My Presdir

My Presdir
Food Truck


__ADS_3

Menjelang siang itu, Aksa terasa sangat kesal. Wajahnya merah padam saat mendapati siapakah si pelempar telur. Farel, ya lelaki itulah yang melempari telur pada dirinya dan Aza. Ia tahu betul jika ini adalah kelakuan Tania, pasti wanita itu telah menyuruh sang adik melakukan hal itu. Aksa mengenal Farel, dia tak mungkin jika melakukannya.


"Aku yakin kalau Farel disuruh sama Tania. Anak itu ternyata nggak ada kapok- kapoknya ya jadi orang," celetuk Devano.


"Kita selesaiin nanti. Kejutan buat Aza udah selesai belum?"


"Udah, mungkin bentar lagi dateng."


Aksa mengangguk. Pikirannya berkecamuk, sedih dan senang bercampur menjadi satu. Hari ini adalah hari ulang tahun istrinya, ia harus terlihat senang meskipun ada banyak hal di kepalanya.


*****


Aza terlihat sebal hari ini, bagaimana tidak, suaminya, Sarah, Devano, dan Clara tak ada yang mau mengajaknya berbicara. Ia menyapa pun tak ada sahutan dari mereka. Sarah pun lebih parah, ia duduk di samping Aza tapi tak ada obrolan seperti hari biasanya. Entahlah, mungkin Aksa yang memprovokasi mereka supaya ikut marah dengannya.


"Sar, kenapa sih dari tadi diemin aku?" tanya Aza menyenggol lengan Sarah. Tapi wanita itu tak bergeming dan terus tertuju pada layar komputer.


"Ah, kenapa sih semua orang diemin aku!" Aza lalu bangkit dan beranjak menuju pantry untuk membuat cokelat panas supaya dirinya lebih tenang. Jujur saja, ia tak pernah didiamkan orang seperti ini sebelumnya.


"Siang, Pak Kis," sapa Aza setelah dirinya sampai di pantry.


"Siang, Nak Aza. Ada yang bisa Pak Kis bantu?"


Aza bersyukur sekali, masih ada orang di kantor ini yang mau berbicara dengannya.


"Tak perlu, Pak. Saya bisa membuatnya sendiri."


"Kalau begitu saya izin ke bawah dulu ya, Nak. Pekerjaan masih banyak," pamit Pak Kis.


"Iya, Pak. Semangat kerjanya."


Segeralah ia menyeduh cokelat bubuk yang diberi gula sedikit supaya tak terlalu manis. Mengaduknya sejenak supaya cokelat dan gula larut bersama air panas. Mencicipnya, masih kurang manis atau sudah pas.


Aza lalu beranjak pergi dari sana. Tapi, pintu ternyata tak bisa dibuka. Ia pun panik dibuatnya, memutar- mutar knop pintu tapi tak bisa juga.


"Pak Kis, kenapa pintunya terkunci?" Aza berteriak dan menggedor- gedor pintu berharap ada orang yang mendengarnya.


Ia hendak menghubungi Aksa, tapi sayang dirinya tadi tak membawa handphone. Aza pun berkeliling mencari celah supaya bisa keluar dari sana sembari tetap membawa mug berisi cokelat panasnya tadi.


"Ahh! Kenapa nggak bisa dibuka sih!"


Ia mencoba membuka jendela, tapi tak bisa juga. Tiba- tiba terdengar suara pintu terbuka, Aza segera berlari menuju pintu. Tak ada orang tapi pintu terbuka sendiri, padahal tadi ia tak bisa membukanya. Ia menjadi merinding, segeralah Aza kembali ke ruangannya.


"Loh, kok nggak ada orang sih? Emang udah istirahat ya?"


Aza terheran- heran mendapati ruangannya yang kosong, ia pun mengamati jam dinding yang masih menunjukkan pukul sebelas. Itu berarti belum waktunya istirahat, tetapi kenapa sudah tak ada orang di sana.


"Kenapa hari ini aneh banget sih?" Aza terus saja bertanya seperti orang bodoh, ia segera mengambil ponsel dan menuju ke ruangan suaminya.


"Hubby, memangnya hari ini istirahatnya lebih awal ya?" tanya Aza memasuki ruangan Aksa. Tapi di sana pun sama tak ada orang.


"Hubby, kamu di mana?"


