My Presdir

My Presdir
Gara- gara Kopi


__ADS_3

Aza kembali termenung, rambutnya yang masih basah dan berantakan ia biarkan tanpa disisir ataupun dikeringkan terlebih dahulu. Wanita itu berselonjor di ranjangnya dan menyandarkan tubuhnya. Terlihat lesu dan tak punya semangat sedikitpun.


"Jangan bersedih, aku nggak suka kalau kamu seperti ini terus," seru Aksa. Lelaki itu tengah membuka kotak obat dan bersiap mengobati lutut Aza yang terluka.


"Hubby, aku kira dia orang yang baik tapi ternyata aku salah. Dia sangat jahat," lirih Aza dengan tatapan kosong.


"Mama Anandhi nggak jahat, dia itu baik. Bukankah selama ini kamu juga dekat dengannya? Dia dulu meninggalkanmu karena melanjutkan pendidikannya. Dia menginginkan pekerjaan yang baik sehingga bisa menopang ekonomi keluarga," tutur Aksa panjang lebar berusaha memberi pengertian kepada istrinya. Ia lalu duduk di samping Aza setelah selesai memberi obat merah dan perban di lutut wanita itu.


Aza memeluk suaminya, menyandarkan kepalanya dan mencoba mencari ketenangan.


"Kata Mama Anandhi, setelah selesai kuliah, dia menemui kamu dan papa kok. Tapi dia tak menemukan kalian, memangnya dulu kalian sebelum tinggal di rumah kontrakan itu pernah tinggal di lain tempat ya?" tanya Aksa sembari membelai kepala istrinya.


Aza mencoba mengingat, yang ia tahu dirinya dan ayahnya itu memang bukan asli ibukota melainkan daerah Surabaya. Yang ia pikirkan saat ini adalah apa Anandhi benar- benar mencari mereka dulunya?Atau Anandhi hanya berbohong?


"Aku nggak tau, Hubby. Harus senang atau sedih."


"Harusnya kamu senang. Kamu harus bersyukur karena telah mengetahui siapa Mama kandungmu. Bukankah kamu sering mengajariku untuk bersyukur atas apa yang aku miliki? Lalu, kenapa kamu sendiri tak bisa melakukannya?"


Aza terdiam. Rasanya untuk menerima Anandhi menjadi Mama sesungguhnya begitu sulit. Dua puluh dua tahun dia hidup tanpa seorang ibu, lalu sekarang ibunya datang. Ini benar- benar sulit untuk diterima.


Lambat laun, mata wanita itu terpejam. Aza tertidur meringkuk, memeluk sang suami.


*****


Kala itu, Anandhi merasa gundah. Ia terus saja kepikiran dengan sang putri. Dan wanita itu pun memutuskan untuk menemui Aza. Selain rindu karena tak bertemu selama satu minggu, Anandhi juga takut Aza kenapa- kenapa karena hatinya sedari tadi cemas.


Bel rumah keluarga Sanjaya ditekan Anandhi, tampaklah wanita berumur dan seumuran dengan Aza. Bi Mona dan Sandra, asisten rumah tangga di rumah itu. Mereka pun mempersilakan Anandhi masuk, karena biasanya Anandhi juga sering ke sana untuk bertemu dengan Aza.


Wanita itu duduk di sofa ruang tamu dan meletakkan buah serta makanan kesukaan putrinya di atas meja sembari menunggu Aza turun.


"Halo, besan," seru Aira sembari menautkan pipinya dengan pipi Anandhi. Ya, Aira sudah mengetahui semuanya. Ia tahu jika Anandhi adalah Mama Aza maka dari itu ia memanggil Anandhi dengan sebutan besan.


"Hai, bagaimana kabarmu? Seminggu tak bertemu ya," sahut Anandhi tersenyum lebar. Mereka pun berbincang- bincang sejenak. Berbicara tentang hari yang terlewati, bercerita banyak hal hingga Anandhi melupakan tujuan utamanya ke rumah itu.


Aksa dan Aza terbangun tatkala Sandra memberitahukan jika ada Anandhi di bawah. Biasanya Aza selalu bersemangat ketika Anandhi datang menemuinya. Tapi kali ini berbeda, wanita itu enggan menemuinya setelah mengetahui sebuah kenyataan.


