My Presdir

My Presdir
Kolam Renang


__ADS_3

Sesampainya di restoran tempat Aza bekerja, Aza langsung turun dari mobil Aksa tanpa mengucap terima kasih atau berpamitan dengan lelaki itu. Tapi Aksa memakluminya, ia ikut turun mengikuti Aza dari belakang.


"Azaaaaa..." teriak Zoya, sahabat Aza. Ia memeluk Aza dengan erat. Aza pun menyambutnya.


"Kamu yang sabar ya, kamu kuat, kamu bisa ngejalanin semua ini. Aku tetep ada buat kamu. Nanti pasti ada ganti yang lebih baik dari Reyfan," ucap Zoya dalam pelukan Aza. Ia menitikkan air matanya, membuat Aza ingin menangis lagi.


"Makasih, kamu emang yang terbaik." Mereka langsung masuk ke dapur dan bersiap menyiapkan makanan untuk para pelanggan.


Aksa duduk di salah satu meja pojok restoran itu dan tak lupa memesan makanan. Ia bermaksud untuk menunggu Aza sampai pulang bekerja. Aksa juga bertanya- tanya kepada teman pelayan Aza yang lain tentang wanita itu, berapa gaji yang didapat, bagaimana kesehariannya, dan masih banyak lagi tentunya. Entah ada angin apa Aksa teringin sekali untuk mengetahui latar belakang Aza lebih dalam lagi.


Aksa sedikit terkejut ketika mengetahui berapa gaji Aza, hanya satu juta lima ratus ribu saja. Bagaimana wanita itu bisa menghidupi dirinya selama satu bulan dengan uang itu? Sedangkan, ia harus menyisihkan uang kontrakan sebanyak tujuh ratus ribu per bulannya. Dan sisanya untuk makan, apa cukup dengan uang segitu untuk satu bulan? Aksa benar- benar tak habis pikir dengan kehidupan Aza yang malang dan memilukan.


Aksa terus saja mengamati bagaimana Aza bekerja, ia begitu semangat dan tampil ceria padahal dirinya baru saja dirundung duka yang teramat. Aksa kagum dengan wanita itu.


"Silakan!" ucap Aza menyodorkan pesanan ke depan Aksa. Aza tetap berusaha melayani pelanggan walaupun dengan bantuan satu tongkat untuk menopang tubuhnya.


"Duduklah." Aksa menyuruh Aza untuk duduk di depannya, tapi wanita itu tampak kebingungan dan tak tahu kenapa tiba- tiba Aksa menyuruhnya untuk duduk.


"Kamu belum makan, kan? Ayo makan bersamaku, aku sengaja memesan makanan banyak untukmu juga," ucap Aksa sembari mengunyah makanan.


"Nggak perlu, aku akan makan bersama temanku saja. Di sini sudah disiapkan makanan untuk para pelayan." Aza berbalik dan hendak kembali ke tempatnya, namun dengan cepat Aksa menarik tangannya dan mendudukkan Aza di kursi kosong depannya.


"Makan yang banyak, jangan membantah! Jangan sampai tubuhmu terlihat kurus saat pernikahan kita nanti!" ucap Aksa membuat Aza membelalakkan matanya.


"Apa maksudmu pernikahan kita? Dasar nggak waras ya kamu tuh!" ucap Aza dengan nada meninggi.


Telinga Aksa sedikit sakit mendengar suara Aza, ia segera membungkam mulut Aza dengan begitu banyak makanan. "Jangan banyak bicara atau aku akan membuatmu nggak bisa bicara selamanya!"


Aza terus saja mengumpat dalam hatinya, ia menghabiskan makanan yang ada di depannya karena dirinya memang lapar. Toh, lumayan ini kan gratis, pikir Aza.

__ADS_1


"Sudah selesai, aku akan kembali ke belakang. Pulanglah, jangan mengikutiku lagi." Aza berdiri dan meninggalkan Aksa.


"Heyyy, kamu belum bayar ini," teriak Aksa membuat Aza berhenti dan menoleh ke arahnya. Ia menatap Aksa dengan tatapan membunuh.


Aksa menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan meringis, "Aku bercanda hehe..."


Ada rasa tak tega sebenarnya melihat Aza yang kakinya sedang sakit tapi tetap bekerja, tapi mau bagaimana lagi, wanita itu tak bisa diberi tahu.


