil Anandhi jauh dari pandangannya. Ia sangatlah senang karena bisa bertemu dengan orang sebaik Anandhi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Correct me if I wrong🤗