
Anak kecil itu mulai mengerjapkan matanya, terasa ada sesuatu yang menindihnya ia pun menoleh. Ternyata ada Mamanya yang masih terlelap di sampingnya. Ternyata sang papa juga berada di sana, ia begitu senang ternyata tidurnya ditemani kedua orangtuanya.
Aiden tersenyum tipis membelai wajah sang mama yang sangat meneduhkan, berbeda dengan saat menatap saudara kembarnya.
"Euhmm..." Aza menggeliat dan mau membuka matanya. Aiden kembali menutup matanya, ia merutuki dirinya sendiri karena telah membangunkan sang Mama.
"Kamu mau tidur lagi, sayang?" tanya Aza terkikik geli melihat anaknya yang tadi sudah bangun tapi malah berpura- pura tidur.
"Maafkan aku, Mah. Aku nggak bermaksud membangunkan Mama," lirih Aiden, ia membuka matanya menatap mamanya.
"Enggak kok, memang sudah saatnya Mama bangun. Ehm, ini baru jam setengah empat sayang, kenapa sudah bangun?"
"Engga tahu."
"Tidurlah lagi, sayang. Nanti kalau sudah saatnya solat subuh mama akan membangunkanmu."
"Kenapa mama dan papa tidur di sini?" tanya Aiden dengan suara berbisik takut Aksa dan Ailee terbangun.
"Memangnya kenapa? Nggak boleh ya?" Aza membelai kepala anaknya dan mendaratkan sebuah kecupan di sana.
"Tentu saja boleh, aku malah senang. Mama dan Papa tidur di sini saja terus."
"Boleh, tapi janji ya jangan nakal- nakal lagi kalau kau Mama sama Papa tidur di sini terus."
"Siap Mamaku sayang..." Aiden menangkup pipi Mamanya dan memberinya kecupan bertubi- tubi.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, dan anehnya Aksa sudah siap dengan setelan jas rapi. Padahal lelaki itu biasanya baru selesai bersiap saat waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, itupun hanya memakai baju santai.
"Baru jam enam, kok sudah rapi?" tanya Aza. Ia tadi sudah menyiapkan kaos serta celana santai seperti biasanya, tapi suaminya ternyata memilih memakai kemeja dan berbalut jas.
"Ehm, aku ada meeting mendadak pagi ini. Nanti suruh Pak Aryo mengantarkanmu dan anak- anak ke sekolah ya," ujar Aksa.
__ADS_1
"Baiklah, Hubby. Sebaiknya kamu sarapan dulu."
"Aku akan sarapan nanti, jangan khawatir." Aksa mengecup kening istrinya dan mengulurkan tangannya untuk dicium Aza sebelum dirinya pergi.
"Hati- hati, Hubby..."
Aza lalu menghampiri anak- anak untuk memastikan mereka mandi dengan benar. Ternyata dua anaknya sudah selesai mandi, tapi mereka belum memakai baju. Aiden dan Ailee masih berbalut handuk, mereka asyik bermain iPad.
"Kalian bisa memainkannya lagi setelah memakai baju, Okay?" Aza merebut iPad, Aiden dan Ailee pun langsung beranjak memakai seragam karena ingin cepat- cepat memainkan game lagi.
"Mah, aku sudah selesai," seru Aiden, ia lalu menengadahkan tangannya bermaksud meminta iPadnya kembali.
"Aku juga sudah, Mama..."
"Ehm, tapi kalian belum memakai sepatu. Mama tunggu di bawah ya, sayang..." Aza lalu berlari meninggalkan kamar Aiden dan Ailee, tak lupa membawa iPadnya. Jika tidak begitu, anak- anak itu tak akan selesai bersiap.
Ini adalah pertama kalinya sarapan tanpa Aksa. Lelaki itu tak pernah meninggalkan sarapannya meskipun ia harus pergi pagi- pagi sekali, tapi kali ini Aksa enggan untuk sarapan terlebih dahulu.
"Di mana suamimu?" tanya Aira, ia heran tak mendapati anaknya yang biasanya sudah bergelayut manja bersama Aza.
"Mamah..." teriak Aiden dan Ailee menuruni tangga sembari berlari kecil.
