
Aksa menatap lekat wajah istrinya yang terlihat lelah. Setiap malam Aza selalu melayani lelaki yang tak pernah puas itu hingga tubuhnya remuk. Kalaupun menolak, Aksa pun sudah dipastikan tetap melakukannya.
"Selamat pagi, Nyonya Aksa," seru Aksa mengecup bibir wanita yang tengah tertidur. Wanita itu hanya menggeliat dan menarikkan selimutnya, terasa dingin karena dirinya tak memakai baju.
"Jam berapa, Hubby?" tanya Aza lirih dan tanpa membuka matanya.
"Masih jam tiga, kenapa? Mau melakukannya lagi?" tanya Aksa terkekeh.
Wanita itu langsung menimpuknya dengan bantal. Begitu kesal, selalu saja ingin melakukannya. Aksa memang sedikit menyebalkan. Aksa kembali memeluk istrinya dari belakang, menyusupkan kepalanya di tengkuk sang istri dan menghirup aroma khas dari tubuh wanita itu.
Tubuh yang selalu membuatnya candu, tak mau lepas barang sejenak pun. Lelaki itu benar- benar jatuh cinta dengan semua yang dimiliki Aza. Wanita itu mampu membuatnya takluk dan jatuh terlalu dalam ke bara cintanya.
"Arghhh..." Pekik Aza. Aksa sangatlah jahil, ia menggigit tengkuknya. Ingin memarahinya tapi dirinya sendiri seakan tak berdaya. Semalaman melayani sang suami benar- benar melelahkan.
"Hubby, jangan membuat totol- totol di tubuhku. Itu memalukan." Aza tak suka jika suaminya itu memberikan tanda merah di tubuhnya. Memalukan? Ya, sangat memalukan. Sudah berkali- kali tanda kepemilikan itu terlihat oleh banyak orang, Aza jadi malu karena semuanya ikut meledek dan menggodanya habis- habisan. Terutama Sarah dan Clara.
"Itu tanda kepemilikan, Za. Kamu hanya milikku."
"Iya, Hubby. Semuanya juga sudah tahu kalau aku itu milikmu, tapi tak perlu memberikan tanda lagi. Aku nggak mau Sarah ataupun Clara mengejekku lagi." Aza kembali mengingat ledekan Sarah dan Clara, dua wanita itu sangat menyebalkan. Mulutnya tak berhenti meledek Aza ketika melihat tanda cupangan yang terdapat di lehernya, bahkan mereka juga tak segan untuk mengabadikannya di ponsel.
Aksa tak memperdulikannya, ia menggigit kulit putih yang kenyal milik istrinya lagi. Tak terhitung sudah berapa tanda yang berada di tubuh Aza.
"Aku sedang berkarya, jangan menghentikanku," celetuk Aksa terkekeh.
Aza hanya bisa mencebikkan bibirnya, begitu lelah ketika harus memberitahu sang suami berkali- kali. Satu pun ucapan dari wanita itu tak ada yang dihiraukan, semuanya percuma.
*****
Matahari mulai merangkak, sinarnya belum begitu terang. Namun, waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
Aksa telah duduk manis menunggu sarapan tersaji di meja sembari memainkan iPad miliknya. Memeriksa setiap email masuk yang dikirimkan oleh para karyawannya untuk diperiksa pekerjaan mereka, sudah sesuai ataukah belum.
"Hello My Presdir, it's your breakfast. Pancake's and a cup of milk," seru Aza layaknya pelayan restoran yang sedang melayani pembeli.
"Ohh, thank you very much Nyonya Aksa." Aksa gemas, ia langsung mencubit kedua pipi Aza.
Suara deheman dari Aira dan Keno menghentikan adegan romantis mereka. Papa dan Mamanya itu lalu duduk tanpa sepatah kata pun yang terucap seperti pagi biasanya. Wajah mereka pun masih nampak merah dan menahan malu. Sepertinya, Aira dan Keno masih kesal dengan Aksa karena semalam masuk tanpa permisi.
"Ini sarapannya, Pah, Mah," ucap Aza menyodorkan satu piring pancake yang sama seperti Aksa tadi. Tak lupa dengan susunya.
"Terima kasih, sayang," jawab Aira lembut.
