My Presdir

My Presdir
Tak Mau Pisah


__ADS_3

Senja telah menyapa, semburat warna merahnya masuk melalui celah ventilasi kamar rumah sakit. Wanita itu terbangun karena merasakan mual yang teramat.


"Hubby..." ucapnya memanggil sang suami yang tengah tertidur.


Yang dipanggil pun langsung terbangun, ia panik melihat istrinya menutup mulut. Segeralah ia mengambil wadah yang disiapkan perawat tadi. Tapi sayang, Aza terlebih dahulu memuntahkan isi perutnya mengotori baju Aksa.


"Hubby, maafkan aku..."


"Tak apa, masih mau muntah lagi?" Aksa tersenyum lembut seraya memijat tengkuk Aza.


"Enggak, Hubby. Tapi bajumu kotor..." Aza ketakutan melihat baju yang dipakai suaminya kotor, Aksa pasti marah karena dia tidak menyukai hal- hal yang kotor.


Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Aksa tak mempermasalahkan bajunya. Ia lalu mengambil tisu dan membersihkan mulut Aza. "Tidurlah lagi, aku akan ganti baju sebentar," ucap Aksa sembari membaringkan istrinya kembali.


Ia lalu membuka lemari di sana mencari baju yang bersih. Usai berganti baju, ia kembali merebahkan tubuhnya. Kepalanya masih terasa pusing.


Ceklek


Pintu tiba- tiba terbuka dan masuklah rombongan orang- orang kantor yang histeris mendapati Aza dan Aksa terbaring di brankar.


"Azaaaa...." teriak Clara dan Sarah menghampiri Aza.


"Sa, kamu kok bisa sakit sih!" seru Devano menghampiri Aksa.


"Aksa juga manusia kali sayang, wajar dong kalau dia sakit," sahut Clara.


"Aduhh, Za. Aku kira kamu tuh nggak masuk kantor gara- gara kecapekan semalaman digempur sama Pak Presdir. Tau- taunya malah sakit. Barengan gini lagi sakitnya, ya ampun so sweet banget sih!" celetuk Sarah. Semuanya lantas tertawa, bisa- bisanya si Sarah malah mengatakan jika sakit itu so sweet.


Ruangan Aksa dan Aza begitu ramai, sekitar dua puluh teman kantor berkunjung. Gelak tawa pecah begitu saja membuat rasa sakit sedikit memudar. Semuanya tampak menyayangi Aksa dan Aza, tahu mereka sakit teman- temannya ikut panik dan khawatir.


"Kalian jenguk orang sakit nggak bawa apa- apa nih?" tanya Aza dengan polosnya. Semuanya pun menggeleng- gelengkan kepalanya.


"Belum gajian, Za. Nggak ada duit, jadi nggak bawain apa- apa buat kamu," jawab Devano tergelak.


"Ya udah, besok disusulin ya. Kalian kan tiga hari lagi udah gajian," celetuk Aksa terkekeh.


"Yaelah, situ udah kaya juga masih minta aneh- aneh sama kita," cibir Sarah.


"Enggak- enggak, aku bercanda kok. Terima kasih ya buat kalian yang udah mau jenguk kita. Nanti ada bonus buat kalian," ucap Aksa.


"Bonus apa, Pak?"


"Tambahan gaji 10%"


Sontak saja, semua langsung bersorak. Jarang- jarang mereka mendapat bonus secara cuma- cuma seperti ini. Biasanya kalau mau bonus harus lembur dulu.


"Ehm, kalian ke sini naik apa? Nggak naik Truk, kan?" tanya Aza.

__ADS_1


"Naik truk!"


"Ohh kaya Bu Tedjo sama Bu Ning di film Tilik itu ya, mau jenguk orang sakit naik Truk."


"Iya, Za. Tapi bedanya ini orang sakitnya boleh dijenguk beda sama Bu Tedjo. Dan kali ini truknya belum dibayar, hehe. Nanti Pak Presdir ya yang bayarin," jawab Sarah menggelakkan tawa.


"Tadi kita hampir ditilang, tapi pak polisinya langsung dihabisin tuh sama si Sarah," tambah Clara terkekeh.


"Dih, emangnya makanan apa dihabisin."


Ruangan yang tadinya sepi dan sunyi sekarang begitu ramai. Sarah, Clara, dan Devano mampu mencairkan suasana. Mereka sangatlah lucu dan selalu menggelakkan tawa.


"Za, udah mau Maghrib nih. Kita pamit duluan ya, keburu sopir truknya ngambek karena nunggu lama," ucap Sarah.


