
Senja yang indah di Pantai Kuta. Tak heran jika para turis membanjiri pantai ini. Seakan mereka tak pernah bosan untuk berlama-lama duduk sambil memegang botol dan ngobrol bersama kolega mereka. Momen itu tak pernah disia- siakan oleh para pedagang lokal yang tak pernah menyerah menjajakan barang dagangan mereka.
Aksa dan Aza hendak kembali ke hotel, untuk hari ini mungkin akan selesai di Pantai Kuta saja. Tubuh mereka yang lengket menjadikan mereka ingin cepat- cepat mandi. Saat hendak ke parkiran, tiba- tiba saja ada yang menarik kaos Aksa dari belakang. Lelaki itu pun membalikkan tubuhnya mencari sesosok yang telah menarik- narik kaosnya.
"Tadi ada yang narik kaosku, tapi kok orangnya nggak ada ya, Za," celetuk Aksa.
"Menunduklah, Hubby." Aza menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya.
"Ada apa cantik? Kenapa tadi menarik kaos kakak?" tanya Aza sembari menyejajarkan tubuhnya kepada anak perempuan berbalut kaos pink dengan celana kolor bunga- bunga. Rambutnya terlihat basah bercampur pasir pantai, bajunya pun sama.
"Bolehkah aku meminta bantuan kalian?" Anak itu bertanya sembari menatap Aza dan Aksa secara bergantian. Tatapan penuh mendamba, siapapun akan sedih melihatnya.
"Minta bantuan apa? Selagi kami bisa membantu, kami akan membantumu." Aksa ikut berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan anak kecil itu. Melayangkan senyum dan mengusap kepala anak itu lembut.
"Ibuku mau melahirkan, aku nggak tahu harus bagaimana. Bisakah kalian membantuku?" Kali ini anak itu tersedu- sedu mengatakannya, Aza langsung mendekapnya erat dan menggendongnya.
"Katakan di mana ibumu sekarang, kami akan membantumu."
Anak kecil yang bernama Gayuh itu pun menunjukkan di mana ibunya berada. Ternyata beliau ada di tepi pantai, berselonjor sembari meringis kesakitan memegang perutnya. Aza segera menurunkan Gayuh dan ikut membantu suaminya memapah ibu itu.
"Terima kasih," ucap Bu Rasti setelah berhasil masuk ke mobil hotel yang tadi dibawa Aksa.
Aksa pun melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat dengan bantuan GPS dari ponselnya. Ia terpaksa menyalakannya karena dalam keadaan darurat, padahal ia sudah berjanji tak akan menyalakan ponsel sebelum honeymoonnya usai. Dan benar saja, ada notifikasi ribuan chat dan panggilan tak terjawab masuk ke ponselnya. Tapi bodoamat, itu pasti tak penting.
"Auuhhh sakith sekali..." Ibu itu terus merintih sembari meremas tangan Aza. Perutnya sudah melonjong, sepertinya bukaannya pun sudah sempurna. Sakitnya pun semakin menjadi- jadi.
Jeritan dan tangisnya membuat Aza terdiam. Perjuangan seorang ibu sangatlah besar, ia rela mempertaruhkan nyawanya demi sang buah hati. Tanpa disadari, air mata Aza menetes ketika mengingat Anandhi. Dulu Anandhi pasti sangatlah kesakitan saat melahirkannya. Aza jadi merasa bersalah telah mengacuhkan Anandhi.
*****
Bu Rasti pun telah memasuki ruang bersalin, berjuang antara hidup dan mati demi buah hati tercinta. Aza memangku Gayuh, tatapannya kosong ia terus saja memikirkan Anandhi.
"Minum dulu, Za." Aksa menyodorkan minuman ke tangan Aza, juga dengan Gayuh. Ia mengambil alih Gayuh dari pangkuan istrinya.
"Ciyee, yang sebentar lagi mau punya adik," goda Aksa kepada Gayuh. Anak itu tersenyum, ia langsung akrab dengan Aksa dan Aza.
"Iya, Kak. Kata Mama adikku cowok, aku sudah nggak sabar main sama dia."
__ADS_1
Derap langkah kaki menghampiri ketiga insan itu. Seorang lelaki dengan raut wajah cemas dengan topi hitam di kepalanya.
"Papa..." jerit Gayuh dan langsung berlari memeluk lelaki itu.
"Di mana Mama? Maafkan Papa ya, Papa tadi sibuk di kantor," ucap lelaki itu sembari mengecup kening Gayuh.
"Mama masih di dalam, adik belum keluar."
Damar, lelaki yang tak lain suami dari Bu Rasti itu pun menghampiri Aksa dan Aza. Ia tahu betul, pasti dua orang itulah yang membantu membawa istrinya ke rumah sakit.
"Terima kasih, Mas, Mbak." Damar menyalami Aksa dan Aza secara bergantian.
