
"Jangan menatapku atau aku akan memotong gaji kalian bulan ini!" seru Aksa ketika karyawan yang sedang berada di sana menatap dirinya dan Aza. Sontak, ini membuat Aza tertawa terbahak- bahak mendengarnya. Aksa memang sudah gila, pikirnya.
"Kamu itu kan cuma office boy, kenapa bisa memotong gaji mereka? Kamu emang nggak waras ya." Aza terus saja meledek Aksa.
Aksa hanya diam tak menanggapinya, perutnya sudah meronta- ronta untuk diisi makanan. Ia segera menyantap bakso milik Aza membuat wanita itu semakin kesal dengannya.
"Ini baksomu, Sa!" seru Devano menyodorkan bakso ke depan Aksa.
"Tuh Baksomu sudah datang, kembalikan bakso milikku!" Aza menggeser mangkok baksonya dan Aksa juga ikut menggesernya. Mereka terus saja berebut mangkok bakso hingga bakso tumpah membasahi meja kantin.
"Tuh kan jadi tumpah, Za." Aksa mengambil tisu di hadapadannya dan membersihkan kuah bakso yang tumpah.
"Za, kamu kok gitu sih sama Pak Presdir, nggak punya sopan santun sama sekali," ucap Sarah berbisik.
"Presdir apaan sih, Sar? Kalau Pak Devano ini ya aku percaya kalau dia presdir, tapi kalau si anak tengil ini? Dihhh, nggak mungkin kalau dia itu Presdir di sini." Aza terus saja mengelak dan tak percaya jika Aksa adalah Presdirnya.
Devano yang mendengar perkataan Aza pun tertawa terpingkal- pingkal. Aza memang benar, Aksa memang tak pantas disebut Presdir jika dilihat dari penampilannya. Berbeda dengan dirinya, yang selalu berpakaian formal dan patut jika disebut Presdir.
"Tapi dia tuh emang Presdir di Sanjaya Group, Za," ucap Devano tergelak.
"Halah, kalian itu sama gilanya." Aza masih tak percaya, dia kembali menyantap bakso miliknya. Matanya pun terbelalak ketika menyadari jika sendok dan garpu yang ia gunakan bekas Aksa.
"Cieee, berarti itu secara nggak langsung kita ciuman loh," celetuk Aksa membuat Aza merona.
"Ah, sepertinya kalian sudah mulai ada rasa nih," goda Devano.
"Maaf ya Pak Devano, kalau ngomong itu disaring dulu ya jangan ceplas-ceplos." Aza sudah tak nafsu lagi untuk makan, ia langsung berdiri dan pergi meninggalkan kantin.
"Zaa, tunggu..." seru Sarah yang tak digubris oleh Aza.
"Hehe, maaf ya Pak Presdir, Pak Devano, temen saya itu emang somplak sedikit. Saya permisi dulu...." Sarah berpamitan terlebih dahulu sebelum mengejar Aza.
Karena kemampuannya berlari, akhirnya Sarah bisa mengejar Aza. Ia terus saja melayangkan berbagai pertanyaan kepada wanita itu. Kenapa dirinya bisa bersikap begitu dengan Aksa dan kenapa bisa seberani itu. Aza pun menceritakan awal pertemuan mereka yang tak sengaja itu.
__ADS_1
"Oh jadi gitu, tapi kamu harus percaya kalau Pak Aksa itu Presdir kita. Kamu harus mulai menjaga sikapmu dengannya, jangan menyesal loh, Za."
"Udahlah, jangan bahas cowok sinting itu lagi. Dia itu ngeselin, pengen aku hihhhhh." Aza meninju telapak tangannya sendiri sembari membayangkan jika tangan itu adalah Aksa.
*****
Detik demi detik telah terlewati, jam telah menunjukkan pukul empat sore. Dimana sudah saatnya para karyawan kembali ke rumah masing-masing. Aza segera membereskan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang. Hari pertama bekerja cukup melelahkan, tapi karena ia menyukai bidang yang ia geluti ini, Aza tetap menikmatinya.
"Za, kamu mau bareng aku nggak? Aku kan pulangnya ngelewatin daerah rumah kamu," tawar Sarah.
"Kalau gratisan mah aku nggak bakal nolak, Sar," jawab Aza terkekeh. Ia dengan senang hati menerima tawaran Sarah. Lumayan, ngirit lima ribu karena tidak harus naik angkot, pikir Aza.
Motor matic berwarna hitam milik Sarah pun sudah menghampiri Aza yang kala itu menunggu di depan pos satpam. Ia segera membonceng Sarah. Baru saja mau menjalankan motornya, ada suara klakson mobil Aksa yang memekakkan telinga mereka. Kaca mobil terbuka dan menampakkan sosok yang selalu membuat Aza kesal.
"Turun nggak!" perintah Aksa, namun Aza acuh dan menyuruh Sarah supaya cepat melajukan motornya.