"Aku masih ngantuk, Hubby. Aku akan tidur lagi..." Aza kembali memejamkan matanya, ia sebenarnya tak mengantuk. Hanya saja tak mau bertemu dengan Anandhi, hatinya belum siap.


"Jangan begitu, kamu malah berdosa loh. Temuilah sebentar, kalau perlu bicarakan semuanya baik- baik. Mama Anandhi itu tak seperti apa yang kamu pikirkan," seru Aksa yang mampu membuat Aza takluk.


"Tapi, Hubby..."


"Nggak ada tapi- tapian."


Dengan malas, Aza pun mengiyakan. Mereka segera turun untuk menemui Anandhi.


Anandhi tersenyum lebar menatap putrinya yang sedang melangkah menuruni anak tangga dan hendak menghampirinya. Namun, senyumannya kemudian surut mendapati sang anak yang tampak lesu dan menyimpan kekesalan. Tak ada senyum seperti biasanya dari sang putri, sepertinya Aza dalam keadaan yang tak baik, pikirnya.


Anandhi mendekati Aza terlebih dahulu, ia memeluk dan mencium Aza sama seperti biasanya yang ia lakukan. Ia pun terheran- heran karena Aza tak bergeming sedikitpun.


"Ceritakan padaku, kenapa kamu tega meninggalkanku sejak aku bayi? Kenapa kamu begitu tega meninggalkan orang yang sangat mencintaimu!" Ucapan Aza ini membuat Anandhi terkejut. Seakan ada belati yang menusuk relung hatinya, apakah anaknya sudah mengetahui jika dirinya adalah Mama kandungnya?


"Ehm, apa maksudmu sayang?" Anandhi berusaha pura- pura tidak tahu.


"Aku sudah mengetahui semuanya, jangan berpura- pura lagi! Yang aku tahu sekarang, kamu bukanlah wanita yang baik. Kamu adalah wanita yang buruk yang tega meninggalkan anak dan suaminya!" Aza langsung kembali ke kamarnya setelah mengatakan hal itu. Air mata yang tadinya dibendung akhirnya keluar membasahi pipinya.


"Aza, dengarkan penjelasan Mama dulu, Nak. Maafkan Mama, Mama memang salah..."


Anandhi ikut berurai air mata, apa yang ia takutkan selama ini ternyata terjadi juga. Sekarang, anaknya benar- benar membencinya. Tapi memang wajar jika melakukan itu, Anandhi memang ibu yang buruk.


"Maafkan aku, andai saja aku tak mengatakannya pasti Aza tak akan marah seperti ini," lirih Aksa kepada Mama mertuanya. Ia sangat merasa bersalah karena telah mengatakannya, harusnya ia mengikuti saran Anandhi untuk tak mengatakannya secara langsung dan secepat ini.


"Besan, kamu yang sabar ya. Aza pasti bisa menerimamu kok, dia anak yang baik," ujar Aira. Ia ikut sedih melihat besannya seperti itu. Ia pun memeluknya erat, mengusap punggungnya, memberikan ketenangan serta kekuatan.


"Aku akan segera pulang, permisi," ucap Anandhi sebelum meninggalkan rumah yang baru saja ia pijaki.

__ADS_1


Maaf, hanya kata maaf yang mampu Anandhi ucapkan. Sekarang ia akan kehilangan anaknya lagi, Aza tak bisa menerimanya. Anandhi memeluk erat foto mereka yang sempat terabadikan ketika menikmati waktu bersama.


"Aku memang ibu yang buruk, bahkan saking buruknya aku tak lagi pantas dipanggil seorang ibu..."


Apakah Aza akan membencinya terus? Apakah Aza tak akan bisa menerimanya kembali? Kalaupun iya, ini sangatlah menyakitkan. Anandhi tak sanggup, rasa sayangnya dengan Aza sangatlah besar. Ia ingin terus berada di dekat anaknya selalu. Tapi sepertinya itu tak akan terjadi, bahkan untuk melihatnya saja Aza enggan apalagi untuk bersama, berjalan, berceloteh, bercanda, seperti dulu.


"Azaa..."


"Tuhan, tolong jangan jauhkan aku dengan anakku lagi. Sudah cukup dua puluh dua tahun ini Engkau memisahkan kami. Aku hanya ingin dekat dengan anakku, bersamanya hingga maut menjemputku."


