
Semuanya berkumpul di ruang keluarga menyaksikan televisi seperti biasanya. Aiden duduk di pangkuan Mamanya, sedangkan Ailee duduk di pangkuan Papanya.
Pasangan suami istri itu masih belum berbicara sejak kejadian tadi pagi. Aksa selalu curi- curi pandang kepada wanita yang duduk di sebelahnya. Pipi Aza bekas tamparannya tadi terlihat memar, ia menamparnya terlalu keras. Aksa jadi merasa bersalah.
"Pah...Ailee sudah mengantuk..." celetuk Ailee sembari menguap pertanda dia benar- benar mengantuk, matanya pun menyipit, ia ingin segera tidur.
"Aku juga sudah mengantuk, Mah," tambah Aiden.
"Baiklah, kalian ke kamar ya. Mama akan membuatkan susu dulu buat kalian," ucap Aza. Ia lalu beranjak menuju ke dapur membuatkan susu seperti biasanya.
"Ayo anak- anak Papah, kita ke kamar sekarang!" Aksa menggendong dua anaknya sekaligus menuju ke kamar.
Aksa menyuruh Aiden dan Ailee untuk bersandar di ranjang menunggu mamanya. Tak lama kemudian, Aza pun datang dengan dua gelas susu.
"Ayo sayang minum susunya dulu," ucap Aza menyodorkan susu kepada Aiden dan Ailee. Mereka pun segera meneguknya hingga gelas kosong
"Sudah, Mah," ucapnya sembari mengusap bekas susu di bibirnya.
"Papa sama Mama tidur di sini, kan?" tanya Aiden.
"Hanya Mama yang akan tidur di sini, Papa akan kembali ke kamarnya," seru Aza. Wanita itu lalu ikut berbaring di samping anaknya dan menyelimuti tubuhnya.
"Kenapa hanya Mama saja? Kenapa Papa nggak tidur di sini juga?" tanya Ailee.
"Papa sama Mama nggak lagi marahan, kan?" Kali ini Aiden yang bertanya, ia takut jika Mama sama Papanya masih marahan.
"Enggak kok, ayo cepat tidur. Papa akan tidur di sini juga," ucap Aksa yang membuat Aiden dan Ailee bersorak senang.
Mereka lalu memejamkan mata, mengarungi mimpi masing- masing. Aiden dan Ailee memang gampang sekali jika mau tidur, tak perlu membacakan dongeng atau yang lainnya.
Aksa dan Aza belum terpejam, mereka saling tatap dan kemudian memalingkan wajah. Aza memilih untuk pergi dari sana, ia ingin tidur sendiri. Tadinya memang ingin tidur bersama anak kembar itu, tapi Aksa malah juga ingin tidur bersama mereka.
Aksa memandang Aza yang beranjak meninggalkan kamar. Ia kemudian mengikutinya, tapi sebelum itu dirinya memastikan jika Ailee dan Aiden benar- benar terlelap.
Baru saja merebahkan tubuhnya di kasur, suara pintu kamar terbuka terdengar jelas. Aza langsung melihatnya, yang ternyata adalah suaminya sendiri. Lelaki itu langsung merebahkan tubuhnya di samping Aza.
__ADS_1
Aza menggerutu kesal, Aksa sangat menyebalkan. Tadi saja bilangnya mau tidur bersama Aiden dan Ailee, tapi sekarang apa? Dia mengikutinya terus!
"Ehem..." Aksa berdehem mencairkan suasana. Ia tahu jika Aza belum tertidur makanya dia berusaha mencari perhatian tapi ternyata sang istri tetap mengacuhkannya.
Aksa menggeser tubuhnya semakin mendekati Aza yang sedari tadi membelakanginya. Ia melirik wanita itu dan memastikannya sudah tidur atau belum. Dan ternyata Aza sudah menutup matanya dan terlelap.
Aksa memberanikan dirinya untuk memeluk Aza, ia tak bisa tidur jika tak memeluk wanita itu terlebih dahulu.
Merasakan tangan suaminya berada di perutnya, Aza langsung menepisnya. Aksa pun terkejut, ternyata Aza belum tidur.
"Ma- maaf, aku nggak sengaja," ucap Aksa terbata- bata. Ia lalu membelakangi Aza. Kejadian itu terjadi berulang kali membuat Aza kesal, Aksa tak bisa diam!
Aksa berusaha menutup matanya tapi tak bisa juga, ia belum memeluk dan menguyel- uyel Aza. Lelaki itu menunggu istrinya sampai benar- benar terlelap. Dirasa Aza sudah benar- benar tidur, Aksa menindih kaki Aza dan bersiap mendekapnya erat.
Aza sebenarnya belum tertidur, lebih tepatnya tidak bisa tidur karena sedari tadi Aksa tak bisa diam. Lelaki itu terus berguling ke sana kemari mencoba untuk memeluknya supaya bisa tidur. Lama kelamaan, dirinya pun kasihan, ia membiarkan Aksa memeluknya.
