
Layaknya hobby baru bagi sang Presdir, Aksa selalu enggan untuk bangun dan malah asyik bermain dengan perut istrinya. Diciumi, diusap, dan sesekali mendengarkan perut istrinya.
"Hubby, sudah."
"Biarkan aku bermain dengan anakku sebentar."
"Hubby..." pekik Aza saat tangan suaminya mulai menelusup ke bajunya mencari sesuatu.
"Apa sayang?" Aksa terkekeh melihat Aza menggelinjang karena geli terhadap sentuhannya.
"Bersiaplah untuk pergi treatment. Nanti kalau sampai telat lagi, dokter bisa memarahimu."
"Hm, sepertinya hari ini adalah treatment terakhir. Kakiku sudah membaik, sudah bisa berjalan meskipun pelan dan tak bisa lama."
"Apa ku bilang? Kamu pasti akan sembuh, kelumpuhan ini hanya sementara saja," ujar Aza sembari membelai wajah suaminya yang terlihat ceria. Aksa senang karena dirinya tak bergantung kursi roda lagi.
"Iya, ini juga berkatmu. Terima kasih bersedia merawatku."
"Sama- sama, Papa..."
*****
Dokter pun tak kalah senangnya dengan Aksa. Awalnya dokter tak begitu yakin jika Aksa akan kembali normal lagi, tapi semangat yang dimiliki Aksa sangatlah besar hingga menjadikannya pulih lagi. Dokter memperkirakan jika treatment akan dilakukan lebih dari tiga bulan, tapi nyatanya belum sampai tiga bulan Aksa sudah bisa berjalan meskipun belum terlalu lancar.
"Bagaimana? Bukankah ini akan menjadi treatment yang terakhir? Lihat, aku sudah bisa berjalan," seru Aksa sembari melangkahkan kakinya menunjukkan bahwa dia benar- benar bisa berjalan.
"Itu benar, tapi coba kalau Anda berlari," tantang Dokter Bryan. Ia memang sengaja berkata seperti itu.
"Apakah sudah bisa Tuan Aksa?" tanya Dokter Bryan sembari mengerlingkan matanya.
"Dan itu berarti Anda masih harus menjalani beberapa kali treatment lagi," timpal Suster sembari terkekeh. Dokter dan Suster jenuh dengan Aksa yang selalu meminta untuk mengakhiri treatment, padahal masih diperlukan beberapa kali treatment lagi supaya benar- benar normal seperti sedia kala.
"Bagaimana kalau nggak usah dilanjutkan, aku bisa berlatih sendiri," rengek Aksa. Ia bosan jika harus bolak- balik ke rumah sakit.
"Hufftt, baiklah- baiklah. Tapi berjanjilah untuk melakukan gerakan- gerakan yang sudah saya ajarkan, Tuan. Dan Anda harus tetap berkonsultasi kepada Saya jika terjadi sesuatu." Dan akhirnya Dokter Bryan pun mengiyakan permintaan Aksa meskipun dirinya masih khawatir dengannya.
"Siap! Terima kasih banyak dokter, maaf ya kalau selama ini saya menjengkelken," seru Aksa sembari merangkul Dokter Bryan dan mengajaknya keluar dari ruang treatment.
"Iya, terima kasih juga ya. Gara- gara Anda rambut saja botak!" Dokter Bryan lalu membuka bucket hat yang ia gunakan untuk menutup kebotakannya. Selama treatment, Aksa selalu menjadikan kepala Dokter itu sebagai sasaran amukan kesakitannya.
"Hehe, nanti saya kasih uang buat ke salon!"
Aza yang kala itu tengah duduk di kursi tunggu pun langsung berdiri melihat suaminya keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Sudah selesai, Hubby?"
"Sudah dong. Besok kita sudah enggak ke rumah sakit lagi. Aku sudah nggak perlu treatment lagi."
"Kamu pasti memaksa Dokter Bryan, kan?" tanya Aza menyelidik.
Dokter Bryan hampir mengangguk namun Aksa segera melototinya supaya tak berkata sesuatu yang aneh.
"Hubby, kalau masih diperlukan treatment lagi jalani saja supaya kakimu benar- benar pulih total."
"Treatment bisa dilakukan di rumah, Nona. Tuan Aksa tak perlu ke rumah sakit lagi, tapi kalau ada apa- apa segera hubungi saya, ya," ujar Dokter Bryan.
"Tuh dengerin kata dokter!" Aksa pun segera berpamitan dan mengajak istrinya pulang.
"Hati- hati di jalan, jangan kebanyakan gaya dulu Pak Presdir!" teriak Suster dan Dokter saat Aksa mulai melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit. Mereka cukup senang akhirnya pasien menyebalkan itu tak akan datang lagi besok.
"Dia sangat sombong ya!"
"Iya, Dok. Aku juga terheran- heran sama dia."
*****
Bukan Aksa namanya jika tak pecicilan, baru saja sembuh tapi lelaki itu sudah banyak gaya. Berjalan ke sana kemari memperlihatkan pada dunia jika kakinya sudah pulih. Senang sekali rasanya bisa berjalan seperti biasa.
"Enggak, aku cuma mau ngasih tahu ke kamu kalau aku sudah pulih. Lihat nih kakiku..." Aksa lalu menghentakkan satu kakinya dan bergaya bak model yang tak laku, wkwk.
"Dah tau!" Devano yang kesal dengan kesombongan Aksa pun langsung melemparkan sebuah bantal sofa tepat di wajah Aksa.
