My Presdir

My Presdir
Langit Senja


__ADS_3

Sore telah menyapa, dua insan itu telah bersiap untuk menuju ke Pantai Kuta. Menikmati matahari yang akan kembali ke peraduannya.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, pasangan muda itu akhirnya sampai di pantai. Pantai berpasir putih yang cukup ramai pengunjung.


"Hubby, ayo!" Aza sudah tak sabar, ia pun menarik suaminya yang tengah menyimpan kunci mobil di tasnya.


"Nggak sabaran banget sih." Aksa gemas dengan istrinya.


Berjalan berdua menyusuri tumpukan pasir pantai yang berdesir. Bergandengan tangan, menatap ke arah laut, senyum selalu tersungging. Ombak tergulung menari- nari dan bersiap menjemput pasir putih yang telah lama menunggu di tepian. Burung- burung berterbangan di atas air, bermaksud menggoda ikan yang bersembunyi di dasar. Semilir angin pantai membuat baju mereka terombang- ambing.


"Ahhh...Hubby..." teriak Aza tatkala Aksa memercikkan air ke wajahnya.


"Hubby, jangan lari!" Wanita itu mengejar sang suami yang telah berlari meninggalkannya.


"Ayo kejar aku, sayang..." Aksa tertawa lepas dan berlari kecil. Lelaki itu tertawa puas, ia terus saja menggoda istrinya yang tengah berusaha mengejar dan menangkap dirinya.


"Hubby, aku lelah!" seru Aza, ia berhenti mengejar suaminya.


Aksa pun langsung berbalik menghampiri istrinya. Tersenyum manis tatkala melihat istrinya sedikit merajuk.



"Ah, payah! Begitu saja sudah lelah," ucap Aksa meledek istrinya. Ia berdiri di samping wanita itu. Merapikan rambut Aza yang diterpa angin.


"Aku menangkapmu, Hubby. Ye-ye-ye!" Aza memeluk Aksa dan menggelitikinya.


"Kamu ngerjain aku rupanya. Huh, menyebalkan sekali..."


Aksa ikut membalas gelitikan Aza. Ia memeluk erat dan memainkan jarinya di perut istrinya. Tawa renyah terdengar memekakkan telinga. Mereka sama- sama tertawa bahagia.


"Ahh, Hubby...."


"Salah sendiri ngerjain aku!" Aksa semakin gencar menggelitiki tubuh istrinya.


"Hentikan, Hubby..."


"Nggak mau..."


Dirasa istri kecilnya itu mulai lelah, ia pun menghentikan aksinya. Kembali memeluk tubuhnya dari belakang, dan menyandarkan kepala Aza di dada bidangnya.


"Aku nggak pernah sebahagia ini, Hubby. Terima kasih..." ucap Aza mengecup pipi Aksa.


"Aku juga nggak pernah merasakan bahagia seperti ini, terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku. Aku menyayangimu, bidadari pemilik hatiku." Aksa mengecupi semua bagian wajah Aza.


Mereka benar- benar merasakan bahagia yang sangatlah luar biasa, sama- sama berdo'a semoga kebahagiaan ini tak cepat berlalu. Berharap semoga hanya maut yang mampu memisahkan keduanya.

__ADS_1


Aza tiba- tiba saja termenung, air matanya menetes seketika tatkala memandang air pantai itu. Ia menekuk lututnya dan menangis.


"Aza, hey, kamu kenapa kok malah nangis?"


"Hubby, aku kangen papa. Sebulan sekali aku selalu ke pantai dengannya. Kami selalu bermain di pantai, meluapkan keluh kesah. Mencoba untuk tetap bahagia meskipun dalam kondisi yang sulit," ucap Aza tersedu- sedu.


Aksa hanya bisa mengusap punggung istrinya, membiarkannya menangis sejenak mengeluarkan sesak yang teramat.


"Papa sudah tenang di sana. Tuhan mengirimkanku untuk menggantikan beliau, aku yang akan menjagamu, aku akan menggantikannya," ucap Aksa.


Aza terdiam mencoba menyudahi tangis. Papanya, lelaki yang sangat ia cintai dan juga sayangi pergi meninggalkannya. Lalu, kemudian Reyfan datang tapi juga ikut pergi tanpa sepatah kata terucap.


Kemudian Tuhan mengirimkan Aksa, orang yang kini sangat Aza cintai. Orang yang sangat baik, bertanggung jawab, perhatian, dan penuh kasih sayang. Aksa sama dengan sang Papa, Aza sangatlah bersyukur Tuhan mengirimkannya dan menjadikannya teman untuk hidupnya.


"Hubby, terima kasih telah hadir dalam hidupku. Aku beruntung sekali memilikimu, aku mencintaimu, Hubby. Jangan pernah meninggalkanku..." Aza memeluk erat suaminya seakan tak mau lepas, ia tak mau kehilangan orang yang ia sayangi lagi.