"Kenapa semuanya menghilang?"


Aza menyusuri ruangan suaminya, kamar istirahat, serta kamar mandi pun tak ada. Ia semakin merinding dibuatnya, apalagi semalam Aza baru saja menonton film horor di mana semua teman kantornya menghilang satu persatu dimakan hantu.


"Hubby, kamu di mana?" Aza mencoba menghubungi suaminya, tapi nomornya tak aktif. Sarah, Devano, dan Clara pun sama.

__ADS_1


Ia pun memilih untuk pergi ke lantai bawah, saat di dalam lift ia semakin merinding karena teringat hantu yang berada di film semalam. Karena merasa ada sesuatu di belakangnya, ia pun menoleh. Dan...Ada bayangan kuntilanak di sana. Jantungnya semakin berdetak tak karuan, ia merapalkan ayat kursi supaya bayangan hantu itu cepat hilang dari pandangannya.


"Ya Tuhan, kenapa dia belum pergi juga..." lirih Aza ketika sudah selesai membacakan ayat kursi tapi bayangan kuntilanak masih ada di sana. Lift telah terhenti, tapi tak langsung terbuka seperti biasanya.


"Ahhh! Kenapa liftnya ikutan rusak gini sihh..."


Aza semakin merinding, ia masih berdiri kaku di dalam lift bersama bayangan kuntilanak. Aza menjerit tak karuan saat suara kuntilanak menggema di dalam lift.


Hihihi


"Hubby..."


"Hubby, tolong aku!"


"Hikss...hiks...Mbak kunti jangan ganggu aku. Mba kunti lebih cantik kok dari aku, jadi jangan iri huu...huu...huu..."


Aza terduduk lemas, sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan karena tak mau melihat kuntilanak lagi. Wanita itu kembali menekan- nekan tombol lift, tak lama kemudian lift pun bisa terbuka. Ia bernafas lega. Tapi ini sangatlah aneh!


Segeralah wanita itu berlari terbirit- birit keluar dari kantor yang ternyata sangat menyeramkan itu. Lagi- lagi ia menemukan kejanggalan, di lantai bawah tak ada siapapun juga. Dua resepsionis yang biasanya berada di sana pun tak ada. Ia berjalan dengan tetap mencoba menghubungi seseorang.


"Surprise !!!"


Ia pun terkejut saat mendapati karyawan dan teman- temannya berada di halaman depan kantor. Berjejer rapi dengan Clara, Devano, Sarah, dan Suaminya membawa kue di tangan mereka dan berdiri di deretan paling depan.


Aza tersedu- sedu melihatnya, ia sudah panik tak karuan hingga tubuhnya lemas. Aza lupa jika ini adalah hari ulang tahunnya. Ah, semuanya sangat menyebalkan!


"Hubby, hikss...hiks...hiksss..." Aza terduduk di lantai menangis sekencang-kencangnya. Ia masih takut akan kejadian tadi.


Aksa terkekeh dan menghampirinya, ini merupakan idenya. Dan sedari tadi, Aksa melihat istrinya yang ketakutan melalui kamera CCTV. Kasihan, tapi itu sangat seru, pikir Aksa.


"Heyy, ayo bangun. Kenapa malah menangis!"


"Kamu hampir membuatku mati dalam ketakutan, Hubby huu...huu...huuu..."


Aksa terkikik, ia mendekap tubuh istrinya dengan erat. Wanita itu bergetar, masih merasakan takut. Ya bagaimana tidak, kantor yang begitu besar tapi tak ada satu orang pun di dalamnya.


Hari ini, hari yang kau tunggu


Bertambah satu tahun, usiamu,


Bahagialah slalu


Yang kuberi, bukan jam dan cincin


Bukan seikat bunga, atau puisi,


Juga kalung hati


Maaf, bukannya pelit,


Atau nggak mau bermodal dikit


Yang ingin aku, beri padamu


Do'a s'tulus hati ...


Smoga Tuhan, melindungi kamu

__ADS_1


Serta tercapai semua angan dan cita citamu


Mudah mudahan diberi umur panjang


Sehat selama lamanya.


Suara lagu Selamat Ulang tahun- Jamrud itu terdengar, para sahabatnya dengan riang melantunkannya begitu pula dengan sang suami.


