
Setiap pulang sekolah, Aza selalu mengajak Aiden dan Ailee untuk ke kantor. Di sana telah disediakan ruangan bermain serta istirahat khusus untuk mereka. Letaknya di samping ruangan Aza dan Aksa.
Ruangan di desain sesuai dengan kesukaan anak kembar itu. Mainan, makanan, dan lainnya tersedia lengkap di sana. Aksa memang sengaja membuatkan tempat untuk mereka supaya lebih nyaman.
"Hubby..." sapa Aza memasuki ruangan Aksa.
Lelaki itu terlihat tengah memijat keningnya, terlihat lelah, sepertinya pekerjaannya begitu banyak dan cukup sulit.
"Iya, sayang? Ada apa?" Aksa melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman untuk istri tercinta.
"Sudah saatnya makan siang, anak- anak sudah menunggumu. Ehm, apa sedang ada masalah?"
"Hanya sedikit. Terjadi penggelapan dana di anak perusahaan yang berada di Singapore, tapi aku akan segera mengatasinya," jawab Aksa. Ia lalu menutup dokumen- dokumennya dan merangkul istrinya menuju ke ruang bermain Aiden dan Ailee.
Di sana juga dijadikan ruangan untuk istirahat Aksa ketika lelah bekerja. Terdapat satu kamar tidur dan kamar mandi.
"Halo, anak- anaknya Papa..." sapa Aksa, ia mengulurkan tangannya bersiap untuk menyambut kedua anaknya ke dalam pelukannya. Tapi, Aiden dan Ailee masih asyik dengan permen mereka.
"Halo, Papah..."
"Kalian nggak mau memeluk papa nih?" Aksa bepura- pura sedih karena anaknya tak menggubris kedatangannya.
"Tentu saja kami akan memeluk papa..."
Aiden dan Ailee lalu berlari menghampiri papanya yang sedari tadi masih berada di ambang pintu. Aksa pun gemas dibuatnya, ia menghujani wajah anak- anaknya dengan kecupan- kecupan.
"Ayo sayang kemarilah, makanannya sudah siap," seru Aza. Ia sudah duduk bersimpuh di atas karpet bulu dengan beberapa makanan di hadapannya. Sup ikan salmon, perkedel tahu, dan udang goreng tepung menjadi menu santap siang mereka.
"Mah...Ini enak sekali," celetuk Ailee dengan mulut penuh.
"Ailee, jangan berbicara ketika mulutmu penuh," nasihat Aiden yang diangguki Ailee.
"Kamu juga jangan berbicara kalau sedang makan," sahut Ailee menggelakkan tawa.
Usai makan, Aksa langsung kembali ke ruangannya. Sedangkan Aza masih harus menemani anak- anaknya supaya mereka tidur siang. Ada banyak hal yang harus diselesaikan Aksa. Meskipun lelah, ia tak pernah mengeluh sedikitpun. Aksa memiliki penyemangat, ia selalu mengerjakan apapun dengan senang hati.
__ADS_1
*****
Langit senja mulai menyapa, semburat warna jingganya masuk ke celah ventilasi ruangan. Para karyawan pun bergegas merapikan pekerjaan mereka dan segera bersiap pulang. Begitu juga dengan Aza dan Aksa. Mereka menghampiri anak- anaknya yang sepertinya masih asyik bermain.
"Ailee, di mana Kak Aiden? Kenapa kamu sendirian?" tanya Aza karena tak mendapati anak lelakinya.
Ailee asyik dengan mainan masak- masakan, ia mengarahkan tangannya menunjuk sang Kakak yang tengah berdiri menatap jendela melihat suasana kota yang indah dari ketinggian.
"Aiden, ayo pulang. Papa sudah menunggu kita," ajak Aza. Ia merapikan serta mengemas mainan Aiden dan Ailee sebelum meninggalkan ruangan itu.
Aza lalu menggenggam tangan kedua anaknya memasuki lift. Sarah juga berada di sana, wanita itu terlihat lelah dan sesekali mengusap perutnya yang buncit.
"Aunty kalau makan sama apa? Kenapa perutnya bisa besar?" tanya Ailee penasaran, anak itu menusuk- nusuk perut Sarah karena gemas.
"Eh, Ailee jangan ditusuk nanti dedek bayinya sakit," cegah Aza. Tapi Ailee tak mendengarkannya, ia malah semakin gemas. Anak itu menggelitik perut Sarah hingga membuat wanita itu tertawa terpingkal- pingkal.
"Aunty Sarah makan bayi?" Ailee tercengang, ia lalu mendongakkan kepalanya menatap perut Sarah dengan seksama.
"Ailee, kenapa kamu itu bodoh sekali. Aunty Sarah bukan memakannya tapi ia sedang mengandungnya. Sebentar lagi dedek bayinya akan keluar," ujar Aiden.
"Ohh, jadi dedek bayi itu berasal dari perut ya? Berarti Ailee dulu juga dari perut Mama?" Ailee menatap Mamanya yang sedang terkikik gemas.
