
Cukup lama dirinya bergantung dengan obat, Aksa sangat bosan. Pagi itu dirinya hanya memandang obat yang telah disiapkan istrinya di atas cawan kecil. Lagi- lagi ia harus menelan pil pahit itu.
"Aku sudah sembuh! Aku nggak akan minum obat lagi!" gumam Aksa. Ia kemudian mencoba berdiri sendiri menopang tubuhnya dan mulai melangkahkan kakinya.
"Aarghh..." ringisan tak henti- hentinya keluar dari bibirnya. Baru dua langkah tapi Aksa tak berdaya lagi dan akhirnya pun terjatuh.
"Aaargghhh! Sialan!" Aksa berteriak memukuli kedua kakinya. Aza yang kala itu baru mandi pun cepat- cepat menyudahinya dan keluar hanya dengan bath robes yang melilit di tubuhnya.
"Hubby..." Ia merangkul Aksa dan mengajaknya untuk kembali duduk di ranjang.
Terlihat jelas jika suaminya itu baru saja menangis karena matanya memerah. Ia membelai suaminya dan memberikan kecupan bertubi- tubi di wajah tampannya.
"Kenapa bisa sampai jatuh lagi? Harus berapa kali aku bilang, jangan terlalu memaksakan keadaan, itu nggak baik."
Aksa menahan tangan istrinya yang masih membelai wajahnya, ia menatap lekat wajah yang masih basah karena belum sempat mengeringkannya.
"Maaf, aku hanya ingin cepat- cepat sembuh supaya tak menyusahkanmu terus- terusan."
"Tak ada yang disusahkan. Aku akan memakai baju dulu ya, jangan aneh- aneh lagi," pinta Aza sebelum dirinya menuju ke ruang ganti untuk memakai bajunya.
Aksa kembali menatap obat- obat yang berada di atas nakas. Diambilah gelas berisikan air putih, lalu diteguknya sedikit sebelum menelan beberapa pil pahit.
"Sayang, maukah kamu membantuku berlatih berjalan?" tanya Aksa kepada Aza yang sudah selesai memakai baju.
"Tentu saja mau. Ayo, Hubby!"
Aza menghadap suaminya dan menggenggam erat kedua tangannya. Aksa mulai melangkahkan kakinya satu persatu dengan perlahan.
"Pelan- pelan saja, Hubby."
"Arghh, sakit sekali..."
"Berhenti saja ya?"
"Enggak- enggak, aku tetap akan berlatih!" Aksa kembali melangkahkan kakinya setelah berhenti sejenak.
Satu langkah...dua langkah...tiga langkah...empat langkah...Semangat Aksa sangat bagus, lelaki itu mulai banyak berkembang.
"Wahh, hebat! Sudah bisa empat langkah, sebentar lagi pasti sepuluh langkah," seru Aza. Ia begitu senang ketika Aksa mulai bisa menggerakkan kakinya meskipun masih membutuhkan orang lain.
"Arghh..." pekik Aksa ketika dirinya hampir saja terjatuh. Ia langsung memeluk istrinya.
"Sudah lelah ya? Kita istirahat dulu ya." Aza menyuruh Aksa untuk duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu mengambilkan minum untuk Aksa.
"Terima kasih, Dokter," sahut Aksa tersenyum manis. Lelaki itu lalu mengusap perut istrinya yang mulai membuncit. Cukup besar dan melebihi usia kandungan.
__ADS_1
"Hy, baby, kapan kamu keluar dari perut Mama? Papa pengen gendong kamu," seru Aksa.
"Baru 18 minggu, Hubby. Masih lama..."
Aksa terkekeh mendengarnya, ini memang masih lama dan akan terasa sangat lama. Dirinya sudah tak sabar untuk bertemu dengan buah hatinya.
"Kamu menginginkan bayi perempuan atau lelaki?"
"Perempuan atau lelaki bukankah sama saja?"
Aza mengangguk sebagai jawabannya. "Ehm, Hubby...perutku akan semakin besar, dan tubuhku juga akan berubah nantinya. Aku takut kalau kamu berpaling..."
"Buang jauh pikiranmu itu. Bukankah kita akan selalu bersama apapun kondisinya? Aku sangat mencintaimu, tak mungkin ada yang bisa menggantikanmu di hatiku."
"Tapi-"
Ucapan Aza terpotong tatkala Aira membuka pintu kamar mereka dan menyelenong masuk.
"Ada Sarah di depan, katanya ada janji sama kamu, Sayang?" ucap Aira kepada Aza.
"Eh, iya, Mah. Sarah mau buatin telur gulung buat aku."
"Kamu ngidam?"
Aza mengangguk malu- malu. Ia lalu membantu suaminya duduk di kursi roda dan mengajaknya keluar menemui Sarah.
