My Presdir

My Presdir
Daging Hitam


__ADS_3

"Besok kamu harus panjangin kuku, Za! Pokoknya harus lebih panjang dari Tania, jangan sampai kalah. Aku juga akan mengajarkanmu berbagai jurus untuk mengalahkan nenek lampir itu!" Aksa berucap dengan sungguh- sungguh membuat Aza mengernyit menatap heran, lelaki itu benar- benar menyebalkan.


"Sudah selesai, gantilah bajumu, Hubby. Nanti kamu bisa masuk angin!"


Aza lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, sedangkan Aksa buru- buru memakai baju supaya bisa cepat bermanja-manja dengan sang istri.


"Hubby, ponselmu berdering terus tapi aku nggak tahu dimana," teriak Aza. Dering ponsel terdengar jelas tapi benda itu tak kunjung ditemukan Aza.


"Di kamar mandi kayanya, masih di celana tadi aku masukin ke keranjang baju kotor. Aduhh aku lupa!" Aksa lalu berlari sembari memakai kaos yang masih menggantung di satu lengannya.


"Untung saja belum aku masukin ke mesin cuci. Coba kalau iya, mati langsung deh ponselnya," gerutu Aza. Aksa memang tledor orangnya, ini pun bukan yang pertama kalinya dia seperti itu melainkan berkali- kali hingga tak terhitung lagi.


"Apaan? Aku kira tadi orang penting nggak taunya kamu!" seru Aksa ketika sudah berhasil mengangkat telfonnya, yang tak lain adalah dari Devano.


"Maaf, maaf...ganggu ya?" sahut Devano tergelak. Ia lalu mengalihkan panggilan menjadi panggilan video. Lelaki itu sangat menyebalkan, dia mengarahkan ponselnya menuju ke laut lepas. Hendak membuat Aksa iri.


"Bulshit!" Aksa langsung mematikan ponselnya, tak mau lagi melihat kepameran Devano.


"Ada apa sih, Hubby?"


Aksa tak menjawabnya, ia lalu berhambur menindih istrinya. Aza pun memberontak, kulitnya yang masih sakit membuatnya ingin menangis saat itu juga.


"Hubby, hikss...hikss...hiksss..."


"Ayihh, kenapa, Za?"


"Tubuhku masih sakit, jangan memelukku terlalu erat!"


"Hehe, maaf ya..."


Aza mengangguk pelan dan menyudahi tangisnya. Ia lalu menyusupkan kepalanya di dada Aksa. Mereka mengobrolkan sesuatu yang tak penting, curhat tentang hari- hari yang telah dilewati sama seperti yang biasa mereka lakukan.


Jari Aza tak bisa diam, ia menggelitik payudara milik Aksa. Menusuk- nusuknya, menggambar- gambarinya, dan memainkan layaknya squishy. Gembul dan kenyal! Sangat lucu!


"Hubby, jangan tertawa. Ini sangatlah lucu, kamu diam saja ya," ucap Aza terkekeh gemas. Ia memainkan payudara milik suaminya itu.


Aksa pun patuh, rasanya sangat geli. Tapi sebisa mungkin ia menahan tawanya takut jika Aza akan marah dan berubah menjadi singa. Lelaki itu menggigit bibirnya supaya tak tertawa.


"Hubby, kenapa ini lucu sekali!"


"Za, sudah! Kamu pikir nggak risih apa? Besok aku beliin squishy aja, jangan mainin punyaku!"


"Nggak mau, Hubby. Aku mau ini saja."


"Baiklah, tapi sebagai gantinya malam ini lima ronde ya?"


"Ronde? Ah, aku menginginkan wedang ronde. Hubby, ayo beli!" Aza berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Nggak ada yang jual ronde. Semuanya beralih jualan odading mang oleh. Pokoknya nanti malam lima ronde, dua ronde di bawah dan tiga rondenya kamu di atas."


Aza sangat kesal, ia pun berhenti memainkan payudara suaminya dan membelakanginya. Suaminya sangatlah mesum!


"Za, kok itumu berdarah?" Aksa terkejut mendapati ada darah di bagian belakang Aza. Kasur mereka pun ikut terkena darah itu.


"Apa, Hubby?" Aza lalu bangun dan melihat darah yang dimaksud. Ia menutup mulutnya dan langsung berlari ke kamar mandi tak lupa membawa pembalut.