"Aku juga beruntung memilikimu, awalnya duniaku, hidupku sangatlah monoton tak berwarna sedikitpun. Tapi setelah kamu datang, semuanya berubah. Penuh warna dan sangat berarti, ceriamu, tawamu, candamu, semuanya aku suka."


"Ah, sudahlah. Kenapa jadi melow gini!" Aksa mengusap air mata yang masih membasahi pipi Aza. Lalu mengecupnya, mengisyaratkan semua akan baik- baik saja meskipun papanya telah tiada.


Aza berdiri menatap laut lepas, ia berusaha menghadirkan senyum seperti biasanya.


"Pahhhhh..." Aza kemudian berteriak, supaya dirinya lega.


"Apa Papa ikut bahagia di sana?"


"Aza telah menemukan lelaki seperti Papa. Dia sangat baik, dia bertanggung jawab, dia selalu membuat Aza bahagia. Papa tak perlu mengkhawatirkanku lagi," tambah Aza. Ia menyeka air matanya dan berbalik menghampiri suaminya.


"Hubby, ayo berkeliling lagi." Aza bangkit dari duduknya dan menarik tangan Aksa.


"Naik ke punggungku, aku akan menggendongmu menyusuri bibir pantai."


Aksa berjongkok dan Aza pun naik ke punggung lelaki itu, mengalungkan lengannya di leher Aksa dan menyandarkan kepalanya di pundak. Sesekali mengecup pipi Aksa dan membisikkan celotehan- celotehan yang mampu membuat lelaki itu tertawa bahagia.


"Ahh Hubby, jangan berlari aku takut jatuh..." pekik Aza saat Aksa tak lagi berjalan pelan melainkan berlari dengan kencang.


"Pegangan yang erat, jangan sampai lepas!" jawab Aksa dengan tawanya.


"Hubby, turunkan aku!"


"Nggak mau!" Aksa malah semakin cepat berlari. Berlarian ke sana kemari membuat para pengunjung geleng- geleng manatapnya.


"Hubby..." Aza mencubit suaminya berkali- kali tapi lelaki itu tak mau turun juga.


"Pelan- pelan saja!"

__ADS_1


"Nggak seru kalau pelan."


Aksa pun berhenti, mengajak istrinya untuk duduk di atas tikar yang telah terbentang, menunggu senja yang akan segera menyapa.


"Nakal!" Aza mencubit perut Aksa.


"Aww, nggak sakit. Lagi dong!" goda Aksa dengan mengerlingkan matanya.


Senja mulai menyapa. Jingganya sinar matahari membentang luas mengukir langit. Awan bergelantungan di langit berwarna jingga, ombak juga berwarna jingga, tubuh mereka pun ikut berwarna jingga karena sinar yang telah dipancarkan matahari.


Keduanya menyaksikan cakrawala yang indah dengan seksama. Tak hanya mereka, para pengunjung pun sama. Mendekat ke tepi pantai supaya lebih jelas menyaksikan indahnya matahari yang tenggelam.


"Senja sangat indah, pantainya juga indah. Tapi, orang yang tengah berada di sampingku jauh lebih indah," celetuk Aksa membuat Aza menoleh ke arahnya.



"Jangan menggodaku terus, Hubby. Nanti aku semakin jatuh dalam bara cintamu."


Aksa tersenyum manis dan merangkul istrinya yang tengah terbuai akan kata- katanya tadi.


"Senja itu lambang kesetiaan," tutur Aksa.


Aza menoleh kepada suaminya, berharap lelaki itu memberikan penjelasan kepadanya.


"Matahari yang berkelana sejauh manapun pasti akan kembali ke peraduannya, bukankah itu setia? Dan pantai lah yang menjadi saksi tak ada yang berkhianat dan tersakiti atas kesetiaan sang mentari," ujar Aksa.


"Dan pantai akan menjadi saksi kisah kita yang sangat indah layaknya senja di penghujung hari," sahut Aza.


Aksa mengangguk, "Sejauh manapun aku pergi, aku selalu mengingat kalau kamu adalah tempatku untuk pulang. Kuharap kamu juga begitu denganku," ujarnya.


"Tentu! Biarkan pantai dan senja yang menjadi saksi kalau kita saling mencintai."


"Aku sangat mencintaimu." Satu kecupan mendarat di kening wanita itu.


"Aku lebih mencintaimu, Hubby."


"Eh, kita kok jadi romantis gini sih."


Aza pun tersadar, "Aku juga nggak tahu, Hubby."


Mereka pun tertawa.


Cahaya kemerahan hampir redup ditelan kegelapan. Matahari telah sampai di tempat peraduannya. Orang- orang yang tadi menyaksikannya pun segera berhambur pergi. Senja telah usai. Langit begitu egois, ia hanya menghadirkan senja sekejap lalu membawanya pulang kembali.


"Senja, kamu sangat indah. Waktuku denganmu telah habis, terima kasih telah menemani sore kami," teriak Aza ke laut lepas.

__ADS_1


"Besok kami akan datang lagi menemuimu. Jangan pernah bosan dengan kedatangan kami," sahut Aksa ikut berteriak juga.


__ADS_2