My Presdir

My Presdir
Teh Hangat


__ADS_3

"Hanya dingin sedikit, peluk saja biar hangat. Jangan banyak bicara," ucap Aza. Wanita itu memeluk dan menyembunyikan wajahnya di tubuh suaminya. Meskipun Aksa juga basah dan dingin, wanita itu tetap merasa jika dekapan Aksa hangat.


Aksa jadi salah tingkah dibuatnya, tak biasanya Aza mau memeluknya terlebih dahulu. Jantungnya jadi berdetak cepat, tapi ia segera mengaturnya supaya Aza tak mendengar dan tak meledeknya.


Kemudian, penjual bakso datang dengan dua teh hangat pesanan Aksa. Menyodorkannya kepada Aksa yang tengah duduk dipeluk istrinya.


"Minumlah dulu biar nggak terlalu dingin." Aksa menyelipkan anak rambut ke belakang karena menutupi wajah cantik Aza. Membelai lembut pipi wanita yang tengah memejamkan matanya. Aza sangat pucat.


"Za, kamu nggak papa, kan? Kok pucat?"


"Nggak papa, jangan lebay deh," tukas Aza dan melepas pelukannya.


"Ini minumlah selagi hangat, kamu mau makan bakso nggak? Kalau mau aku pesankan."


Aza menggeleng, ia lalu menyeruput teh dari Aksa tadi dan tetap menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.


Air hujan masih menetes, tapi tak sederas tadi. Baju yang mereka kenakan pun mulai mengering. Tapi sepertinya mereka masih teringin menikmati waktu berdua di warung bakso itu, tak peduli jika dianggap gelandangan atau apa. Yang pasti Aksa sangat senang karena Aza yang mulai terbuka dengan dirinya.


"Mau pulang sekarang?" tanya Aksa membelai pipi Aza.


Wanita itu mengangguk, ia segera berdiri diikuti suaminya. Tak lupa membayar dua gelas teh hangat tadi, mengucapkan terima kasih lalu berpamitan.


Aksa menggenggam tangan Aza, mengajak wanita itu berlari supaya tak basah lagi karena masih gerimis.


"Percuma, kita tetep basah," ucap Aza tergelak.


"Emang sih, tapi ya nggak separah tadi lah yang penting," sahut Aksa tertawa juga.


Mobil mereka telah memasuki halaman rumah Keno. Aza dan Aksa segera masuk ke dalam rumah, ternyata di sana keluarganya berkumpul. Opa dan dua Oma berlipstik tebal pun juga ada di sana menyaksikan televisi dan bercengkrama seperti biasanya.


"Loh, kok kalian baru pulang sih?" tanya Aira ketika mendapati anak dan menantunya berdiri di depan pintu.


"Tadi kehujanan, berteduh dulu sebentar," jawab Aksa.

__ADS_1


Sontak, Bram, Andi, dan dua Oma berlipstik tebal tertawa lepas mendengarnya. Bagaimana bisa mereka kehujanan padahal kan membawa mobil.


"Kamu itu ada- ada sih, Nak. Bawa mobil kok bisa kehujanan," seru Bram tertawa.


"Opa...Bukan gitu maksud Aksa. Pokoknya nggak gitu lah, Aksa mau ke kamar dulu." Aksa mengajak Aza naik ke kamarnya setelah berpamitan dengan para keluarga.


"Cucumu stress akut ternyata, Mir," celetuk Andi kepada istrinya.


"Kamu baru tahu ya, dia itu benar- benar nggak waras," sahut Mira masih tertawa lepas.


"Opa dan Oma berlipstik tebal jangan membicarakanku lagi! Aku itu waras dan tadi benar- benar kehujanan," teriak Aksa, dirinya masih mendengar ucapan mereka karena baru sampai di pertengahan tangga menuju kamar.


"Harusnya kamu ngomongnya main hujan, bukan kehujanan, biar mereka nggak mengira kalau kamu stress," bisik Aza.


"Iya juga ya..."


Aksa mempersilakan istrinya memasuki kamarnya. Lelaki itu menggelengkan kepala melihat kamarnya yang benar- benar disulap menjadi kamar pengantin. kelopak bunga mawar menghiasi kasurnya. Lampu Tumbler melekat indah di dinding.