Aksa sebisa mungkin menahan tawanya. Ia pun menyantap pancake miliknya dengan pelan karena takut tersedak. Papa dan Mamanya itu tampak canggung dan tak berani menatap dirinya.
"Bu Presiden. Sepertinya blush on mu pagi ini terlalu tebal." Aksa mengusap pipi Aira yang merah, dia pikir blush on yang tengah dipakai Mamanya itu terlalu tebal. "Astaga, Mama nggak pake blush on ternyata. Lalu, kenapa ini pipi chubby merah sekali?" ucap Aksa pura- pura tak tahu sebenarnya apa yang telah terjadi.
"Sepertinya Papa juga memakai blush on, pipinya merah. Biar ku periksa." Aksa beranjak dari duduknya dan menghampiri Keno.
Keno langsung tersedak dibuatnya, anaknya sungguh menyebalkan. "Kembali ke tempat dudukmu atau ku patahkan lehermu?"
"Hm, baiklah."
"Oh ya, Pah, Mah. Aku sama Aza mau bulan madu selama beberapa hari. Tapi, kantor nggak ada yang ngurus soalnya Devano juga mau cuti buat pernikahannya."
"Terus?" Keno pura- pura tak tahu apa maksud anaknya, padahal ia tahu betul pasti Aksa akan menyuruhnya untuk menggantikan dirinya selama pergi bulan madu.
"Papa gantiin aku seminggu ya?"
"Say, kamu sudah selesai sarapan, kan? Ayo kita pergi sekarang," ajak Keno kepada istrinya. Ia tak mau menanggapi perkataan Aksa tadi.
"Iya sayang, aku sudah selesai." Aira lalu membalas uluran tangan suaminya dan pergi meninggalkan meja makan.
"Pah..." rengek Aksa.
__ADS_1
"Pah, ayolah. Hanya seminggu saja." Keno tak menggubris, ia lalu pergi ke halaman depan sepertinya mereka akan pergi ke suatu tempat.
Tawa Aza yang sedari tadi ditahan pun akhirnya terlepas. Tawanya begitu renyah menertawakan sang suami.
"Kasihan banget sih, Hubby. Makanya jadi anak itu jangan lucknut. Coba semalem kamu nggak mergokin mereka, pasti Papa mau gantiin kamu," ledek Aza diselingi tawanya yang semakin keras.
Aksa hanya bisa menatap nanar kepergian Papa dan Mamanya.
*****
Ruangan kerjanya menjadi sepi, biasanya selalu ada Devano yang terkadang bernyanyi ataupun berceloteh tak jelas. Kini hanya ada suara musik dari ponsel Aksa yang menemani lelaki itu bekerja.
"Huffttt..." Aksa membuang nafasnya kasar. Baru sehari ditinggal Devano tapi diringa benar- benar kesulitan. Pekerjaannya lebih berat dari biasanya. Jadwalnya terbengkalai, ia sendiri yang harus mengaturnya.
"Hanya tiga hari saja Aksa, ayo semangat." Perkataan itu selalu ia sematkan pada dirinya. kopi di cangkir pun telah tandas, satu slice rainbow cake yang disiapkan istrinya pun telah habis.
Mungkin ke ruangan istrinya sebentar akan kembali menaikkan semangatnya. Baiklah, Aksa akan pergi ke ruangan Aza. Dilihatnya kantornya begitu sepi, semua karyawan benar- benar bekerja sesuai peraturan. Tak ada yang berseliweran ke sana kemari termasuk istri dan teman- temannya.
Ia mengintip dari pintu kaca ruangan Aza, wanita itu selalu saja tersenyum sembari menyelesaikan tugas yang cukup berat. Namun, kemudian ia tertuju pada seseorang yang berada di samping Aza.
Seorang lelaki, meskipun ia tahu Aza dan lelaki itu hanya berbincang mengenai pekerjaan, tapi ada rasa sesak dalam diri Aksa. Ia tak mau wanita miliknya didekati lelaki lain.
"Ehem..." Aksa berdehem setelah berhasil membuka pintu ruangan. Semuanya pun menatapnya dan langsung berdiri sebagai tanda penghormatan teruntuk Presdir mereka.
