My Presdir

My Presdir
Panggilan Untukmu


__ADS_3

Aza dan Sarah kini tengah berada di kantin, menikmati makan siang. Aza terlihat celingukan mencari Aksa yang biasanya ikut makan di kantin, tapi Aza sudah selesai makan lelaki itu belum datang juga.


"Aksa kemana ya, Sar?" tanya Aza sembari mengaduk- aduk sop buah di depannya.


"Ya mana kutahu..." Sarah tampak acuh, ia asyik dengan es krim yang hampir meleleh.


Istirahat sudah hampir selesai tapi Aksa juga belum datang, apa lelaki itu banyak pekerjaan dan tidak sempat untuk makan siang? Ah, Aza jadi khawatir dengan anak itu. Apalagi saat di WhatsApp hanya centang dua. Terakhir dilihat pun jam sepuluh tadi.


"Balik yok, aku udah kenyang nih," ajak Sarah. Aza terpaksa mengikutinya karena jam istirahat juga sudah hampir habis.


Aza kembali menyelesaikan pekerjaannya, ia akan bertemu jika sudah pulang nanti. Tapi wanita itu tak sabar, ia lebih sering memeriksa ponselnya, siapa tahu Aksa sudah membalas pesannya. Hingga sore menyapa, Aksa belum juga membalasnya. Jangankan dibalas, dibaca saja tidak.


"Kok Pak Presdir belum nyamperin kamu, Za?" tanya Sarah sembari membereskan meja kerjanya. Biasanya sepulang bekerja, Aksa selalu menghampiri Aza terlebih dahulu.


"Mungkin dia nunggu di parkiran."


"Yaudah, ke sana bareng aja. Biar nanti aku bisa nemenin kamu kalau Pak Presdir belum ada." Sarah dan Aza berjalan menuju ke parkiran, baru saja keluar dari lift, Aksa berlari menghampirinya.


"Heyy..."


"Itu suami kamu, kalau gitu aku ke parkiran duluan ya. Takut jadi obat nyamuk, papayyyy..." pamit Sarah yang kemudian berlalu meninggalkan Aza.


"Darimana aja sih tadi? Kok baru kelihatan?" tanya Aza.


"Ciyee, kangen ya?" Aksa malah menggoda dan mencolek- colek dagu istrinya.


"Enggak!"


Aksa tertawa lepas, ia sangat senang Aza sedikit mengkhawatirkan dirinya meskipun wanita itu terus menyangkalnya.


"Kamu sudah makan siang tadi?" tanya Aza ketika mereka sudah di dalam mobil.


"Coba tebak!"


"Ish, nyebelin banget sih jadi orang," ucap Aza melipat tangannya di dada.


"Udah kok, nggak perlu khawatir," jawab Aksa terkekeh. "Aku tadi makan siang di luar sekalian ketemu client, maaf ya nggak ngabarin dulu."


"Hm..."


Mobil kembali hening, Aksa tengah fokus mengemudikan mobil sembari melantunkan beberapa lagu. Terdengar indah, Aza baru tahu kalau suaminya itu berbakat juga dalam hal tarik suara.


"Terpesona ya sama suamimu ini?" goda Aksa karena Aza sedari tadi tersenyum- senyum melihatnya.


"Suaranya aja, orangnya mah enggak," tukas Aza.


"Halah, kamu itu menyangkal terus."


Semburat warna merah terlihat jelas dari kaca mobil, senja begitu indah. Membuat lelah seharian bekerja sirna tatkala menatapnya. Terlihat beberapa pengendara mobil dan motor menepikan kendaraannya hanya sekedar ingin menatap senja.

__ADS_1


*Biar ku lukis senja,


Mengukir namamu di sana,


Mendengarkanmu bercerita,


Menangis tertawa,


Biar ku lukis malam,


Bawakanmu bintang- bintang,


Tuk temanimu yang terluka,


Hingga kau bahagia*


Dua bait lagu Melukis Senja oleh Budi Doremi terdengar di indra pendengaran Aza. Lelaki itu bernyanyi seakan mengutarakan isi hatinya yang memang teringin menjadi orang yang akan membuat wanita di sampingnya itu bahagia, menemani ketika suka maupun duka, dan berusaha untuk tidak menyakitinya.


"Terima kasih, aku sangat suka lagunya..."


"Memangnya aku bernyanyi untukmu? Dihh, pd banget kamu."