Anandhi semakin terisak, dadanya sangat sesak.


*****


Aksa begitu sedih menatap istrinya yang seharian ini hanya termenung di atas ranjang. Rasanya ada yang hampa, celotehan dan tawa istrinya seharian ini sirna seketika. Yang ada hanya wajah lesu dan sedih. Aksa tak menyukainya.


"Jangan seperti ini terus, ayo cerialah seperti biasanya," seru Aksa. Lelaki itu duduk di tepi ranjang sembari membelai pipi istrinya.


Aza menunjukkan senyumannya, senyuman getir dan penuh paksaan bukan senyum tulus yang biasa ia tampilkan. Hanya sejenak, senyum itu lalu pupus.


"Kamu belum makan sejak tadi siang, ayo makanlah." Aksa mencoba menyuapi istrinya, namun mulut wanita itu tak mau terbuka juga. Sudah berkali- kali ia merayu dan menghibur Aza, tapi tetap saja wanita itu tak berubah.


"Ayo sayang, makanlah sedikit saja," bujuk Aksa. Aza menepis suapan suaminya hingga sendok terjatuh ke lantai.


Aksa meletakkan piring ke atas nakas dengan kasar. Ia kecewa dengan istrinya yang tak menghargainya.


"Kenapa nggak sekalian sama piringnya?" gertak Aksa. "Nggak usah makan sekalian biar kamu sakit!" tambah Aksa dengan nada yang meninggi.


"Hubby, maafkan aku..." Aza langsung mengambil sendoknya, ia menyadari jika ini tidaklah sopan apalagi dengan suaminya sendiri.


Aksa melipat tangannya di dada menatap istrinya, jengkel itu pasti.


"Sendoknya kotor, Hubby. Aku akan mengambil yang baru." Aza lalu pergi meninggalkan kamar dan Aksa membiarkan istrinya berbuat semaunya.


Aksa menggelengkan kepalanya, istrinya sangatlah menggemaskan. Dengan telaten ia menyuapi Aza, wanita itu sangat lahap memakannya. Aksa ingin tertawa saat itu juga, tadi saja bersikeras tak mau makan tapi nyatanya mau juga. Malah habis dengaj porsi yang banyak.


"Hubby, aku nggak mau brokolinya," seru Aza dengan mulut yang masih penuh.


Perkataan itu tak dihiraukan, ia menyembunyikan brokoli di atas tumpukan nasi dan lauk yang lain. Aksa sangat tak suka jika ada orang yang menolak untuk memakan sayur.


"Aku memesan tiket berlibur ke Bali, tapi hanya untuk dua hari karena aku hanya bisa mengambil libur dua hari ke depan saja," tutur Aksa. Pria itu meletakkan piring kotor di atas nakas dan merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Benarkah, Hubby?" pekik Aza kegirangan.


"Kamu suka? Tapi maaf ya nggak bisa lama- lama. Ini juga sekalian bulan madu. Kalau ada waktu senggang lagi pasti aku akan mengajakmu berlibur panjang."


"Tak apa, Hubby. Nanti kita bisa menghabiskan dua hari itu untuk mengelilingi Bali. Kita mulai trip dari pagi hingga malam harinya." Aza sudah tak sabar untuk pergi ke sana. Pertama dan yang terakhir kalinya ia pergi ke Bali adalah saat SMA, itu pun saat karya wisata.


"Siapa bilang kita akan jalan- jalan terus? Hanya satu harinya saja, satu hari yang lain kita fokus buat Aksa junior," ucap Aksa terkekeh sembari mengusap perut istrinya.


"Kalau gitu sama aja liburannya cuma sehari doang dong."


"Tetap dua hari, kan kita tetap akan di Bali selama dua hari. Tapi seharinya cuma dihabiskan di hotel enak- enak terus dari pagi hingga malamnya."


"Kenapa harus ke Bali kalau cuma mau enak- enak? Nggak seru kalau di Bali cuma di kamar aja," Aza mencebikkan bibirnya kesal.


"Jadi, menurutmu lebih baik di sini saja nggak perlu ke Bali?" tanya Aksa menggoda.


"Ah hubby..." rengek Aza dengan manjanya.


"Hm? Wanna play again?" Aksa melepas kaosnya, nampaklah dada bidangnya. Tak punya roti sobek, namun cukup menggoda.


