
Seorang ibu tentu saja mengkhawatirkan anak- anak mereka. Sekejap tak menatap buah cintanya pasti merasakan ada yang kurang. Begitu pula dengan Aza. Tak mendapati anak- anaknya yang sungguh menggemaskan di rumah, keresahan pun datang menjelma menjadi musuh dalam dirinya.
"Hubby..."
"Tenanglah, mereka pasti baik- baik saja. Aku akan mencoba menghubungi Mama Anandhi," ucap Aksa menenangkan istrinya. Ponsel hitam didekatkan di telinganya. Tangan satunya merangkul pundak sang istri bermaksud menyuruhnya untuk tenang karena tak akan terjadi apa- apa dengan baby twins.
"Bagaimana?" tanya Aza tak sabaran. Ia benar- benar tak sabar mendengar kabar baik tentang Aiden maupun Ailee.
"Belum juga diangkat!" Aksa pun mulai kesal dengan istrinya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara Anandhi dan juga anak- anak mereka. Senyum Aza pun mengembang sempurna tatkala mendengarnya. Buru- buru ia menyuruh suaminya untuk mengalihkan menjadi panggilan video saja.
"Halo, Mama, Halo Papa..." ucap Aiden dan Ailee melambaikan tangan mereka. Terlihat jelas mereka sedang berada di mobil Anandhi.
"Mama, kami akan ke rumah Oma melihat kelinci- kelinci yang lucu."
"Baby twins, kenapa kalian nggak pamit dulu sama Mama hiks..." Meskipun ia tahu jika anak- anaknya dalam keadaan baik- baik saja, ia tetap sedih dan rasa khawatir masih bersemayam dalam dadanya.
"Maafin Mama ya tadi nggak pamit dulu sama kalian. Mereka nggak sabaran soalnya. Kalian pasti khawatir ya sama mereka," ucap Anandhi terkekeh melihat putrinya yang menangis. Ia tahu betul jika Aza pasti panik.
"Aku kira mereka diculik, Mah," ujar Aza sembari mengusap air matanya yang sempat jatuh.
"Ada- ada saja kamu ini. Mama tutup ya telponnya. Jangan khawatir, mereka akan aman jika bersama Mama." Anandhi lekas mematikan sambungan telponnya karena sudah memasuki halaman rumahnya. Ia mengajak cucu- cucunya menuju ruang makan terlebih dahulu karena mereka ternyata belum makan siang.
Sedangkan Aza lega mengetahui anaknya berada di orang yang tepat.
"Baby twins lagi pergi, ayo kita pacaran!" bisik Aksa kepada istrinya yang bergelayut di tubuhnya. Suaranya terdengar menggelitik, membuat Aza terkikik geli.
"Mau pacaran ke mana? Aku akan mengikutimu," jawab Aza berbisik pula.
"Ke mana saja yang penting berdua tanpa ada pengacau kecil." Aksa masih berbisik membuat Aza semakin gemas.
"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang, ini tak akan lama karena baby twins pasti akan segera pulang."
Tanpa menunggu lagi Aksa langsung menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya keluar. Ia mengeluarkan motor yang terparkir di samping mobilnya tak lupa dengan dua helmnya pula. Pakai motor lebih mesra, pikir Aksa.
"Sudah siap?" tanya Aksa berbisik.
"Kenapa masih berbisik sih?" Aza mencubit pinggang suaminya dari belakang.
"Iya- iya maap..." Aksa tergelak saat pinggangnya dicubit. Ia pun segera melajukan motornya dengan kecepatan rendah supaya bisa menikmatinya. Kedua tangan istrinya bertengger di pundaknya, membuatnya risih.
__ADS_1
"Aza sayang, tanganmu jangan di sana. Lingkarkan di perutku saja!" perintah Aksa namun tak dihiraukan Aza.
"Biar di sini saja. Kalau kamu ngebut bawa motornya kan aku lebih mudah mencekikmu, Hubby," jawab Aza tergelak.
"Allahu Akbar! Sadis amat sih!"
"Biarin wleee..."
Puas berkeliling kota dan bercerita selama perjalanan, tak lama kemudian, motor terparkir di depan toko kue Oma Aira. Mereka berencana memesan kue untuk Aiden dan Ailee. Ya, sebentar lagi adalah ulang tahun baby twins yang ke lima. Mereka pun berencana untuk mengadakan pesta kecil- kecilan.
"Selamat siang, Tuan Aksa dan Nona Aza," sapa penjaga toko menyambut hangat kehadiran Aza dan Aksa.
"Tolong buatkan kue seperti ini ya dan tolong antarkan ke rumah," ucap Aksa memperlihatkan gambar kue di ponselnya.