Aza jadi malu sendiri mendengarnya. Ah, suaminya itu selalu saja membuatnya malu. Tapi dirinya juga salah sih, sudah kepedean jadi orang.


*****


Saat melewati kamar Aira dan Keno, langkah mereka terhenti ketika mendengar suara yang menggelitik. Dan saat itu kamar Aira dan Keno tak ditutup rapat, Aza dan Aksa yang penasaran pun mengintipnya sebentar.


"Nggak papa, aku sudah sering mengintip mereka. Sini ikut saja," ucap Aksa. Aza yang penasaran pun ikut mengintip dan berdiri di samping suaminya.



Samar- samar terdengar suara tawa tapi juga diselingi desahan. Tentu saja Aksa dan Aza semakin tertarik. Mereka membulatkan matanya menatap dua orang yang sedang bermain- main di kasur.


"Ahh...sayang...geli...." ucap Aira.


Keno menciumi seluruh bagian tubuh istrinya, meskipun Aira tetap memakai baju, tapi tetap saja merasa geli. Keno gemas dengan wanita itu, ia menggelitikinya hingga Aira tertawa terpingkal- pingkal.


"Aahhhh sakit sayang..." Pekik Keno saat Aira tak sengaja menendang sesuatu miliknya.


"Aduhh, maaf sayang. Nggak sengaja, kamu sih nakal!"


"Ahh, sudahlah." Keno kembali menggelitik istrinya dan bersiap melakukannya.


Aksa yang melihatnya langsung menutup mata Aza dan tak lupa menutup pintu kamar orang tuanya. Ia jadi merasa bersalah telah mengajak Aza menonton hal yang tak seharusnya.


"Mereka mau enak- enak ya?" tanya Aza dengan polosnya.


"Iya, Mama sama Papa memang sering enak- enak. Nggak inget waktu," jawab Aksa.

__ADS_1


"Dan kamu sering ngintipin mereka?"


Aksa mengangguk malu, "Ya kalau tahu aja sih aku ngintipnya, kalau enggak tahu ya nggak nonton," jawabnya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Dasar anak lucknut!"


"Biarin aja lah. Aku jadi pengen nih, masa udah punya istri belum pernah itu..."


"A- aku...." Aza jadi ketakutan, wajahnya langsung pucat.


"Aku tuh bercanda!" Aksa tertawa terpingkal- pingkal melihat istrinya yang ketakutan.


"Nggak usah takut gitu, kamu tuh lucu banget sih kalau lagi ketakutan gitu..."


Aza berlalu meninggalkan suaminya yang masih tertawa setelah mencubit perut lelaki itu.


"Aza..." seru Aksa menyapa istrinya yang sedang melepas sepatu. Ia ikut duduk di tepi ranjang samping istrinya dan melepas sepatu juga.


"Zaaa..." Karena tadi tak ada sahutan dari istrinya, ia pun berteriak.


"Apasih, Hubby?" Aza menutup telinganya takut jika suaminya itu berteriak lagi.


"Dihh, tumben banget manggil Hubby. Biasanya juga 'Sa', 'Aksa'!" Aksa menirukan gaya bicara Aza membuat wanita itu terkekeh geli.


"Aku akan memanggilmu Hubby mulai sekarang, kamu suka?" tanya Aza membelai pipi suaminya. Aksa langsung menahan tangannya dan menatap lekat istrinya yang sangat dekat dengannya.


"Benarkah?"


Aza mengangguk yakin, entah kenapa ia juga lebih suka memanggil lelaki itu dengan sebutan 'Hubby'. Aza sempat membaca artikel tentang suami istri, dan ternyata kita harus sopan dengan suami, tak memanggilnya dengan nama asli.


Dalam Islam, seorang istri dimakruhkan memanggil suaminya dengan nama aslinya. Sebaliknya, dia sangat dianjurkan untuk memanggil suaminya dengan panggilan yang menunjukkan adanya adab dan kemuliaan. Misalnya, memanggil dengan panggilan ‘Mas, Kakak’ atau lainnya. Dan Aza memilih 'Hubby' sebagai panggilan untuk suaminya. Kekinian dan tak norak, pikir Aza.


"Baiklah, Istriku." Aksa mengecup seluruh wajah istrinya tanpa terkecuali.


"Hubby, berhentilah..."


"Belum puas!"


Tak terhitung sudah berapa kecupan yang mendarat di wajah Aza, mungkin sudah berpuluh- puluh kali. Aksa semakin gencar, ia sangat gemas dengan istrinya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Correct me if I have typo❤️


__ADS_2