My Presdir

My Presdir
Semakin Marah


__ADS_3

Udara dingin berhembus lirih. Embun semalam masih menghiasi dedaunan yang warnanya hijau membuat pandangan sejuk. Hawanya semakin dingin tatkala ada seorang wanita yang duduk di teras rumah menantikan seseorang.


Aza kembali sedih menatap siapakah wanita itu. Ia adalah wanita yang bersama suaminya semalam.


"Maaf, ada apa ya datang kemari pagi- pagi sekali?" tanya Aza menatap wanita itu dengan seksama.


Bella lantas beranjak dari duduknya kemudian tersenyum hangat menyambut Aza.


"Halo, perkenalkan, saya Bella." Bella mengulurkan tangannya bermaksud mengajak kenalan Aza. Tapi Aza tak membalas uluran tangannya.


"Saya bertanya tujuan Anda kemari, bukan bertanya nama Anda," ucap Aza ketus.


"Saya ingin memberikan dokumen penting untuk kelanjutan proyek. Apa Tuan Aksa berada di rumah?" tanya Bella, matanya celingukan menatap ke dalam rumah tapi Aza berusaha menghalanginya.


"Sepertinya suami saya sedang mandi, dan itu akan membutuhkan waktu yang lama. Lebih baik serahkan saja kepada saya, nanti akan saya sampaikan kepada suami saya." Aza menekankan kata Suami supaya Bella sadar jika Aksa itu telah berkeluarga dan supaya dia tahu batasannya untuk tidak berbuat seperti kemarin.


"Tapi ada hal penting juga yang harus dibicarakan."


"Apakah tidak bisa melalui email atau media sosial lainnya? Maaf, saya masih sibuk mengurus anak- anak," ucap Aza yang kemudian mengambil beberapa dokumen dari tangan Bella dan meninggalkan teras rumah. Ia menutup pintunya rapat- rapat supaya Bella tak menyelenong masuk dan segera pulang.


Bella pun tak bisa berkutik, ia terdiam menatap kepergian Aza. Menyesal dirinya sudah datang ke rumah Aksa. Harusnya bertemu dengan lelaki tampan itu tapi malah tak bisa. Jangankan bertemu, masuk ke dalam saja tidak boleh.


*****


Para keluarga telah berkumpul di ruang makan menyantap sarapan. Aza lalu bergabung dengan mereka. Ia menyodorkan berkas dari Bella tadi dengan kasar kepada suaminya hingga lelaki itu tersentak kaget.


"Pelan- pelan dong sayang..." ucap Aksa mengusap dadanya. Ia terkejut dengan kedatangan istrinya yang tiba- tiba.


"Aiden, Ailee, segera habiskan sarapannya ya jangan main game terus!"


"Iya, Mah..." sahut Aiden dan Ailee serempak. Tapi kedua anak itu masih saja asyik dengan game yang berada di iPad mereka tapi tetap mengunyah makanan. Aza semakin kesal melihatnya.


"Aiden! Ailee!" teriak Aza membuat Aiden dan Ailee terkejut hingga iPad yang tadinya dipegang erat oleh dua anak itu terjatuh.


"Mama bilang apa tadi? Habiskan makanannya dulu baru main game!"


"Kasih tahu pelan- pelan, Za! Jangan dibentak!"

__ADS_1


"Za, Aku tahu kamu tuh lagi kesal sama aku, tapi jangan bawa anak- anak! Mereka nggak salah!" Aksa berteriak membuat suasana semakin runyam. Hanya hal sepele tapi Aza sampai seperti itu.


Aiden dan Ailee sangat takut, mereka tak pernah melihat Papa dan Mamanya yang berteriak dan marah seperti itu. Keno dan Aira yang melihatnya segera menghentikan sarapan mereka dan langsung mengajak Aiden serta Ailee pergi dari sana.


"Ya! Aku memang salah! Salahkan saja terus! Aku hanya mengajarkan mereka etika saat makan," ucap Aza.


"Tapi kamu salah, tak seharusnya berbicara kasar seperti tadi! Lihatlah, mereka jadi ketakutan gara- gara kamu bentak!"


Aza enggan membalasnya, ia memilih diam dan membereskan bekas makanan Aiden dan Ailee.


"Aku tahu kamu masih marah sama aku. Dan harus berapa kali aku bilang sama kamu kalau aku itu nggak pernah berpaling. Aku nggak pernah mengkhianatimu!"


"Aku percaya sepenuhnya, tapi kepercayaan itu tiba- tiba lenyap tatkala aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan apa yang terjadi tadi? Dia datang pagi- pagi sekali hanya ingin memberikanmu ini!" Aza mengambil berkas tadi dan melemparkannya tepat di wajah suaminya.


