
Mendengar kabar buruk itu Aksa langsung mengemas barangnya dan bersiap kembali ke ibukota. Awalnya ia sendiri yang akan pulang, tapi Aza juga ingin pulang menemaninya.
"Maaf ya, malah mengganggu liburan kita," ujar Aksa membantu istrinya bersiap.
"Kita bisa ke sini lagi jika urusannya sudah selesai," jawab Aza.
Semuanya telah siap, vila yang baru saja dikunjungi itu sudah harus ditinggalkan lagi. Enggan rasanya, semoga masih ada hari esok untuk kembali lagi ke sana.
*****
Keadaan kantor semakin runyam, semuanya resah karena semua komputer di kantor ada yang meretasnya. Seluruh data hilang, komputer terkena virus. Pasti ada seseorang di balik ini semua.
Beberapa ahli komputer kantor telah berusaha mencari sumber masalah dan mengembalikan semua data. Bersyukur, komputer karyawan masih bisa diperbaiki. Hanya komputer di meja Aksa dan juga Devano saja yang sudah tak bisa diperbaiki. Data- data penting, perjanjian kontrak, dan lain sebagainya hilang. Sebagian memang sudah berada di komputer pribadi Aksa, tapi design gedung terbarunya masih ada di sana.
"Sialan!"
Entah sudah berapa kali dirinya menggebrak meja. Tangannya terus mengepal, otaknya berputar dan berpikir siapa yang kemungkinan di balik semua ini.
"Kita tunggu penyelidikan ahli komputer di kantor terlebih dahulu. Sekarang pekerjaan kita adalah membuat designnya kembali, Pak Yohan akan segera mengeceknya," ujar Devano menepuk punggung Aksa.
Memang mudah untuk mendesain ulang gedung itu, tapi ia masih marah karena usahanya tiba- tiba saja dicuri seseorang.
"Sa, apa kamu mempunyai musuh akhir- akhir ini?" tanya Devano di sela bekerjanya.
"Entahlah, aku sendiri merasa tak punya musuh," jawab Aksa. Ia masih berkutat dengan komputernya dan berusaha membuat desain lagi.
Tiba- tiba saja pintu ruangan terbuka dan masuklah Clara dengan panik.
"Apa ini desain gedung milik perusahaan kita?" tanyanya sembari menunjukkan ponselnya yang memuat gambar sebuah desain gedung yang sangat bagus.
"Kurang ajar!" Aksa menggebrak meja ketika mengetahui desain gedung di ponsel Clara. Itu adalah gedung desainnya yang dicuri. Dan gedung itu telah dimodifikasi sedikit, di atas namakan Ganesha Group. Design Mall itu telah merambah ke pasaran dan diminati kalangan masyarakat tapi mereka tahu jika itu adalah proyek baru Ganesha Group, bukannya Sanjaya Group.
"Bella! Sialan tuh anak!"
__ADS_1
"Pasti dia stuck ide dan akhirnya mencuri ide kita supaya Vincent Group tak membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan miliknya," ujar Devano.
"Akan kupastikan jika Vincent Group tetap akan memilih desain Sanjaya Group daripada Ganesha Group!" seru Aksa bersungguh- sungguh, ia kembali melanjutkan mendesain lagi. Semuanya dimulai dari nol, berubah total.
"Aku nggak nyangka aja kalau Bella ternyata busuk. Padahal awalnya dia terlihat meyakinkan, tapi kenyataannya licik sekali," ujar Devano.
"Aku akan memberinya pelajaran. Aku akan membalasnya berkali-kali lipat," sahut Aksa.
"Pencurian data seperti ini bisa terkena pasal berat dengan hukuman yang berat juga. Tapi sebelum itu kita harus punya bukti, sedangkan CCTV kita sudah rusak semua tak ada bukti lain."
Aksa tampak berpikir keras, tapi itu bukan hal yang harus diselesaikan pertama kali. Desain gedung lebih penting daripada mengurus Bella yang sangat licik.
*****
Sedangkan, di Ganesha Group, seorang wanita tengah tertawa renyah. Tawa kemenangan karena akhirnya dirinya berhasil mengalahkan Aksa. Dia berhasil mencuri desain gedung yang susah payah dirancang oleh Aksa yang sangat ahli di bidang arsitektur.
Semua kalangan dan perusahaan lain telah mengetahui jika rancangan gedung yang baru saja beredar di sosial media merupakan rancangan Ganesha Group, bukan Sanjaya Group.
