My Presdir

My Presdir
Tiga Preman


__ADS_3

Waktu bergulir sangat cepat. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan pun telah berganti. Jarum jam terus saja berputar, tak pernah berhenti barang sejenak.


Layaknya telah direkatkan lem, Aksa dan Aza tak bisa lepas. Mereka menjalani hari- hari dengan kebahagiaan yang tak terkira. Menikmati hidup yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan penuh dengan suka cita.


Seperti malam- malam biasanya, Lelaki itu dengan senang hati memangku dan memeluk istrinya. Mereka bermanja- manjaan di ranjang, menyaksikan konten- konten aneh dari You Tube.


"Ikan terbang apa nih yang trending?" tanya Aksa saat tak sengaja melihat tulisan dari layar ponsel Aza.


"Yang di televisi itu loh, Hubby. Itu yang pagi sampai sore tobat, tapi malamnya dangdutan. Isinya Ku Menangis terus," jawab Aza.


"Ohh, jadi ikan terbang yang itu."


"Tapi sekarang udah ganti."


Tiba- tiba saja ponsel Aza bergetar, pertanda ada telpon masuk. Segeralah ia menggeser tombol hijau dari sana.


"Ada apa, Sand?" tanya Aza terheran- heran. Sudah lama Sandra tak menghubungi dirinya karena sedang ada KKN di desa Kenari. Eh, entahlah di desa mana.


"Kak, tolong Sandra. Sandra mau pulang, tapi di jalan dihadang preman- preman. Sarah dirampok, Mbak!" ucap Sarah tersedu- sedu dibalik telepon.


"Sekarang kamu di mana?"


"Kak, tolong! Sopir taksi tadi tak bisa melawannya, Aku takut kalau mereka berbuat yang tidak- tidak kepadaku..."


Aza yang mendengarnya jadi ketakutan, ia segera meminta alamat Sandra saat itu.


"Ahhh!" pekik Sandra. Wanita itu sepertinya benar- benar dalam bahaya.


"Aku akan segera datang, kamu jangan takut!"


Aksa sebenarnya malas sekali untuk membantunya, tapi Aza memaksanya. Jadi, ia pun terpaksa ikut, bahaya juga kalau Aza ke sana sendirian.


Dan benar saja, di sana Sandra dikerubungi tiga preman yang siap memperkosanya. Tempat yang sangat gelap dan sepi, pantas saja terjadi kejadian seperti ini. Terlihat sopir taksi Sandra tadi sudah terkapar di tanah, sepertinya para preman itu menghabisinya terlebih dahulu supaya lebih mudah menjamah Sandra.


"Tolong, jangan apa- apakan saya!" Sandra terus menjerit dengan air mata yang membasahi pipi.


Aksa langsung mengatur strategi, ia akan mengalihkan pandangan preman dan saat itu Aza mengajak Sandra masuk ke dalam mobil.


"Hey, jangan menyentuhnya atau aku akan menghabisi kalian!" gertak Aksa yang mampu membuat para preman melepaskan cekalannya dari tubuh Sandra. Para Preman pun berdiri dan menghampiri Aksa.


"Sok- sokan jadi jagoan! Kita pukul sekali aja juga paling langsung masuk UGD!" seru salah satu preman memandang remeh kepada Aksa yang kala itu memakai piyama.


"Bos, dia bawa cewek cantik juga! Wahhh, kita punya dua cewek malam ini!" Salah satu preman memandang Aza yang kala itu berusaha mengajak Sandra bangun.


"Hai, Cantik!" Bos Preman itu mendekati Aza dan Sandra.


Aksa langsung membabi buta melihat Aza yang hampir saja disentuh tangan kotor para preman badebah itu.

__ADS_1


Bughh!!!


"Kurang ajar! Berani menyentuh istriku, akan kupastikan besok kau tak akan melihat dunia lagi!"


Melihat Bos preman dihajar Aksa, dua anak buah itu pun ikut menyerang Aksa. Lelaki itu terdorong hingga jatuh ke tanah karena penyerangan yang tiba- tiba.


"Hubby!!!" pekik Aza tatkala melihat suaminya tersungkur akibat tendangan di perutnya tadi.


"Jangan khawatir, masuk saja ke dalam mobil!"


Aksa langsung bangkit dan kembali menyerang tiga preman dengan baju yang serba hitam serta kulit yang hitam pula, hanya gigi saja yang putih tapi tak seputih melati. Aksa sangat jijik melihat orang seperti itu.


Sedangkan Aza hanya menurut, ia mengajak Sandra masuk ke dalam mobil. Hatinya tak karuan melihat suaminya yang melawan tiga orang sekaligus. Beruntung Aksa bisa mengimbanginya, meskipun ia tetap mendapat pukulan ataupun tendangan.


"Ada yang luka nggak?" tanya Aza. Ia miris sekali melihat baju Sandra yang sudah robek dan siap untuk diperkosa.


"Enggak, Mbak. Tapi aku takut sekali, aku hampir ternoda..." Sandra mendekap Aza dengan erat, tubuhnya bergetar hebat pertanda takut yang


teramat.


"Lumayan juga nih bocah!" seru preman- preman itu ketika melihat aksi bela diri Aksa yang cukup bagus dan mengimbangi mereka.


"Sini maju!"


"JANGAN BERGERAK!"


Perhatian para preman dan juga Aksa teralihkan, para preman langsung kalang kabut saat melihat banyak sekali polisi yang tiba- tiba datang dengan pistol di tangam mereka.


