My Presdir

My Presdir
Tante Google


__ADS_3

Baru dua hari tak masuk kantor, rasanya sudah seperti berbulan- bulan tak masuk bagi wanita itu. Wanita penggila kerja yang akan selalu hampa ketika dirinya tak berkutat dengan pekerjaan.


Hari ini ia sudah kembali bekerja, sebenarnya suaminya tak memperbolehkannya untuk bekerja sementara waktu karena Aza masih harus istirahat. Namun, dengan segala upaya dan bujuk rayu akhirnya Aksa memperbolehkannya.


"Hubby, aku masuk dulu ya," ucap Aza ketika ia sudah sampai di depan pintu ruangannya. Ia lalu mencium tangan sang suami sebelum masuk.


"Jangan terlalu lelah, jangan memaksa tubuhmu bekerja terlalu keras, jangan sampai sakit!" seru Aksa dengan nada tegas.


"Harusnya aku yang bilang gitu ke kamu, Hubby. Pekerjaanmu berat dan kamu selalu memaksakan diri untuk menyelesaikannya. Sampai lupa makan dan istirahat. Bukankah begitu, Pak Presdir?" tutur Aza mengerlingkan matanya. Ia begitu senang ketika berhasil mengalahkan ucapan suaminya.


"Aishh, sudah- sudah. Masuk sana!" Aksa mendorong tubuh istrinya masuk ke dalam. Namun, wanita itu tak mau masuk dan tetap berdiri di depan pintu.


"Kenapa nggak mau masuk?" tanya Aksa menatap lekat wajah istrinya.


"Ada yang tertinggal, Hubby..." Aza berjinjit, menangkup wajah suaminya dan mengecup seluruh bagian wajahnya tanpa terkecuali.


Kalau Aza yang mencium ia tak menolak sama sekali, karena ciuman Aza tak berbekas soalnya wanita itu hanya memakai lipbalm. Berbeda dengan oma belipstik tebal, Aksa pasti langsung berlari ketika bibir penuh lipstik itu mulai manyun dan bersiap menciuminya.


"Terima kasih istriku..." Aksa lalu membalas kelakuan Aza tadi, ia bahkan menciuminya lebih dari yang Aza lakukan tadi. Ia lalu melangkah menuju ruangannya.


"Hubby..." seru Aza ketika Aksa baru tiga kali melangkah. Lelaki itu pun berhenti dan menoleh ke arahnya.


"Ada yang tertinggal," tambah Aza.


"Apa?" Aksa mengerutkan dahinya dan memeriksa tubuhnya apakah ada sesuatu yang tertinggal.


"Aku hanya menipumu saja," jawab Aza terkekeh.


Aksa lalu berlari ke arahnya hendak menguyel- uyel karena gemas, tapi Aza langsung masuk ke ruangannya dan menutup pintunya.


"Sangat menggemaskan," cicit Aksa menggelengkan kepalanya.


*****

__ADS_1


Aza begitu ceria tatkala memasuki ruangannya, duduk di kursi berputar miliknya dan mengahadap komputer yang siap menjadi temannya hari ini. Senyumnya tak sirna sedari tadi, membuat Sarah yang berada di sampingnya terheran- heran dan menganggap jika Aza sudah gila.


Sarah menyenggol lengan Aza, "lagi jatuh cinta ya dari tadi kok senyum- senyum mulu," ujar Sarah.


"Iya, aku lagi jatuh cinta yang kesekian kalinya sama Aksa," jawab Aza sembari tersenyum membayangkan Aksa.


"Dulu kalian kaya musuh, sekarang jadi budak cinta."


"Aksaaa aku mencintaimu..." Aza berteriak- teriak tak jelas, membuat Sarah bergidik ngeri. Aza benar- benar sudah tergila- gila dengan suaminya.


"Bilang langsung sana sama Pak Presdir."


"Gengsi hihi..."


Mereka berdua langsung melanjutkan pekerjaannya ketika mengetahui Clara akan masuk. Aza dan Sarah jadi salah tingkah dan langsung akting seolah tak terjadi apa- apa tadi. Padahal mereka sedari tadi kerjaannya hanya mengobrol.


"Nggak usah sok- sokan kerja, aku tahu kok kalau kalian tadi ngobrol terus," seru Clara menatap lekat Aza dan Sarah.


"Halo, Mbak Clara. Ihh kemejanya bagus nih, beli dimana?" Aza berusaha mengalihkan perhatian Clara.


"Loh, Aza doang nih yang diajak? Sarah kok enggak," rengek Sarah.


"Nanti aku beliin es krim kalau udah pulang. Jangan nangis tapi." Ucapan Clara tentu saja membuat Sarah menggerutu, dia pikir Sarah anak kecil apa.