"Dia tak hanya memberikan dokumen itu tapi juga ingin mencari celah supaya bisa bertemu denganmu! Itu terbukti saat aku menyuruhnya untuk pulang, dia enggan! Dia masih berusaha untuk masuk dan menemuimu!" ucap Aza dengan nada meninggi dan air matanya menetes seketika.


"Aku lelah harus berkata seperti apa supaya kamu percaya kalau aku dengannya itu tak ada apa- apa!"


"Kalau tak ada apa- apa kenapa dia kemarin mencium mu dan memelukmu erat, bermanja-" Ucapan Aza terpotong karena Aksa menamparnya dengan keras.


"Percaya atau tidak itu terserah! Yang penting aku sudah berkata jujur!" bentak Aksa yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Aza yang semakin terisak karena tamparan di pipinya.


"Hubby..." Aza mengusap air matanya dan berjalan mengikuti Aksa. Lelaki itu sepertinya benar- benar kecewa dengannya.


"Aiden, Ailee, ayo segera ke mobil. Kita berangkat sekarang ya..." ajak Aksa, ia kemudian menggendong Aiden dan Ailee yang masih terlihat takut.


"Pah, tunggu Mama sebentar. Mama lagi mengambil tas," ucap Ailee, ia belum mau masuk ke mobil karena Mamanya belum juga masuk.


"Ayo masuk, sayang..." pinta Aza kepada Ailee, ia kemudian duduk di belakang menemani dua anaknya.


*****


Mereka berempat sama- sama diam, tak ada yang berbicara sama seperti biasanya. Yang biasanya Aza duduk di depan menemani suaminya pun sekarang memilih duduk di belakang.


"Kalian kenapa diam? Takut ya sama Mama?" tanya Aza kepada Aiden dan Ailee yang sedari tadi menunduk.


Mereka menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.

__ADS_1


"Mama salah, maafin Mama ya. Mama janji nggak akan marah- marah lagi..." ucap Aza memeluk kedua anaknya.


"Mama nggak salah kok. Aku dan Ailee yang salah karena nggak dengerin ucapan Mama," ucap Aiden.


"Iya, Mah. Kita janji nggak akan main game lagi saat makan, Mama jangan marah- marah lagi ya," timpal Ailee.


"Iya sayang. Jangan takut ya." Aza mengecup kening anaknya secara bergantian.


"Sekarang turun yuk, udah sampai."


Aza kemudian menyuruh Aiden dan Ailee menggendong tas mereka sebelum turun dari mobil.


"Bye, Papah...Bye Mamah..." ucap Aiden dan Ailee yang kemudian berlari masuk ke sekolah. Sedangkan Aza kembali ke mobil, ia duduk di samping suaminya.


Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka hingga tiba di kantor. Yang biasanya berjalan bergandengan tangan pun saat itu mereka memilih berjalan sendiri- sendiri.


Sesampainya di ruangannya, Aksa langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa. Kepalanya terasa berat, banyak hal yang bersarang di sana.


"Sa, nanti kita datang satu jam sebelum rapat dimulai ya. Kamu sudah siapin semua dokumennya, kan?" seru Devano.


"Hm..."


"Kok nggak semangat gitu sih? Ini proyek besar loh, Sanjaya Group akan semakin maju jika mendapatkannya. Ayolah kenapa kamu malah lesu gitu..."


"Gara- gara proyek ini aku jadi berantem sama Aza!" Aksa bangkit dari sofa menuju ke kursi kerjanya. Segeralah ia menyalakan laptop, memastikan bahan presentasi nantinya sudah siap tak kurang apapun.


"Kok bisa sih? Gara- gara Bella?"


"Iya, tapi ya wajar sih kalau Aza marah. Bella juga bikin kesel! Tangannya gatel banget, peluk- peluk aku, mana Aza melihatnya lagi. Terus tadi pagi datang ke rumah bikin Aza makin marah!"


"Ngapain sampe dateng ke rumah?"


"Nih!" Aksa melemparkan dokumen yang diberikan Bella tadi tepat di hadapan Devano, sama seperti yang Aza lakukan kepadanya tadi.


"Lah, ini kan sama kaya yang kemarin. Kenapa dia ngasih lagi? Wahh, bener- bener nih si Bella cuma cari alesan doang buat bisa ketemu sama kamu." Devano menggelengkan kepalanya saat membuka dokumen itu. Ia tak habis pikir dengan si Bella. Wanita itu selalu saja jadi penggoda para rekan bisnisnya.


"Masa sama sih?" Aksa yang tak percaya pun langsung melihatnya sendiri. Dan benar saja, itu sama persis dengan dokumen kemarin.

__ADS_1


"Kurang ajar! Sialan banget tuh orang!"


"Udahlah biarin aja, toh sebentar lagi urusan kita dengannya udah selesai." Devano menepuk pundak Aksa meyakinkan jika semuanya akan kembali normal. Tak ada lagi Bella yang datang menemui dirinya hingga mencoba menggodanya.


__ADS_2