Polisi yang dihubungi Aksa sebelum mereka kemari pun akhirnya datang, mereka segera mengamankan tiga preman itu. Ternyata sudah berkali- kali polisi mendapatkan laporan serupa tapi tak pernah bisa meringkus preman itu.


Suara sirine sengaja tak dinyalakan karena takut para preman itu kabur sebelum polisi menangkap mereka. Alhasil, beberapa polisi pun bergerak cepat menangkap preman yang selama ini membuat resah. Aksi kejar- kejaran pun sempat terjadi, tapi preman tetap kalah dan akhirnya tertangkap juga.


"Maaf, Pak. Kami datang terlambat," ucap salah satu polisi yang mendekati Aksa dan membantunya berdiri. Aksa terduduk lemas ketika menerima tendangan dari Bos preman tadi.


"Tak apa, Pak. Jangan biarkan para cecunguk ini lolos," jawab Aksa.


Polisi segera menyuruh preman itu masuk ke dalam mobilnya dan segera membawanya ke kantor polisi untuk mengurus hukuman. Salah satu dari mereka juga menolong sopir taksi yang terkapar tadi.


Aza keluar dari mobil, ia langsung mendekap suaminya. Wajah Aksa membiru karena tonjokan preman badebah itu.


"Hubby..."


"Aku nggak papa kok. Jangan khawatir, ayo pulang sekarang."


Tak lupa, mereka mengambil koper Sandra yang terlempar tak jauh dari sana. Sandra benar- benar beruntung karena berhasil menghubungi Aza dan Aksa sehingga tubuhnya tak jadi sasaran preman itu.


Aksa membiarkan istrinya duduk di belakang bersama Sandra. Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Selama perjalanan, Sandra tak melepas pelukannya, ia benar- benar takut.

__ADS_1


"Kamu sudah aman, ayo turun," ajak Aza karena mobil telah sampai di halaman depan.


Sandra mengangguk lemah, ia segera turun.


"Makasih ya, Kak Aksa," seru Sandra. Wanita itu memeluk erat tubuh Aksa. Membuat Aksa langsung mendorongnya menjauhi tubuhnya.


"Jangan kurang ajar! Segera masuk ke dalam!" seru Aksa, ia lalu menggandeng istrinya yang terpaku akibat adegan tadi. Aksa sangatlah marah dibuatnya, ia tak suka dengan kelakuan Sandra itu.


"Hubby..." Aza terisak memeluk tubuh suaminya.


"Hey, kenapa menangis?"


"Rasanya sakit sekali saat melihatmu dipeluk wanita lain huuu...huuu...huuu..."


Aksa tersenyum tipis, ia senang sekali. Itu berarti Aza sangatlah cinta dengannya, hingga tak rela jika dirinya berada di pelukan wanita lain.


"Maaf ya, aku juga nggak tahu kalau dia akan memelukku." Lelaki itu mengusap kepala istrinya mencoba menenangkannya.


"Hubby, jangan biarkan tubuhmu dipeluk wanita lain lagi. Kamu cuma milikku..." ucap Aza di sela tangisannya.


"Iya, Aksa cuma milik Aza selamanya. Berhentilah menangis."


Aza lalu beranjak dari tempatnya, ia menuju ke meja riasnya mengambil hand sanitizer. Ia lalu kembali memghampiri suaminya, melepas bajunya hingga terpampang dada bidang milik lelaki itu.


"Kamu mau bermain?" tanya Aksa.


"Enggak," jawab Aza singkat. Setelah berhasil melepaskan baju dan kaos dalam Aksa, ia melemparkannya ke keranjang baju kotor.


"Bajunya jangan dipakai lagi, Hubby. Tunggu sebentar, aku akan menghilangkan jejak pelukan Sandra dari tubuhmu!"


Aksa hanya mengernyit mendengarnya, ia membiarkan Aza berbuat semaunya. Wanita itu segera menuangkan hand sanitizer begitu banyak ke tangannya, lalu mengoleskannya pada tubuh Aksa.


"Hey, ini dipakai di tangan bukan dioleskan di tubuh."


"Aku tahu, Hubby! Kamu tuh diam saja, biar kumannya hilang!"


"Kebanyakan ini, Za. Tubuhku lengket jadinya," seru Aksa. Tubuhnya mengkilat karena terlalu banyak memakai hand sanitizer yang salah tempat.


"Nggak papa, Hubby. Nanti juga meresap ke kulitmu, sekalian perawatan juga biar kulitmu tambah mulus dan kenyal."


Aksa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang masih melulur tubuhnya dengan body lotion. Di sisi lain ia sangat suka dengan Aza yang posesif.


"Perawatan kok pake hand sanitizer!"


"Ingat ya, Hubby. Pokoknya kalau ada yang memelukmu lagi, laporin ke aku. Nanti aku labrak tuh cewek, bakal aku ajak berantem. Berani- beraninya deketin laki orang!" Aza tak berhenti menggerutu membuat Aksa terkekeh gemas.


"Baik, Nyonya Aksa!" Aksa memberikan hormat kepada Aza.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan Aksa. Sekarang kita pergi tidur yuk, sudah larut malam."


"Maaf, tidak bisa, Nyonya Aksa. Kita harus melakukan sesuatu yang sangat penting, dan mungkin kita akan tidur tengah malam nanti," ucap Aksa, tangan lelaki itu menjalar di tubuh Aza mencoba membuka bajunya.


__ADS_2