My Presdir

My Presdir
Perkelahian Wanita


__ADS_3

"Kau?"


"Aza..." Lirih wanita yang menabrak tadi, tak lain adalah Anandhi.


"Ayo ikut Mama, kita cari baju yang baru," ajak Anandhi.


"Tidak perlu, terima kasih!"


Aza hendak pergi dari sana, dadanya begitu sesak menatap Anandhi. Tapi Aksa menahannya supaya tak pergi.


"Hubby..." Aza menatap kesal kepada suaminya yang telah mencekalnya.


"Ikutlah, kamu nggak mungkin kan pakai baju kotor seperti ini?"


"Tapi, Hubby..."


Aksa meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Aza supaya wanita itu tak melanjutkan kalimatnya.


"Bukankah membantah perkataan suami itu dosa? Kamu sendiri yang bilang, kan? Tapi kenapa kamu mau membantahku?"


Anandhi menahan tawanya melihat ekspresi anaknya yang tak bisa berkutik setelah mendengar ucapan suaminya. Sebenarnya ini adalah ide Aksa supaya Anandhi dan Aza kembali dekat. Aksa sangat kasihan dengan Anandhi, maka dari itu ia memikirkan cara ini jauh- jauh hari.


"Baiklah..." jawab Aza lesu, ia kemudian mengikuti Anandhi menuju ke mobil. Matanya terus saja tertuju ke arah luar, enggan untuk menatap Anandhi.


Di dalam mobil, Anandhi terus saja mencoba Aza berbicara. Tapi, anak itu hanya menanggapi dengan anggukan atau gelengan kepala, tak ada sepatah kata yang terucap. Ini membuat hati Anandhi terluka, tapi tak apa. Masih ada berbagai cara untuk mendapat maaf dan supaya Aza bisa menerimanya. Anandhi pasti akan menaklukan hati Aza.


"Biar Mama memilihkan baju yang pantas untukmu, ya..." ucap Anandhi ketika mereka sudah sampai di butik.


"Tidak perlu, aku bisa memilihnya sendiri."


"Biar Mama saja, kamu duduklah di sana." Anandhi menunjuk sofa yang disediakan pemilik butik. Sedikit senang karena Aza mau menuruti apa permintaannya. Ia kemudian mencarikan baju yang biasa Aza pakai, simple dan yang terpenting adalah nyaman.


Tak hanya satu, tapi banyak baju yang sudah berada di tangannya. Ia kemudian menghampiri anaknya dan menyodorkan satu baju kepadanya. "Gantilah baju ini, Mama tunggu di sini."


Aza menarik baju yang berada di tangan Anandhi dengan kasar lalu menuju ke ruang ganti. Lagi- lagi Anandhi kembali menghela nafas kasar melihat kelakuan anaknya.


Baju yang dipilihkan Anandhi tadi sudah dibayar dan dikemas di dalam beberapa paper bag. Aza pun sudah selesai mengganti bajunya yang kotor tadi. Sebuah Halter dress berwarna soft pink telah membalut tubuh mungil Aza. Halter dress merupakan jenis dress wanita yang model tanpa lengan tetapi memiliki kerah yang melingkari leher. Aza nampak lebih cantik tatkala memakainya.


"Masukkan bajumu yang kotor ke sini, dan ini Mama juga membelikan beberapa baju untukmu. Semoga kamu suka ya." Anandhi menyodorkan paper bag kosong dan paper bag yang berisikan baju ke tangan Aza.


"Untuk apa Anda membelikannya? Aku kan bisa membelinya sendiri, uang dari suami aku juga bisa membelinya, bahkan butik ini pun bisa dibelinya," sahut Aza ketus.


Anandhi terkekeh melihat ekspresi anaknya, sangat menggemaskan. "Iya, Mama tahu. Kau ini kan istrinya Presdir. Tapi, Mama mohon jangan menolak pemberian Mama."


"Kalau gratis aku nggak akan nolak, makasih," ucap Aza malu- malu tapi tetap menunjukkan ekspresi kesalnya.


Aza dan Anandhi lalu meninggalkan butik itu. Suasana kembali hening, keduanya bingung hendak melakukan apa.