"Oh iya silakan, kalian pasti capek juga kan pulang kerja langsung ke sini. Maaf ya jadi ngerepotin," balas Aza.


"Jangan lupa mampir pasar dulu ya, Bu Tedjo kan gitu," seru Aksa.


"Iya siap!"


Ruangan kembali sepi, keluarga mereka entah pergi kemana. Aksa dan Aza terdiam menatap langit- langit ruangan yang bernuansa putih.


"Hubby, kenapa Tania begitu jahat denganku? Kenapa dia memasukkan racun ke dalam es krim milikku?" tanya Aza lirih di akhir kalimatnya.


"Maaf ya, harusnya Tania memasukkan ke makananku saja bukan makananmu. Aku yang telah membuatnya seperti ini. Aku pastikan ini yang pertama dan terakhir," sahut Aksa. Ia merasa sangat bersalah.


Aksa bangkit dari brankar, ia lalu berusaha mendorong brankar mendekati brankar Aza.


"Kamu mau ngapain, Hubby?"


"Mau nyatuin brankar kita, sekarang aku nggak bisa tidur kalau nggak peluk kamu," jawab Aksa. "Ehm, maksudnya nggak ada guling jadi nggak bisa tidur, jadi lebih baik peluk kamu," sambung Aksa. Ia jadi salah tingkah.


"Kamu kan bisa minta guling sama suster, biar aku panggilkan suster ya." Aza hendak menekan tombil di samping brankar, namun Aksa dengan cepat mencegahnya.


"Lebih baik peluk kamu daripada guling, nggak usah minta sama suster!"


Aksa melanjutkan memindah brankarnya, ia langsung naik dan mendekat ke istrinya setelah brankar mereka menyatu.


"Perasaan tadi yang mau meluk aku deh, kenapa jadi kamu yang gini," ucap Aksa ketika Aza memeluknya erat.


"Diam saja, Hubby." Aza menyelusupkan kepalanya di ketiak sang suami, mengendus baunya yang tak sedap itu karena belum mandi.


"Cepet sembuh, aku ingin menerkammu lagi," ucap Aksa sembari mengecup kening istrinya.


"Menerkam itu apa?" tanya Aza dengan polosnya.


"Yang semalam itu loh, masa lupa," bisik Aksa.

__ADS_1


Aza yang mengerti pun jadi malu dan salah tingkah, ia melepas pelukannya dan membelakangi suaminya.


"Aza..." Aksa menggelitik perut Aza supaya mengahadap dirinya lagi.


"Diamlah, Hubby..."


Pintu ruangan terbuka, masuklah dokter dan perawat yang hendak memeriksa kondisi mereka. Dokter dan perawat itu lantas menggelengkan kepalanya melihat brankar yang disatukan.


"Ehem..." Perawat berdehem memecahkan keheningan. Aksa dan Aza terkejut dibuatnya, mereka jadi salah tingkah dan malu.


"Halo Dokter, hai suster," seru Aksa.


"Hai Tuan Aksa, bagaimana kabarmu? Ehm, sepertinya Anda sudah membaik ya," ujar Dokter yang berusia sekitar empat puluh tahun itu.


"Sangat baik, aku sudah tak merasakan sakit lagi."


"Kalau begini bagaimana dokter bisa memeriksa kalian?" tanya perawat yang sedari tadi berdiri di samping dokter. Aksa dan Aza berada di tengah- tengah brankar, dokter pun kesulitan untuk memeriksa mereka.


"Kami pisahkan lagi ya brankarnya..." goda Dokter.


"Jangan!" seru Aksa dan Aza secara bersamaan.


"Aku sudah susah payah menyatukannya dan kalian mau memisahkannya. Huhh, tak punya hati." Aksa mendengus kesal dan menatap tak suka kepada dokter dan perawat.


Pintu ruangan kembali terbuka, Aira dan keluarga yang lain datang menjenguk.


"Kenapa kalian ribut- ribut? Ada apa, Dok?" tanya Keno.


"Oh tidak ada apa- apa kok, Tuan Keno. Lihat saja ulah anak dan menantumu ini," jawab Dokter terkekeh.


"Astouge sayur lodeh, kelakuan kalian berdua ini bikin geleng- geleng," seru Maria.


"Oma berlipstik tebal mending duduk aja deh, nanti encoknya kambuh loh," celetuk Aksa.


.


.


.


.


.


Correct me if I have typo❤️


Maaf, beberapa hari ke depan akan slow update. insyaallah rajin update mulai bulan depan🤗terima kasih buat yang selalu menantikan Aza dan Aksa😂

__ADS_1


__ADS_2