"Ada apa ya, Pak? Apakah ada yang Pak Presdir butuhkan?" tanya Sarah. Wanita itu sedikit takut kalau Aksa memarahinya. Soalnya dia tadi makan saat kerja.
"Nggak papa. Hari ini saya akan pindah di ruangan ini."
Perkataan Aksa itu membuat delapan karyawan di sana mengangahkan mulut. Termasuk Aza.
"Hubby, eh maksudnya Pak Presdir. Kenapa mau pindah ke sini? Ruanganmu memangnya kenapa?" tanya Aza sedikit terheran.
"Sedang direnovasi kamar mandinya."
"Lalu? Bukankah itu tak akan mengganggu pekerjaanmu? Kenapa harus pindah ke sini?" Aza melipat tangannya di dada, menatap sang suami yang terlihat mencurigakan.
Aksa kemudian duduk di kursi sebelah Aza setelah lelaki tadi pindah. Kemudian datanglah Pak Kis, yang membawakan pekerjaan Aksa ke sana.
"Kenapa kalian menatapku? Ayo kembali bekerja! Jangan menghiraukanku," ucap Aksa karena para karyawannya masih terdiam di tempat memandang Aksa.
Semuanya pun lantas kembali ke tempat semula dan berkutat dengan pekerjaannya masing- masing.
"Za, kalau Pak Presdir ada di sini kita nggak bisa makan dong!" bisik Sarah. Aza dan Sarah memang sering bekerja sambil makan. Mereka selalu membawa satu kantung kresek besar berisi makanan ringan yang siap disantap saat bekerja.
"Kita sembunyi- sembunyi makannya," sahut Aza. Ia memandang sedih kepada coklat yang baru ia makan setengah. Ingin sekali dia melanjutkannya, tapi sayang suaminya ada di sana.
Aksa tak sengaja menatap kantong kresek putih di bawah meja terletak di antara Aza dan Sarah. Ia pun segera mengambilnya, Aza dan Sarah pun terkejut.
Coklat, keripik kentang, pilus, minuman dingin, dan makanan lain berada di sana. Aksa mengamatinya satu persatu sembari menatap Aza dan Sarah.
"Kalian kalau kerja sambil makan?" tanya Aksa, lelaki itu kemudian membuka keripik kentang berwarna hijau dan menyantapnya.
"Hehe, maafin kita ya Pak Presdir. Ini Aza yang ngajak," jawab Sarah menyikut lengan Aza.
"Enak aja! Ini kan ide kamu."
"Husstt, diam. Jangan ada kegaduhan lagi atau kalian akan aku hukum," gertak Aksa.
Aza dan Sarah pun terhenyak, tapi batin mereka tak bisa berhenti menggerutu kesal. Mereka terus saja merutuki lelaki yang menyebalkan itu.
"Hubby, sebenarnya kamu ngapain harus pindah ke sini sih? Bikin nggak fokus tau nggak sih," seru Aza. Ia menatap lekat wajah suaminya dari pembatas kaca yang membatasi meja Aksa dan Aza.
"Kok bisa nggak fokus sih?" Aksa tampak acuh, ia asyik menyantap keripik kentang rasa rumput laut itu sembari mengetikkan sesuatu ke laptopnya.
__ADS_1
"Hubby..."
"Apa sayang?"
"Ehemmm....ada yang jomlo di sini, jangan sayang- sayangan!" celetuk Sarah. Ia begitu kesal mendengar obrolan kecil antara Aksa dan Aza.
"Jomblo kok terus- terusan sih, cari pacar sana. Biar nggak iri kalau lagi ada yang sayang- sayangan," ucap Aksa sembari melayangkan senyum meledek.
"Lagi nungguin mereka putus dari pacarnya, Pak. Lihat saja nanti kalau mereka berlima itu udah putus, nanti langsung aku jadiin pacar semua."
"Halah, kamu itu berharap yang tak pasti. Iya kalau mereka putus? Kalau mereka malah langgeng dan bahkan menuju ke jenjang pelaminan kamu bisa apa?"
"Yang ada kamu malah nyesek kan? Ntar nangis seharian sampe matanya bengkak terus item, yang ada kamu malah tambah jelek. Nggak ada yang mau lagi."
"Lebih baik menunggu yang pasti!" tambah Aksa lagi.
