My Presdir

My Presdir
Pancake Gosong


__ADS_3

Aksa dan Aza masih tertidur nyenyak, hingga tak sadar jika mereka hampir melewatkan solat subuh karena waktu sekarang menunjukkan pukul setengah enam.


"Aksa, Aza... Kenapa belum bangun?" Aira menghampiri kamar anaknya karena Aksa dan Aza tak ikut solat subuh berjamaah tadi. Dan ternyata, pengantin baru itu masih tidur, dengan Aza yang melandaskan kepalanya dengan lengan Aksa dan Aksa memeluk wanita itu seakan tak ingin melepasnya.


Aira tersenyum menggelengkan kepalanya, sepertinya mereka masih teringin menikmati mimpi indah. Tapi, jika tidak dibangunkan mereka malah akan meninggalkan solat subuh.


"Ayo solat dulu, nanti kalian bisa melanjutkan tidur lagi," seru Aira sembari membelai kepala Aza dan Aksa secara bergantian.


"Aihh, Mama..." pekik Aksa. Ia segera bangun melepas pelukannya membuat Aza terbangun juga.


"Kenapa? Kalian capek ya gara- gara semalem?" goda Aira.


"Ah, Mama..." Aksa dan Aza tetap malu meskipun semalam tak terjadi apa- apa dengan mereka.


Aksa dan Aza segera turun pergi ke mushola kecil yang berada di bawah, sebelah ruang keluarga.


"Ehemm...ehem..." Suara deheman menghentikan langkah mereka. Pengantin baru itu segera menoleh kepada keluarganya yang tengah berkumpul di ruang keluarga setelah melaksanakan solat subuh.


"Kenapa sih, Opa, Oma berlipstick tebal?" tanya Aksa dengan malasnya.


"Bagaimana malam pertamamu?" tanya Maria.


"Berapa ronde semalam?" Mira ikut bertanya kepada cucunya.


Semuanya jadi ikut menatap Aksa dan Aza. Aksa hanya menggeleng, ia lalu mengajak istrinya segera mengambil air wudhu dan solat.


Aksa telah berganti baju koko, membalut tubuhnya dengan sarung dan peci di kepalanya. Aza terperangah melihatnya, ini pertama kalinya ia melihat suaminya berpakaian seperti itu.


"Sudah selesai memandangiku?" tanya Aksa.


Aza langsung menatap ke arah lain karena malu, ia segera memakai mukenanya dan berdiri di belakang suaminya yang sudah siap menjadi imam.


Mereka solat dengan khusuk, Aza tak menyangka jika suara Aksa begitu merdu tatkala melantunkan ayat- ayat Al- Qur'an.


Aksa berbalik setelah salam, mengulurkan tangannya bermaksud supaya Aza menciumnya. Aza pun mencium tangan Aksa, terasa geli dan menggelitik. Lalu, Aksa mencium kening Aza begitu lama.

__ADS_1


"Aku masih ngantuk, bolehkah aku tidur lagi?" tanya Aza yang kemudian diangguki Aksa.


Lelaki itu duduk beralaskan karpet tebal dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Menepuk pahanya menyuruh Aza untuk tidur di sana.


Aza yang masih memakai mukenanya pun mengiyakan, ia meletakkan kepalanya di paha sang suami. Aksa membelai kepala istrinya supaya lebih cepat tidur, dan tak lama kemudian nafas Aza pun mulai teratur pertanda wanita itu telah tertidur pulas.


Aksa juga masih merasakan kantuk, ia kembali terlelap bersama sang istri.


Para keluarga menyadari jika Aksa dan Aza belum keluar juga dari mushola, mereka pun segera menghampiri. Hanya bisa geleng- geleng, pengantin baru itu sangat menggemaskan.


"Aku kira mereka melakukannya lagi di sini, eh ternyata malah tidur," celetuk Bram.


"Aku tadi juga berpikiran gitu, kamu tahu sendiri kan kalau cucumu Aksa itu tak akan pernah puas," sahut Andi tergelak.


"Biarkan saja, sebaiknya kita keluar jangan mengganggu mereka," bisik Keno yang kemudian diangguki oleh semuanya.


*****


Aza terbangun tepat saat jarum jam menunjuk ke angka tujuh. Ia baru teringat jika tertidur di pangkuan Aksa. Wanita itu lalu bangun, terdiam sejenak mengamati wajah tampan suaminya, mengecup pipinya singkat. Entah apa yang membuatnya begitu, ia lalu pergi ke kamarnya takut Aksa terbangun.