"Sombong amat!"
"Hey! Kamu berani sama aku? Nggak aku kasih hadiah pernikahan baru tau kamu!" ucap Aksa sembari merapikan rambutnya yang berantakan.
"Hehehe, aku mana berani. Ehm, oh ya, kamu memangnya mau memberiku hadiah apa? Mobil? Rumah? Tiket honeymoon ke luar negeri?" tanya Devano tak sabaran. Ia sangat senang dengan Aksa, karena Aksa termasuk royal orangnya. Ia tak tanggung- tanggung jika memberikan hadiah.
"Hadiah kentut!" Aksa pun mendekatkan pantatnya tepat di hadapan Devano, iya pun menyemburkan gas dengan bau tak sedap.
"Sialan!" Devano menutup hidungnya karena bau kentut Aksa sangatlah luar biasa, bersyukur dirinya tak sampai pingsan. Aksa terkekeh gemas dan langsung berlari keluar ruangannya sebelum sepatu Devano melayang ke pantatnya.
Aksa lalu menemui istrinya yang berada di ruang divisi keuangan. Aza selalu ikut dengan Aksa, wanita itu sedih sekali karena tak diperbolehkan bekerja lagi. Dan setiap ikut ke kantor bersama suaminya, ia selalu menuju ke ruang kerjanya dulu, memperhatikan teman- temannya bekerja.
"Sar, biar aku yang ngerjain ya?" tawar Aza kepada Sarah. Ia sangat rindu dengan pekerjaannya, berulang kali ia meminta pekerjaan dari Sarah tapi Aksa selalu saja mengetahuinya dan akhirnya tak memperbolehkan.
"Aku sih boleh- boleh aja, Za. Tapi kalau Pak Presdir tahu bisa digantung aku," jawab Sarah berbisik.
__ADS_1
"Sepertinya suamiku sedang sibuk, ayolah berikan pekerjaanmu padaku. Kamu tidur saja."
Sarah pun nampak berpikir, ia sangat takut dengan Aksa tapi melihat Aza yang terus merengek pun ia juga kesal. Sarah akhirnya mengiyakan, ia lalu berdiri dan menyuruh Aza duduk di tempatnya.
"Ehem..." Aksa berdehem dan memasuki ruangan. Aza dan Sarah langsung membeku di tempatnya, belum sempat berganti posisi tapi Aksa datang seperti jailangkung.
"Hehe, Halo Hubby. Kenapa kamu di sini? Ehm, memangnya kamu nggak sibuk ya?" Aza berusaha bersikap biasa, ia mengusap perutnya yang buncit supaya meredamkan rasa takutnya. Ia cukup takut dengan suaminya, pasalnya kemarin- kemarin Aksa marah besar saat mengetahuinya dirinya menggantikan Sarah bekerja.
"Selamat siang, Pak Presdir," sapa Sarah yang tak digubris Aksa. Lelaki itu langsung menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya keluar.
"Ke ruanganku saja, bahaya kalau di sini terus!"
"Iya, Hubby..." Aza menurut seperti anak kecil yang dinasehati sang ayah.
*****
Setelah selesai makan siang, Aksa mengajak sang istri untuk memeriksakan kandungan. Mereka jarang sekali memeriksakannya secara langsung, akan tetapi mereka selalu berkonsultasi melalui sosial media kepada dokter kandungan kepercayaan mereka. Untuk jenis kelaminnya pun mereka belum tahu dan berniat untuk tidak mengetahuinya dulu supaya menjadi surprise di hari kelahiran nantinya.
Usia kandungan Aza menginjak lima bulan, perutnya sangat besar sekali layaknya hamil enam bulan. Sepertinya bayi mereka sangatlah sehat.
"Hubby, aku mau itu..." ucap Aza menunjuk penjual es krim yang berada di kantin rumah sakit.
"Nanti kalau sudah selesai periksa aku belikan, kasihan keluarga yang lain sudah menunggu kita," jawab Aksa. Ia lalu mengajak istrinya untuk melanjutkan berjalan menuju ke poli kandungan menemui Dokter Afifah.
Mendengar perkataan Aksa kemarin jika akan memeriksa kandungan Aza, para keluarga pun antusias ikut menemani Aza dan Aksa. Mereka tak sabar melihat perkembangan penerus Keluarga Sanjaya.
"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Oma Maria, suaranya terdengar melengking menyakitkan telinga Aksa.
"Kami kan sudah tak sabar mau melihat kondisi cucu kami," timpal Oma Mira, wanita lanjut usia itu mengusap perut Aza dengan lembut. Ia begitu menantikan kelahiran cucu buyutnya.
"Mah, sudah jangan berdebat. Ayo langsung masuk saja," ajak Keno kepada semuanya.
Dokter Afifah dan asistennya pun terkejut mendapati rombongan keluarga itu. Ruangannya terasa penuh.
"Siapa yang akan diperiksa?" tanya Dokter Afifah celingukan mencari Aza tapi tak juga menemukannya.
"Tentu saja istriku," jawab Aksa yang kemudian menoleh ke samping mencari istrinya.
"Loh, di mana Aza?"
"Ayihh, di mana cucu menantuku."
"Azaaa..."
__ADS_1
Semuanya pun kebingungan karena tak mendapati Asa bersama mereka, padahal tadi saat mau masuk Aza masih bersama mereka. Semua ponsel pun menyala menghubungi nomor Aza, tapi tak ada sahutan dari wanita hamil itu.