My Presdir

My Presdir
Anak Haram


__ADS_3

"Silakan masuk, Bu!" seru Bu Ajeng mempersilakan Aza masuk dan duduk di dekat anak- anaknya.


"Langsung saja, Bu! Anak kembar itu sudah mencelakai putra saya, lebih baik segera dikeluarkan dari sekolah ini daripada anak- anak lain menjadi korban juga!" seru Bu Devi membuat Aza terkejut.


"Apa maksudnya?" tanya Aza terheran- heran.


"Mah, Vero yang salah bukan Aiden dan Ailee..." ucap Aiden berusaha membuat Mamanya percaya.


"Kamu itu sudah salah masih ngelak! Dasar anak nakal!" bentak Bu Devi kepada Aiden.


"Siapa Anda beraninya membentak anak saya?!"


"Heh, Bu! Anak Anda itu salah dan wajar jika saya marah!"


Bu Ajeng segera mendinginkan situasi. Aza dan Bu Devi terus saja saling menyalahkan. Aza sendiri belum tahu permasalahan dasarnya itu apa.


"Jadi begini, Bu. Vero tersandung kaki Aiden dan kepalanya terbentur batu sehingga keningnya benjol. Dan tadi mereka sempat berkelahi," jelas Kepala Sekolah.


"Dan anak Anda sengaja melakukan itu!" cela Bu Devi dengan nada sengit.


"Matanya Vero saja yang nggak bisa lihat jalan! Jelas- jelas aku lagi selonjoran tapi dianya malah lewat gitu aja!" ucap Aiden, ia begitu tak suka dengan Bu Devi yang terus memojokkan dan menyalahkan dirinya.


Tadi Aiden dan Ailee memang menyelonjorkan kakinya karena habis olahraga, dan saat itu Vero sedang berlari dan tak melihat Aiden, akhirnya dia tersandung lalu jatuh membentur batu.


"Iya, Bu. Tadi Vero tidak hati- hati saat berlari, dia tidak melihat jika Aiden dan Ailee sedang berselonjoran karena kelelahan," ujar guru olahraga memasuki ruang kepala sekolah.


"Saya memang berpihak dengan Aiden dan Ailee, karena mereka memang tak salah. Jika Bu Devi masih bersikeras menyalahkan Aiden dan Ailee, Anda harus melihat CCTV terlebih dahulu supaya jelas!" Guru olahraga itu pun segera menyalakan laptop miliknya memperlihatkan rekaman kejadian di lapangan tadi.


Semuanya pun mengangguk, termasuk Bu Devi. Mereka lalu tertuju pada laptop yang sedang menayangkan kejadian antara Aiden, Ailee, dan Vero. Ternyata memang Vero yang salah, ia berlari dan tak melihat jika anak kembar itu sedang beristirahat menyelonjorkan kaki mereka sesuai perintah Guru Olahraga.


Vero langsung bangkit, ia memegang keningnya yang benjol. Anak itu lalu mendorong Aiden hingga terkapar. Aiden yang tak terima pun membalasnya. Jadilah perkelahian di antara mereka. Ailee yang tadinya diam pun merasa tak terima kakaknya disalahkan dan dihajar Vero, ia ikut memukuli Vero.

__ADS_1


"Jadi, siapa yang salah di sini?" tanya Aza bermaksud membuat Bu Devi malu.


"Awalnya memang anak saya yang salah. Tapi gara- gara Aiden memancing Vero, mereka jadi berkelahi! Itu sudah tidak benar! Anak Anda juga salah!" tukas Bu Devi membuat Aza dan guru yang berada di sana semakin geram. Wanita itu memang selalu saja membuat masalah, entah ini sudah berapa kalinya ia dipanggil karena kenakalan anaknya. Dan sama masalahnya, ia tetap membela anaknya meskipun salah.


"Vero duluan yang memancingku! Jelas- jelas dia tadi mendorongku duluan!" gertak Aiden. Aza tak menyangka jika anaknya akan berbicara seperti itu, tapi itu wajar. Aiden membela dirinya karena memang dia tak salah sepenuhnya.


"Enak aja! Kamu duluan yang memancingku!" tukas Vero.


"Kalian lihat sendiri kan bagaimana cara dia berbicara?! Tidak punya sopan santun sama sekali! Dan kalian masih mau mempertahankannya untuk sekolah di sini?" seru Bu Devi kepada para guru. Suaranya semakin tinggi, tak tahu malu!