"Kita nongkrong di Cafe dulu ya, sudah lama nggak nongkrong sama kamu," ajak Anandhi. Ia kembali teringat dengan kedekatannya bersama Aza. Mereka selalu nongkrong di Cafe, berjalan- jalan menyusuri tempat- tempat yang mengasyikkan, dan masih banyak hal yang mereka lakukan. Tapi, semuanya terhenti tatkala Aza mengetahui suatu kebenarannya.


"Nggak bisa. Aku harus ikut meeting Aksa, dia pasti kewalahan karena asistennya sedang cuti," tolak Aza.


"Hanya sebentar saja, Aksa tak akan marah, sayang."


"Aku bilang tidak ya tidak." Aza berjalan lebih cepat meninggalkan Anandhi. Ia sangat tak suka jika dipaksa. Anandhi pun terbirit- birit mengikuti langkah Aza.


"Jangan terburu-buru, pelan- pelan saja." Anandhi terlihat kewalahan menyejajarkan langkah Aza. Mall kala itu sangat ramai, bahkan Anandhi sempat kehilangan Aza.


"Aza, tunggu Mama, Nak..."


"Aksa pasti sudah menungguku, ayo cepatlah!"


Anandhi melihat seseorang yang sangat mencurigakan dan sedari tadi mengikuti langkah mereka. Namun, ia kembali berfikir positif. Di keramaian seperti tak mungkin ada orang yang akan berbuat jahat.

__ADS_1


"Awww..." Pekik Aza ketika ada yang menarik rambutnya dari belakang.


"Heyy, lepaskan!" teriak Anandhi kepada wanita yang dianggap mencurigakan tadi.


Namun, wanita itu tak melepaskan tangannya dari Aza. Orang- orang di Mall itu mengerubungi mereka.


"Tania, tolong lepaskan. Ini sakith..."


"Lepaskan Nyonya muda kami! Atau akan ku patahkan tanganmu!" seru dua bodyguard yang sedari tadi mengikuti Tania. Mereka sedikit terlambat karena tadi sempat istirahat sejenak.


Tak ada yang bisa menghentikan Tania, wanita itu sudah seperti kerasukan setan saat melihat Aza. Ia seakan- akan ingin menghabisi Aza saat itu juga. Aza mencengkram tangan Tania dan menggigitnya kuat, hingga akhirnya Tania pun kesakitan dan melepaskan jambakannya.


"Dasar wanita setan!" Tania menampar Aza dengan sangat keras. Dua bodyguard itu pun langsung mencekalnya.


"Siapa yang setan? Sepertinya kau yang lebih pantas dibilang setan!"


"Kau telah merebut semuanya. Kau telah merebut Aksa dariku, dan gara- gara kau hidupku tak bisa bebas lagi! Aku kemana- mana selalu diikuti para cecunguk ini!"


Bodyguard yang kesal dibilang cecunguk pun melemparkan tubuh Tania hingga terhuyung ke lantai. Bisa- bisanya Tania mengatakan jika mereka itu cecunguk, sebenarnya Tania waras tidak sih?


Tania langsung berdiri dan menghajar Aza membabi buta. Aza yang tak mau kalah pun ikut berkelahi. Ia ikut menjambak dan mencakar Tania, kedua wanita itu sudah benar- benar kehilangan akal. Mereka tak bisa dipisahkan, baik Anandhi maupun dua bodyguard tadi.


Dan orang- orang yang mengerumuni mereka pun hanya bisa melihat dan mengarahkan ponsel mereka untuk mengambil gambar serta video dua wanita yang sedang berkelahi itu. Sangat seru, pikir mereka.


Aksa yang kala itu sedang meeting dan mendapatkan notifikasi dari instagram video viral pun langsung melihatnya. Betapa terkejutnya ia mendapati siaran langsung dari akun instagram itu. Siaran yang menunjukkan istrinya sedang berkelahi hebat dengan Tania.


"Pak Aksa..." seru client Aksa sembari melambaikan tangannya di wajah Aksa.


"Sebentar, Pak. Istri saya lagi berantem, ayo lihat dulu." Aksa memperlihatkan ponselnya supaya client tersebut juga bisa melihat adegan yang jarang sekali ditemukan.


