
Tangan Aza kewalahan membawa lima cup plastik berisi cilok. Aksa hanya melihatnya saja, ia tengah asyik menikmati cilok milik Aza tadi. Terlalu enak, sudah lama juga tak jajan makanan seperti ini.
"Za, pedes! Beliin air minum dong..." pinta Aksa.
"Nggak usah beli, itu ada keran air, kamu minum dari sana aja. Hemat uang." Aza menunjuk wastafel yang disediakan studio foto untuk cuci tangan para pengunjungnya. Ia lalu masuk ke studio tanpa menunggu Aksa terlebih dahulu.
"Zaaaa, tunggu...."
"Loh, Aksa kemana, Nak?" tanya Keno.
"Astagaaa, cucuku jadi cilok yang kamu bawa itu ya?" Mira memekik mengira jika Aksa telah berubah.
"Ada- ada saja kamu itu!" tukas Maria.
"Ayihhh, dimana anak itu? Aku kira dia mengikuti di belakang," gumam Aza. Wanita itu terkejut tak mendapati Aksa.
"Aksa, kamu dimana?" Aza celingukan mencari Aksa, tak lupa memeriksa kantung celananya. Siapa tahu Aksa sedang main di sana, pikirnya.
Aira, Keno, Mira, dan Maria menepuk jidatnya merasa kesal dengan dua anak manusia itu.
"Ternyata jodoh cucuku sama- sama somplak," ujar Maria menggelengkan kepalanya.
"Azzzzaaaaaa !!!" teriak Aksa sembari berlari menghampiri orang yang ia sebut namanya.
Brughhh
Lantai licin membuat Aksa kepleset dan tersungkur ke lantai. Semua menertawakannya termasuk fotographer yang telah dipesan.
"Makanya kalau jalan tuh pake mata!" seru Keno. Bukannya membantu, ia malah semakin tertawa keras.
"Jalan tuh pakai kaki, Tuan Keno!"
"Ibu Presiden, sakit..." Aksa menatap Aira yang sedari tadi juga menertawakannya.
"Jangan mengadu dengan istriku, kamu kan sudah punya calon istri, mengadu sama Aza!" sahut Keno.
"Za, bantuin bangun." Aza menghentikan tawanya dan mengulurkan tangan membantu Aksa.
Bukan Aksa namanya kalau tak jahil sedikitpun, Aksa menarik tubuh Aza hingga jatuh ke pelukannya. Aza membelalakkan matanya terkejut dengan kelakuan Aksa, sedangkan lelaki itu malah tersenyum puas.
__ADS_1
Bibir tipis Aza terlihat menggoda, jarak mereka pun sangatlah dekat. Ingin rasanya Aksa mencicipi bibir itu. Dirinya semakin mendekat ke bibir Aza. Wanita itu memejamkan matanya, ia tahu jika Aksa pasti akan melakukannya. Ingin memberontak, tapi tubuhnya dikunci lelaki itu.
Cekrek cekrek
Photografer yang dari tadi berada di sana, memotret Aksa dan Aza. Pose yang sangat bagus, sayang jika terlewatkan, katanya.
"Sepertinya kalian sudah siap untuk pemotretan ya," ledek Aira membuat Aksa dan Aza bangun seketika.
"Ahh, Mama menggangguku saja!" gerutu Aksa dalam hatinya. Sangatlah kesal, hampir satu senti lagi bibirnya bersentuhan dengan bibir Aza.
*****
Usai adegan itu, Aksa dan Aza dipersilakan untuk ke ruang make up, berganti baju, dan berdandan sedemikian rupa sesuai tema yang mereka pilih. Tak hanya satu, tapi lebih dari itu. Untuk yang pertama adalah foto formal.
"Ternyata aku tampan juga ya kalau gini," celetuk Aksa memandang dirinya di depan cermin besar. Ia memang lebih tampan dengan berbalut setelan jas rapi dan tatanan rambut yang rapi pula.
"Hm..." Aza menanggapinya dengan deheman. Lelaki itu tampak lebih dewasa serta berwibawa, dan layak jika disebut seorang Presdir Sanjaya Group. Ia sebenarnya juga sedikit terpesona akan tampilan Aksa yang berbeda dengan hari- hari biasanya, tapi gengsi jika harus mengatakannya. Yang ada Aksa pasti akan meledeknya habis- habisan.