Ia lalu berdiri dan masuk ke kamarnya. Terdengar suara gemercik air di kamar mandi, sepertinya istrinya itu sedang mandi. Ia pun kembali merebahkan tubuhnya di sofa, memainkan ponselnya. Dua hari ke depan ia tak akan pergi ke kantor, dan mungkin ini bisa berlanjut jika Aza mau diajak untuk berbulan madu.


"Kamu sudah bangun ternyata..." seru Aza mendekati Aksa yang sedang rebahan.


"Iya, sejak kamu mencium pipiku tadi," jawab Aksa dengan santainya.


Sontak, Aza langsung masuk ke ruang ganti. Ia benar- benar malu dengan suaminya, ia pikir Aksa masih tidur. Aza jadi tak berani keluar, ia membuka pintu sedikit dan mengintipnya. Aksa sudah tak ada di sofa, ia pun segera keluar.


"Huffttt, untung saja anak itu sudah mandi. Ah, sebaiknya aku pergi saja dari sini..." gumam Aza. Ia mengendap-endap keluar dari kamar. Tapi bingung hendak kemana. Lalu, ia melihat Aira sedang sibuk di dapur.


"Selamat pagi, Mah..." sapa Aza, ia masih canggung dengan Mama mertuanya itu.


"Selamat pagi, sayang. Bagaimana tidurmu? Apa Aksa tak membiarkanmu tidur nyenyak semalam?" tanya Aira menggoda menantunya itu.


Aza hanya diam tak menanggapinya, ia tak tahu harus menjawab apa. "Apa ada yang bisa Aza bantu?"

__ADS_1


"Kalau kamu mau, kamu bisa melanjutkan membuat pancake ini. Mama mau membuatkan nasi goreng untuk papa," ucap Aira.


Aza mengangguk, ia segera mengambil adonan dan menuangkan satu sendok takar adonan ke teflon. Meski tak pernah membuatnya, Aza tetap bisa melakukannya karena sempat melihat Aira tadi.


"Kamu di rumah juga sering masak, sayang?" tanya Aira.


"Hanya merebus mie instan dan goreng telur mata sapi saja, Mah. Aku nggak bisa masak," ucap Aza menggaryk tengkuknya yang tak gatal. Ia sungguh malu.


"Tak apa, nanti Mama akan mengajarimu sedikit demi sedikit." Aira mengerti menantunya itu, Aza tak bisa memasak karena tak ada yang mengajarinya dan pasti sibuk bekerja.


Aza tersenyum dan mengangguk. Ia melanjutkan membuat pancake hingga adonan habis. Menyusun lembar demi lembar ke atas piring.


"Za, nanti kamu tolong lelehin coklat buat saus pancakenya. Soalnya Aksa lebih suka jika saus coklat," ucap Aira.


"Baik, Mah..." Aza melakukan sesuai petunjuk Aira. Memotong- motong dark coklat dan melelehkannya. Setelah itu menuangkannya ke pancake yang tersusun rapi tadi. Memberinya dua lembar daun mint dan irisan strawberry sebagai topping.


"Tuh kan bisa. Besok Mama akan mengajari membuat adonannya sendiri, kamu harus belajar soalnya tiap pagi Aksa selalu sarapan pancake," seru Aira ketika melihat menantunya selesai membuat pancake.


Aksa sudah selesai mandi, ia segera turun dan pergi ke meja makan untuk menikmati sarapan. Ia melihat istrinya sedang membantu Mamanya memasak. Rasanya sungguh menyenangkan.


Semuanya telah berkumpul di meja makan, makanan pun sudah tersaji. Tinggal menunggu Aza dan Aira bergabung dengan yang lain.


Aza menyodorkan satu piring pancake buatannya tadi ke depan Aksa lalu duduk di kursi kosong sebelah suaminya itu.


"Za, bukannya kamu nggak bisa masak ya?" tanya Aksa berbisik.


"Bisa kok, itu pancake buatanku loh. Ayo makanlah," ucap Aza.


Aksa memandangi pancake itu secara intens. Tak ada yang mencurigakan di sana, tampilannya pun menarik dan menggugah selera. Tapi ia tidak yakin dengan rasanya, pasalnya ia tahu jika istrinya itu tak bisa memasak.


"Itu adonannya dibuatin Mama, jadi rasanya akan enak. Nggak perlu takut, makanlah."


Ucapan Aza membuat kelegaan pada Aksa, ia segera memotong dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Matanya terbelalak, rasanya pahit.


"Pahit, Za! Kamu kasih apa tadi?" Aksa langsung menyeruput susu di hadapannya.

__ADS_1


"Enggak aku tambahin apa- apa kok. Tadi pancakenya gosong, jadi ya wajar kalau pahit."


__ADS_2