Aksa terkagum- kagum dengan istrinya yang ternyata jago juga kalau berantem. Sudah berkali- kali Aza memenangkannya, ia sendiri juga tak tahu berapa ronde lagi yang masih akan berlangsung.


Intinya, dia dan client itu malah tak jadi meeting melainkan asyik menonton live streaming Aza dan Tania yang sedang berantem. Benar- benar mengagumkan!


*****


"Aza sayang, sudah, Nak!"


Bodyguard yang mencoba memisahkan kucing dan anjing itu pun malah tak bisa. Wanita yang sedang berantem ternyata lebih menyeramkan. Dua bodyguard itu malah menjadi sasaran Aza dan Tania.


Aza dan Tania berhenti sejenak untuk menghajar bodyguard itu. Mereka tak segan- segan menginjak telur dan sosis milik mereka hingga bodyguard itu pun tak bisa berbuat apa- apa lagi dan hanya bisa terbaring di lantai sembari memegang adik kecil mereka yang telah diinjak Aza serta Tania.


Aksa dan clientnya yang menyaksikan adegan injak telur dan sosis pun bergidik ngeri membayangkan jika mereka berada di posisi bodyguard itu. Wanita ternyata sangat menyeramkan.


"Gara- gara kau hidupku nggak bebas, dan aku akan membalaskan semuanya! Aku membencimu Azalea!"


"Kita bisa membicarakan ini baik- baik, aku bisa meminta papa dan suamiku untuk membebaskanmu. Bukan seperti ini caranya!"


Perkataan Aza ini tak diindahkan Tania, wanita itu terus saja mengajak Aza berkelahi.


Aza dan Tania masih meluapkan amarah mereka. Awalnya memang Aza tak mau menanggapi Tania, tapi wanita itu semakin kesal. Tak tahu apa- apa dan tak bersalah tapi tetap dibenci Tania.


Anandhi yang kala itu berusaha melepas mereka lagi malah terkena pukulan mereka dan akhirnya terhuyung ke lantai.


"Mama Anandhi!" jerit Aza dan langsung menghampirinya. Ia membantu Anandhi berdiri.


Dua bodyguard yang sudah merasa baikan dengan telur dan sosinya pun segera mencekal Tania. Ia menggendong wanita itu dan mengajaknya keluar dari Mall.


Penonton pun nampaknya sudah puas, hampir setengah jam menyaksikan adegan perkelahian wanita itu. Mereka pun bubaran, meskipun endingnya tak sesuai ekspekstasi mereka karena masing- masing sama kuatnya. Belum bisa dipastikan siapa pemenang di antara keduanya.


"Harusnya kau menjauh dariku dan Tania supaya tak ikut jadi sasaran!" Aza malah memarahi Mamanya. Tapi Anandhi senang, Aza mengkhawatirkannya.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."

__ADS_1


"Ah, sudahlah. Ayo pulang, aku ingin mandi secepatnya. Membuang bekas wanita menyebalkan itu."


Anandhi dan Aza pun meninggalkan Mall. Kulit Aza yang tadinya putih, sekarang jadi merah penuh dengan bekas cakaran. Rambutnya pun acak- acakan sudah seperti genderuwo. Anandhi menyuruh sopir pribadinya mengambil sisir dari dasboard mobilnya dan menyisir rambut Aza.


"Lain kali jangan berantem lagi, bicarakan sesuatu dengan kepala dingin. Mama tahu kamu nggak salah, tapi sudah seharusnya kamu tak ikut emosi seperti tadi," ujar Anandhi sembari menyisir dan merapikan rambut Aza.


"Iya!"


Anandhi bercerita panjang lebar dan menasihati anaknya karena kejadian tak terduga tadi. Aza terhenyak mendengarkannya. Dulu ia sangat menginginkan dimarahi tapi juga dinasehati oleh Mamanya, dan sekarang Aza merasakannya.


Tak terasa mobil Anandhi telah sampai di kediaman keluarga Sanjaya. Anandhi mengecup kening anaknya sebelum turun dari mobil.


"Nanti jika sudah mandi jangan lupa oleskan minyak zaitun di bekas cakarannya biar lekas pulih. Mama menyayangimu, jaga diri baik- baik. Sampai bertemu di lain hari," ucap Anandhi sebelum mobilnya pergi dari sana.