"Za!" Aksa berteriak menggedor pintu kamar mandi, takut jika istrinya kenapa- kenapa.


"Hubby, kita malam ini nggak jadi lima ronde. Aku datang bulan," ucap Aza. Ia sangat senang malam ini akan tidur nyenyak tanpa adanya enak- enak.


Aksa mengangahkan mulutnya menatap istrinya.


Malam semakin larut, tapi dua insan itu belum juga terpejam. Aksa memangku istrinya dan memeluknya dari belakang. Sedikit kecewa karena malam itu tak akan ada adegan panas di ranjang karena istrinya masih kedatangan tamu.


"Hubby..."


"Hm..."


"Aku lapar, ayo kita makan."


"Kita delivery aja, nggak usah masak."


Aksa tak mau istrinya kelelahan, soalnya di rumahnya itu Sandra masih ada Kkn dan pembantu yang lain pun sudah pulang jadi tak ada yang memasak. Karena pembantu di keluarga Sanjaya hanya dipekerjakan sampai sore hari saja, mereka pun punya keluarga jadi keluarga Sanjaya tak mau mengekangnya.


"Tapi aku pengen masak, Hubby. Boleh ya?"

__ADS_1


"Nanti kamu capek."


Aza mendengus kesal, "Tak akan! Kalau kamu takut aku capek, kenapa kamu nggak bantuin aja?"


Aksa menatap jenuh ke Aza, wanita itu selalu bisa menjawabnya. Tak mau kalah.


*****


Mereka telah sampai di dapur, Aza pun sedang mencari sesuatu yang bisa dimasak dari lemari pendingin.


"Hubby, kita mau masak apa?" Aza menutup lemari pendingin dan menatap suaminya yang sedang duduk di meja makan.


"Memangnya di sana ada apa? Masak apa saja, aku akan memakannya." Aksa menghampiri istrinya yang sedang berdiri mengamati isi lemari pendingin.


Ada daging, kalau memasak itu akan memerlukan waktu yang cukup lama. Baiklah, kita cari bahan yang lain. Berbagai sayur mayur terdapat di lemari pendingin bagian paling bawah. Lengkap sekali, ada wortel, kentang, brokoli, kol, dan masih banyak lagi. Sedangkan Aza tak mau jika hanya memakan sayur mayur saja, Aza pun tampak bingung hendak memasak apa.


"Kita kan bisa membuat steak," ucap Aksa. Ia lalu mengambil semua bahan yang dibutuhkan dan bersiap mencucinya.


"Tapi akan sangat lama, Hubby."


"Tak apa."


"Bukan begitu mencucinya, biar aku saja yang membersihkan, Hubby," ucap Aza ketika melihat cara suaminya membersihkan daging salah dan tak akan bersih nantinya.


"Ohh jadi gini..." Aksa memeluk Aza daru belakang dan tangannya ikut membersihkan daging.


"Kamu mau di belakangku terus, Hubby?"


"Tentu saja, kita akan membuat steak berdua. Bukankah itu sangat romantis?"


"Tapi nggak gini juga, yang ada malah berantakan nantinya kalau kamu terus memelukku."


"Biar saja!"


Aza pun membiarkan suaminya memeluknya dari belakang. Mereka lalu melumuri daging dengan bumbu seperti lada hitam, kecap asin, saus tiram, dan minyak goreng. Sedikit kewalahan karena lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya dan tak jarang mengecup pipi Aza.


"Aww..." Aza menggelinjang, Aksa tak hanya menciumnya tapi juga membuat kissmark di lehernya. Aza benar- benar ingin memanggang suaminya sama seperti daging itu!


"Kamu milikku," ucap Aksa terkekeh. Ia selalu mengatakan itu ketika berhasil membuat kissmark di tubuh istrinya.


"Biar aku saja yang memasukkannya," cegah Aksa, ia lalu mengambil alih potongan daging dari tangan istrinya. Bukannya pelan, ia malah melemparkannya sehingga teflon hampir jatuh.


"Astaga!"


"Hehe, maaf. Kaget ya haha..."


"Ish, nakal!" Aza mencubit tangan Aksa yang masih melingkar di perutnya.