"Aku akan membereskannya, kamu pergilah mandi. Bajumu sudah disiapkan Mama di sebelah lemari bajuku. Ruang ganti di sebelah sana." Aksa menjelaskan letak ruangan di kamarnya kepada Aza yang terlihat kebingungan.


Aza keluar dari kamar mandi berbalut dengan jubah handuk yang memperlihatkan paha putih mulusnya. Ia membuat Aksa terperangah, Aza begitu menggoda.


Ia tak berhenti menatap ruang ganti yang menampakkan samar- samar tubuh Aza karena pintu ruangan itu terbuat dari kaca.


"Apa orang kaya selalu begini ya? Ganti baju saja harus di ruang ganti tak di kamar mandi sekalian," gumam Aza. Ia lalu mengambil satu piyama yang berjajar rapi di lemari. Semua keperluannya ada di sana dan terlihat baru semua.


"Kamu kenapa memandangiku?" tanya Aza ketika keluar dari ruang ganti. Aza menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


Aksa masih mengangahkan mulutnya menatap paha mulus istrinya yang masih terekspos jelas karena wanita itu tengah memakai piyama pendek berwarna abu- abu


"Ah, enggak. A- aku akan mandi." Aksa kelabakan, ia langsung masuk ke kamar mandi mencoba menenangkan adik kecilnya yang sempat berdiri tegak karena tergoda dengan Aza .


*****

__ADS_1


Aza mengotak- atik ponselnya berusaha menghilangkan kegelisahannya. Ia takut jika Aksa akan meminta haknya malam ini, ia benar- benar belum siap untuk itu.


Suara pintu ruang ganti yang terbuka membuat Aza kelabakan, wanita itu segera menyembunyikan tubuhnya di balik selimut tebal. Ia semakin takut tatkala mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Keringat bercucuran di keningnya, nafasnya tak teratur, ia takut jika Aksa melakukannya malam ini.


"Sudah tidur ternyata..." lirih Aksa. Ia merebahkan tubuhnya di samping wanita itu, ikut bergabung di selimut tebal yang tengah Aza pakai.


Aksa merasa jika Aza semakin menggeser tubuhnya ke pinggir menjauhi dirinya. Karena takut wanita itu terjatuh, ia pun menahan tubuh Aza dengan kakinya.


"Huhuhu, tolong lepaskan aku..."


"Loh, kamu belum tidur ternyata?" Aksa membalikkan tubuh Aza yang membelakangi dirinya, ia melihat wanita itu bercucuran keringat dan terlihat ketakutan.


"Kenapa, Za?" tanya Aksa panik.


"Aku..."


Aksa baru sadar jika wanita itu pasti ketakutan kalau dirinya benar- benar meminta haknya malam ini. Aksa tersenyum menatap wajah Aza yang ketakutan.


"Tenang saja, malam ini aku nggak akan belah duren kok."


Bisikan Aksa terasa menggelitik telinga Aza, rasanya lega tapi ia tetap takut karena yang ia tahu, lelaki sangat sulit mengendalikan nafsunya.


"Emm, maafkan aku ya. Aku belum siap untuk itu..." ucap Aza lirih dan malu- malu.


"Iya aku mengerti. Aku tak akan memaksamu menyerahkan secepatnya. Aku akan membuatmu jatuh cinta dulu denganku."


"Terima kasih..."


"Kalau kamu sudah siap, beri tahu aku," bisik Aksa terkekeh geli. Ia langsung mendapatkan pukulan dari istrinya.


"Ah, sudah! Aku akan tidur secepatnya." Aza membelakangi Aksa dan memejamkan matanya.


"Za, kalau peluk doang boleh nggak?" tanya Aksa berbisik. Wanita itu mengangguk malu, membuat Aksa senang kepalang.

__ADS_1


Aksa memeluk wanita yang membelakanginya, mengirup aroma sampo Aza, dan mengecup tengkuk Aza dari belakang. Wanita itu menggeliat, merasakan sensasi aneh saat ada benda kenyal menyentuh tengkuknya.


"Selamat malam istriku, tidur yang nyenyak..." ucap Aksa lembut dan terdengar tulus. Aza terpaku mendengarnya.


__ADS_2