My Presdir

My Presdir
Hanya Pamer


__ADS_3

"Aksa nggak bisa beli bensin ya sampai- sampai harus naik sepeda," celetuk Clara.


"Enak aja! Aku tuh cuma pengen romantisan sama Aza!" seru Aksa. Ia akhirnya tersadar juga.


"Dasar bucin!" seru Devano, Clara, dan Sarah serempak. Mereka lalu pergi meninggalkan ruang kesehatan.


Aza menatap suaminya yang sedang berbaring di brankar. Ingin sekali ia mencabik- cabik Aksa, lelaki itu selalu saja membuatnya gemas. Susah kalau dibilangin.


Aksa yang tahu jika Aza pasti akan memarahinya pun segera memutar otak, mencari ide supaya ia tidak mendengar omelan.


"Aduhh Aza, kakiku sakit sekali. Huhuhu..." pekik Aksa sembari memegang kakinya. Ia sungguh hebat dalam berakting.


"Aku akan memijatnya, siapa tahu sakitnya bisa hilang." Aza mengambil minyak urut di kotak obat dan mulai memijat kedua kaki suaminya.


"Kenapa kamu diam saja? Harusnya kesakitan saat dipijat," seru Aza karena Aksa malah anteng dan senyum- senyum sendiri.


"Oh iya lupa. Aduhh sakit..." Aksa lalu mengaduh dan pura- pura menangis. Aza berhenti memijat, ia memukuli kaki Aksa hingga benar- benar kesakitan.


"Kamu membohongiku! Rasakan! Rasakan!"


"Kalau ini beneran sakit, berhenti memukuliku..."


Aksa lalu bangkit dan memeluk Aza supaya tak memukulinya lagi.


"Kenapa kamu selalu membuatku jengkel?" tanya Aza sedikit meninggikan suaranya.


"Karena aku suka jika melihatmu marah seperti ini," jawab Aksa tergelak.


Aza tak menanggapinya lagi, ia langsung pergi ke ruangannya. Mulutnya tak berhenti menggerutu.


*****


Cuaca begitu panas, meskipun ruangan terdapat beberapa AC tapi gerah tetap saja menyerang. Sesekali mengusap peluh yang bercucuran, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


"AC nya rusak apa gimana ya? Kok panas banget," celetuk Sarah.


"Mungkin cuacanya emang lagi panas," jawab Aza.


"Aku cek dulu ah, siapa tahu beneran rusak."


"Kalaupun rusak kamu juga nggak akan bisa perbaiki kan?"


"Iya sih, tapi kan bisa langsung panggil OB."


Sarah lalu mengecek AC di ruangan itu, ia pun menggelengkan kepalanya ketika mendapati AC nya ternyata belum menyala. Pantas saja ruangan terasa panas. Ia lalu menyalakan semua AC.


"Kenapa, Sar?" tanya Clara memasuki ruangan Divisi Keuangan.


"AC nya dari tadi pagi ternyata belum dinyalain, Mbak. Pantas saja panas, lihat nih bajuku basah kuyup gara- gara keringat." Sarah memutar tubuhnya memperlihatkan kemejanya yang basah.

__ADS_1


"Kamu sih sampe kelupaan gitu." Clara dan Aza tertawa, Sarah terlalu lebay. Padahal bajunya tidak basah kuyup.


Kring kring kring


Telpon kantor yang berada di meja Aza berbunyi, ia segera menempelkannya di telinga.


"Halo, dengan Azalea yang cantik jelita tiada tara di sini. Apa Anda memerlukan bantuan dari Divisi Keuangan?" seru Aza tanpa jeda sedikitpun.


"Dihhh, kamu tuh jangan kepedean. Udah cepet ke sini, suamimu yang tampan ini mau pergi meeting. Tolong persiapkan keperluanku ya," seru Aksa dibalik telepon.


"Heyy Pak Presdir, Anda juga jangan kepedean ya," tukas Aza.


"Okay, lima menit nggak sampai ke ruanganku aku akan memecatmu." Aksa mematikan teleponnya begitu saja membuat Aza mendengus kesal. Wanita itu lalu mengambil paper bag berisikan kemeja, jas, celana, dasi, yang ia bawa dari rumah tadi.


"Telat satu menit, ngapain aja kamu?" tanya Aksa ketika Aza sudah memasuki ruangannya. Lelaki itu bergaya layaknya bos sungguhan, duduk di kursi kebesarannya, dan mengangkat satu kakinya.


"Pipis dulu."


"Ini bajumu. Sudah nggak ada yang kamu butuhkan lagi, kan? Kalau enggak, aku akan makan siang sama Sarah dan Mbak Clara." Aza menyodorkan paper bag ke meja Aksa tapi lelaki itu mencekal tangannya sebelum Aza keluar.


"Makan siang denganku, nanti kamu ikut meeting aja. Biar aku lebih semangat gitu," ucap Aksa lirih di akhir kalimatnya, ia sedikit malu mengatakannya.