Lift terbuka, tapi Ailee dan Aiden masih berdiam mengamati perut Sarah membuat wanita itu salah tingkah.
"Za, anak- anakmu kenapa nyeremin banget sih!"
"Aunty, kapan dedeknya keluar?" tanya Aiden dan Ailee serempak.
"Aiden...Ailee..." teriak Aksa, ia berada di depan loby dengan mobil kesayangannya.
"Ayo pulang..."
"Aku tunggu kabar darimu," ucap anak kembar itu menirukan Papanya. Aza dan Sarah pun menggelengkan kepala mereka, anak- anak itu benar- benar mewarisi sifat Aksa.
Aiden dan Ailee manatap Sarah sejenak sebelum menghampiri Papanya.
"Nyebelin amat tuh anak."
__ADS_1
"Namanya juga anak- anak, Sar," sahut Aza terkekeh. "Aku pulang dulu ya, tuh suami kamu udah nunggu," lanjutnya.
Faris, suami Sarah, sudah menunggu juga di depan loby. Mobilnya tepat di belakang mobil Aksa. Sarah pun mengangguk, ia lalu berjalan dengan hati- hati menghampiri suaminya.
Namun, kemalangan menghampirinya. Saat menuruni anak tangga, ia tergelincir karena lantai itu licin. Sarah pun jatuh terduduk dengan tangan yang mengusap perutnya dan ia meringis kesakitan.
"Sar..." Aza memekik, ia membantu Sarah untuk bangun. Aksa dan Faris pun dengan cepat menghampirinya.
"Sakit, Za..."
Aza sendiri panik tak karuan, terdapat bercak darah yang mengalir di kaki Sarah.
"Bertahanlah, aku akan segera membawamu ke rumah sakit," ucap Faris dengan nada yang sangat panik.
Aza pun berencana mengikuti mereka, tapi sebelumnya ia mengambil tas Sarah. Di sana terdapat minyak goreng yang tumpah sehingga membuat lantai licin. Ini sangatlah aneh, kenapa bisa ada minyak goreng di sana.
Aiden dan Ailee ikut ke rumah sakit, mereka juga takut jika Sarah kenapa- kenapa. Dua anak itu terus mendekap tubuh Papanya. Sedangkan Aza mengintip Sarah dari jendela kaca dan terus berdo'a supaya ibu dan bayi baik- baik saja.
"Semuanya akan baik- baik saja," ucap Aksa menepuk pundak Faris. Lelaki itu begitu menyayangi Sarah, oleh karenanya ia begitu sedih saat istrinya terpeleset tadi.
Tak lama kemudian perawat yang sedari tadi ikut menangani Sarah keluar dari ruang UGD. Ia mengatakan jika ibu dan bayi selamat, hanya terjadi pendarahan kecil saja. Tapi kalau sampai ia terlambat dibawa ke rumah sakit, mungkin bayi tak tertolong lagi. Sarah harus dirawat beberapa hari untuk memastikan bahwa janin baik- baik saja.
"Aunty?" seru Ailee menundukkan kepalanya tak berani menatap Sarah.
"Iya, Sayang? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Nanti tambah jelek loh." Mendengarnya, Ailee langsung menatap Sarah dan melototkan matanya tak terima dengan ucapan ibu hamil itu.
"Eh, maksudnya tambah cantik bukan jelek hehe..." ralat Sarah. Ia sedikit takut dengan anak- anak Aksa, takut jika mereka marah akan sama seperti Aksa atau bahkan melebihinya. Bukankah itu sangat mengerikan?
"Aunty, maafkan Ailee ya. Pasti gara- gara aku menusuk- nusuk perut Aunty tadi," ujar Ailee lirih di akhir kalimatnya. Ia memang tak tahu apa yang membuat Sarah kesakitan tadi karena dirinya sedang bersenda gurau dengan Kakak dan Papanya di mobil. Yang ia tahu hanyalah Sarah sudah berdarah dan panik tak karuan.
"Maafkan, Aiden juga ya, Aunty. Tapi ini tetap salahnya Ailee, kalau mau marah, marahi saja dia," timpal Aiden.
"Huahahahahhaa..." Sarah terpingkal-pingkal dibuatnya. Sejenak wanita itu melupakan rasa sakitnya melihat wajah Aiden dan Ailee yang sangat lucu saat ketakutan.
"Sayang, kalau ketawa jangan lebar- lebar. Nanti kemasukan cicak," celetuk Faris menghentikan istrinya yang sedang tertawa.
"Bukan hanya cicak, tapi juga kadal, buaya, komodo," tambah Aksa.
__ADS_1
"Ya ampun Pak Presdir bisa aja, tapi bener juga sih." Faris pun lantas tertawa sedangkan Sarah langsung mencubitnya karena kesal sudah ditertawakan suaminya sendiri.
Dirasa semuanya membaik, Aksa dan sekeluarga pun pamit pulang. Hari ini cukup melelahkan, mereka tiba di rumah pukul tujuh malam. Aiden dan Ailee langsung terlelap.