"Kamu yakin mau makan masakannya dia?" tanya Aksa kepada Aza. Mereka sudah berada di dapur, Sarah pun memulai aksinya dibantu dengan Sandra.
"Yakin, Hubby."
Aksa sendiri tak yakin dengan masakan dari sahabat istrinya itu. Sarah terlihat kaku sekali di dapur, ia juga sesekali memandang ponselnya yang membuka tutorial membuat telur gulung di you tube.
"Aduh, kok ambyar sih telurnya. Kenapa nggak bisa digulung?" Sarah hampir putus asa dibuatnya, hampir lima kali mencoba tapi tetap gagal.
"Susah mbak buatnya tuh, aku sudah berkali- kali coba juga tetap nggak bisa," ucap Sandra.
"Gimana, Sar? Aku sudah lapar nih..." rengek Aza.
"Belom bisa, Allahu Akbar! Ini susah bener dah! Kamu aneh- aneh aja sih, Za. Ya ampunnnn..." Sarah menepuk keningnya tatkala gagal lagi.
"Yahh, nggak bisa ya? Kok kalau lihat abang penjualnya gampang gitu ya buatnya..." ucap Aza, ia melihatnya sendiri ternyata memang Sarah tak bisa membuatnya.
"Dibuat omelette aja ya? Nanti dipotong panjang terus ditusuk, mirip lah sama telur gulung," pinta Sarah.
Aza terus menggeleng, "Nanti aku tambah lagi bonusnya, buatkan aku telur gulung seratus tusuk ya."
__ADS_1
"Okay! Demi duit!"
Sarah kembali bersemangat. Ia terus mencoba untuk ke sekian kalinya, dan akhirnya ia mulai bisa melilitkan telur di tusuk sate. Ia sudah membuat tiga puluh tusuk dan langsung diberikan kepada Aza yang sedari tadi sudah menantikannya.
"Bentuknya nggak bisa bagus, Za. Maapin yak."
"Nggak papa, Sar. Enak kok!" Aza mengunyahnya sembari memberikan jempol untuk Sarah.
"Beneran enak nih? Kok aku nggak yakin ya, Za." Sarah lalu mengambil satu tusuk telur gulung dan mencobanya. Matanya merem melek saat mencobanya, hanya asin yang ia rasakan. Ia langsung berlari mengambil air minum.
"Kenapa sih dia?" Aksa jadi ikut penasaran, ia pun mencobanya. Belum sampai ditelan, Aksa langsung mengambil tisu dan melepehnya.
"Masakan apaan nih!" Aksa langsung mengambil piring berisikan telur gulung itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Hubby, kenapa dibuang? Hikss...hikss...hiksss..." Aza menangis histeris saat melihat telur gulungnya masuk ke tempat sampah semua.
"Kamu jahat hikss...kembalikan telur gulungku!" Emosi Aza tak stabil karena hormon kehamilannya. Aksa dan Sarah jadi bingung dibuatnya.
"Nanti aku buatkan lagi yang nggak asin ya? Jangan nangis dong," bujuk Aksa sembari mengusap air mata yang terus berjatuhan.
"Tapi kali ini harus kamu yang buatin, bukan Sarah!"
"Biar Sandra saja yang buatkan ya, Kak?" tawar Sandra.
"Nggak mau!"
Aksa pun mengiyakannya, ia berdiri dengan berpegangan meja dapur. Meski sangat sulit, ia dengan senang hati membuatnya.
"Kamu sih bikinnya keasinan!" sembur Aksa kepada Sarah yang ikut membantunya membuat telur gulung.
"Lah, aku kan udah bilang dari awal kalau aku nggak bisa masak, Pak!"
"Kalau udah tahu nggak bisa masak kenapa nggak belajar dulu sama Mama kamu atau siapa kek..."
"Hubby..." Aza memeluk Aksa dari belakang, membuat lelaki itu hampir saja jatuh karena tak kuat menopang tubuhnya sendiri.
"Hubby, aku sudah nggak pengen telur gulung lagi," ucap Aza yang membuat Aksa dan Sarah melotot. Adonan sudah siap, dan dengan mudahnya Aza berubah pikiran.
"Astouge sayur lodeh!" gumam Sarah sembari menggertakkan giginya. Ia sangat kesal dengan Aza.
"Hubby, kembalilah ke kursi rodamu. Nanti kamu capek!"
"Baby, kenapa kamu menyebalkan sekali?" ucap Aksa memandang perut istrinya. Aza terkekeh mendengarnya. Ia sendiri juga tak tahu kenapa bisa tiba- tiba tak menginginkannya lagi.
"Sama- sama menyebalkan seperti Papanya!" celetuk Sarah.
__ADS_1
"Jangan ikut campur!" tegas Aksa.
"Iyaaaa."