
Sang mentari mulai muncul menggantikan sang malam. Kicauan burung serta hembusan angin mengiringinya. Perasaan Aksa semakin menjadi- jadi. Jantungnya berdetak cepat, ia seperti akan tertimpa sesuatu yang buruk.
"Hubby, kenapa kamu pucat? Kamu sakit ya?" Aza panik, ia menempelkan telapak tangannya di dahi suaminya. Tak panas, tapi sangat dingin. Aksa langsung meremas tangan istrinya berusaha menghilangkan ketakutan yang ia rasakan.
"Ada apa ini? Jangan membuatku cemas!" ucap Aza, ia lalu memeluk suaminya yang sedang duduk di sofa kamar.
"Perasaanku sejak semalam nggak enak."
"Hubby, jangan seperti itu. Tenangkan dirimu! Tak akan terjadi apa- apa. Berdo'alah!"
Aksa terdiam, hatinya masih resah. Ia memeluk istrinya erat seakan esok tak bisa melakukannya lagi.
"Sudah membaik, ayo pergi sarapan," ucap Aksa sembari melengkungkan bibirnya membentuk senyuman tipis.
"Jangan pikirkan hal yang aneh- aneh lagi, Hubby."
Mereka lalu berjalan menuju ke bawah untuk sarapan. Aksa tetap memeluk istrinya membuat Aira dan Keno terheran- heran karena melihat Aksa yang tak ceria seperti biasanya.
"Kenapa manja sekali?" seru Keno.
"Diamlah, Pah! Nikmati sarapanmu, jangan hiraukan aku." Aksa lesu, Keno semakin terheran- heran. Biasanya mereka sudah berdebat, membahas hal yang tak penting.
Semuanya pun jadi terdiam, mereka ikut merasakan apa yang Aksa rasakan. Usai makan, Aksa dan Aza langsung beranjak pergi ke kantor. Aksa memilih untuk diantar sopir, pikirannya sedang kacau jadi tak mungkin jika mengendarai mobil sendiri.
"Hubby, tenanglah. Tak akan terjadi apa- apa..." Aza terus saja mengusap dada suaminya, memberinya ketenangan.
"Iya, terima kasih."
*****
Menjelang sore itu, Aksa dan Devano sudah bersiap untuk menemui client. Kafe langit senja pun menjadi tempat pertemuan mereka.
"Sa, gimana sama si Farel? Udah kamu bicarain?" tanya Devano sembari menyeruput secangkir coffee latte.
"Belum, hari ini akan aku bicarakan. Aku sudah mengajak Farel untuk ketemuan di sini juga. Nanti kalau meeting sudah selesai kamu balik ke kantor aja dulu," ucap Aksa.
"Aku tunggu aja, takutnya nanti malah kenapa- kenapa."
Dua jam berlalu, pembahasan proyek dengan perusahaan Wijaya pun telah selesai, tapi Aksa dan Devano masih belum beranjak dari tempat duduk mereka.
"Dev, aku ke depan dulu ya. Farel nungguin aku di depan," ucap Aksa setelah mengamati pesan di ponselnya.
"Kalau gitu aku tunggu di sini aja ya."
Aksa lalu pergi ke meja yang disebutkan Farel. Aksa memang tak menyebutkan maksud dan tujuannya, ia hanya ingin bertemu saja dengan anak itu karena sudah lama juga tak nongkrong bareng.
"Halo, Kak Aksa," ucap Farel. Lelaki itu masih menggunakan seragam putih abu- abu dan menggendong tasnya.
Aksa pun duduk di bangku kosong menghadap Farel yang sedari tadi tersenyum renyah.
"Apa maksudmu melempari istriku dengan telur hingga berulang kali?" Aksa sudah tak sabar, pertanyaan itu langsung saja keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Telur? Telur apa, Kak?"
"Jangan pura- pura nggak tahu! Ini pasti kakakmu kan yang menyuruh? Kalau kamu sampai melakukan hal yang sama lagi, aku tak akan membiarkan hidupmu tenang!"
Farel tersenyum kecut sembari menyeruput jus alpukat dengan tambahan es krim di depannya.