"Pelan- pelan saja, nanti kalian bisa jatuh loh," seru Keno. Ia menghadang kedua cucunya, lalu menggendongnya ke meja makan.
"Wahh, kalian sudah besar yah. Sebentar lagi Opa nggak kuat nih gendong kalian." Keno sedikit kewalahan saat menggendong Aiden dan Ailee yang cukup berat.
"Bukan Aiden dan Ailee yang berat, Opa saja yang sudah tua jadi nggak kuat deh gendong mereka," sahut Aira terkekeh.
"Oma pandai sekali hihi," ucap Aiden dan Ailee serempak sembari menutup mulutnya karena menahan tawa.
*****
Kafe itu terlihat sepi, baru saja dibuka. Pengunjung pun belum terlihat. Hanya ada karyawan yang sibuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan, menata meja dan kursi, dan ada juga yang membersihkan tempatnya.
__ADS_1
Secangkir kopi telah berada di depannya, sesekali ia teguk. Matanya terus tertuju pada jam tangan yang tersemat indah di pergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan semalam. Tapi, orang yang membuat janji belum terlihat.
"Halo, Tuan Aksa..." seru seorang wanita mengejutkan Aksa. Wanita itu memeluk Aksa dari belakang, tangannya pun tak segan- segan membelai pipi mulus Aksa.
"Tolong jangan keterlaluan!" gertak Aksa, tapi tak membuat wanita itu takut.
"Hufftt, baiklah- baiklah..." Wanita yang bernama Bella itu pun segera duduk di kursi yang berhadapan dengan Aksa.
"Bagaimana, apa Anda sudah menyusun rencana untuk mendapatkan kerjasama dengan Vincent Group?" tanya Aksa tertuju pada topik mereka.
Aksa risih menatap Bella yang kala itu memakai baju ketat dan rok span pendek hanya setengah pahanya saja. Beda jauh dengan istrinya yang selalu berpakaian sopan namun tetap terlihat anggun.
"Silakan baca dulu, Tuan Aksa. Aku yakin kalau ideku ini pasti akan membuat Vincent Group takluk dan mau bekerjasama dengan perusahaan kita," ucap Bella dengan manjanya menyodorkan berkas ke tangan Aksa.
Bella adalah presdir perempuan di Ganesha Group yang hendak bekerja sama dengan Sanjaya Group untuk menaklukan Vincent Group. Vincent group sendiri merupakan perusahaan yang kuasanya berada tiga tingkat lebih tinggi dari perusahaan Aksa. Jika Aksa dan Bella dapat membuat Vincent Group bekerjasama dengan perusahaan mereka, maka sudah dapat dipastikan jika perusahaan akan semakin berkembang pesat.
"Boleh, aku akan mempelajarinya lagi nanti. Aku harus kembali ke kantor," seru Aksa. Ia pun langsung bangkit dari duduknya diikuti Bella.
"Hey, kopimu belum habis. Ayo habiskan dulu, sekalian sarapan juga."
"Lepas tanganmu atau kupotong?" Aksa jengkel karena tangan Bella terus bergerilya di tubuhnya.
Aza dan anak- anak tak sengaja melihat Aksa, kafe yang dijadikan tempat pertemuan memang dilewati saat mau ke sekolah Aiden dan Ailee. Hati Aza seakan tertusuk melihat sang suami yang digelayuti perempuan lain.
"Mah, itu bukannya Papa ya? Kok sama Tante jelek peluk- pelukan sih?" tanya Ailee, ia dan saudara kembarnya terus menatap Aksa dan perempuan itu dari jendela mobil.
"Aku harus menghentikan tante itu!" Aiden menurunkan jendela mobil dan berteriak menyuruh Pak Aryo untuk berhenti sejenak.
"Lanjut saja, Pak!" Aza lalu menutup jendelanya dan menyuruh anak- anaknya untuk kembali duduk manis.
"Itu temannya Papa, jangan ganggu papa ya. Papa lagi kerja sayang, okay?"
"Tapi, Mah..."
__ADS_1
"Aiden, Ailee, jangan dibahas lagi ya. Kalau kalian nggak percaya sama Mama, nanti bisa tanya sendiri sama Papa kalau udah pulang sekolah."
"Iya, Mah."