Aza selalu terkikik tatkala melihat payudara suaminya yang gembul dan menggemaskan. Ia pun memainkannya layaknya squishy.


"Hubbyku sangat menggemaskan, aku menyayangimu, Hubby..." ucap Aza seraya memainkan payudara suaminya.

__ADS_1


"Aku lebih menyayangimu cup...cup...cup..." Kecupan bertubi- tubi mendarat di tubuh Aza yang entah sejak kapan sudah polos tanpa sehelai benang.


Satu ronde...


Dua ronde...


Tiga ronde...


Malam itu mereka habiskan untuk enak- enak seperti biasanya. Tubuh lengket yang bercampur keringat karena pertempuran. Keduanya masih saling memeluk tanpa sehelai benang. Meringkuk di bawah selimut tebal dan enggan untuk keluar dari sana.


"Hubby, kenapa kamu pernah lelah melakukannya setiap malam?" tanya Aza lirih di akhir kalimatnya.


"Entahlah, tubuhmu itu layaknya nikotin yang selalu membuat candu!"


"Sudah jam berapa ini? Kok sampai sekarang kita belum tidur juga..."


"Sepertinya sudah jam satu."


"Astaga, Hubby. Kalau begitu ayo tidur..."


Mata Aza dengan cepatnya terpejam, tapi lelaki itu belum juga bisa tertidur. Tadi ia menyeruput secangkir kopi hitam tanpa gula, oleh karena itu matanya masih saja terbuka lebar.


Aksa membalikkan tubuhnya menghadap istrinya, mengamati wajahnya secara intens. Mencoba memejamkan mata juga tapi tak kunjung bisa.


"Aza..."


"Aku nggak bisa tidur, Za."


Aksa seperti orang bodoh yang terus saja berbicara meskipun ia sendiri tahu tak akan ada sahutan dari wanita itu. Aksa mencari ponselnya hendak menonton you tube, siapa tahu ia akan cepat tertidur jika lelah menatap ponsel.


Berbagai jenis konten telah ia tonton, berfaedah dan unfaedah pun sudah ia tonton. Bahkan ia menonton film Bu Tejo dua kali putaran, tapi tak kunjung mengantuk juga. Ia hanya bisa menghela nafas panjang. Jam dinding telah menunjukkan jam tiga pagi.


"Aza..."


"Zaa, kelonin. Aku nggak bisa tidur..."


Wanita itu menggeliat, karena Aksa mengusiknya dengan menciumi seluruh wajahnya. Ia menatap suaminya sejenak.


"Kenapa? Kenapa sudah bangun?"


"Siapa yang sudah bangun? Aku belum tidur sama sekali."


"Makanya jangan minum kopi kalau malem."


Aksa tak menggubrisnya, ia menyusupkan kepalanya di dada Aza dan memeluk wanita itu erat. Aza membelai kepala suaminya supaya bisa tertidur.


"Ayo tidurlah bayi besarku, jangan sakiti tubuhmu. Tidurlah meskipun hanya sebentar," lirih Aza. Tangannya terus membelai sang suami dan sesekali ia mencium puncak kepala lelaki itu.


Aksa mulai memejamkan matanya, tapi ia tak bisa tidur juga. Sedangkan Aza? Ia sudah kembali tertidur melanjutkan mimpinya tadi. Sungguh, Aksa ingin menangis saat itu juga. Ia ingin tidur, tapi tak bisa.


"Aza?"


"Sayang?"


"Hubby, tidurlah!" teriak Aza sembari menjewer telinga suaminya yang sangat menjengkelkan dan tak bisa diam sedari tadi.


"Nggak bisa, Za..." rengek Aksa.


Aza melirik jam dinding, sudah menunjuk di angka empat. Ia baru tertidur tiga jam saja, itu pun tak full. Ia menatap suaminya yang matanya tampak segar meskipun tak tertidur barang sejenak.


"Besok jangan minum kopi lagi! Awas saja kalau kamu sampai meminumnya di malam hari." Aza tak henti- hentinya menasihati sang suami.


Aksa mengangguk lemah, "Sekarang aku sudah mengantuk..."


"Giliran sudah pagi mau tidur, dasar nakal!"

__ADS_1


__ADS_2