Aksa lalu mengajak istrinya untuk duduk. Ia menarik salah satu kursi di meja makan dan duduk memangku istrinya. Aksa mengecup bibir istrinya dengan lembut. Mulai menggigit dan mengabsen semua bagian.


Lama mereka berada di posisi berhadap- hadapan dengan Aza yang duduk di paha Aksa. Mereka melupakan daging tadi.


"Hubby, apa kamu mencium bau aneh?" tanya Aza disela ciuman mereka. Aksa hanya mengangguk, aromanya seperti ada sesuatu yang gosong. Ia tak perduli lagi, berciuman dengan Aza harus sampai tuntas! Tak boleh berhenti karena suatu hal apapun.


"Hubby, dagingnya!" teriak Aza. Ia sangat terkejut dan tak sengaja menggigit bibir bawah Aksa hingga memerah. Sang pemilik pun berjingkat kesakitan, sedangkan istrinya sudah berlari menuju kompor untuk mematikannya.


"Yahhh, gosong!" seru Aza ketika mendapati bagian bawah daging yang hitam legam.


Aksa yang menghampirinya pun tertawa, daging merah tadi seharusnya berubah menjadi coklat saja, tapi malah menjadi hitam legam.


"Tak apa, kita masak bagian atasnya juga biar matang merata." Aksa lalu membalik daging itu dan menyalakan api kompor lagi.


Bau gosong ternyata sampai tercium ke kamar Keno dan Aira. Mereka pun mencari tahu asal muasal bau itu. Takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Dapur lah yang menjadi tempat utama mereka datangi.


"Kenapa ada bau gosong? Apa yang sedang kalian lakukan?" seru Keno.


"Kalian lagi masak apa, sayang? Kenapa bisa sampai gosong?" tanya Aira menghampiri kedua insan yang tengah berpelukan.


"Lagi masak steak terus dagingnya gosong," sahut Aksa.


"Kok bisa? Bukannya kalian tunggu? Kenapa bisa sampai kaya pantat panci gitu?" Keno bergidik ngeri melihat daging hitam itu.


"Tadi Aksa ngajak ciuman, lama banget. Jadi kelupaan deh kalau lagi masak steak," jawab Aza dengan polosnya. Ia kemudian menutup mulutnya karena telah berbicara seperti itu. Tak bisa dikontrol, sangat memalukan. Apalagi di depan mertuanya.


Aira dan Keno pun tersenyum simpul mendengarnya. Mereka memang konyol. Ketika sudah menempel, semuanya dilupakan.

__ADS_1


"Ah, sudahlah. Habiskan tuh daging hitamnya," ucap Keno kepada Aksa.


"Aza nanti makan yang lain saja, biar daging hitam dihabiskan Aksa saja. Itu kan gara- gara Aksa," timpal Aira terkekeh. Aksa langsung sendu, daging hitam itu sangatlah besar. Masa iya dia harus menghabiskannya?


Dirasa sudah matang sempurna, Aksa segera mengangkatnya tapi Aza menghentikannya.


"Di cek pakai meat thermometer dulu, Hubby. Siapa tahu dalamnya belum matang," ucap Aza. Ia lalu mengambil meat thermometer yang berada di dekat rak sendok.


"Ini tuh sudah matang, bahkan kematangan," seru Aksa dan langsung memindahkan daging ke atas piring dan tak lupa memotong- motongnya terlebih dahulu. Tak perlu dicek karena daging sudah pasti matang, bahkan terlalu matang hingga gosong.


Aza lalu mengambil dua garpu dan ikut duduk di samping suaminya. Terdiam sejenak mengamati daging hitam yang tersaji bersama bawang putih dan rosemary tadi. Tangan mereka pun terulur untuk mengambil potongan daging hitam menggunakan garpu.


Mengamati dengan seksama sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Pahit, kesan pertama yang mereka rasakan. Setengah daging itu terasa enak, bumbunya meresap sempurna. Kematangan daging pun sudah tepat, menunjukkan matang medium.


"Aku makan yang setengahnya aja ya, Hubby."


"Iya, Za. Aku juga. Nggak kuat kalau sama yang gosong, bisa- bisa lidahku akan mati rasa nantinya," sahut Aksa sembari meneguk air putih.


Aza pun sama, ia malah lebih sering minum air putih daripada memakan daging itu. "Hubby, besok nggak usah masak aneh- aneh lagi ya. Sayangi perut, kasihan dia kalau kita kasih makanan neraka seperti ini."