Aksa pun mengikuti Aza dan Sarah dari belakang dan tak henti- hentinya membunyikan klakson mobilnya. Ia tak habis pikir dengan Aza, bisa- bisanya wanita itu naik notor tapi tak memakai helm.
"Azaaaa..."
"Heyy kamu! Tepikan motormu atau kamu memilih untuk dipecat dari kantor?" seru Aksa kepada Sarah.
Sarah jadi tak fokus melajukan motornya, ia bingung antara mengikuti perintah Aza yang lanjut terus atau Aksa yang berhenti. Dan akhirnya dia pun berhenti di tepi jalan dan segera menyuruh Aza turun.
"Aku takut dipecat, Za. Aku duluan ya..." ucap Sarah sebelum pergi meninggalkan Aza di pinggir jalan.
"Sarah tungguuuuuu..." Aza berteriak tapi Sarah semakin melajukan motornya kencang. Aksa segera turun dari mobil dan menghampiri wanita itu.
"Puas membuatku khawatir?!" bentakan Aksa membuat Aza terhenyak. Aksa sendiri juga tak tahu kenapa bisa begitu mengkhawatirkan Aza.
"Kamu mengkhawatirkanku?" pertanyaan Aza membuat Aksa salah tingkah, ia segera membukakan pintu mobil dan menyuruh wanita itu masuk. Tak lupa memasangkan seatbeltnya.
Sampai mobil Aksa terparkir mulus di depan rumah kontrakan Aza, mereka berdua diam membisu tak ada sepatah kata yang terlontar. Semuanya kalut dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Terima kasih, berhati- hatilah saat pulang nanti," ucap Aza sebelum turun dari mobil. Aksa mengangguk, ia belum beranjak pergi karena ingin memastikan wanita itu benar- benar memasuki rumahnya.
*****
Malam semakin larut, orang- orang pun telah bergegas menjemput mimpi mereka. Aksa masih duduk manis di balkon kamarnya. Menyangga dagunya, menengadah ke atas menatap langit yang kala itu hanya ada beberapa bintang. Melamun dengan musik dari ponsel yang menjadi temannya.
Aza, wanita yang terus saja terngiang di kepalanya. Ia tak bisa berhenti memikirkannya. Wajah polos tanpa polesan make up selalu terbayang-bayang.
"Arghhh, kenapa mikirin cewek itu terus sih." Aksa mengacak- acak rambutnya mencoba menghilangkan bayangan Aza.
Tiba- tiba, ada seseorang menutup kedua matanya dari belakang. Aksa tampak semakin kesal mengetahui siapakah pemilik tangan itu.
"Jangan bertingkah seperti anak kecil!" seru Aksa dan langsung menepis kedua tangan itu.
"Ah, honey, aku itu kangen banget sama kamu..." ucap Tania dengan manjanya. Wanita yang selama dua tahun belakangan ini menemani lelaki itu. Saling mengenal sejak kecil karena kedua orang tua mereka bersahabat.
Merasakan nyaman, tapi tak pernah merasakan jika dirinya mencintai wanita itu. Status Aksa memanglah pacar Tania, tapi lelaki itu selalu menganggap kalau mereka tak pernah pacaran melainkan hanya sebatas kakak dan adik.
"Honey, kamu kenapa di sini? Dingin loh, ayo masuk ke dalam saja," ajak Tania. Wanita itu memeluk Aksa dari belakang. Tania adalah mahasiswi kedokteran di salah satu kampus negeri Indonesia, yang akan mengikuti jejak Papanya untuk mengurus rumah sakit Sanjaya.
"Bagaimana kuliahmu hari ini?" Aksa selalu menanyakan hal itu pada Tania.
"Sama seperti biasanya, menyenangkan. Aku jadi nggak sabar pengen cepet lulus dan ngurus rumah sakit Sanjaya sama seperti Papa."
"Kalau kamu sendiri bagaimana? Jadi seorang Presdir apakah menyenangkan?" tanya Tania.
"Nggak terlalu. Kamu tahu sendiri bukan kalau aku itu sebenarnya nggak suka dunia bisnis."
Mereka berbincang- bincang seperti biasanya. Obrolan tak pernah putus, keduanya memang suka bertukar cerita.
"Honey, kapan kamu akan menikahiku? Papa selalu menanyakan itu padaku."
"Aku nggak pernah mikir sampai ke sana. Kamu kan masih kuliah, dan aku juga masih melanjutkan S2. Jangan menanyakan hal itu lagi." Aksa tak habis pikir dengan wanita di sampingnya itu. Dia berumur satu tahun lebih muda dari Aksa, tapi kenapa dirinya sudah berpikiran untuk menikah. Apa dia tidak memikirkan pendidikan dan masa depannya nanti?
__ADS_1
Aksa saja jika diperbolehkan akan menyelesaikan S2 nya terlebih dahulu baru menikahi Aza. Tapi Mamanya sudah tak sabar dan berharap dia menikahi Aza secepatnya, mau tak mau ya dia harus menurut.