
Aksa mendudukkan Aza di mobil dengan hati- hati dan tak lupa memasangkan sabuk pengaman untuk Aza. Wanita itu terlihat gugup karena jaraknya dengan Aksa begitu dekat. Aksa yang tahu kalau Aza tengah gugup hanya tersenyum smirk.
"Deg- degan ya deket sama cowok ganteng kaya aku," ucap Aksa meledek. Aza tak menjawab, ia langsung memalingkan mukanya menghindari tatapan Aksa.
Kemudian Aksa mengitari mobil dan duduk di samping Aza. Melajukan mobilnya meninggalkan tempat pemakaman umum. Di dalam mobil, Aza dan Aksa sama- sama diam. Mereka sangat canggung dan bingung untuk berbuat apa. Aza hanya memainkan jari tangannya dan menatap ke arah jalanan. Sedangkan Aksa, ia fokus mengemudikan mobilnya dan berdehem kecil tapi tak digubris Aza.
"Dimana rumahmu?" tanya Aksa memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Aku enggak punya rumah." Jawaban Aza membuat Aksa langsung mengerem mobilnya mendadak hingga membuat kepala wanita itu terbentur.
"Ahh, maafkan aku. Lalu selama ini kamu tinggal dimana kalau enggak punya rumah?" tanya Aksa.
"Tinggal di rumah kontrakan! Makanya kalau ada orang ngomong tuh dengerin sampai selesai!" jawab Aza ketus. Ia mengusap- ngusap jidatnya yang memerah.
Aksa meringis menunjukkan deretan giginya yang rapi, ia kembali melajukan mobilnya mengikuti arahan dari Aza. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai di kontrakan Aza. Kontrakan yang sangat kecil. Bangunannya pun sudah hampir roboh, genting atapnya banyak yang bolong pasti kalau hujan Aza sangat kebingungan.
"Kamu tinggal di sini?" tanya Aksa terheran- heran.
"Kalau nggak tinggal di sini ngapain aku nyuruh kamu nganter aku ke sini, dasar bodoh!" umpat Aza. Ia langsung membuka pintu dan keluar dari mobil.
Bukannya langsung pulang, Aksa malah ikut Aza ke rumah kontrakannya. Matanya terus menyapu setiap sudut depan rumah itu.
"Kok nggak langsung pulang sih?" tanya Aza.
"Suka- suka aku dong," ucap Aksa. Ia duduk di kursi kayu depan rumah itu tanpa menunggu dipersilakan oleh sang pemilik.
"Pulang sana! Nanti dilihat tetangga malah panjang urusannya."
"Ya malah bagus dong! Nanti mereka pasti akan salah paham, terus cepet- cepet nikahin kita deh," jawab Aksa enteng. Aza yang geram langsung melepas sandalnya dan melemparnya tepat di wajah Aksa.
"Nikah tuh sama sandal!" ucap Aza sebelum ia masuk ke dalam rumah dan menguncinya. Aksa tersenyum kecil melihatnya.
*****
Tiga puluh menit berlalu, tak ada tanda- tanda Aza keluar dari rumah. Aksa mengintip dari jendela, tapi tak menemukan wanita itu. Ia pun menggedor pintunya dan tetap saja tak ada sahutan dari dalam. Aksa mulai panik, ia takut terjadi apa- apa dengan wanita itu.
"Heyyy, cewek egois, bukain dong pintunya!" teriaknya membuat para tetangga datang menghampirinya.
"Bang, kenapa gedor- gedor pintu gitu sih?" tanya emak- emak samping rumah Aza, ia membawakan sapu yang sepertinya siap digunakan untuk memukul orang yang telah mengganggunya itu.
__ADS_1
"Heh, situ bisa diem nggak! Gue lagi sakit gigi malah teriak- teriak nggak jelas!" teriak bapak- bapak dengan koyo di pipinya dan baru saja keluar dari rumah di samping kanan kontrakan Aza.
"Maaf maaf..." Aksa mengatupkan kedua tangannya sembari tersenyum ketakutan.
Aza yang mendengar keributan di luar pun segera menghampirinya.
"Ada apaan sih dari tadi berisik banget!"
Gubraakkkk!
Aksa yang kala itu bersandar di pintu terjatuh karena tiba- tiba pintu itu terbuka. Sontak, Aza tertawa melihat Aksa yang terkapar dan meringis kesakitan.
"Kalau mau buka tuh bilang dulu dong! Jadi jatuh kan aku!"
"Lagian, siapa suruh nyender di depan pintu orang!"
Aksa mengulurkan tangannya kepada Aza berharap wanita itu membantunya berdiri, tapi Aza tak mengerti dan hanya mengernyitkan dahinya.
"Bantuin berdiri dong! Astagaaaaa gitu aja nggak ngerti!"
Aza pun menarik tangan Aksa, tapi Aksa malah tak berusaha bangun dan ia malah menarik Aza hingga jatuh di pelukannya.