Aza juga sudah selesai dirias dan siap melakukan pemotretan, ia lalu mengaitkan tangannya di lengan Aksa. Hanya takut terjatuh karena dia tengah memakai sepatu high heels, bukan bermaksud lain.
"Ehem..." Aksa berdehem mencoba mengalihkan perhatian para keluarganya yang setia menunggu. Lelaki itu berpura- pura membenarkan dasinya.
"Kamu Aksa anakku? Kenapa tampan sekali?" Aira membelai pipi Aksa membuat lelaki itu terbang akan pujian yang terlontar dari mulut Mamanya.
"Ahh, cucuku terlihat dewasa tak kekanak- kanakan seperti biasanya," celetuk Maria.
"Nah, kalau begini aku tak malu menganggapmu anakku," ucap Keno.
Aksa tersenyum simpul, "Hey, Tuan Keno! Lihatlah, aku lebih tampan darimu sekarang. Mulai besok aku juga akan merubah tampilanku biar nggak diejek terus."
"Baiklah, kita lihat saja nanti! Pasti cuma satu atau dua hari saja kamu berubahnya."
"Maaf, ini mau foto kapan ya? Kita sudah mundur dua jam loh dari jadwal," celetuk Mas- mas fotografer sembari menatap arloji di tangannya.
Aksa dan Aza langsung diarahkan berpose sedemikian rupa. Satu foto, dua foto, dan lebih banyak lagi, hampir menghabiskan memori. Mereka juga telah berganti kostum untuk tema yang kedua.
__ADS_1
"Za, pinggangmu kecil sekali. Cuma sejengkal tanganku saja!" Aksa diarahkan untuk melingkarkan tangannya di pinggang Aza, tapi lelaki itu merasa geli karena Aza ternyata sangat kecil.
"Diam saja kamu itu! Bukan aku yang kecil, kamu yang kebesaran!" tukas Aza.
"Makanlah yang banyak. Pokoknya kalau kita udah beneran nikah, kamu garus gendut! Aku nggak mau kalau dikira nggak ngasih kamu makan."
"Nanti kalau gendut aku tambah jelek. Kamu malah ninggalin aku."
"Ciyee, takut ditinggalin. Tapi aku nggak akan meninggalkanmu kok. Ingat baik- baik!"
Rangkaian kata itu terdengar jelas di telinga Aza. Raut wajah Aksa juga terlihat sungguh- sungguh, haruskah Aza mempercayainya? Ia sangat takut jika itu benar- benar tak terjadi. Bagaimana jika Aksa meninggalkan dan membuangnya begitu saja?
*****
Sesi foto berlanjut hingga senja menyapa. Para keluarganya pulang terlebih dahulu karena kesal dengan Aksa dan Aza. Sama- sama tak bisa diatur ketika foto, hingga menyita banyak waktu.
"Yang ini bagus, kelihatan kalau akunya kesel dan nggak suka sama kamu," ucap Aza tergelak menatap foto yang dikirimkan fotografer tadi di ponsel Aksa.
"Ish, nyebelin banget kamu itu. Awas saja, cepat atau lambat kamu pasti akan klepek- klepek sama aku."
"Oh ya???? Kayanya sih nggak akan deh..."
Aksa mengambil ponsel dari tangan Aza. Ia melihat satu per satu foto mereka. Semuanya terlihat bagus, tapi ada satu yang menurutnya sangat bagus.
"Aku suka yang ini." Aksa memperlihatkan ponselnya kepada Aza. "Hidungmu mancung ke dalam," sambungnya terkekeh.
"Hidungku itu mancung! Punyamu aja yang terlalu besar, jadi pas deketan sama kamu kelihatan kecil. Masa iya, besarnya dua kali lipat dari hidungku, nggak normal!" ucap Aza menyolot.
"Mancung apanya? Kalau mancung ke dalam sih iya." Aksa mencubit hidung Aza begitu lama, membuat wanita itu meronta karena tak bisa bernafas.
"Kamu bisa membunuhku! Lepaskan!" ucap Aza tercekat. Tangannya melayang ke tangan Aksa. Memukuli lelaki itu supaya melepasnya.
"Eh iya maaf. Nanti kalau kamu nggak ada aku nikah sama siapa dong!"
"Kucing!" sahut Aza sekenanya.
__ADS_1
"Baiklah, Mama kucing!"
Aza tergelak mendengarnya, ia jadi teringat dengan kejadian di Mekdi waktu itu. Papa kucing dan Mama kucing.