Waktu menunjukkan pukul empat sore, Aksa mulai bosan menunggu Aza. Ia pun memilih untuk pulang terlebih dahulu dan akan kembali malam harinya. Karena Aza baru selesai malam hari nanti.


Sesampainya di rumah, seperti biasa Aksa mencari Mamanya terlebih dahulu. Ia langsung menuju ke kolam renang karena biasanya Aira selalu menghabiskan sore di sana. Dan benar saja, Aira tengah memainkan ponsel di pinggir kolam renang dengan kakinya yang ia ceburkan ke air.


Aksa langsung menghampirinya dan duduk di samping wanita yang ia sebut Mama itu. Aksa ikut menceburkan kakinya seperti Aira. Lelaki itu memeluk mamanya dengan manja dan mengecup pipi Aira. Tapi Aira tak bergeming sedikitpun.


"Mama, aku sudah pulang..." ucap Aksa manja.


"Mama masih kesal ya sama aku? Jangan lama- lama kesalnya, aku nggak kuat."


"Mama khawatir ya sama aku? Cieee cieee..." goda Aksa dan langsung mendapat cubitan dari Aira.


"Jangan menggodaku atau aku akan menceburkanmu ke kolam renang!"


"Tadi aku ke rumah wanita yang kemarin aku tabrak." Aira sedikit tertarik dengan ucapan anaknya, ia menatap Aksa dan meminta penjelasan lebih darinya. Aksa pun menceritakan semua hal tentang Aza kepada Aira.


"Dia kasihan sekali, Mah. Aku ingin sekali melindungi dan membahagiakan dirinya," ucap Aksa lirih.


"Halah, kamu itu bisanya ngomong doang! Mana buktinya?" sahut Keno menghampiri Aksa dan Aira.


"Apaan sih, Pah. Nyaut- nyaut aja jadi orang." Aksa kembali memeluk Aira tapi wanita itu langsung menepis dan berdiri hendak pergi dari kolam renang.

__ADS_1


"Mah..."


"Mandi sana, sudah sore!" ucap Aira sebelum pergi dari sana.


"Mama udah nggak kesel kan sama Aksa?" tanya Aksa berteriak.


"Masih!" Aira menjawabnya dengan berteriak juga. Wanita itu langsung pergi meninggalkan anak dan suaminya.


"Masih kesel ya, sepertinya lebih kesel dari kemarin," ledek Keno.


"Mana ada! Lihat saja nanti malam juga kita udah baikan lagi."


"Nggak akan, Papa bakal provokasi Mamamu supaya tetep kesel sama kamu," ucap Keno ikut menghampiri istrinya.


"Pah!" Aksa berlari mengikuti langkah Keno, tapi baru saja beberapa langkah dirinya terpeleset dan akhirnya terjatuh ke kolam renang.


Byurrrrr!


Suara itu membuat Keno menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, dirinya pun tertawa melihat anaknya yang tercebur.


"Makanya jadi anak tuh jangan nakal, makan tuh karma!" Keno tertawa terpingkal- pingkal melihat Aksa.


"Pah, kaki Aksa keram. Aku nggak bisa naik nih, tolongin pah..."


"Halah, kamu cuma bohong, kan? Jangan coba- coba mengerjaiku." Keno melipat tangannya di dada dan tersenyum simpul ke arah Aksa.


"Beneran, Pah. Auhhhh, sakit sekali..." Aksa meringis membuat Keno langsung mendekat ke arahnya dan mengulurkan tangannya membantu Aksa.


"Pegang tanganku," ucap Keno. Aksa pun memegang tangan papanya dan menarik lelaki itu hingga ikut tercebur juga. Aksa tertawa lepas karena berhasil mengerjai papanya.

__ADS_1


"Dasar anak durhaka kamu ya! Awas saja kamu," gerutu Keno.


"Aku tunggu pembalasanmu, Pah," ucap Aksa menantang Papanya. Ia pun segera berlari sebelum Keno keluar dari kolam. Keno menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang begitu nakal, sepertinya dirinya dulu tak senakal Aksa, tapi kenapa anaknya senakal ini? Keno tak habis pikir dengan anak itu.


__ADS_2