"Suruh bantuin bangun malah meluk aku gini," ucap Aksa menggelengkan kepalanya meledek Aza.
Aza memukuli dada Aksa dengan keras, "Ini kan gara- gara kamu! Huhh, dasar!"
Aksa terkekeh geli melihat Aza yang kesal, wanita itu seperti hiburan tersendiri bagi seorang Aksa.
Aksa dengan santainya masuk ke dalam rumah Aza. Menyusuri setiap ruangan yang sangatlah sempit dan banyak kerusakan. Bahkan kamar untuk para maid di rumahnya lebih besar dari pada rumah kontrakan yang Aza tempati.
"Kok sepi? Kamu tinggal sendiri di sini?"
Aza mengangguk, ia memilih duduk dan memainkan ponselnya. Aza membiarkan Aksa berbuat semaunya. Ia sudah sangat kesal dengan lelaki yang menyebalkan itu.
"Dimana Papa sama Mama? Kamu nggak punya saudara?" tanya Aksa menghampiri Aza dan ikut duduk di samping wanita itu. Duduk di sofa yang tak layak untuk diduduki dan lebih pantas untuk dibawa ke tukang rongsokan.
"Papa meninggal lima bulan yang lalu, kalau Mama nggak tahu. Kata Papa, Mama sudah meninggal pas melahirkan aku. Tapi, papa enggak pernah nunjukin dimana makam Mama."
Hati Aksa mencelos seketika, kini Aza hidup sebatang kara. Tak ada keluarga lagi yang melindungi dan menemani hidupnya.
__ADS_1
"Baiklah wanita egois, sepertinya aku harus benar- benar melindungimu!" batin Aksa.
"Kamu nggak mau membuatkanku minuman? Aku haus nih," ucap Aksa.
"Adanya air putih, nggak ada teh atau kopi. Semuanya mahal, aku harus berhemat!" ucap Aza yang lagi- lagi membuat Aksa bergetar. Sebegitu miskinnya kah wanita itu sampai gula, teh, dan kopi saja tidak punya?
"Kamu umur berapa sih? Kuliah atau kerja?" Aksa tak berhenti melayangkan pertanyaan- pertanyaan untuk wanita yang ada di sampingnya.
"Aku baru wisuda bulan kemarin. Lagi nunggu lamaranku diterima apa enggak."
"Sudahlah! Kenapa malah tanya- tanya terus sih, aku mau siap- siap dulu. Minggir!" ucap Aza dan berlalu menuju ke kamarnya.
Aksa memandang wanita itu, wanita yang ternyata penuh duka dalam hidupnya. Bagaimana bisa wanita itu hidup di rumah yang tak layak seperti ini, hidup kesusahan, dan tak ada sanak saudara di sampingnya. Sungguh, ini sangatlah memilukan.
Pintu kamar Aza terbuka, nampaklah Aza yang sudah rapi dengan seragam kerja dengan rambut yang dikepang dua.
Aksa mengernyitkan dahinya terheran- heran, "Mau kemana?" tanya Aksa penasaran.
"Kerja lah! Aku dapet sift sore hari ini."
Kerja? Kondisi kakinya belum pulih dan ia harus beristirahat total, tapi kenapa ia ngeyel untuk bekerja? Apa dia memang tidak mempunyai uang sama sekali?
"Katanya lagi nunggu pemanggilan kerja?"
"Emang Iya, aku dari SMA itu udah kerja sampai lulus kuliah. Jadi pelayan Restoran, lumayan uangnya bisa bayar kontrakan sama makan sehari- hari."
Aza memang sudah bekerja sejak SMA, Ayahnya yang sakit- sakitan membuat Aza harus bekerja untuk menggantikannya. Ia bekerja setelah sepulang kuliah. Uang yang dihasilkan memang tak seberapa, tapi cukup untuk membayar kontrakan dan makan sehari- hari. Tapi ia sangatlah bersyukur, setidaknya ia tak perlu mengeluarkan biaya kuliah karena mendapat beasiswa. Yang penting bagi wanita itu adalah bisa makan dua hari sekali saja sudah beruntung.
Kenapa hanya makan dua kali sehari? Gaji yang diterima hanya cukup untuk makan dua kali sehari, karena ia harus berhemat untuk satu bulan ke depannya.
"Pulanglah, aku akan segera mengunci pintu rumahnya," ucap Aza. Aksa pun berdiri dan ikut keluar bersama Aza.
"Biar aku antar ke tempat kerjamu."
"Nggak perlu, aku bisa naik angkot." Aza menolaknya, ia tidak mau merepotkan orang lain.
"Naik ke mobilku atau aku gendong seperti tadi?" ucap Aksa melototkan matanya.
"Jangan mengancamku! Aku nggak mau diantar lagi."
__ADS_1
"Ohh gitu, yaudah aku gendong aja biar tetanggamu mengira kalau aku udah macem- macemin kamu terus langsung dinikahin deh kita." Aksa melipat tangannya di dada sembari melayangkan senyum devilnya.