"Jadi, Kak Aksa sudah tahu ya siapa pelempar telur itu?"
"Kalau aku nggak mau berhenti gimana?"
"Kurang ajar ya kamu!" Aksa berdiri dari tempat duduknya dan bersiap menghajar anak yang baru duduk di kelas tiga SMA itu.
"Tenanglah, Kak. Bukankah kita teman baik sedari kecil? Sudah seharusnya membicarakan masalah dengan kepala dingin."
Aksa pun kembali duduk, ia berusaha meredamkan amarahnya.
"Kelakuanku itu tak seberapa jika dibanding dengan kelakuan istrimu! Apa kamu tak memikirkan bagaimana perasaan Kak Tania saat kamu memilih perempuan lain untuk mendampingi hidupmu?"
"Kak Tania mencintaimu begitu dalam! Hatinya hancur ketika kamu mengatakan jika ada perempuan lain! Dan sekarang apa yang kamu lakukan kepadanya? Kamu malah membuat hidupnya semakin terpuruk!"
"Hidup Kak Tania hancur, dia tak bebas!"
"Itu sudah setimpal dengan apa yang diperbuat kakakmu! Bagaimana jika kamu berada di posisiku? Dia hampir saja membunuhku dan juga istriku! Wajar jika aku memberikan balasan untuknya!"
Amarah Aksa kian menjadi- jadi. Ia begitu muak dengan ucapan- ucapan Farel. Aksa tahu betul, Farel itu telah diracuni Tania supaya ikut membenci Aza.
"Kelakuanmu itu tak benar! Kamu sudah menghancurkan hidup kakakku! Aku tak mau tahu, kamu harus menikahi Kakakku dan menceraikan wanita sialan itu!" Suara Farel kian meninggi, membuat para pengunjung Kafe yang lain memandangi mereka. Perseteruan semakin memanas, wajah dua lelaki itu memerah menahan amarah.
"Kamu itu masih kecil! Jangan ikut campur dan mengatur orang sesuka hatimu! Menikah hanya untuk sekali, dan dengan orang yang kita cintai. Aku tak pernah mencintai Tania! Sampai kapanpun aku tak akan menikahinya!"
Suara mereka berdua semakin meninggi, membuat Devano juga ikut mendengarnya. Ia pun keluar memastikan tak terjadi apa- apa dengan Aksa.
"Cinta tak bisa dipaksakan! Kamu sudah cukup umur untuk mengenal cinta bukan? Dan kalaupun kamu berada di posisiku aku yakin jika kamu akan melakukan hal yang sama denganku!"
"Lelaki b*j*ng*n!" Farel berdiri dan menarik kerah Aksa. Ia memukul Aksa hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Hey hentikan!" teriak Devano. Para pengunjung pun bergidik ngeri melihat kegaduhan.
"Jangan ada yang mendekat!" teriak Farel.
"Sejak kapan kamu berubah seperti ini? Ini bukan Farel adikku yang aku kenal! Farel tak seperti ini. Dia anak baik, manis, dan juga tak brutal seperti ini!" ucap Aksa tersenyum simpul. Ia tak menyangka jika Tania benar- benar telah meracuni adiknya, membuat lelaki itu berubah total.
"Argghhhh!"
Farel mengambil pisau steak miliknya dan menancapkannya dengan keras ke perut Aksa. Pisau steak itu sangat tajam, benar- benar melukai Aksa. Darah segar pun mengalir, Aksa memegang perutnya tapi tetap berusaha tersenyum meskipun itu sakit.
"Aksa..." Devano mendekat, tapi Farel langsung mengacungkan pisau yang bersimbah darah ke arahnya membuat langkahnya terhenti.
"Berani mendekat, akan kubunuh semua orang yang ada di sini!"
Semua orang yang berada di luar Kafe tadi pun berhambur ke dalam. Devano terdiam meratapi Aksa yang meringis menahan sakit.
__ADS_1
"Aku hanya ingin Kakakku bahagia! Aku ingin melihat senyumnya lagi, bukan tangisan!"
Farel menarik Aksa dan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya. Aksa memberontak tapi Farel terus mengancamnya, ia menempelkan pisau ke leher Aksa.