"Iya, Za. Aku setuju, kita kasih ke kucing jalanan saja ya. Aku nggak kuat!"


Aksa dan Aza pun keluar membawa steak yang masih banyak itu. Mereka berjalan menuju gerbang rumah untuk mencari kucing yang biasa mereka temui.


"Kenapa nggak muncul juga kucingnya, Hubby?"


"Sudah pada tidur kali ya, ini udah malem soalnya." Sorot mata Aksa menatap jam di pergelangan tangannya. Jam digital itu menunjukkan pukul 22.00, pantas tak ada kucing ataupun anjing jalanan lagi. Semuanya sudah beristirahat dengan tenang, eh maksudnya bukan seperti itu.


"Cari apa ya Nak Aksa?" tanya Pak Aryo. Satpam kediaman Sanjaya yang kala itu tengah memakai sarung dan peci. Ia heran mengamati Aksa dan Aza yang seperti orang kebingungan mencari sesuatu.


"Cari kucing, Pak. Pak Aryo tau nggak kucing oren yang biasanya itu?" Aza berbalik tanya kepada Satpam dengan perut besar layaknya hamil tujuh bulan.


"Wahh, tadi sih dia ke sini. Giliran dapet makanan langsung kabur. Biasanya jam segini itu kucingnya lagi cari pacar," jawab Pak Aryo.


"Kucing ternyata juga butuh cinta ya, Hubby," ucap Aza kepada Aksa.


Pak Aryo lalu membukakan pintu gerbang karena Aksa dan Aza teringin untuk mencari kucing. Sebenarnya tak hanya ingin memberinya daging hitam, tetapi juga ingin melihat bagaimana kucing berpacaran.


Mereka berjalan celingukan mencari kucing. Gelap, hanya ada lampu jalan yang menerangi. Itu pun redup tak terang benderang.


"Tunggu, Hubby..."


Suara ngeongan kucing terdengar samar, langkah Aza pun terhenti. Telinganya ia buka lebar mencari asal bunyi yang baru saja ia dengar.


Miawww miawwww....


"Kamu nggak denger, Hubby?"


"Denger, Za. Sepertinya ada di belakang pohon itu." Aksa menunjuk pohon yang berada di pinggir jalan. Pohon mangga yang sangat besar namun tak pernah berbuah satu pun.


Aksa dan Aza menuju ke sumber suara, berjalan pelan dan berusaha tak menimbulkan suara. Dan benar saja, di sana ada kucing oren yang biasanya mereka temui. Tapi tak sendiri, ada kucing putih dengan totolan hitam. Dan apa yang sedang mereka lakukan? Mereka sedang berpacaran! Dua kucing itu sedang asyik membuat baby.


"Aduhh, Hubby! Mataku ternoda!" pekik Aza sembari menutup kedua matanya dengan tangan. Tapi masih memberikan celah supaya bisa melihat kedua kucing itu.


"Nggak usah ditutupin! Sama aja kelihatan kalau gitu," sahut Aksa sembari menurunkan tangan istrinya.


"Kok yang betina nggak mendesah?"


"Emangnya kamu? Baru disentuh aja langsung mendesah," jawab Aksa terkikik. Ia jadi terbayang adegan ranjang bersama Aza, tapi sayang malam ini tak akan ada adegan itu.


Aksa lalu mendekat dan melemparkan sepotong daging tepat mengenai punggung kucing oren. Kucing itu pun menghentikan aktivitasnya dan menatap orang yang telah melemparinya. Situasi ini digunakan sang betina untuk kabur. Sepertinya si kucing oren tadi telah melakukan pemaksaan kepadanya.


"Hubby, sepertinya dia marah karena telah diganggu."


"Dalam hitungan ke tiga, kita lari ya!" bisik Aksa.


Satu...


Dua...


Belum sempat mengucapkan kata tiga, kucing itu sudah berlari dan mencakar tangan Aksa hingga piring yang ia bawa pecah.


"Heyy, kucing! Jangan cakar suamiku!"


Aza berusaha menarik si kucing, namun kuku kucing itu tetap melekat di kulit Aksa. Kucing itu pun tak berhenti menjerit, hingga membuat malam yang sunyi itu kembali berisik.

__ADS_1


__ADS_2