"Sama- sama, sudah seharusnya kami membantu. Ehm, lebih baik Bapaknya masuk ke dalam menemani Bu Rasti," ucap Aza yang kemudian diangguki Damar. Gayuh pun diajaknya ke dalam.
Tinggalah Aza dan Aksa saja yang masih berada di kursi tunggu rumah sakit.
"Capek?" tanya Aksa, ia kemudian menyandarkan kepala Aza di bahunya, mengusapnya pelan dan mengecupnya sejenak.
"Hubby, aku ingin minta maaf sama Mama Anandhi..." lirih Aza.
Aza mengangguk lemah.
"Iya, Hubby. Bu Rasti membuatku sadar, tak sepantasnya aku mengacuhkan ibu kandungku sendiri. Aku salah..."
"Apa Mama Anandhi masih bisa menerimaku lagi setelah apa yang aku lakukan selama ini?" Aza mendongakkan kepalanya menatap suaminya yang tengah tersenyum tipis.
"Tentu saja, dia pasti akan sangat senang."
Oeekkkk....oeekkk...oeekkk....
Suara tangisan bayi terdengar dari ruang bersalin, Aksa dan Aza pun langsung bangkit dan mengintip. Dilihatnya dokter sedang memotong tali pusarnya yang semakin membuat bayi laki- laki itu menangis kencang.
Aksa dan Aza ikut bahagia melihatnya, apalagi saat melihat ekspresi Gayuh yang senang tiada terkira.
"Hubby, lucu sekali bayinya," celetuk Aza saat melihat bayi laki- laki itu menggeliat dan menangis saat dimandikan.
"Iya lucu sekali, aku menginginkannya," sahut Aksa. Ia sudah tak sabar menimang buah cintanya bersama Aza. Pasti ini akan menjadikan mereka pasangan yang lebih bahagia lagi.
__ADS_1
"Kak Aksa, Kak Aza, ayo masuk! Adikku sudah keluar," teriak Gayuh menghampiri Aksa dan Aza yang sedang mengintip dari jendela kaca. Anak itu menggandeng tangan Aza dan aksa lalu mengajaknya masuk ke dalam.
"Lihat adikku, dia sangatlah lucu," ucap Gayuh menunjuk adiknya yang hampir selesai dibedong.
Bayi lelaki itu kemudian diletakkan di samping sang Mama. Keluarga itu nampak sempurna, bahagia terpancar dari raut wajah mereka.
"Apa kalian tak mau menggendongnya?" Damar menatap Aksa dan Aza yang sedari tadi memperhatikan keluarga itu.
Mereka pun mendekat, dengan hati- hati Damar membantu Aza menggendong bayi itu. Aza sangat terharu, baru kali ini ia merasakan menggendong bayi yang baru saja lahir.
"Hubby..." lirih Aza mendekati suaminya.
"Tampan, lucu, dan menggemaskan," ucap Aksa membelai pipi bayi. Bayi itu tampak nyaman di gendongan Aza, ia tertidur nyenyak.
Aza menciuminya tanpa ampun, sangatlah gemas. Begitu pula dengan Aksa, ia berebut untuk menggendong bayi yang berbalut bedong berwarna biru muda itu.
"Apa kalian menginginkan adik bayi juga?" tanya Gayuh menggelakkan tawa.
"Iya, kami menginginkannya. Apa boleh kami membawanya pulang?" goda Aza.
"Mana boleh! Dia kan adikku, dia akan tetap bersamaku sampai besar nanti."
"Yahhh, kenapa nggak boleh? Kami menginginkan adikmu untuk tinggal bersama kami, boleh ya?" Kali ini Aksa ikut menggoda anak kecil yang berusia sekitar lima tahun itu.
"Berdo'alah kepada Tuhan supaya kalian juga diberi adik bayi yang menggemaskan sepertiku," ucap Gayuh dengan lucunya. Aksa dan Aza langsung memeluknya saking gemasnya.
"Terima kasih sudah membantu aku dan Mama. Kalian sangat baik," ucap Gayuh, anak itu mengecup pipi Aksa dan Aza secara bergantian.
"Sama- sama anak pintar, jaga adikmu baik- baik ya. Kalau kamu nakal sama dia, Kak Aza bakal ambil dan bawa pulang loh," goda Aza.
"Jangan! Aku akan menjaganya baik- baik, tak akan nakal juga."
Damar dan Rasti ikut tertawa mendengar tingkah anak kecil itu.
"Semoga kalian segera diberi momongan juga ya," ucap Damar dan Rasti yang kemudian diaminkan oleh Aksa dan Aza.
Aksa dan Aza berpamitan untuk pulang karena sudah larut malam. Keluarga itu sangatlah berterima kasih kepada Aksa dan Aza karena selain membantu membawa ke rumah sakit, mereka juga membayar semua biayanya.
__ADS_1