Devano segera mengambil ponselnya menghubungi polisi terdekat. Ia sangat bingung, di sisi lain ia ingin segera mengajak Aksa ke rumah sakit tapi dirinya tak bisa menghentikan Farel. Devano pun mengikuti mobil Farel dari belakang.
Farel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan ia tak mematuhi rambu lalu lintas. Devano pun kewalahan mengikuti mereka, ia juga telah menghubungi keluarga Aksa supaya mengerahkan anak buah mereka.
"Kamu mau membawaku ke mana?" Aksa sangat takut, mobil yang ia tumpangi melaju di atas kecepatan rata- rata. Darah yang mengalir di perutnya pun belum terhenti.
"Kamu harus menikahi Kak Tania! Aku hanya ingin melihatnya tersenyum dan bahagia seperti sedia kala!"
"Kita ke Singapore sekarang! Kalian harus menikah hari ini juga!"
"Aku tak akan melakukan hal itu!"
Aksa berusaha mengambil alih kemudi, supaya Farel menghentikan mobilnya.
"Jangan menggangguku! Kita harus ke bandara sekarang!"
"Aku tak akan membiarkanmu!"
Aksa dan Farel berebut untuk mengemudikan. Hingga tak disadari ada mobil polisi menghadang jalan mereka. Farel pun kewalahan menghentikan mobilnya.
Brakkkkkk brakkkk!
Dan pada akhirnya, mobil yang Aksa dan Farel tumpangi menabrak mobil polisi hingga ringsek. Semua tercengang, kecelakaan yang tak terhindarkan itu sangatlah mengerikan. Dua mobil itu rusak parah tak membentuk lagi.
"Maafkan aku Kak Aksa..."
Aksa meringis, pandangannya mulai kabur. Apa ini adalah kali terakhirnya ia berada di dunia? Dia masih teringin membahagiakan serta melindungi istrinya, dia juga belum sempat memiliki malaikat kecil dalam rumah tangganya. Aksa mulai lemah, dadanya terasa sesak, tak lama kemudian ia pun menutup matanya.
"Aksa!" Devano tercengang melihat Aksa yang bersimbah darah di pelipis serta di perutnya. Mobil pun sulit terbuka karena kondisinya sangat tak memungkinkan.
"Bertahan sebentar, kami akan segera menolongmu!"
Devano dan para polisi panik dibuatnya. Ada dua orang di dalam mobil yang mengepulkan asap itu. Mereka takut jika mobil akan meledak dan dua orang itu masih di dalam.
Lalu lintas terhenti seketika, semuanya berhenti dan berusaha menolong Aksa serta Farel yang sudah tak sadarkan diri.
"Cepat tolong mereka!"
Pintu mobil yang ringsek itu pun akhirnya terbuka, beberapa orang langsung menggendong Aksa dan Farel menjauhi tempat itu. Ambulance pun tak kunjung datang. Devano dan polisi sangat kebingungan.
"AKSA BANGUN!"
"AKSA JANGAN PERGI, TOLONG JANGAN PERGI!"
Air mata Devano menetes saat menatap sahabat yang telah ia anggap sebagai keluarganya sendiri itu terbujur kaku. Darah di pelipis serta perut Aksa tak kunjung berhenti. Devano tak henti- hentinya menepuk pipi Aksa supaya terbangun, tapi lelaki itu tak kunjung bangun juga. Tubuh Devano mulai lunglai, ia tak sanggup. Benar- benar tak sanggup.
"AKSA BANGUN! AZA MASIH MEMBUTUHKANMU JANGAN PERGI! JANGAN TINGGALKAN KAMI!"
__ADS_1
Lelaki itu terisak pilu. Ia berusaha menyumbat luka di perut Aksa. Kini, kemejanya juga ikut terkena darah. Ini sudah seperti mimpi bagi Devano, ia tak kuat melihat Aksa tergeletak seperti itu. Tapi sayangnya ini adalah nyata, bukan mimpi atau sekadar halusinasi.
Senja kala itu tak indah seperti biasanya. Langit yang biasanya berwarna jingga pun tak ada, yang ada hanya warna abu pilu, bersiap meneteskan air hujan.