Aza jadi merasa bersalah, ia sudah melukai hati Anandhi dengan omongan dan kelakuannya yang kasar tapi Anandhi selalu menerimanya dan sabar menghadapinya. Haruskah Aza menerima Anandhi sebagai Mamanya? Anandhi terlalu baik, dan kejadian dulu yang Anandhi pergi meninggalkan papa dan dirinya itu bukan disengaja. Melainkan semuanya sudah berada pada garis takdir.


Aza dikejutkan dengan suaminya yang ternyata sudah berdiri di depan pintu rumah. Melipat tangannya di dada, menatap Aza dengan penuh tatapan selidik. Aza pun ikut melipat tangannya di dada dan menatap suaminya intens.


"Ternyata kamu jago juga ya kalau berantem," ucap Aksa.


"Siapa yang berantem? Kenapa kamu tiba- tiba ngomong gitu?"


Aksa kemudian menunjukkan video Aza yang tengah berkelahi. Aza pun terbelalak tak menyangka jika ada yang mengambil video, ia menscroll akun sosmed suaminya itu dan isinya adalah video perkelahiannya semua. Fix, Aza dan Tania jadu trending topik hari ini!


"Wahh, aku jadi famous nih! Ternyata lucu juga ya, pas aku berantem." Aza terkikik sendiri tatkala memutar videonya.


Mereka lalu menuju ke kamar dengan Aza yang masih mengamati ponsel suaminya.


"Hubby, bagaimana meeting tadi? Maaf ya, harusnya setelah ganti baju aku kembali ke sana."


"Aku undur, tadi kami malah asyik nonton live streaming perkelahian mu jadi ngga bahas pekerjaan deh."


"Dasar! Aku akan mandi dulu, Hubby. Badanku perih semua..."


Tanpa basa basi, Aksa melepaskan Halter dress yang Aza pakai. Ada beberapa bagian yang memar di tubuh wanita itu dan banyak sekali bekas cakaran.


"Maafkan aku ya, gara- gara aku jadi kaya gini." Aksa sudah memastikan jika kejadian seperti ini tak akan terulang lagi, ia sudah mengirim Tania ke negara lain supaya tak lagi mengusik hidupnya. Ia sendiri juga sudah bosan melihat ulah Tania yang tak ada lelahnya.


"Nggak masalah, aku mandi dulu, hubby...." Aza langsung berlari ke kamar mandi dan tak lupa mengunci pintunya. Aksa pun menggedornya, tapi tak kunjung dibukakan Aza.


"Za, bukain dong. Mau mandi juga nih..." rengek Aksa.


"Aduhhh, aku lagi berendam, Hubby. Nggak bisa buka pintunya," sahut Aza tergelak.


Aksa pun mendengus kesal, kunci cadangan entah di mana keberadaannya. Harinya terasa kurang karena tak bisa mandi bersama sang istri tercinta.


*****


Aza melamun sembari menyisir rambutnya yang basah, ia kembali teringat dengan Tania. Aza tak habis pikir kenapa wanita itu sangat membencinya, padahal kali pertama bertemu dengannya, Tania sangat baik tapi sekarang sudah seperti iblis.


Wanita itu lalu mengambil minyak zaitun dan cotton bud untuk mengobati bekas cakaran Tania. Sedikit kesusahan saat hendak mengoleskan minyak di belakang lehernya.


"Biar aku yang mengoleskannya." Aksa yang kala itu baru selesai mandi dan belum berganti baju melihat istrinya yang kesusahan pun menghampiri wanita itu.


"Pelan- pelan, Hubby!" gertak Aza karena Aksa mengoleskannya dengan kasar.


"Kenapa bisa separah ini?"


"Ya bisa dong! Kukunya mak lampir itu kan panjangnya lima sentimeter!"


Aksa lalu melihat kuku istrinya. Tak panjang, lalu bagaimana Aza tadi melawan Tania?


"Besok kamu harus panjangin kuku, Za! Pokoknya harus lebih panjang dari Tania, jangan sampai kalah. Aku juga akan mengajarkanmu berbagai jurus untuk mengalahkan nenek lampir itu!" Aksa berucap dengan sungguh- sungguh membuat Aza mengernyit menatap heran, lelaki itu benar- benar menyebalkan.

__ADS_1


__ADS_2