Sarah mengambil nafas dalam- dalam. Amarahnya hendak meledak ketika Aza tak menggenggam tangannya. Benar kata Aza, jika omongan Aksa itu sangat pedas. Bahkan susu yang manis pun tak bisa menghilangkannya saking pedanya.
"Kalau kau bukan atasanku, sudah kupastikan hidupmu akan berakhir hari ini juga! Hufftt, bagaimana Aza bisa bertahan dengan lelaki menyebalkan seperti itu? Aku benar- benar tak habis pikir!" batin Sarah.
*****
Kali ini Aza tak hanya menjadi karyawan devisi keuangan saja, melainkan menjelma menjadi sekretaris suaminya. Ia sedikit kesusahan karena ini bukan bidangnya. Biasanya ia hanya bertugas menghitung dan mengelola keuangan perusahaan, tapi kali ini harus mengatur jadwal suaminya.
Begitu padat, bahkan istirahat saja kadang tak sempat. Aza jadi sedih melihat suaminya, lelaki itu terlalu bekerja keras hingga tak memperdulikan tubuhnya sendiri.
"Hubby..."
"Kenapa, Za? Apa jadwalku setelah ini?" tanya Aksa. Lelaki itu masih berada di ruang devisi keuangan dengan dalih jika ruangan pribadinya sedang direnovasi, padahal hanya ingin dekat dan mengawasi istrinya supaya tak ada lelaki lain yang mendekat.
"Bertemu dengan Pak Dibyo, di Mekdi yang ada di Jalan Ahmad Dahlan jam dua siang."
Aksa kemudian mengamati jam tangan sport berwarna merah maroon yang tersemat di pergelangan tangannya, masih ada waktu setengah jam lagi, dia bisa bermanja- manjaan dengan Aza dulu sebelum pergi.
"Hubby, jadi presdir ternyata sesibuk itu ya..."
"Ya gitu, tapi menyenangkan kok kalau dijalanin pake hati. Apalagi ada istri."
Aza langsung duduk di pangkuan Aksa dan memeluknya, "Semangat, Hubby. Aku akan selalu di sampingmu, tapi kalau kamu nakal aku nggak mau."
"Duhh gusti..." seru Sarah. Wanita itu seperti orang gila, membenturkan kepalanya berkali- kali ke meja kerjanya. Sangat gemas dengan Aksa dan Aza yang sedari tadi hanya uwu- uwu saja kerjaannya, bikin iri dan baper.
"Itu manusia jadi- jadian tambah gila ya, Za. Kasihan kelamaan jomlo jadi gitu," ucap Aksa. Ia memandang risih dengan wanita berkacamata bulat dan berambut pendek itu yang tengah membenturkan kepalanya.
"Husstt jangan gitu, Hubby. Nanti kalau tanduknya dia udah keluar berabe urusannya," sahut Aza terkekeh.
"Baru tahu kalau manusia jadi-jadian itu juga punya tanduk tak kasat mata."
"Terusssss! Ledekin terussss! Awas aja nih ya kalian kalau butuh bantuan sama aku lagi, aku nggak akan bantuin. Camkan itu," ucap Sarah melototkan matanya.
*****
Meeting kali ini, Aksa lagi- lagi mengajak Aza. Mereka sudah sampai di depan Mekdi yang menjadi tempat pertemuan. Tak sengaja, ada seorang wanita yang tengah membawa ice cream, makanan, dan minuman menabrak Aza hingga membuat kemeja yang tengah Aza pakai kotor dan basah.
"Hubby, bajuku..." Aza mengibas- ngibaskan bajunya. Basah kuyup tertumpah satu gelas pepsi.
"Aduhh, maaf saya nggak sengaja mbak..." pekik wanita itu. Ia langsung mengambil tisu dari tasnya dan berusaha membersihkan kemeja Aza.
"Kau?"
"Aza..." Lirih wanita yang menabrak tadi, tak lain adalah Anandhi.
"Ayo ikut Mama, kita cari baju yang baru. Kamu bisa masuk angin jika tak segera ganti baju," ujar Anandhi.
__ADS_1
"Tidak perlu, terima kasih!"
Aza hendak pergi dari sana, dadanya begitu sesak menatap Anandhi. Ia masih belum menerima wanita itu. Wanita yang ternyata adalah Mama kandungnya sendiri.