"Kalian semua jahat!" Aza berdiri dan mencubit Clara, Sarah, dan Devano secara bergantian.


"Puas kalian ngerjain aku? Puas diemin aku dari tadi pagi?" seru Aza berkacak pinggang menatap ketiga orang yang malah tertawa terpingkal- pingkal.


"Belum puas sih, Za. Harusnya sampai sore, tapi berhubung kita kasihan jadi sampe siang aja deh," jawab Clara terkekeh.


"Eh, gimana tadi ketemu sama Mbak Kunti ya?" goda Sarah.


"Itu pasti akal- akalan kamu kan! Dasar sahabat lucknut!" Aza kembali mencubit Sarah.


"Sudah- sudah, mending kamu tiup lilinnya. Kita pegel nih, dari tadi pegang kuenya," celetuk Devano.


Mereka pun kembali menyanyikan lagu untuk Aza, wanita itu meniup lilin di masing- masing kue yang dibawa tiga sahabatnya. Yang terakhir adalah kue milik suaminya. Red velvet, dengan hiasan foto- foto lucu Aza dengan lilin yang sangat banyak mengitari kue itu.


"Hubby, kenapa lilinnya susah ditiup..." Aza lelah sudah hampir lima menit mencoba meniup lilin itu tapi tak mati juga. Aksa, Devano, Sarah, dan Clara tertawa terpingkal- pingkal.


"Ini kan lilin ajaib."


"Pak Presdir! Kita udah boleh makan belum nih?" seru para karyawan yang sedari tadi menyaksikan adegan menyenangkan itu.


"Iya silakan!" sahut Aksa.


Lelaki itu sengaja memesan tiga puluh food truck dengan makanan yang bervariasi sebagai syukuran ulang tahun sang istri tercinta. Food truck itu berjajar rapi memenuhi halaman depan Sanjaya Group. Semuanya lantas berhambur menghampiri food truck dan memilih makanan yang mereka inginkan.


"Hubby, kenapa kamu memanggil food truck sebanyak ini?"


"Sengaja, kamu suka? Aku nggak tahu harus bagaimana, yang aku tahu kamu kan suka jajan jadi aku pesen food truck deh."


"Terima kasih, Hubby. Aku benar- benar lupa kalau hari ini hari ulang tahunku," lirih Aza yang langsung berhambur memeluk suaminya.


"Kita nggak dipeluk juga nih?" tanya Sarah. Aza lalu memeluknya erat, begitu juga dengan Clara.


"Kok aku enggak?" Devano merajuk, dirinya tak ada yang memeluk sama sekali. Clara, Sarah, dan Aza langsung melepas pelukan mereka menatap Devano lalu menertawakannya.


"Sini aku peluk, Sayang..."


Devano langsung sumringah tatkala kekasihnya langsung memeluknya erat.


"Mulai deh ah!" cetus Sarah. "Udah ah, daripada aku jadi obat nyamuk kalian mending aku cari makan dulu. Papayyy..." tambah wanita berkacamata itu dan langsung pergi menyusuri food truck yang lucu dan dikerubungi banyak karyawan.


"Hubby, ayo kita cari makan juga," ajak Aza yang kemudian diangguki Aksa. Lelaki itu segera meletakkan kue yang dibawanya tadi dan mengikuti langkah istrinya.


Aza senang sekali saat berkeliling melihat food truck yang banyak sekali. Tempat itu juga ada hiasan ulang tahun, seperti balon, pita, dan ucapan- ucapan. Sangat meriah, apalagi satu kantor itu yang merayakannya.


"Hubby, lain kali jangan bikin pesta seperti ini. Mengeluarkan banyak uang, itu nggak bagus!"


"Nggak penting berapa uangnya. Yang penting kamu seneng."


Tetap saja Aza tak suka dengan pesta seperti ini, mengeluarkan banyak uang. Lebih baik disumbangkan ke panti asuhan.

__ADS_1


Kebab, hot dog, burger, waffle, ice cake, corn dog, dan lain sebagainya telah berada di tangan Aza dan Aksa. Mereka lalu duduk di kursi yang telah disiapkan sebelumnya. Kursi dan meja kecil berwarna- warni sengaja disiapkan untuk menikmati santap siang. Sanjaya Group sudah seperti sedang mengadakan festival besar- besaran.


__ADS_2