"Anak saya berbicara seperti itu karena kesabarannya telah melampaui batas! Dia terpancing emosinya gara- gara Anda!" bentak Aza, ia berdiri dan menatap lekat wanita itu. Ingin sekali ia mencekiknya saat itu juga.


"Dasar orang miskin nggak tahu malu! Sudahlah keluarkan saja mereka dari sekolah ini!"


"Diam atau ku cekik lehermu?!" Aza sudah kehilangan kesabarannya, ia menggebrak meja dengan keras membuat Bu Devi berjingkat kaget.


"Sudah salah tak tahu malu!"


"Pokoknya anak kembar itu harus dikeluarkan dari sekolah ini!"


"Kalau anak- anak saya harus keluar, berarti anak Anda juga harus keluar dari sekolah ini!" seru seseorang di ambang pintu.


"Papah..." Aiden dan Ailee langsung menghampiri Papanya yang berada di ambang pintu.


"Ohh jadi anak kembar itu punya Papa ya! Saya kira mereka anak haram," celetuk Bu Devi membuat Aksa dan Aza semakin geram.


"Jaga bicara Anda!"


"Mohon maaf sebelumnya, Bu Devi. Sedari tadi Anda menjelekkan orang lain tanpa tahu yang sebenarnya. Dan Anda juga bersikeras menyalahkan Aiden dan Ailee yang sebenarnya tak salah sepenuhnya. Ini sudah melampaui batas, Bu!" Akhirnya kepala sekolah itu angkat bicara.


"Wajar jika saya berbicara seperti ini! Lihatlah anak saya benjol dan lebam seperti ini," sahut Bu Devi menunjukkan luka di wajah Vero.

__ADS_1


"Anak Anda juga salah! Dia sudah salah tapi memancing anak- anak saya berkelahi! Butuh biaya berapa untuk berobat anak Anda?" tanya Aksa, ia merogoh sakunya mengambil dompet.


"Orang miskin sombong sekali! Saya itu tahu kalau kalian miskin, nggak usah sok- sokan mau membayarkan biaya berobat anak saya! Uang saya juga berlebih untuk membiayainya sendiri!"


"Wahhh, sepertinya Anda sultan ya? Suami Anda bekerja sebagai apa? Di mana? Perusahaannya sendiri?" ledek Aksa, sebenarnya ia tahu betul siapakah Bu Devi itu. Wanita itu merupakan istri dari Direktur perusahaan miliknya yang berada di Singapore. Dan sepertinya Bu Devi itu tak tahu siapakah Aksa yang sebenarnya.


"Maaf sebelumnya, Bu Devi yang terhormat. Setelah mempertimbangkan dari berbagai aspek, pihak sekolah telah memutuskan untuk mengeluarkan Vero," seru kepala sekolah.


"Apa- apaan ini!" seru Bu Devi tak terima.


"Kami pihak sekolah juga sudah lelah menghadapi Vero. Dia selalu saja membuat masalah, Bu. Coba ibu ingat sudah berapa kali dalam seminggu ini Ibu kami panggil?"


"Kalau anak saya keluar dari sekolah ini, mereka juga harus keluar!" teriak Bu Devi menunjuk Aiden dan Ailee.


Bu Ajeng dan kepala sekolah itu menggelengkan kepala. Tak menyangka jika ada orang seperti itu.


"Maaf, Bu. Kami tidak bisa mengeluarkan siswa begitu saja. Sedangkan putra ibu ini sudah jelas apa yang menyebabkannya dikeluarkan dari sekolah," ujar Bu Ajeng.


"Kami mohon maaf sekali tidak bisa mempertahankan Vero untuk tetap mengenyam pendidikan di sini. Ini sudah melampaui batas," tambah Kepala sekolah.


Bu Devi pun mendengus kesal.


"Baiklah tidak masalah! Saya bisa menyekolahkan anak saya di sekolah yang lebih elit dan mahal lagi! Kalau perlu saya akan ke luar negeri sekalian!" ujar Bu Devi dengan sombongnya. Ia menghentakkan kakinya dan keluar dari ruangan itu.


"Kalian nggak papa, kan?" tanya Aksa kepada istri dan juga anak- anaknya.


"Enggak kok."


"Maaf sebelumnya telah menyita waktu kalian karena permasalahan ini," ucap Kepala sekolah kepada Aksa dan Aza.


Mereka pun segera pulang karena jam sekolah telah usai. Tanpa disangka, ternyata Bu Devi masih berada di parkiran menunggu Aksa dan juga Aza.

__ADS_1


__ADS_2