*****


Clara dan Aza berjalan menyusuri Mall yang cukup besar di ibukota. Mata mereka melirik toko- toko dan memikirkan barang apa yang hendak diberikan untuk Devano.


"Mbak, keluar gini nggak bakal dipotong lagi kan gajinya?" Aza terlihat takut, pasalnya beberapa bulan ini dia sering keluar dan meninggalkan pekerjaannya. Dan ini berimbas pada gajinya.


"Gajimu dipotong kan kamu tetep dapet jatah sama suamimu, apa yang perlu ditakutin coba!" Clara menggelengkan kepalanya.


"Aku tuh nggak pernah pakai uang dari Aksa." Jawaban Aza yang polos itu membuat langkah Clara terhenti. Ia tak habis pikir dengan wanita yang di sampingnya itu.

__ADS_1


"Kok bisa sih? Kenapa nggak pernah pakai?"


"Uangnya banyak, aku bingung mau ngabisinnya. Yaudah aku diemin aja deh, nih kartunya juga belum aku pake sama sekali." Aza menunjukkan black card dari dompetnya kepada Clara. Sontak saja Clara membelalakkan matanya, ia jarang sekali melihat benda kotak berwarna hitam itu.


"Nanti aku ajarin bagaimana caranya ngabisin uang suami," seru Clara antusias.


Aza menggeleng, "aku sudah mencari tahu di tante google, dia bilang harus belanja yang banyak beli ini itu. Tapi aku nggak tau harus belanja apa, di rumah Aksa barang- barangku sudah lengkap semuanya. Mama Aira telah menyiapkannya tak kurang apapun."


Clara menepok jidatnya, Aza terlalu polos. Ia telah menyia- nyiakan kesempatan emas. Kalau Clara jadi Aza mungkin black card dan uang cash yang diberikan Aksa itu akan digunakan setiap harinya.


*****


"Pah....Tolong bukain pintu kamar Tania, Pah..." Jerit Tania sembari menggedor- gedor pintu kamarnya. Air mata terlihat membasahi pipinya, matanya berkantung, wajahnya tak terawat. Sudah dua hari ia dikurung di kamarnya, tak bisa kemanapun. Makan pun diantarkan oleh asisten rumah tangganya. Ponsel dan fasilitas lainnya disita papanya. Wanita itu benar- benar bisa gila di kamarnya.


Alfa, Papa Tania, yang mengetahui kelakuan keji anaknya begitu malu. Ia tak habis pikir dan tak terbayangkan sebelumnya jika anaknya itu berusaha membunuh seseorang dengan mencampurkan racun ke dalam makanan. Alfa tak pernah mengajarinya hal semacam itu, tapi Tania malah sudah terlewat batas. Ia harus mendapatkan hukuman karena telah membuat malu keluarga.


"Ini semua gara- gara Aza! Dua sudah merebut semuanya dariku! Harusnya Aksa menikah dan hanya mencintaiku, bukan wanita biadab itu!"


"Pahhh..." Suara Tania mulai melemah, wanita itu belum makan sejak kemarin. Makanan yang diantarkan pembantunya selalu ia buang. Kamarnya penuh dengan pecahan piring dan gelas.


Alfa dan Vera hanya bisa diam di luar kamar anaknya. Mereka sebenarnya tak tega, tapi mau bagaimana lagi, kelakuan anaknya telah melampaui batas.


"Pah, biarkan dia keluar. Dia pasti sudah menyadari kesalahannya," seru Vera mengusap bahu suaminya.


"Tidak! Biar dia merenungi apa yang telah diperbuat. Aku sangat kecewa dengannya. Dia telah mencelakai menantu keluarga Sanjaya, keluarga yang telah mempercayakan kita untuk mengurus rumah sakitnya. Aku sungguh malu, untung saja Aza dan Aksa tak apa. Bagaimana kalau terjadi hal serius dengan mereka?" tutur Alfa dengan tegas.


"Pah, Tania kok nggak berteriak lagi? Aku takut kalau dia kenapa- kenapa."


Rasa khawatir ikut menyerang Alfa, ia segera membuka pintu kamar anaknya. Dan benar saja, Tania terkulai lemas di lantai dengan kondisi tak sadarkan diri.


"Hati- hati, Pah..." seru Vera tatkala suaminya menggendong Tania hendak direbahkan di kasur.


Alfa segera memasangkan infus ke tangan anaknya dan memeriksa kondisinya. Tania tak apa, ia hanya dehidrasi dan kelelahan. Tak makan dan minum membuatnya terkulai lemah.

__ADS_1


"Tania nggak papa, kan?" Vera terus menggenggam tangan anaknya, raut wajah khawatir terlihat jelas.


Alfa hanya menggeleng, ia lalu keluar dari kamar anaknya. Rasa jengkel masih bersemayam.


__ADS_2