"Maaf ya aku tadi berbuat kasar. Aku berjanji, itu yang pertama dan terakhir," lirih Aksa membelai pipi Aza. Ia membalikkan tubuh istrinya hingga menghadap dirinya.
Perasaan bersalah karena menampar wanita itu pun kembali muncul. Ia mengecup pipi wanita yang sudah terlelap itu. Kecupan sebagai tanda maaf darinya.
"Kamu boleh hukum aku, kamu boleh lakuin apapun semau mu."
Tak terasa, air mata Aksa menetes seketika. Ia sungguh menyesali perbuatannya. Andai saja kejadian itu bisa diulang, dia akan memastikan dirinya sendiri untuk menahan emosi dan tak menampar istrinya.
"Maaf...maaf..."
"Aku memang suami yang bodoh, Za. Tak seharusnya aku berbuat seperti itu ke kamu. Kamu sudah sangat baik denganku, tapi aku malah begitu."
Aza pun membuka matanya, ia sedih mendengar permintaan maaf sang suami yang diselingi isakan. Entah kenapa ia jadi tak tega jika berlama- lama marah dengan lelaki itu. Tapi, rasa kecewa masih bersemayam. Aksa juga salah, tak seharusnya ia main tangan dengannya. Lelaki itu selalu berkata jika menyelesaikan masalah tak perlu dengan kekerasan, tapi nyatanya Aksa malah melakukannya sendiri.
"Ma- maaf sudah mengganggu tidurmu."
"M- maaf juga...aku nggak sengaja meluk kamu," lirih Aksa terbata. Ia lalu melepas pelukannya dan berbalik membelakangi Aza. Aksa jadi kelabakan, ia takut jika Aza akan semakin marah dengannya.
"Aku belum tidur dari tadi. Aku tahu semua gerak- gerikmu...dan ocehanmu."
__ADS_1
Mendengarnya, Aksa mendengus kesal. Ia sangat malu dibuatnya. Aza terkekeh saat itu juga, suaminya benar- benar lucu. Ia menggelitik perut Aksa supaya lelaki itu berbalik menghadapnya lagi.
"Hubby..."
Mendengar seruan manja seperti biasanya itu, Aksa pun menoleh. Sang istri menyunggingkan senyum, apa wanita itu sudah tak marah lagi?
"Kamu yakin nggak mau meluk aku?" tanya Aza menggoda.
"Enggak kok, enggak papa. Kan kamu masih marah sama aku," jawab Aksa dengan wajah sendu.
"Serius? Nanti kamu nggak bisa tidur loh. Tadi aja kaya cacing kepanasan curi- curi kesempatan buat memelukku. Sekarang yakin nggak mau memelukku lagi?"
"Sayang, maafkan aku..." lirih Aksa mendekap erat tubuh Aza.
Tangan Aza terulur membelai kepala suaminya. Lelaki itu bergetar, tangisan pecah begitu saja saat mendekap istrinya. Sepertinya Aksa menyadari semua kesalahan yang ia perbuat.
"Aku itu nggak marah, tapi kecewa. Dan kamu tahu kan kalau kecewa dan marah itu berbeda?" lirih Aza.
Aksa menghapus air matanya, ia menatap istrinya yang terlihat sendu. Marah dan kecewa memang berbeda. Kecewa berada di atas level marah. Orang yang marah mungkin akan mudah memaafkan, tapi berbeda dengan orang yang kecewa. Itu akan sulit dihilangkan meski kata memaafkan sudah terlontar.
"Aku tahu, aku memakluminya. Maaf telah kasar, aku janji itu yang pertama dan terakhir kalinya," ucap Aksa sungguh- sungguh.
"Maaf juga aku sudah berani membentakmu," ujar Aza.
"Nggak papa, itu wajar kok. Kamu harus tahu, Za. Aku itu bukan seperti lelaki pada umumnya yang mudah sekali tergoda dan jatuh cinta. Jika namamu sudah tertera di hatiku, maka itu tak akan bisa diganggu gugat lagi. Selamanya akan tetap sama tak akan berubah."
"Sampai kapanpun tak ada yang bisa menggantikanmu. Aku tak akan pernah mengkhianatimu meskipun kesempatan itu ada. Percayalah, selingkuh dan berkhianat tak ada di dalam kamusku. Aku benar- benar mencintaimu, sampai kapanpun," ujar Aksa panjang lebar membuat Aza tertegun.
Aza terenyuh, buaian suaminya begitu mengena di hati. Kata yang dirangkai menjadi kalimat- kalimat manis membuat Aza terlena apalagi saat mengatakannya lelaki itu terlihat sungguh- sungguh dan tak ada paksaan suatu apapun.
Wanita itu mengangguk sembari menyunggingkan senyum tipis. Air mata yang hampir tumpah, ia usap segera.
"Aku juga mencintaimu, jangan pernah membuatku kecewa lagi."
"Pasti..." Aksa menarik tubuh istrinya ke pelukannya, ia berikan kecupan bertubi- tubi di puncak kepala wanita itu.
__ADS_1