Aza melipat tangannya di dada, menatap lekat lelaki yang tengah memasangkan kancing kemeja. Ia berpikir, apa yang dikatakan Aksa itu benar jika ada dirinya lelaki itu akan lebih semangat?


"Za, kancing yang atas susah. Pasangin dong..."


Azabpun mendekat, ia berjinjit karena tak sampai. "Gini aja nggak bisa!"


"Sudah selesai, cepat pakai jasnya." Aza mengulurkan jasnya, tapi Aksa tak mau memakainya sendiri. Terpaksa ia pun memakaikannya, Aksa melebihi anak kecil, sangat manja.


"Ayo kita pergi..." ucap Aksa merangkul istrinya dan mengajaknya keluar.


"Tapi tadi aku sudah janji mau makan siang sama Sarah dan Mbak Clara."


"Mereka akan mengerti dengan Pak Presdir."


"Tapi kan ada Devano yang biasanya menemanimu? Ajak dia saja jangan aku."


"Devano juga meeting, hari ini jadwalnya bentrok. Jadi kami harus berbagi tugas."


*****


Aksa dan Aza sudah sampai di restoran yang dijanjikan. Aksa mengajak Aza ke meja reservasi, ternyata client Aksa itu belum ada di sana. Jadi, masih ada kesempatan untuk mereka berduaan.


"Dimana clientmu? Kenapa belum sampai juga?" Aza terheran- heran karena client suaminya tak kunjung datang sampai- sampai mereka sudah menyantap makan siang terlebih dahulu.


"Entahlah, dia memang nggak pernah on time sejak dulu. Nyebelin!" Aksa tampak acuh, ia memang kurang suka dengan clientnya kali ini.


"Kamu sudah mengenalnya, Hubby?"

__ADS_1


Aksa mengangguk, "dia temen SMA dulu."


Baru saja dibicarakan, orang yang dimaksud sudah sampai. Ia lalu duduk di kursi depan Aksa dan Aza. Tersenyum lebar tanpa merasa bersalah sedikitpun, padahal ia telah membuat Aksa dan Aza menunggu lama.


"Hey my bro!" sapa Aron, client Aksa.


"Nggak usah sok akrab gitu, langsung aja. Aku udah nunggu lama tau nggak sih!" seru Aksa.


"Iya- iya maap, kan waktunya makan siang, jadi macet deh jalanan. Oh ya, dia siapa, Sa?" tanya Aron memandang Aza.


"Istriku lah. Keren kan aku bisa dapet cewek secantik dia?" Aksa memeluk Aza bermaksud pamer kepada temannya itu.


"Aron..." Aron mengulurkan tangannya bermaksud memperkenalkan diri. Tapi bukan Aza yang membalas uluran tangan itu, melainkan Aksa.


"Namanya Aza, sudah cukup ya. Sekarang kita bahas kerjaan."


"Sayang, kamu nggak papa kan nunggu sebentar?" Aksa mengecup pipi Aza membuat Aron semakin iri melihatnya. Pasalnya, Aron itu masih lajang.


Aza diam, ia asyik memakan french fries dan memainkan ponselnya. Tapi ia juga sedikit- sedikit mendengarkan perbincangan Aksa dan Aron yang semakin lama keluar dari hal pekerjaan.


Ya, Aksa malah mengejek Aron terus- terusan. Mengatainya tak laku, tak ada yang mau, jomblo akut, dan masih banyak lagi. Ah, Aza semakin tahu jika Aksa mengajaknya karena ingin pamer saja jika dirinya sudah memiliki istri.


"Semoga kerjasama berjalan lancar ya, dan semoga kamu cepet dapet jodoh. Biar ada yang ngurusin, lihat tuh penampilan kamu udah kayak upil saja," ledek Aksa memandang remeh Aron.


"Halah! Kamu nggak inget dulu gimana? Nggak usah ngeledek, dulu kamu malah nggak punga pacar sama sekali. Hanya saja, sekarang keberuntungan berpihak denganmu hingga mendapat istri yang cantik," balas Aron tak terima. Lelaki itu lalu berpamitan karena ia masih ada meeting lagi.


"Udah puas pamerin istri kamu ini sama temen kamu tadi?" tanya Aza.


"Belum, dia tadi nggak begitu cemburu. Besok aku akan membuatnya lebih cemburu lagi."


"Memangnya kenapa kamu sampai mau bikin dia cemburu gitu sama kamu?"


"Soalnya pas SMA dulu dia juga ngeledekin aku gara- gara nggak punya pacar. Sedangkan dia dulu pacarnya lima, jadi sombong gitu deh dia. Eh sekarang satu pun nggak ada, karena dia udah dicap fakeboy."


"Jadi ceritanya kamu mau balas dendam?" Aza tak habis pikir dengan suaminya.


"Iya lah, hahahhaa..."


.


.


.


.


.


Correct me if I have typo❤️

__ADS_1


#maaf, sehari cuma bisa update satu episode🙏


__ADS_2