"Ohh baik, Tuan. Kirimkan saja gambarnya ke WhatsApp toko. Kami akan segera membuatnya."
Aksa pun segera mengirimkannya. Sedangkan Aza berkeliling melihat toko yang kian lama kian ramai dan terkenal itu. Tangannya juga sudah membawa keranjang untuk menempatkan kue apa saja yang ia inginkan.
"Sudah selesai, Hubby?" tanya Aza karena suaminya sudah berada di sampingnya.
"Sudah, kamu belum selesai?"
"Tambahkan ini!" Aksa mengambil dua slice rainbow cake dan meletakkannya ke keranjang.
"Oh iya lupa!" ucap Aza cengengesan, ia lupa mengambil kue kesukaan suaminya itu.
"Hubby..." Aza memekik saat suaminya mencolek pipinya dengan cream kue.
"Aku nggak sengaja!" tukas Aksa dengan kekehan kecil yang membuat Aza gemas dan langsung mengejarnya.
"Jangan lari! Aku akan membalasmu!"
Toko menjadi ricuh, pasangan itu terus saja berlari mengejar mengelilingi toko hingga pengunjung lain gemas dan iri dengan mereka.
"Ah, terserah! Lari terus saja sana!" gertak Aza, ia begitu kesal karena tak bisa mendapatkan suaminya. Ia pun memilih untuk ke kasir mengemas kue yang telah dipilih tadi. Usai semuanya dikemas, Aza pun bertolak meninggalkan toko.
"Hey, masa begitu doang marah sih?" Aksa tak dihiraukan Aza.
"Buruan! Ayo pulang!"
__ADS_1
Aksa pun patuh, ia segera melajukan motornya meninggalkan toko. Sengaja dirinya melaju dengan kecepatan tinggi karena kesal tak dihiraukan istrinya.
"Hubby, jangan ngebut!" teriak Aza ketika sang suami mulai menambah kecepataannya.
"Ini nggak ngebut!"
"Pelan atau ku cekik lehermu?"
"Iya- iya..." Aksa pun menurunkan kecepatan sepeda motornya. Ia takut jika istrinya sudah melayangkan ultimatum seperti itu.
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di rumah. Terdapat mobil asing di depan rumah mereka yang juga sepertinya baru saja tiba karena pemilik belum keluar dari mobil itu.
"Tania..." lirih Aksa dan juga Aza bersamaan saat mendapati Tania dan lelaki turun dari mobil, yang tak lain adalah kekasih Tania.
"Halo Aza, Halo Aksa..." sapa Tania lembut. Aksa dan Aza hanya terperangah melihatnya. Ini memang bukan pertama kalinya Tania ke rumah mereka, tapi Aza dan Aksa tetap ketakutan melihat wanita itu karena selalu teringat hal masa lampau.
Mereka berempat telah duduk berhadap- hadapan di ruang tamu. Sama- sama terdiam, dan pada akhirnya Tania angkat bicara terlebih dahulu.
"Di mana baby twins?"
"Kenapa mencari mereka?" ketus Aksa, dari dulu hingga sekarang dirinya masih saja bersikap dingin dengan Tania.
"Baby Twins lagi di rumah Oma Anandhi," jawab Aza lembut.
"Oh ya, ini aku ada hadiah buat mereka. Ada mainan sama makanan ringan. Sebentar lagi mereka ulang tahun, Kan? Ini ada kado juga," ucap Tania memperlihatkan barang bawaannya yang begitu banyak dan dikhususkan untuk Aiden serta Ailee.
"Banyak sekali..."
"Tak apa, ini karena aku menyayangi mereka. Aku minta maaf karena nggak bisa dateng ke acara ulang tahun mereka."
"Lagi pula kami juga tak akan mengundangmu kok," sahut Aksa.
"Hubby..." Cubitan keras mendarat di perut suaminya hingga lelaki itu mengaduh.
"Apa? Aku kan benar, aku tak akan mengundangnya ke acara ulang tahun Baby twins!"
"Jaga bicaramu! Pergi saja kalau tak bisa bicara halus dan sopan!" ucap Aza melototkan matanya.
"Nggak papa kok, Za. Santai aja, kan udah biasa Aksa seperti itu denganku," ujar Tania getir. Ia sebenarnya sedih karena perbuatannya dulu ternyata masih membekas di benak Aksa hingga sekarang dan sepertinya akan sampai selamanya.
"Nah, Mak Lampir aja biasa kok kamu yang sewot sih."
__ADS_1
"Diamlah!" Aza membungkam mulut suaminya dengan kedua tangannya supaya tak bisa berbicara hal yang aneh lagi.