"Vincent Group pasti akan membatalkan kerjasama dengan Sanjaya Group, dan mereka hanya akan bekerjasama dengan perusahaanku," ucapnya menyeringai.
"Lihat saja, pertemuan dengan Vincent Group jam tiga sore nanti. Untuk mendesain ulang sebuah gedung memerlukan waktu lama, dan aku yakin jika Aksa tak akan menyelesaikan," ucap Bella dengan senyum licik terukir jelas.
*****
Jam berputar seolah lebih cepat hari ini. Tiga jam sudah ia duduk menatap komputernya dan berkutat membuat desain gedung. Dua jam lagi pertemuan dengan Vincent Group akan berlangsung. Aksa juga sudah tak sabar untuk balas dendam dengan Bella yang sudah mencuri rancangan miliknya.
"Apa sudah selesai?" tanya Devano. Ia cukup cemas dengan Aksa yang masih saja bergulat dengan komputer.
"Tenang saja, udah selesai kok," jawab Aksa seraya meregangkan otot tubuhnya yang kaku.
"Aku akan ke pantry bikin kopi," pamit Aksa. Ia memang lebih suka pergi ke pantry sendiri daripada harus menelepon Office Boy atau Office Girl untuk membuat dan membawakannya.
"Hubby, aku membawakanmu kopi dan cemilan. Di mana kamu?" seru Aza tiba- tiba saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sedangkan Devano malah terpingkal- pingkal melihatnya.
__ADS_1
"Aksa di belakang pintu, Za. Noh kejepit!" ucap Devano dengan tawa yang tak kunjung reda.
"Ayihhh, Hubby. Kenapa kamu di sana? Kaya cicak kejepit aja sih!" Aza memekik ketika melihat suaminya berada di belakang pintu dengan raut wajah yang tak ramah.
"Kamu sih, masuk nggak ngetuk dulu. Tadi kan aku juga mau keluar," gerutu Aksa. Istrinya langsung menuntun dirinya untuk duduk dan menikmati cemilan serta kopi yang telah ia bawa.
Kepala lelaki itu disandarkan pada bahu istrinya. Tangannya melingkar, memeluk tubuh mungil yang telah menemaninya bertahun- tahun lamanya. Tangan istrinya ia bimbing supaya mengusap- usap kepalanya. Ah, manja sekali lelaki beranak dua itu.
"Ehm, Hubby..."
"Hm?"
"Bagaimana dengan desain dan juga data- data yang dicuri Bella?"
Aksa kembali menegakkan kepalanya ketika istrinya bertanya seperti itu. Raut wajah kesal karena teringat hal itu pun nampak kembali. Ingin sekali dia langsung pergi menemui Bella dan membalaskan semuanya.
"Aku sudah merancang yang baru dan jauh lebih baik daripada desain yang dicuri manusia licik itu," ucap Aksa sungguh- sungguh.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan kepadanya?"
"Mencekiknya, menguliti tubuhnya, memotong tangan dan juga kakinya, lalu kutembak kepalanya hingga otaknya berceceran di lantai. Setelah itu akan ku buang jasadnya ke gunung Merapi." Aksa berucap dengan penuh kesungguhan.
"Apa kamu akan benar- benar melakukannya?" tantang Aza. Ia tahu betul jika suaminya tak akan sejahat itu meskipun perlakuan seseorang terhadapnya terlalu jahat dan sulit dimaafkan.
"Kalau aku benar- benar melakukannya yang ada aku akan dipenjara dan tak bisa mantap- mantap denganmu," ucap Aksa dengan nada manja, ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
"Ya, aku tahu itu," sahut Aza terkekeh. "Jangan pernah berbuat hal yang aneh- aneh, Hubby. Aku nggak mau kehilanganmu," tambahnya memperingatkan sang suami.
"Kalau begitu aku akan berbuat hal nggak aneh, ehm...aku akan...." Tangannya merayap mencari sesuatu yang dimiliki istrinya.
"Hubby..."
"Sekali saja. Berikan aku semangat, sebentar lagi aku akan berperang dengan si Bella. Jadi, aku membutuhkan semangat lebih darimu," ucap Aksa dengan suara parau. Matanya penuh harap dan hasratnya membuncah.
__ADS_1
"Tapi bukan seperti ini juga, Hubby..." Aza hanya pasrah. Ia biarkan suaminya itu berbuat semaunya. Awas saja kalau sampai berkali- kali. Jika Aksa melakukannya berulang kali, sudah dipastikan jika Aza akan menjadikan suaminya itu sate untuk makan malam nanti.